Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Siapa Wanita dan Anak Itu


__ADS_3

Emira berjalan memasuki halaman rumah Ibu Yeni. Dia memperhatikan rumah itu dengan seksama. Rumah yang berukuran sedang tapi cukup bagus. Berada di lingkungan yang ramai karena terletak di komplek perumahan. Suara anak-anak bermain terdengar riuh. Dari luar rumah itu tampak sepi namun gorden kacanya terbuka. Hanya gorden transfaran berwarna putih yang melapisi kaca. Terlihat cahaya televisi yang menyala di dalam rumah itu. Emira yakin sang empunya ada di dalam rumah. Dia berjalan menuju ke pintu rumah itu. Berdiri di depan pintu. Mengetuknya dengan tangan kanannya.


Tok ... tok ... tok ...


"Permisi, servis AC," ucap Emira selayaknya tukang servis AC.


"Ya tunggu," teriak seseorang dari dalam.


Emira tersenyum. Sepertinya dia akan bertemu targetnya.


Tak lama Ibu Yeni membuka pintu rumahnya. Dia melihat ke arah lelaki di depannya.


"Silahkan masuk! langsung saja ke kamar anak saya, mari!" ajak Ibu Yeni. Dia tidak mencurigai Emira sama sekali. Penampilan Emira memang seperti lelaki sempurna tanpa celah. Orang awam seperti Ibu Yeni sangat mudah dikelabuhi.


"Baik Nyonya," sahut Emira. Dia masuk ke dalam diantar Ibu Yeni masuk ke kamar Fanny. Di dalam terlihat Fanny sedang duduk di ranjangnya, dan sedang asyik memainkan handphone miliknya. Emira memperhatikan Fanny, wanita itu berwajah buruk, hampir seluruh mukanya rusak.


"Wanita buruk rupa ini pasti Fanny, anak Ibu Yeni," batin Emira menebak wanita berwajah buruk rupa yang duduk di atas ranjang memainkan handphone miliknya.


Selain itu Emira juga melihat sekilas ke sekeliling kamar Fanny. Dia belum bisa menemukan sesuatu yang mencurigakan karena tak sempat melihat semuanya lebih jelas.


"Itu ya Mas AC-nya, bersihin dan isi freon-nya!" titah Ibu Yeni menunjuk ke AC di atas dinding yang berada di atas jendela kaca.


"Iya Nyonya," sahut Emira.


"Saya tinggal dulu, kalau sudah selesai nanti saya ke sini lagi," ujar Ibu Yeni.


"Baik Nyonya," sahut Emira.


Ibu Yeni berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Saatnya aku bekerja," batin Emira. Kakinya melangkah ke depan. Menuju ke jendela kaca, sambil melirik sana sini mana tahu ada informasi penting.


Emira berjalan melewati lemari berukuran sedang, dia melirik beberapa pajangan di atas lemari itu. Ada banyak hiasan keramik, vas bunga dan foto-foto. Emira memperhatikan dengan jelas foto yang dilihatnya.


"Kenapa ada foto Alzam dengan seorang wanita, dan anak kecil? Siapa wanita ini? Apa dia wanita buruk rupa ini? Apa hubungannya dengan Alzam?" batin Emira. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di pikirannya. Membuatnya penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Alzam, wanita itu dan anak yang ada di tengah mereka.


Pikiran Emira melanglang buana ke segala arah. Memikirkan beberapa kemungkinan. Hanya saja Emira belum berani menyimpulkan secara gegabah tanpa bukti tambahan yang lebih kuat.

__ADS_1


Emira kembali berjalan ke depan. Berdiri di depan AC yang berada di atasnya. Dia mulai meletakkan stagger. Memanjatnya kemudian membersihkan AC di kamar Fanny, matanya tetap waspada. Melirik kanan dan kiri untuk mencari informasi lain yang bisa dia dapatkan dari kamar Fanny.


"Aduh perutku sakit," keluh Fanny sambil memegang perutnya. Dia berdiri. Berjalan dengan tongkat ketiaknya, perlahan-lahan menuju ke toilet yang berada di kamarnya. Masuk ke dalam dan mengunci pintu toilet itu.


