
Emira berdiri. Berjalan meninggalkan meja tanpa berbicara apapun. Wajahnya dingin. Dia melangkah meninggalkan ruang makan.
"Emira ku mohon pikirkan ini," pinta Alzam.
Emira berhenti. Masih menatap ke depan.
"Aku tidak bisa, hidupku bukan di sini," jawab Emira. Dia melangkah kembali.
"Aku mencintaimu Emira," ucap Alzam.
Terkejut.
Tak disangka Alzam akan berkata seperti itu padanya. Langkah Emira semakin pelan. Terngingan kata-kata Alzam. Kemudian berhenti.
"Kau hanya kesepian Alzam, dan aku bukan pelampiasan," jawab Emira.
Alzam terdiam. Menata hatinya yang sempat meledak tak karuan. Sedangkan Emira kembali berjalan. Ke luar ruang makan. Menuju tangga. Naik ke lantai atas. Emira berjalan ke kamar Dara. Membuka pintu. Masuk ke dalam. Ternyata Dara sedang nonton televisi yang menyiarkan acara bayi. Dara terlihat gembira.
"Dara," ucap Emira.
"Emira, kemarilah duduk denganku," pinta Dara.
Emira mengangguk. Duduk di samping Dara yang duduk di karpet sambil memangku bantal di pahanya.
"Emira lihat lucu ya, nanti anak kita pasti selucu itu, aku jadi gak sabar," ujar Dara.
Deg
Jantung Emira yang tadi terkejut semakin berpacu. Seperti suara kaki kuda yang berlari.
"Apa kau senang aku hamil?" tanya Emira.
"Iya, aku ingin Alzam punya anak," jawab Dara.
"Apa kau tak cemburu? Aku madumu," ucap Emira.
"Tidak, mungkin karena umurku tak banyak lagi, aku ingin melihat Mas Alzam bahagia sebelum aku mati," jawab Dara.
Emira memegang tangan Dara. Memberinya penguatan.
"Alzam lelaki normal, dia butuh seorang wanita yang bisa memenuhi kebutuhan batinnya. Aku tidak ingin Alzam tersesat dalam lembah dosa," ujar Dara.
Emira terdiam. Dara begitu ikhlas membagi suaminya untuk orang lain.
__ADS_1
"Jika aku jadi kamu Dara, mungkin aku tidak mampu sepertimu, kau sangat kuat," puji Emira.
"Itu karena aku sering melihat Alzam kesepian, aku merasakan apa yang dia rasakan meskipun dia tersenyum di depanku," ujar Dara.
Emira terdiam. Selama menjalankan misi. Ini misi yang terhitung mudah secara fisik tapi sulit dan melemahkan batinnya. Dia seperti berada dalam tekanan. Jiwanya terkekang. Tak mampu berbuat apapun.
Tiba-tiba Dara mengelus perut Emira. Tersenyum.
"Dia akan tumbuh besar, aku ingin melihatnya sebelum aku pergi," ujar Dara.
Emira semakin tegang dan penuh tekanan. Seperti semua dakwaan di tuduhkan padanya. Emira tak mampu berkilah. Hanya menunggu vonis yang dijatuhkan padanya.
"Kalau melihat bayi seperti ini aku jadi rindu adikku," ucap Dara.
"Apa adikmu mirip bayi itu?" tanya Emira sambil melihat bayi di dalam acara televisi.
"Lebih lucu lagi, sayangnya waktu itu aku masih kecil belum bisa menjaganya dengan baik," jawab Dara.
Emira menepuk bahu Dara. Dia tahu Dara sedih mengingat adik kandungnya.
"Emira tolong ambilkan album foto di laci, aku ingin melihat adikku," pinta Dara.
Emira mengangguk. Berdiri. Berjalan menuju laci. Mengambil album foto yang ada di dalamnya. Kemudian memberikannya pada Dara.
"Makasih," ucap Dara.
"Ini adikku, fotonya tak banyak tersimpan di album ini," ujar Dara.
"Coba ku lihat, aku ingin tahu adikmu," ucap Emira sambil mengambil album foto dari tangan Dara. Melihatnya secara seksama.
"Lucukan adikku," ujar Dara.
"Iya, ternyata adikmu perempuan ya? aku kira laki-laki," kata Emira.
"Ya adikku perempuan," jawab Dara.
"Cantik ya adikmu walau masih bayi," puji Emira.
Dara mengangguk. Sambil tersenyum melihat foto adiknya.
"Mungkin kalau dia ada, sekarang dia seusiamu Emira," ujar Dara.
"Apa kau merindukannya Dara?" tanya Emira.
__ADS_1
"Sangat, dia anggota keluargaku satu-satunya sekarang, setelah ayah dan ibuku sudah meninggal," jawab Dara.
"Pasti sulit menemukannya, karena adikmu sudah hilang puluhan tahun," ujar Emira.
"Ya aku tahu itu, tapi aku berharap sebelum aku mati bisa bertemu dengannya walau sebentar saja," sahut Dara.
"Semoga kau bisa bertemu dengannya," kata Emira.
Setelah ngobrol dengan Dara, Emira kembali ke kamarnya. Dia duduk di ranjang memikirkan semuanya. Apa yang dikatakan Dara dan Alzam. Mencerna semuanya di pikiran dan hatinya.
Tiba-tiba Bos Luan menghubunginya. Clever langsung aktif dan memunculkan hologram Bos Luan. Segera Emira berdiri memberi hormat.
"Selamat pagi Emira," sapa Bos Luan.
"Pagi Bos," jawab Emira.
"Ada kabar yang akan ku sampaikan padamu,"
ucap Bos Luan.
"Kabar tentang apa Bos?" tanya Emira.
"Nike sedang menjalankan misi ke suatu daerah di negara berkembang. Misinya itu untuk mencari informasi penyebab di daerah itu sering terjadi konflik antar golongan. Tapi kita kehilangan kontak dengan Nike selama dua minggu ini. Aku ingin menugaskanmu untuk pergi ke negara itu mencari Nike dan selesaikan misi," jelas
Bos Luan.
Emira terkejut mendengar sahabatnya Nike hilang kontak dengan markas. Dia ingin menerima misi ini tapi bagaimana dengan Dara.
"Aku ingin menjalankan misi ini Bos, tapi saat ini aku sedang merawat Dara," jawab Emira.
"Aku akan menugaskan agen level S sebagai gantimu sementara waktu, setelah kau menyelesaikan misi kau bisa kembali merawat Dara. Karena aku hanya percaya padamu untuk menjalankan misi ini," ucap Bos Luan.
Emira terdiam. Memikirkan misi itu dan keselamatan Nike.
"Baik, aku akan menjalankan misi ini Bos," ucap Emira.
"Bagus, besok agen level S akan datang ke rumah Alzam," sahut Bos Luan.
"Oke Bos," jawab Emira.
Selesai bicara dengan Emira, Bos Luan menutup sambungannya. Emira terdiam.
"Aku akan meninggalkan Dara untuk sementara waktu sampai misi itu ku selesaikan dan menemukan Nike kembali," ucap Emira. Dia kembali duduk di ranjang.
__ADS_1
"Mungkin dengan begini aku bisa berpikir jernih, haruskah aku menikah dengan Alzam atau tidak?" batin Emira.
Mungkin dengan menjalankan misi kembali Emira bisa berpikir dengan tenang. Dia tidak ingin keputusannya terlalu dipaksakan. Jika terlalu terburu-buru akan melukai banyak orang. Emira juga belum tahu apa yang dirasakan hatinya sendiri. Semua masih buram. Dia harus tahu apa isi hatinya.