Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Berselingkuh Atau Tidak?


__ADS_3

Emira kembali ke rumah besar Alzam. Dia langsung berganti pakaian, melepas semua atribut menyamarnya. Kembali menjadi Emira. Masuk ke dalam toilet untuk mandi kemudian berganti pakaian. Emira ke luar menemui Dara.bKebetulan Dania sedang duduk sambil melukis di kamarnya. Emira menghampiri Dara dan duduk di dekatnya.


"Dara bolehkah aku tanya sesuatu?" tanya Emira.


"Boleh," sahut Dara.


"Dara, apakah Alzam punya sepupu wanita?"


tanya Emira.


"Ada tapi di luar negeri," jawab Dara.


"Apa dia punya sahabat seorang wanita?" tanya Emira.


"Tidak ada, tapi kalau sahabat laki-laki ada beberapa," ucap Dara.


"Apa Sekretarisnya seorang wanita?" tanya Emira. Dia mencecar Dara dengan berbagai pertanyaannya.


"Ya," ucap Dara.


"Siapa namanya?" tanya Emira penasaran. Dia ingin tahu siapa Sekretarisnya Alzam.


"Indah," ucap Dara.


"Kau punya fotonya Indah, Dara?" Tanya Emira.


"Ada," ucap Dara.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Emira. Dia ingin tahu foto Indah. Apa dia mirip dengan Fanny atau tidak.


"Iya, aku cari dulu di handphoneku ya," ucap Dara.


Segera Dara membuka galeri di handphone miliknya untuk mencari foto Indah. Setelah beberapa saat, dia menemukan foto Indah, lalu dia menunjukkan pada Emira. Sejenak Emira mengamati foto yang ditunjukkan padanya.


"Ini Indah, sekretarisnya Alzam," ucap Dara.


"Ini bukan Fanny," batin Emira. Merasa Indah bukan Fanny. Wajah mereka berbeda.


"Memang ada apa kau tanya soal Alzam punya adik perempuan atau sekretaris perempuan?" tanya Dara. Dia ingin tahu kenapa Emira bertanya hal itu padanya. Apa ada hal penting yang berhubungan dengan Alzam.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu," jawab Emira.


"Percayalah, Alzam itu lelaki setia tak mungkin berkhianat," ucap Dara. Kepercayaannya pada kesetiaan Alzam sangat tinggi. Dara tahu seperti apa Alzam. Bahkan menikah lagi itupun atas kemauan dirinya.


"Iya, aku tahu," sahut Emira.


"Oya Dara, apa kau sudah makan dan minum obat?" tanya Emira.


"Sudah, tadi Bibi Nur yang membantuku makan dan minum obat," ucap Dara.


"Kalau begitu sekarang waktunya kau tidur siang," gumam Emira.


"Iya, terimakasih Emira," ucap Dara.

__ADS_1


"Sama-sama, aku akan membacakan mu sebuah dongeng," ujar Emira.


"Boleh," sahut Dara.


Emira membantu Dara berbaring di ranjangnya lalu menyelimutinya. Dia duduk di kursi yang berada di samping ranjang. Mulai mendongeng untuk Dara.


"Pada suatu hari seorang raja dan ratu yang saling mencintai hidup disebuah kerajaan yang besar. Mereka sangat bahagia diawal pernikahannya. Tapi pada suatu hari sang ratu sakit parah. Raja mencoba mencarikannya berbagai obat dan tabib tapi tidak juga kunjung sembuh. Semenjak sang ratu sakit, raja sangat kesepian dan sendirian. Hadirlah seorang gadis desa yang memikat hati sang raja. Raja itu menjalin hubungan dengan gadis desa itu tanpa sepengetahuan sang ratu. Tapi suatu hari pengkhianatan sang raja terbongkar juga. Sang ratu sedih, dia sangat terluka karena sang raja mengkhianatinya saat dia sedang sakit parah.


Dan akhirnya sang ratu memilih pergi meninggalkan sang raja," ucap Emira mendongengkan Dara.


"Aku mencoba memberi stimulasi pada Dara jika benar-benar Alzam berkhinat, aku harus tahu apa yang akan terjadi pada Dara?" batin Dara.


Dara terlihat sedih. Dia membayangkan berada diposisi sang ratu.


"Dara kenapa kau menangis?" tanya Emira.


"Raja itu tega sekali, kenapa saat istrinya sedang sakit dia berkhianat? Kenapa dia tidak bicara baik-baik dulu pada sang ratu? mungkin bisa cari solusi bersama-sama. Bukannya mengkhianatinya begini, kasihan sang ratu," ucap Dara sambil menangis.


"Iya sang raja itu memang brengsek, kalau seandainya jadi sang ratu, apa yang akan kau lakukan Dara?" tanya Emira.


"Aku pasti sedih sekali, dan mungkin aku juga akan seperti sang ratu meninggalkan sang raja," jawab Dara.


"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan ini hanya dongeng Dara, sekarang waktunya kau tidur," ucap Emira.


"Ya," ucap Dara.


Emira menunggu di kamar itu sampai Dara tidur, lalu dia ke luar dari kamar Dara menuju ke kamarnya. Emira duduk di sofa yang berada di kamarnya, dia mau mengecek pesan dan panggilan yang di simpan di file Clever.


