
"Apa? Kau bercanda Alzam," jawab Emira. Dia tidak percaya kalau alzam adalah lelaki kecil di masa lalunya. Emira menganggap itu hanya sebuah candaan Alzam seperti biasanya.
"Aku tidak bercanda," sahut Alzam terlihat serius.
Emira justru terlihat tertawa mendengar apa yang diucapkan Alzam.
"Ini tidak lucu Emira. Aku anak kecil itu, yang memberimu bola dan topi," jawab Alzam. Kemudian dia meninggalkan Emira.
Melihat itu Emira merasa apa yang dikatakan Alzam memang benar. Dia berjalan membuntuti Alzam, berusaha meminta maaf padanya.
"Maafkan aku Alzam," ucap Emira.
"Bukankah tadi kau mengira aku bercanda?" tanya Alzam.
"Iya aku minta maaf," jawab Emira.
Langkah Alzam terhenti. Dia kembali berbicara dengan Emira.
"Aku tak menyangka kita bertemu lagi Emira setelah sekian lama, aku masih ingat saat bertemu denganmu pertama kali," jawab Alzam.
"Heh, dunia ini sangat sempit aku bertemu denganmu kembali menjadi istri bayanganmu," sahut Emira.
"Kalau begitu jadilah istriku yang sesungguhnya," kata Alzam.
"Aku tidak bisa, aku udah Dara mungkin saja kakak beradik. Dan kau tidak bisa menikahiku jika itu benar," sahut Emira.
"Kalau begitu kita akan menunggu hasil tes DNA setelah aku pulang dari luar negeri," jawab Alzam.
Emira terdiam. Sejujurnya dia senang karena bisa bertemu dengan laki-laki kecil di masa lalunya. Namun Emira tidak ingin menjadi duri di antara pernikahan Alzam dan Dara.
"Jangan menolakku saat kau terbukti bukan adiknya Dara," kata Alzam.
"Kau memaksa Alzam," kata Emira.
"Aku takkan melepasmu lagi," sahut Alzam.
Emira tersenyum licik.
"Kalau kau bisa menikahiku, bertarung saja kalah," ledek Emira.
"Saatnya nanti aku akan mengalahkan mu di medan yang lain," sahut Alzam.
"Sepertinya aku harus meninggalkanmu Alzam, kau menggila," kata Emira. Merinding mendengar ucapan Alzam. Dia memilih meninggalkan Alzam.
***
Emira dan Dara pergi ke rumah sakit untuk tes DNA. Mereka pergi bersama Alzam ke rumah sakit. Pertemuannya dengan Emira saat di hotel itu adalah jalan mempertemukan Emira dan Dara.
Di laboratorium Emira dan Dara melakukan test DNA. Setelah selesai melakukan tes DNA mereka kembali ke rumah tinggal menunggu hasilnya keluar beberapa hari ke depan.
Pagi itu Alzam dan Dara berangkat ke luar negeri. Emira mengantar mereka ke bandara. Dara menangis saat harus berpisah dengan Emira. Pelukan itu belum terlepas dari tubuh Emira, Dara seperti tidak ingin meninggalkannya.
"Dara semoga kau cepat sembuh dan kembali lagi dalam keadaan sehat seperti sedia kala," ujar Emira.
"Terimakasih Emira, kau harus jaga dirimu baik-baik, aku ingin bertemu denganmu lagi setelah sembuh nanti. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama," ucap Dara.
"Tentu, kau memang harus kembali dan menemuiku. Kita akan melakukan banyak hal bersama," sahut Emira.
Dara melepas pelukannya dari Emira. Air matanya tak hentinya menetes. Emira menghapus air mata Dara.
__ADS_1
"Kau tidak boleh menangis lagi Dara, kau harus tersenyum dan semangat, agar kau cepat sembuh," ucap Emira.
Dara hanya mengangguk dengan ucapan Emira, kemudian Emira menghampiri Alzam.
"Kau harus menjaga dan merawat Dara di sana Alzam," ucap Emira.
"Aku pasti akan menjaga dan merawat Dara di sana," kata Alzam.
Setelah itu Alzam dan Dara berangkat ke luar negeri. Emira kembali ke rumah besar Alzam. Sampai di rumah itu, Emira berbaring di kamarnya. Tak suara handphone Alzam berdering.
Kriiiiiing ... kriiiiiing ... kriiiiiing ...
Emira melihat layar handphone itu yang ternyata panggilan dari Fanny.
"Wanita sundal ngapain lagi dia?" batin Emira.
"Aku punya ide. Saatnya berperan jadi Alzam, aku datang untukmu Fanny sayang," ucap Emira. Dia mengangkat telpon Fanny, dia berusaha menyamakan suaranya dengan suara Alzam. Untung Emira sudah biasa berperan jadi apa saja saat jadi agen rahasia, jadi mudah baginya mempelajari semua hal tentang Alzam begitupun dengan suaranya.
"Ehmmm ... hallo Fanny, ada apa?" tanya Emira.
"Alzam aku ingin bertemu sekali saja denganmu," jawab Fanny.
"Oke Fanny, aku jemput ke rumahmu ya," ucap Emira.
"Ya, aku menunggumu sayang," ucap Fanny.
"Memuakkan, sedikit bermain pasti seru mumpung gabut menunggu kepulangan Dara," batin Emira.
Kemudian Emira menutup telpon itu. Dia tahu dengan cara ini Alzam dan Dara bisa pergi ke luar negeri tanpa gangguan dari Fanny.
"Jalan-jalan dengan Fanny kali ini sepertinya akan seru," ucap Emira.
