
David sedang berada di sebuah club malam.Dia menghambur-hamburkan uang yang diperolehnya dari uang yang diambil dari Fanny. Semua temannya ditraktir dan membagikan uang pada wanita-wanita malam itu. Dia begitu senang bisa mabuk sepuasnya dengan uang yang begitu banyak. Seorang temannya mengajaknya bicara.
"David gue kangen sama Fanny dah lama banget gak diservis sama dia."
"Tenang Rob, kalau duit gue udah habis, Fanny gue kirim ke ranjang Lo oke," ucap David.
"Body nya masih okekan?"
"Tenang udah gue cicipi dulu sebelum gue lempar ke Lo, jadi gue pastikan masih oke," sahut David.
"Si Fanny-kan udah oplas, lebih cantik, harga jualnya pasti lebih tinggi," batin David. Tersenyum licik.
"Benar-benar Lo jahat David. Lo jual dia tapi Lo cicipi juga. Mantan istri yang terjual oleh mantan suaminya benar-benar mengharukan."
"Wanita bisa ganti sob, Fanny cuma mesin uang gue setelah gue bosan memakainya," ucap David. Dia hanya memanfaatkan Fanny selama menikahinya. Fanny dan Ibu Yeni sangat menderita saat hidup bersama David. Dia tidak hanya menjual Fanny tapi juga menyiksanya setiap hari. Bagi Fanny, David adalah mimpi buruknya yang menakutkan. Semenjak David di penjara Fanny bisa terbebas dari tangan David. Dia memulai hidup baru dan akhirnya bertemu dengan Alzam kembali.
***
Emira pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA. Sepanjang jalan dia tak tenang memikirkan hasil tes itu. Dia berharap hasilnya sesuai yang diharapkannya. Sampai dirumah sakit Emira langsung masuk menuju ke laboratorium. Setelah mendapat laporan hasil tes DNA itu, Emira langsung membuka dan membacanya.
"Aku dan Dara bukan saudara kandung. Tapi cerita kami hampir sama," ucap Emira. Dia kembali memasukkan kertas hasil tes DNA ke dalam amplop.
Emira ke luar dari rumah sakit, mengendarai mobilnya kembali pulang kerumah besar milik Alzam. Dia langsung masuk kamarnya dan menelpon Alzam.
"Assalamu'alaikum," sapa Emira.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alzam.
"Hasil tes DNA-nya sudah ke luar Alzam," ujar Emira.
"Beneran? Terus gimana?" Alzam penasaran. Dia ingin tahu secepatnya.
"Aku dan Dara bukan saudara kandung," jawab Emira.
"Berarti kita bisa menikah," ujar Alzam.
"Aku tidak bilang begitu," sahut Emira.
"Kau lupa perkataanmu sebelum aku ke luar negeri?" tanya Alzam.
"Iya aku ingat," jawab Emira.
"Dara ingin sekali punya anak, dan ...," ujar Alzam.
"Dan apa Alzam?" tanya Emira.
__ADS_1
"Rahim Dara terpaksa diangkat, sel kanker sudah memenuhi rahimnya," jawab Alzam.
Emira terdiam mendengar rahim Dara harus diangkat. Matanya berkaca-kaca mendengarnya.
"Saat ini Dara sedang menjalani berbagai pengobatan. Dan psikologisnya menurun, kesempatannya untuk memiliki keturunan semakin mustahil," ujar Alzam.
"Apa aku bisa menelpon Dara?" tanya Emira.
"Tidak, Dara butuh waktu sendiri. Besok cobalah kau telpon lagi," jawab Alzam.
"Ya udah, jaga Dara untukku ya Alzam," ujar Emira.
"Insya Allah," sahut Alzam.
Emira menutup telponnya, dia terdiam. Pasti berat apa yang sekarang sedang dialami Dara. Tak mudah untuk seorang perempuan melakukan pengangkatan rahimnya. Itu berarti dia tak pernah bisa memiliki anak.
***
Satu Bulan Kemudian
Emira menemani Fanny jalan kaki santai di alun-alun. Dia terpaksa menyamar jadi Alzam selama satu bulan ini. Bahkan dia selalu beralasan ini itu saat Fanny minta dinikahi Alzam. Sampai Emira bisa membuat Fanny jera mengejar Alzam.