"Yes Clever ON," sahut Clever.


"Clever coba munculkan semua pesan di handphone Fanny," ucap Emira.


"Oke," sahut Clever.


Dalam sekejab Clever memunculkan semua pesan yang ada di handphone Fanny dengan sebuah hologram.


"Sepertinya ini kebanyakan, aku harus lebih spesifik," ucap Emira.


"Tapi, ini, pesan Ibu Yeni untuk Fanny kok ...," ucap Emira membaca pesan Ibu Yeni untuk Fanny.


"Apa? Jadi pembunuh bayaran kemarin Ibu Yeni dan Fanny dalangnya?" Emira terkejut. Tak percaya kedua wanita itu licik dan jahat. Tega melakukan kejahatan demi sesuatu tujuan yang mereka inginkan.


"Benar-benar dua wanita ular," ucap Emira.


Kemudian Emira kembali meminta bantuan Clever lagi.


"Clever munculkan pesan yang hanya dari Alzam," ucap Emira.


"Oke," sahut Clever.


Kembali Clever memunculkan pesan yang hanya dari Alzam. Emira mulai memperhatikan pesan itu dan membacanya. Dia terkejut saat mengetahui isi pesan antara Alzam dan Fanny.


"Benar dugaanku, Alzam punya hubungan khusus dengan Fanny," ucap Emira.

__ADS_1


"Kanapa Alzam berbohong?" ujar Emira. Dia tidak berdiam diri, dia langsung berjalan mencari Alzam. Emira menemukan Alzam di ruang kerjanya. Dia masuk ke ruangan itu dan langsung menghampiri Alzam yang sedang duduk di kursi.


"Emira ada apa?" tanya Alzam.


Emira hanya diam, mukanya terlihat marah. Dia langsung mengepal tangan kanannya lalu menonjok pipi Alzam.


Dug ...


Pipi Alzam langsung memerah dan bibirnya mengeluarkan darah.


"Emira kau kenapa menonjokku?" tanya Alzam.


"Itu pantas untukmu Alzam, malah kurang seharusnya lebih dari itu," jawab Emira.


"Apa maksudmu Emira?" tanya Alzam.


"Selama ini ku pikir kau setia dan begitu menyayangi Dara tapi ternyata kau mengkhianatinya. Kau sungguh menjijikkan Alzam. Seperti kucing manis di depan Dara tapi sebenarnya kau buaya darat saat bersama Fanny. Sungguh realita yang menggelikan, bersandiwara sok baik dan setia tapi penuh kebohongan dan pengkhianatan. Di saat Dara menderita kesakitan tapi kau malah bermalam bersama wanita kotor itu. Aku tidak tahu harus menyebutmu apa? yang jelas kau memalukan dan membuatku muak melihatmu," ucap Emira.


"Emira aku bisa jelaskan semuanya," ucap Alzam.


"Tak perlu, aku sudah tahu yang sebenarnya. Tak perlu repot-repot untuk mencari alasan atau menutupi kesalahan dan penghianatanmu Alzam," tolak Emira.


"Aku minta maaf Emira," ucap Alzam.


"Lelaki bodoh, seharusnya kau minta maaf pada Dara, bukan aku. Aku tidak peduli kau mau seperti apa juga. Tapi Dara, dia akan terluka jika tahu kau berkhianat," ujar Emira.


Alzam berdiri. Berjalan menghampiri Emira yang berdiri di depan meja.Dia memeluk kaki Emira yang sedang berdiri di depannya.


"Emira ku mohon jangan beri tahu Dara, jika Dara tahu dia bisa bersedih dan itu tidak baik untuk penyakitnya," ucap Alzam.


"Alzam, aku memang tak akan memberitahu pada Dara, tapi kaulah yang harus memberi tahukan padanya," sahut Emira. Dia melepas tangan Alzam dari kakinya.


"Emira, aku sedang menyelidiki Fanny tentang anak di antara kami," ujar Alzam.


"Maksudnya?" tanya Emira.


"Aku merasa Haidan bukan anakku," jawab Alzam. Kemudian menceritakan semua kisahnya bersama Fanny dari SMA sampai Alzam menikah dengan Dara.


"Kau sudah tes DNA?" tanya Emira.


"Sudah, dua kali bahkan," jawab Alzam.


"Hasilnya?" tanya Emira.


"Yang pertama Haidan anakku, dan yang kedua Haidan bukan anakku," jawab Alzam.


"Berarti ada yang sengaja mengganti tes DNA itu, aku yakin Fanny dan ibunya dalang semua ini," ujar Emira.


"Mereka?" Alzam terkejut.


"Dua wanita itu licik, mereka sudah merencanakan membunuh Dara sampai dua kali, bahkan akupun jadi sasarannya juga," ujar Emira. Dia tahu Ibu Yeni yang merrncanakan semuanya dari pesan


"Apa? Mereka ingin membunuh Dara dan dirimu?" tanya Alzam terkejut. Dia tak menyangka Ibu Yeni dan Fanny tega melakukan hal sekeji itu.

__ADS_1


__ADS_2