Dia mendandani dirinya mirip Alzam dari rambut, wajah, tubuh beserta gaya berpakaiannya.
"Ini benar-benar mirip Alzam, Fanny akan klepek-klepek denganku," ucap Emira.
Setelah selesai berpakaian dan berdandan mirip Alzam, dia berangkat ke rumah Fanny, menjemput Fanny untuk pergi ke Mall. Fanny begitu girang dijemput Emira. Dia tak tahu kalau itu Alzam palsu. Fanny naik ke mobil, mereka berangkat ke Mall.
Sampai di Mall, Fanny menggandeng tangan Emira begitu mesra. Fanny mengajak Emira belanja tas, baju dan heels kesukaannya.
"Wanita serakah dan matre lihat saja nanti kau akan ku beri hadiah kecil untukmu," ucap Emira.
Saat membayar Emira sengaja memberikan kartu kredit lama yang sudah tak terpakai. Sehingga dia tidak bisa membayarnya.
"Sorry Fanny, sepertinya aku tak membawa kartu kredit lainnya, di dompet hanya ada dua juta tak cukup membayar itu," ujar Emira.
"Tapi Alzam, semua sudah terlanjur di scan," sahut Fanny.
"Bayarlah dulu, kau punya uangkan?" ujar Emira.
"Tapi ...," jawab Fanny.
"Nona tolong dibayar barangnya sudah di scan semua."
"Iih ... nyesel ngambik kebanyakan, abis deh uangku," batin Fanny.
Emira hanya tersenyum membiarkan Fanny membayarnya. Kemudian Emira mengajak Fanny makan di restoran. Fanny asyik melihat-lihat belanjaannya sementara Emira memesankan Fanny makanan untuknya. Setelah pesanan makan datang, Emira meminta Fanny segera makan.
"Fanny ayo makan dulu," ucap Emira.
__ADS_1
"Iya sayang," sahut Fanny.
Saat dia melihat ke meja, hanya satu mangkuk sup dan jus untuk Fanny.
"Ayo dimakan," ucap Emira.
Fanny mulai menyedok sup itu. Lidahnya merasakan sup itu terasa mentah, pahit, getir dan bau amis.
"Sayang ini sup apaan?" tanya Fanny.
"Oo ..., itu bayam mentah dan telur ayam mentah diblender, katanya bagus untuk mempercantik kulit, kaukan baru operasi," ujar Emira
"Sayang gak enak," ucap Fanny.
"Sayang habiskan bagus loh untuk kulitmu dan kesehatanmu. Ini khusus ku pesan untukmu karena aku menyayangimu. Ayo semangat habiskan!" titah Emira.
"Iya sayang, aku akan menghabiskannya," ucap Fanny.
Mau tak mau Fanny memakan kembali sup itu, dia makan sambil meringis dan menahan mual, Emira pura-pura gak tahu dan malah menggoda Fanny dengan makanan yang dimakannya.
"Udang ini enak tapi sayang kamu gak boleh ya sayang, terlalu banyak koresterol. Untuk tampil cantik harus makan yang sehat, benarkan?" ucap Emira.
"Iya sayang," ucap Fanny terpaksa.
Setelah menghabiskan sup itu dengan susah payah. Dia minum jus yang ada di meja. Fanny langsung eneg dan sebal.
"Sayang ini jus apa rasanya aneh?" tanya Fanny.
"Oo ..., itu jus wortel, jagung, brokoli dan sawi jadi satu, bagus untukmu saya. Kaya vitamin dan mineral," jawab Emira.
"Tapi sayang rasanya gak enak dan sangat aneh," ucap Fanny. Dia mengeluh. Apa yang diminumnya tidak enak.
"Semangat sayang demi jadi cantik, habiskan! aku dukung," ucap Emira.
"Baiklah sayang," ucap Fanny.
Terpaksa Fanny meminum jus susah payah sampai dia memejamkan matanya dan menjepit hidungnya dengan kedua ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya.
Setelah selesai makan sup dan minum jus dia tepar di meja karena sangat mual dan sebal memakan makanan mentah.
"Fanny mau nambah lagi sayang, enakkan?" tanya Emira.
"Gak sayang, enak. Tapi aku tak sanggup menghabiskannya lagi," jawab Fanny.
"Padahal baru saja aku mau pesan lagi untukmu," ujar Emira.
"Lebih baik aku pulang, dari pada disuruh makan dan minum itu lagi, perutku makin gak enak rasanya," ucap Fanny dalam hatinya.
"Sayang ayo pulang," pinta Fanny.
"Maaf sayang aku gak bisa mengantar, ada klien minta ketemuan dadakan di sini, sorry yah," ucap Emira.
"Baik, aku pulang naik taksi aja. Dah sayang," ucap Fanny.
"Dah," sahut Emira.
Fanny berdiri dan berjalan ke luar restoran membawa semua belanjaannya yang banyak sambil sedikit membungkuk karena perutnya gak enak.
"Aduh perutku gak enak rasanya, mana bawa belanjaan banyak gini rasanya pengen pingsan aja di sini. Ini di lantai lima lagi masih harus turun ke lantai dasar berkali-kali, ya ampun lemes banget," keluh Fanny.
__ADS_1
"Belanjaan mana banyak, berat lagi. Kalau harus ditinggal, sayang banget. Tapi dibawa berat banget. Kenapa hari ini apes gini?" ucap Fanny. Dia terus berjalan sambil sedikit membungkuk karena perutnya yang tidak enak sambil membawa barang belanjaannya yang banyak, dia coba turun naik lift tapi ngantri akhirnya dia gak sabaran turun dengan eskalator dari lantai 5 sampai lantai dasar.