"Alzam kapan kau menikahiku?" tanya Fanny.
"Nanti dulu ya sayang pekerjaanku banyak akhir-akhir ini, belum lagi bisnisku sedang bermasalah. Gak maukan hidup gembel bersamaku?" tanya Emira.
"Sayang aku mau ke toilet dulu ya, kamu di sini dulu oke," ucap Emira.
"Ya sayang," jawab Fanny. Dia menunggu Emira di kursi yang berada di alun-alun itu. Dia bolak-balik melihat ke belakang menunggu Alzam kembali dari toilet.
"Alzam mana sih kok lama banget, aku nyusul aja deh," ucap Fanny. Dia berjalan mencari Alzam, melihat Alzam sedang berdiri dekat tugu di alun-alun itu. Fanny langsung menghampiri Alzam yang berdiri membelakanginya. Dia memeluk Alzam langsung dari belakang tubuhnya. Laki-laki itu berbalik dan ternyata bukan Alzam.
"Nona cantik main peluk-peluk aja sih, saya jadi keenakan."
"Loh kamu bukan Alzam ternyata," ucap Fanny.
"Saya mau jadi Alzamnya Nona cantik." Lelaki itu memegang tangan Fanny.
"Lepaskan tanganku!" ucap Fanny.
Tak lama datang istri dari lelaki itu. Dia sangat marah melihat suaminya digoda pelakor. Dengan cepat dia menghampiri mereka. Melihat istrinya menghampirinya, lelaki itu langsung melepas tangannya yang memegang tangan Fanny. Tanpa basa basi, istri lelaki itu langsung menampar Fanny.
Plaak ...
"Aw ..." Fanny kesakitan. Memegang pipinya.
__ADS_1
"Hei pelakor berani sekali kau menggoda suamiku!"
"Aku tidak menggoda," sahut Fanny.
"Pelakor mana ada yang ngaku udah kaya maling."
Semua orang mengerumuni Fanny yang dimarahi istri lelaki itu.
"Kamu itu wanita yang gak punya harga diri, murahan, pelacur, bisanya merebut suami orang karena gak lakukan!"
"Ibu salah faham, saya tadi mengira suami ibu itu pacar saya," ucap Fanny melakukan pembelaan.
"Jangan percaya Bu, pelakor tetap pelakor."
"Jambak rambutnya Bu! biar kapok."
"Udah cakar aja Bu pelakornya. Kita gemes nih."
Istri dari lelaki itu terhasut ucapan ibu-ibu yang mengerumuninya. Dia langsung menjambak rambut Fanny.
"Aw..., sakit Bu, ampun," ucap Fanny.
"Ini belum seberapa, makanya jangan jadi pelakor."
"Udah Bu, malu dilihat orang." Lelaki itu mengajak istrinya pergi.
"Aku belum puas sebelum dia babak belur."
Emira berada di belakang ibu-ibu yang mengerumuni Fanny. Dia hanya tersenyum melihat pemandangan yang menyenangkan pagi itu. Fanny dijambak lalu ditampar berkali-kali. Setelah beberapa saat Emira menghampiri Fanny.
"Maaf Nyonya, wanita ini temanku, mungkin ini salahfaham saja. Saya minta maaf," ucap Emira.
"Mas tolong dijaga temannya jangan menggoda suami orang."
"Saya sekali lagi minta maaf atas kesalahan teman saya," ujar Emira.
"Kali ini saya maafkan kamu ya pelakor, awas saja lain kali mengganggu suamiku lagi!"
Istri dari lelaki itu pergi bersama suaminya,
begitupun ibu-ibu yang berkerumun bubar. Fanny langsung memeluk Emira dan menangis.
"Alzam untung kau datang kalau tidak aku sudah habis ditampar Ibu tadi," ucap Fanny.
"Sakit ya, kasihan," jawab Alzam.
__ADS_1
Padahal Emira senang sekali melihat pipinya Fanny memerah karena ditampar wanita tadi. Dia tak perlu menampar Fanny karena berusaha merebut suami orang.