Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Bruuug ...


"Aw ...," keluh Emira.


Emira dan anak kecil itu terjatuh di spring bed yang berjejer di lantai satu. Emira berada di bawah tubuh anak kecil itu, memeluknya. Bergegas semua orang datang untuk menolong Emira dan anak kecil itu. Untung saja anak kecilnya tidak apa-apa, dia langsung digendong ibunya. Sedangkan Emira masih kesakitan.


Dari lantai dua Alzam berlari ke bawah, membelah kerumunan, langsung menghampiri Emira, meraih tubuhnya. Memangku di pangkuannya.


"Emira kau bodoh sekali, kau hampir mati," ucap Alzam.


Emira tersenyum. Dan menahan rasa sakitnya.


"Mas bawa ke rumah sakit."


"Iya mas bawa ke rumah sakit."


"Mari saya bantu antarkan ke rumah sakit."


"Mba, makasih sudah menolong anak saya." Ibu dari anak kecil itu berterimakasih pada orang yang menolong anaknya.


Emira hanya mengangguk karena masih menahan sakit.


Alzam angsung membopong Emira ke luar dari pusat perbelanjaan. Dia naik taksi ke rumah sakit. Alzam memangku Emira di kursi belakang. Dia begitu mengkhawatirkan sang agen rahasia itu.


"Emira katakan sesuatu! Kau baik-baik sajakan?" ujar Alzam.


Emira hanya mengangguk.


"Kau akan baik-baik saja, kau tidak boleh mati," ucap Alzam yang panik.


Emira hanya diam kemudian pingsan.


"Emira ..., Emira ..., bangun ...," panggil Alzam. Spontan Alzam memeluk Emira sambil menangis, dia membuka topi yang dipakai Emira. Alzam menyandarkan kepala Emira di bahunya. Dia begitu ketakutan kehilangannya. Kehadiran Emira memberi warna dan menghangatkan hidupnya yang telah lama kesepian. Dia tak rela jika sang agen pergi.


Sampai di rumah sakit Alzam turun dari taksi lalu berlari sambil membopong Emira. Masuk ke UGD. Emira dibaringkan di ranjang, mulai diperiksa oleh Dokter UGD. Alzam menunggunya dalam kecemasan. Dia terus berdoa untuk keselamatan Emira. Dia ingin Emira tetap ada dalam hidupnya.


"Ya Allah selamatkan Emira," batin Alzam dalam doanya.


Tak lama Emira dirujuk ke Dokter Spesialis. Emira menjalani berbagai pemeriksaan, kemudian dia dibawa ke ruang rawat inap. Emira masih belum sadarkan diri. Berbaring di ranjang. Sedangkan Alzam bicara dengan Dokter tentang kondisinya.


"Dokter gimana kondisi Emira?" tanya Alzam.


"Kalau dilihat dari kondisinya saat ini, dia terhitung orang yang kuat. Untuk seseorang yang jatuh dari ketinggian tidak mengalami patah tulang dan cidera yang serius itu hebat. Dia hanya mengalami cidera ringan dan beberapa luka memar," jawab Dokter.


"Begitu ya Dok," ucap Alzam.


"Emira hanya butuh beberapa hari perawatan dan pemulihan," ujar Dokter.

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik Dokter," sahut Alzam.


"Baik," jawab Dokter.


Setelah menemui Dokter, Alzam masuk ke ruang rawat inap tempat Emira berada. Alzam mendekat ke arah ranjang pasien tempat Emira berbaring.


Alzam duduk di samping ranjang. Melihat kondisi Emira.


"Emira aku mulai menyukaimu, kau berbeda dari wanita lainnya. Kau wanita yang membuat hati merasakan senang. Aku tidak membiarkanmu meninggalkanku. Tetaplah berada di sisiku dan Dara," ucap Alzam.


Tak lama Emira sadarkan diri, dia melihat ke sekeliling. Mengingat kejadian tadi. Kemudian menatap Alzam yang berada di depannya.


"Alzam," ucap Emira.


"Emira, syukurlah kau sudah sadar," sahut Alzam begitu senang melihat Emira sudah siuman.


"Alzam aku di mana?" tanya Emira. Dia merasa ada di sebuah tempat.


"Kau ada di rumah sakit Emira," jawab Alzam.


"Rumah sakit ..., aku ingat tadi aku jatuh," ucap Emira.


"Ya, kau jatuh Emira, aku yang membawamu ke sini," sahut Alzam.