Emira menghentikan pekerjaannya, memanfaatkan waktu untuk melakukan penyelidikan. Dia melihat hanphone Fanny yang diletakkan di atas ranjangnya.


Emira langsung mengaktifkan alat pendeteksi gerakan manusia, agar saat ada orang lain yang mendekat, Clever akan memberikan peringatan padanya.


Emira langsung mendekati ranjang Fanny lalu mengambil handphone miliknya.


"Pasti ada informasi yang bisa ku dapatkan dari handphone ini," ucap Emira. Dia menyalakan handphone Fanny tapi ternyata menggunakan password. Mau tak mau Emira harus meminta tolong Clever kembali.


"Clever ON," ucap Emira.


"Yes Clever ON," sahut Clever.


"Clever bajak passsword handphone ini!" titah Emira menunjukkan handphone milik Fanny pads Clever.


"Oke," sahut Clever.


"Clever ON," ucap Emira.


"Yes Clever ON" sahut Clever.


"Clever tolong copy paste semua pesan dan panggilan dihandphone ini ke dalam filemu!" titah Emira.


"Oke," sahut Clever.


Segera semua pesan dan panggilan disimpan difile Clever. Setelah selesai Emira meletakkan kembali handphone Fanny dan kembali membersihkan AC itu.


Tak lama Fanny ke luar dari toilet, berjalan menuju ranjang dengan tongkat ketiak miliknya, perlahan duduk dan kembali memainkan handphonenya.


Setelah selesai membersihkan AC itu, Emira berbicara pada Fanny yang duduk di atas ranjang kamarnya.


"Nona maaf, AC nya sudah selesai dibersihkan,"


ucap Emira.

__ADS_1


"Oke, sebentar ya," sahut Fanny. Segera memanggil Ibunya dengan kencang.


"Ibu ... Ibu ... Ibu ...," teriak Fanny.


"Ya sebentar," sahut Ibu Yeni yang berada di luar kamar itu.


Tak lama Ibu Yeni masuk ke dalam kamar Fanny dan berjalan menghampiri Emira yang berdiri memegang stagger dan box jinjing yang berisi peralatan milik tukang AC.


"Sudah selesai?" tanya Ibu Yeni.


"Iya Nyonya, sudah selesai," sahut Emira.


Ibu Yeni mengeluarkan uang dari dompetnya. Uang tiga lembar seratus ribuan.


"Ini bayaranmu," ucap Ibu Yeni sambil memberikan uang pada Emira.


"Terimakasih Nyonya," ucap Emira.


"Ya," sahut Ibu Yeni.


Emira pun berjalan ke luar dari kamar Fanny, menuju ke luar rumah, berjalan di tepi jalan. Kembali ke mobilnya. Dia duduk di kursi pengemudi, mengendarai mobilnya menuju ke jalan yang sepi. Kemudian dia mengeluarkan tukang servis AC dari mobilnya dan menyemprotkan penetralisir gas tidur. Tukang servis AC itu bangun dan masih kebingungan.


"Aku kenapa ada di sini?" tanya tukang AC itu.


"Anda tadi ketiduran di mobil saya," jawab Emira.


"Iya, saya ingat. Saya memang ketiduran di mobil Anda, maafkan saya," ucap tukang servis AC itu.


"Tidak apa-apa. Ini uang untuk Anda, segera pulang dan beristirahat! Mungkin Anda kurang fit jadi ketiduran," ucap Emira memberikan uang pada tukang servis AC itu.


"Saya pulang dulu Mas, terimakasih," ucap tukang AC itu.


"Iya, hati-hati di jalan," sahut Emira.


Tukang AC itu mengangguk. Berjalan meninggalkan mobil Emira.


Setelah itu, Emira mengendarai mobilnya menuju ke rumah besar Alzam. Dalam perjalanan menuju ke rumah besar itu, Emira memikirkan foto yang dilihatnya tadi. Dia penasaran dengan wanita dan anak kecil yang berfoto dengan Alzam.

__ADS_1


__ADS_2