Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Ending


__ADS_3

Emira mengangguk.


Bergegas Alzam membopongnya ke lantai atas. Masuk ke kamar pengantin yang sudah disiapkan Dara sebelum meninggal. Kamar itu begitu indah. Dihiasi dekorasi kamar pengantin. Dengan bunga, pita, dan balon love. Nuansa merah, putih, pink dan biru ada di kamar itu.


Alzam membaringkan Emira di ranjang. Mencium bibir merah delimanya. Ini kali pertama Alzam dan Emira berciuman. Mereka menikmati ciuman itu hingga beberapa lama. Kemudian melepasnya.


Alzam memulai pemanasan demi pemanasan. Emira yang terbiasa tampil tomboy dan kuat. Tak mampu melawan Alzam saat model On. Dia pasrah membiarkan Alzam mengikuti imajinasinya. Sedangkan Emira berdiam dan menikmati. Alzam begitu mahir hingga Emira terbuai dalam buaian asmara. Malam yang penuh bintang itu jadi saksi penyatuan dua insan itu. Namun saat Alzam baru pemanasan saja, dia teringat Dara. Alzam menyudahinya padahal baru saja dimulai, Emira juga masih perawan. Alzam belum menerobos kehormatannya.


Alzam yang masih mengenakan kemeja, mengancingkan kembali kemrjanya, kemudian ke balkon. Dia berdiri sambil menatap langit biru. Rindu pada Dara masih terbayang dipikirannya.


"Dara maafkan aku," ucap Alzam.


Tiba-tiba Emira datang menghampirinya. Memeluknya dari belakang. Dia tahu tak mudah untuk Alzam melupakan Dara.


"Mas teringat Dara?" tanya Emira.


"Iya, aku merasa bersalah saat ingin menyentuhmu," jawab Alzam. Dia merasa Dara masih ada di sekitarnya. Alzam merasa bersalah saat ingin menyentuh Emira.


"Iya, aku mengerti," jawab Emira. Dia memeluk Alzam erat. Mencium aroma tubuhnya yang maskulin.


"Aku tidak bisa melupakan Dara begitu saja Emira," kata Alzam. Terasa berat dan sesak di dadanya saat mengingat Dara. Enam tahun sudah menikah dengannya. Berbagi suka duka bersama. Begitu banyak kenangan yang terukir bersama. Membuat Alzam tak mudah menepis bayangan Dara.


"Mas tidak perlu melupakan Dara, biarkan dia tetap ada di hati dan pikiranmu, karena Dara bukan untuk dilupakan tapi untuk dikenang," jawab Emira.


Termenung mendengar jawaban Emira. Apa yang dikatakan Emira benar, Dara bukan untuk dilupakan tetapi dikenang. Sebagai sebuah kenangan yang akan tersimpan di hati dan pikirannya.


Alzam berbalik. Memeluk Emira. Menatap wajah cantiknya. Rambut panjangnya membuat Alzam teringat masa kecilnya.


"Kau secantik rapunzel Emira," kata Alzam.

__ADS_1


"Dulu kau mengatakan itu padaku," sahut Emira.


"Aku mencintaimu," ucap Alzam.


"Aku juga mencintaimu Alzam," jawab Emira.


Mereka berdua tersenyum manis. Memulai kembali kegiatan yang sempat tertunda. Di mulai dari berciuman. Hingga masuk ke dalam kamar. Menggoyangkan kembali ranjang. Memanaskan lagi badan. Suara demi suara sahut menyahut. Bagai simponi yang indah. Teratur dan berirama. Seiring dan sejalan. Bergerak horizontal dan vertikal. Menjelajahi seluruh ruangan. Memanfaatkan semua tempat. Bahu membahu menciptakan lagu cinta. Membuat sebuah karya dalam buaian asmara. Emira yang masih perawan merasakan nikmatnya rasa sakit ketika kehormatannya sudah direnggut Alzam. Meskipun demikian dia tersenyum. Senyuman yang mengembang seperti bulan sabit. Ikhlas memberikan mahkota bunganya untuk sang kumbang spesial.


"Alhamdulillah," ucap Alzam berbaring bersama Emira dalam satu selimut tebal yang menutup tubuh mereka.


"Alhamdulillah," sahut Emira.


Alzam mencium kening Emira. Memeluknya erat.


"Makasih sayang, aku benar-benar puas setelah sekian lama kesepian," kata Alzam.


Emira mengangguk. Pipinya memerah. Malu mendengar ucapan Alzam.


"Iya, akan ada Alzam junior yang tampan," sahut Emira.


"Dan Emira junior yang cantik," balas Alzam.


Mereka berdua begitu menikmati malam pertamanya meski tak malam hari. Kini rumah itu kembali ramai dengan cinta dan senyuman sang penghuninya.


***


Delapan bulan kemudian


Emira berjalan-jalan di taman ditemani Alzam. Emira sudah hamil 8 bulan. Alzam rutin setiap pagi menemani Emira jalan santai. Perut Emira buncit seperti balon. Kehamilannya yang memasuki bulan ke delapan membuatnya semakin sulit berjalan dan bergerak. Tapi Emira tetap semangat untuk beraktivitas.

__ADS_1


"Sayang, capek gak?" tanya Alzam.


"Gak Mas, cuma haus dan lapar," jawab Emira sambil memegang perutnya.


"Kalau gitu kita sarapan soto mau?" tanya Alzam.


Emira mengangguk.


Mereka berdua akhirnya makan di kedai soto di depan taman. Emira begitu lahap memakan soto itu sampai habis dua mangkuk.


"Sayang udah ya, kata Dokter jangan makan terlalu banyak, nanti susah pas lahirannya," ujar Alzam.


"Tapi aku masih lapar, Dedenya masih mau makan," elak Emira.


"Nanti lagi ya, kan udah abis dua mangkuk," sahut Alzam.


Emira mengangguk. Mau tak mau menyudahi makannya.


"Kita duduk di taman sambil berjemur mau gak?" tanya Alzam.


Emira mengangguk.


Akhirnya mereka memutuskan duduk di taman sambil berjemur. Alzam merangkul Emira dan mengelus perut buncitnya.


"Jagoan Papa sehat terus ya," kata Alzam.


Emira tersenyum. Alzam sangat protektif dan perhatian padanya. Termasuk pada bayi yang dikandungnya. Dia selalu memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya untuk Emira dan bayi dikandungnya.


Mereka berdua tersenyum menikmati cahaya hangat pagi hari. Menikmati waktu bersama dan akan lebih banyak lagi. Mengukir kenangan yang dipenuhi cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


Ending ...


__ADS_2