"Ayo kita pulang Alzam, Dara pasti menunggu kita," ucap Emira.


"Kau harus istirahat Emira, biar cepat pulih," ucap Alzam.


"Aku sudah sehat, lihat aku sudah bisa duduk," ucap Emira.


"Kau yakin tidak mau dirawat dulu di rumah sakit?" tanya Alzam.


"Tubuhku akan pegal-pegal kalau seharian di rumah sakit. Aku ingin pulang, kasihan Dara. Dia  pasti menunggu kita kembali, aku tidak mau membuat dia khawatir," jawab Emira.


"Baiklah kalau begitu, aku urus administrasinya dulu," ucap Alzam.


Emira mengangguk.


Setelah mengurus administrasinya, Alzam dan Emira naik taksi ke pusat perbelanjaan untuk mengambil mobil Alzam. Kemudian mereka pulang ke rumah. Alzam mengendarai mobilnya sambil sesekali melihat ke spion depan, untuk memastikan Emira baik-baik saja.


"Alzam jangan ceritakan hal yang terjadi tadi pada Dara. Aku tidak ingin dia khawatir," pinta Emira.


"Ya, Emira apa tubuhmu tidak ada yang sakit?" tanya Alzam.


"Tidak, sebenarnya aku sering melompat dari ketinggian seperti itu saat menjalankan misi, hanya saja kali ini aku tidak membawa peralatan milikku," jawab Emira.


"Lain kali jangan melakukan itu lagi, aku tak akan memaafkanmu Badak," ujar Alzam.

__ADS_1


"Ku pikir kau khawatir, tetap saja memanggilku Badak," keluh Emira.


Alzam tersenyum. Dia senang melihat Emira cemberut dipanggil Badak.


"Oke, Emira cantik," sahut Alzam.


"Jangan menggoda, kau sudah beristri, ingat itu," ujar Emira.


"Baiklah, kau mau dipanggil apa?" tanya Alzam.


"Cukup Emira saja," jawab Emira.


"Badak lebih cantik," sahut Alzam.


"Kau ya," keluh Emira..


Alzam kembali tersenyum.


"Tadi kau hampir mati, kau tau aku sangat mengkhawatirkanmu," ujar Alzam.


"Aku tidak takut mati, terimakasih sudah mengkhawatirkan ku," ucap Emira.


"Akulah yang tidak bisa kehilanganmu Emira," batin Alzam. Dia tidak bisa membayangkan jika Emira tak ada. Dara sangat menyayanginya dan membutuhkannya. Alzam sendiri merasa hidupnya lebih bahagia saat ada Emira.


"Iya," sahut Alzam.


***


Pagi Itu Emira mengurus semua keperluan Dara. Dari mandi, berpakaian, makan, minum obat dan membaringkan Dara agar dia beristirahat. Selesai mengurus Dara, dia juga harus mengurus keperluan Alzam. Emira begitu kerepotan harus mengurus keduanya. Setelah tugasnya selesai, Emira pergi ke kamarnya. Dia duduk di ranjang dan mulai memikirkan tentang Ibu Yeni.


"Aku harus bisa menyusup ke rumah Ibu Yeni tapi bagaimana caranya?" ucap Emira.


"Mungkin aku coba hubungi Nike saja, mumpung dia ada di markas," gumam Emira. Dia menyalakan Clever dan mulai menelpon Nike.


"Clever ON," ucap Emira.


"Yes Clever ON," sahut Clever.


"Sambungkan aku dengan Nike," pinta Emira.


"Baik," sahut Clever. Aplikasi pintar itu mulai menyambungkan Emira dengan Nike.


Muncullah hologram tubuh Nike. Emira mulai bicara padanya.


"Nike, aku ingin menyusup ke sebuah rumah, bisakah kau bantu aku menyadap no telpon ini?" ucap Emira sambil memberi data identitas Ibu Yeni pada Nike.


"Oya, nanti no telpon itu secara otomatis akan tersadap dengan menggunakan Clever," sahut Nike.

__ADS_1


"Oke, maaf jadi merepotkanmu," ucap Emira.


"Tidak masalah, mumpung aku sedang ada di markas," sahut Nike. Dia senang bisa membantu sahabatnya. Mereka sudah bisa tolong menolong dalam misi. Emira sudah menganggap Nike seperti saudaranya bukan hanya sekedar sahabatnya. Baik Nike dan Emira saling mengenal baik satu sama lain. Itulah yang membuat mereka begitu dekat sebagai sahabat.


__ADS_2