
"Kita ulangi lagi sekali lagi. Tolong disiapkan dengan benar," kata penghulu.
"Iya," jawab Alzam. Dia melihat ke arah Dara. Menatapnya matanya. Dara tersenyum. Mengangguk. Memberi kode agar Alzam yakin untuk melakukan akad nikahnya.
Alzam pun mengangguk. Dia membalas senyuman pada Dara. Kini hatinya lebih ringan dari pada sebelumnya. Dia merasa Dara sudah mengikhlaskan sepenuh hati.
Azzam mulai melakukan ijab qobul. Dengan lantang dan tanpa diulang kalimat ijab qobul itu diucapkannya. Dia juga merasa lega karena bibirnya tidak kesulitan saat mengucapkan ijab qobul itu.
"Sah?"
"Sah." Jawab semua orang yang hadir.
"Alhamdulillah."
Suara tepuk tangan dan syukur terdengar bersautan. Alzam berdiri menghampiri Dara. Duduk di depannya. Dia mencium kening Dara, menatap matanya.
"Terimakasih Alzam, kau sudah mengabulkan keinginan ku," kata Dara.
"Iya sayang," jawab Alzam.
Emira juga menghampiri Dara. Melihat itu Dara meraih tangan Emira. Dia menyatukan tangan Alzam dan Emira di tengah-tengah pangkuannya.
"Kalian harus hidup bahagia, meski aku tak ada," kata Dara.
Emira menggeleng. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Dara.
"Sayang jangan berkata seperti itu," kata Alzam. Matanya berkaca-kaca. Dia tak tega dengan apa yang dikatakan Dara padanya dan Emira. Seolah dia takkan bertahan lagi.
Dara tampak pucat. Dahinya berkeringat. Tangannya dingin memegang kedua tangan Emira dan Alzam. Nafasnya mulai tak beraturan.
"Dara!" Emira merasa ada yang aneh dengan Dara. Tangannya sangat dingin.
"Dara! Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Alzam panik.
Dara tersenyum. Kemudian menegang dadanya. Dia hampir terjatuh ke belakang. Untung saja Alzam menangkapnya. Memeluk tubuhnya dalam pelukannya.
"Dara kita harus ke rumah sakit," kata Alzam.
__ADS_1
"Iya, kita bawa Dara ke rumah sakit, buruan," sahut Emira terlihat panik. Melihat kondisi Dara yang semakin mengkhawatirkan.
Alzam mengangguk. Hendak mengangkat Dara tapi tangan Dara menghentikan tangan Alzam. Dia tetap menggengam tangan Alzam dan Emira.
"Tidak usah, waktuku sudah tak banyak," kata Dara pelan. Nafasnya semakin sesak.
"Tidak sayang, kita harus ke rumah sakit. Kau akan sembuh, sehat lagi," kata Alzam sambil menangis.
"Iya Dara, kau akan sembuh. Katanya kau ingin melihat anak kita lahir," tambah Emira. Dia ikut menangis. Melihat kondisi Dara yang semakin melemah.
"Tidak, aku akan melihat anak kita lahir dari atas sana," jawab Dara terbata-bata.
Emira dan Alzam menggeleng. Mereka memegang tangan Dara erat-erat.
"Waktuku habis Al-zam, E-mi-ra," kata Dara. Kata-kata yang ke luar dari mulutnya semakin sulit dan pelan.
"Alzam tuntun Dara," kata Emira.
Alzam mengangguk. Menuntun Dara mengucapkan mengucapkan syahadat. Tak lama seusai mengucapkan syahadat Dara menghembuskan nafas terakhirnya.
"Innalilahi wainnailaihi raji'un," ucap Alzam dan Emira. Tangan Dara tak bergerak lagi. Kaku dan dingin. Alzam menutup mata Dara. Mencium keningnya.
"Amin," jawab Emira.
Suasana di ruangan itu berubah sendu. Semua orang turut berduka cita atas kematian Dara. Alzam masih memeluk Dara. Begitupun dengan Emira yang merangkul Alzam.
Pemakaman Kamboja Merah
Alzam duduk di samping nisan Dara ditemani Emira di sampingnya. Mereka berdoa untuk Dara dan meletakkan bunga mawar merah di dekat nisannya.
"Dara sayang, semoga kau tenang di sana, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, diterima amal ibadahmu, diringankan siksa kuburmu," kata Alzam.
"Amin," sahut Emira.
"Sampai kapanpun aku selalu mencintaimu sayang, meski pun kau sudah tiada, kau tetap hidup di dalam hatiku," kata Alzam.
"Iya, semoga kita berkumpul di jannah nantinya," tambah Emira.
__ADS_1
"Amin," jawab Alzam.
Alzam memegang tangan Emira. Tersenyum padanya.
"Ayo pulang," kata Alzam.
"Iya Mas Alzam," sahut Emira. Rambutnya kini tertutup hijab. Emira tersenyum. Mengikuti Alzam ke luar dari tanah pemakaman itu.
"Kita mau punya anak berapa?" tanya Alzam berjalan sambil memegang tangan Emira.
"Mas mau berapa banyak?" tanya Emira.
"Asal kamu mau, aku siap bikinnya," sahut Alzam.
Emira menunduk malu dicampur sebel. Tak biasanya dia bersikap romantis.
"Aku seneng mendengarmu manis menanggilku Mas," kata Alzam.
"Jadi maunya dipanggil apa?" tanya Emira.
"Mas udah romantis kedengerannya," jawab Alzam.
Emira tersenyum. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Alzam dan Emira duduk berdua di belakang. Meninggalkan tempat itu.
Sampai di rumah Alzam membopong Emira masuk ke dalam rumah.
"Mas, aku bisa jalan sendiri," kata Emira.
"Bersikaplah manja sekali aja Emira, ku mohon," sahut Alzam.
Emira terdiam. Dia tak pernah bersikap manja pada lelaki.
"Mas I Love You," ucap Emira genit sambil mengedipkan matanya.
Alzam langsung membopongnya sambil berjalan cepat.
"Mas ada apa? ada gempa?" tanya Emira.
__ADS_1
"Iya, ada gempa di badanku sayang, buruan ke kamar ya," sahut Alzam.
Pipi Emira memerah. Dia sangat malu dengan ucapan Alzam padanya.