
Pagi itu Dara berjalan ke luar dari kamarnya. Dia memaksakan diri untuk melakukan apapun sendirian agar tidak bergantung pada Alzam dan Emira. Dia tidak ingin seperti orang bodoh yang tidak bisa apa-apa. Dara berjalan menuruni tangga. Menuju ruang makan. Dia yang masih lemas beberapa kali hampir terjatuh tapi tetap berusaha berdiri dan berjalan. Ketika hendak masuk ruang makan Dara hampir terjatuh untung saja Emira menangkapnya.
"Dara kau tidak apa-apa?" tanya Emira.
"Tidak, lepaskan aku! Aku bisa sendiri," jawab Dara.
"Biar ku bantu ya? Kau mau makan?" tanya Emira.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri jangan memperlakukanku seperti orang sakit," jawab Dara.
"Tapi Dara ...," potong Emira.
Dara melepaskan tubuhnya dari tangan Emira. Dia berjalan masuk ke ruang makan dengan bersusah payah. Duduk di kursi. Dia mulai mengambil piring dan makanan.
"Selamat pagi," sapa Alzam yang berjalan menghampiri Emira.
"Pagi," sahut Emira.
"Dara ke mana ya? Dia tidak ada di kamarnya," ujar Alzam.
"Dia sedang sarapan, tuh," jawab Emira sambil menunjuk ke arah ruang makan. Di sana ada Dara sedang sarapan sendirian.
"Dara!" Alzam terkejut melihat Dara berusaha melakukan apapun sendiri.
"Sepertinya Dara tidak ingin dibantu oleh siapapun, dia ingin melakukan apapun sendiri," kata Emira.
Alzam terdiam. Senang melihat Dara sudah bisa melakukan apapun sendiri namun Dara terlihat memaksakan diri.
"Ayo sarapan!" ajak Alzam.
Emira mengangguk.
Mereka berdua masuk ke ruang makan. Duduk satu meja dengan Dara.
__ADS_1
"Sayang kau mau makan apa?" tanya Alzam.
"Aku bisa sendiri," jawab Dara.
"Biar ku ambilkan ya?" tanya Alzam menawarkan bantuan.
"Aku bisa sendiri," jawab Dara. Dia mengambil lauk pauk dan nasib ke piringnya sendiri.
"Dara mau susu atau teh?" tanya Emira.
"Aku minum air putih," jawab Dara.
Di meja sudah tersedia teko air putih dan gelas. Dara sengaja tidak ingin menyulitkan siapapun. Dia ingin melakukan semuanya sendiri.
Emira tersenyum tipis. Dia tahu Dara mulai menjaga jarak. Dia tidak ingin merepotkan siapapun lagi. Dara tidak ingin merasa bodoh dan dibohongi lagi.
"Emira ayo sarapan!" ajak Alzam.
Emira mengangguk.
"Dara," ucap Emira mencemaskannya.
"Aku tidak apa-apa, aku sehat kok," jawab Dara.
"Biarkan aku membantumu," kata Emira.
"Tidak usah, kau lihat aku mampu sendiri," jawab Dara.
Alzam terdiam menatap Dara. Dia tahu istrinya itu sedang berusaha menghindarinya dan Emira. Dia berusaha untuk menolak semua bantuan dari dirinya dan Emira.
Setelah setengah jam semuanya selesai sarapan. Emira pamit untuk ke luar duluan. Tinggal Alzam dan Dara.
"Sayang aku berangkat dulu," ujar Alzam. Dia hendak berdiri namun Dara mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Alzam aku ingin bicara sesuatu padamu," ucap Dara.
Alzam yang tadinya berdiri. Kembali duduk. Menatap Dara. Ada sesuatu yang sepertinya akan disampaikan Dara padanya.
"Kau ingin bicara apa sayang?" tanya Alzam.
"Alzam tolong ceriakan aku," kata Dara.
Deg
Jantung Alzam berdebar tak karuan. Terkejut mendengar ucapan Dara. Darahnya mengalir deras. Tubuhnya memanas. Nafasnya mulai tak beraturan. Bagai disambar petir apa yang dikatakan Dara terlalu mendadak dan mengejutkannya.
"Bercerai?" Alzam masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Dara.
"Iya, ku mohon ceraikan aku," jawab Dara. Tatapan matanya tampak serius. Dia menatap Alzam begitu tajam. Tak ada gurat kesedihan saat berkata seperti itu. Berbeda dengan Alzam, matanya berkaca-kaca. Dia tampak terkejut dan tak percaya.
"Kenapa kita harus bercerai Dara?" tanya Alzam. Dia tidak ingin berpisah. Bertahun-tahun bersama melewati suka dan duka. Bahkan Alzam tak sedikitpun mundur saat Dara terbaring tak berdaya.
"Karena aku tidak ingin merepotkanmu lagi Alzam," jawab Dara. Ekspresi di wajah Dara datar. Tak ada sedikitpun rasa sedih, kesal, marah, ataupun kecewa.
"Tapi sayang, kau ...," jawab Alzam.
"Aku baik-baik saja, jangan perlakukan aku seperti orang sakit," potong Dara. Dia tidak ingin semua orang mengasihinya sebagai orang yang sakit. Lemah dan tak berdaya. Dara ingin bisa melakukan semuanya sendiri. Tanpa bantuan siapapun lagi.
"Sayang maafkan aku jika aku salah padamu, jangan berkata seperti itu," kata Alzam. Dia tidak bisa menceraikan Dara. Apalagi kondisinya belum sehat sepenuhnya. Alzam tak bisa melepas Dara pergi.
"Ku mohon ceraikan aku!" pinta Dara. Penuh penekanan. Tanpa ada keraguan di dalam hati dan pikirannya.
Alzam berdiri. Menghampiri Dara. Dia memutar kursi Dara. Berlutut di depannya. Menundukkan kepalanya.
"Sayang maafkan aku jika kesalahanku padamu melukaimu, maafkan aku," kata Alzam. Matanya berkaca-kaca. Alzam tak mampu membendung kesedihannya. Dara adalah orang yang selama ini dicintainya. Begitu banyak kenangan yang sudah dilalui bersama. Baik suka dan duka.
"Maafkan aku, maaafkan aku," ujar Alzam penuh penyesalan. Dia menunduk tak mampu menatap Dara.
__ADS_1
Dara terdiam. Matanya mulai memerah. Berkaca-kaca. Tak bisa dipungkiri dia mencintai Alzam. Tak mudah untuk pergi dan melepas Alzam dari hidupnya.
"Aku harus apa agar kau memaafkanku, katakan sayang!" pinta Alzam. Dia sangat takut berpisah dari Dara. Selain kondisi kesehatan Dara, Alzam sangat menyayangi dan mencintainya.