
Selesai mencuci piring, Fanny berjalan melewati meja-meja. Matanya tak sengaja melihat dompet miliknya di atas meja. Dia mengambil dompet itu.
"Loh dompetku kenapa ada di sini?" ucap Fanny bingung. Seingatnya dia tidak mengeluarkan dompetnya. Apalagi meletakkan di meja.
"Masa bodo, yang penting dah ketemu," batin Fanny. Dia memasukkan dompet itu ke dalam tasnya lalu dia ke luar dari restoran itu. Saat sedang berjalan di luar dia tak sengaja bertubrukan dengan seorang laki-laki.
Dug ...
Fanny dan laki-laki itu langsung bertatapan mata. Fanny terkejut saat melihat lelaki yang ada di depan matanya. Bulu kuduknya langsung berdiri. Merinding bertemu lelaki yang dulu pernah ada di dalam hidupnya
"David," ucap Fanny.
"Dari suaramu kau Fanny," sahut David. Memperhatikan wanita bercadar itu. Meskipun wajahnya ditutup. Dia sangat mengenali suara dan matanya.
"Kau tak perlu tahu, aku malas bertemu denganmu lagi," ucap Fanny. Sebuah kesialan bertemu David. Dia tidak ingin lelaki itu kembali dalam hidupnya. Bisa sengsara kalau lelaki itu hadir dalam hidupnya lagi
"Fanny meskipun wajahmu ditutup cadar tapi suaramu dan bau tubuhmu aku ingat jelas. Apa yang aku tidak tahu darimu? Bukannya dulu kita sering menghabiskan malam bersama," sahut David. Tersenyum licik. Membuat Fanny malas melihatnya. Kalau bisa dia ingin segera kabur dari tempat itu.
"Hentikan kata-katamu itu, aku benci mengingat apapun yang telah ku lewati bersamamu," ucap
Fanny. Kenangan bersama David tak ada satupun yang menyenangkan hanya luka yang digoreskan olehnya.
"Mulai berani denganku Fanny, ayo ikut aku!" sahut David menarik lengan Fanny mengajaknya berjalan mengikutinya. Dia memaksa tak peduli Fanny tidak mau. Apapun perkataannya perintah untuk Fanny.
"Lepaskan tanganku David sialan!" ucap Fanny.
David terus menarik lengan Fanny hingga ke mobilnya. Dia memasukkan Fanny ke kursi depan mobilnya lalu dia masuk ke mobil untuk mengendarai mobilnya pergi dari area cafe itu.
Sampai di sebuah tempat yang sepi, David mengeluarkan Fanny dari kursi depan mobil lalu memasukkan Fanny ke kursi belakang mobil. Dia dan Fanny ada di kursi belakang mobil. Fanny begitu ketakutan. David orangnya nekad dan sadis.
"Fanny mari aku ingatkan apa yang sudah kita lewati dulu," ucap David sambil tersenyum pada Fanny. Dia sangat jahat dan licik. Fanny saja takut padanya.
"Tidak, aku tidak mau, lepaskan aku David!" teriak Fanny.
__ADS_1
David langsung merobek pakaian Fanny dan menanggalkannya. Dia terkejut saat mendapati muka Fanny cacat. David tertawa puas.
"Ternyata kau bercadar untuk menutupi muka rusakmu?" ledek David. Dia begitu senang melihat wajah Fanny cacat. Mana peduli David dengan keadaan Fanny.
"Wajahku memang cacat, lepaskan aku David!" pinta Fanny. Memohon kebaikan hati David agar membebaskannya.
"Tidak akan. Meski buruk rupa, aku harus memberimu pelajaran," ujar David. Dia memperkosa Fanny di dalam mobil itu. Melakukannya dengan keras dan memaksa.
"David b4jingan, lepaskan aku, aku tidak sudi
melakukannya denganmu!" teriak Fanny.
"Fanny rasanya masih sama seperti dulu, sepertinya aku akan sering-sering memakaimu,"
ucap David.
"Lepaskan aku! David!" ucap Fanny tak mampu melawan David. Tubuhnya rak sekuat David. Dia hanya bisa menangis saat David menginjak-injak kehormatannya.
Setelah berjam-jam lamanya David akhirnya mengakhirinya. Dia duduk di samping Fanny dan mengambil tas miliknya. David mengeluarkan dompet milik Fanny, memeriksa semua isinya. Mengambil atm dan uang yang ada di dalamnya.
"Kembalikan semua barang milikku David!" pinta Fanny sambil mencoba mengambil semua barang miliknya dari tangan David. Namun apa daya, David langsung mencekik leher Fanny dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya memegang tangan Fanny.
"Dav-vid kem-balikan ba-rang mi-likku," ucap Fanny bicara terbata-bata karena dicekik David. Dia tak bisa melawan.
"Fanny semua ini sekarang milikku, pakai bajumu dan ke luar dari mobilku! atau kau ingin aku lebih kasar padamu," ancam David. Dia tidak segan melakukan apapun demi keinginannya.
David melepas tangannya dari leher Fanny. Segera Fanny memakai baju yang sebagian sudah robek itu.
"Pergi! Aku jijik denganmu!" titah David.
Fanny terpaksa ke luar dari mobil itu. Dia tidak bisa mengambil barang miliknya yang diambil David. Dia bukan lawan yang tepat untuk Fanny. David mengendarai mobilnya meninggalkan Fanny seorang diri di jalan yang sepi itu.
***
__ADS_1
Sampai di rumah Fanny masuk ke dalam rumahnya. Dia terlihat murung. Langsung masuk ke dalam kamarnya. Melihat itu Ibu Yeni masuk ke kamarnya untuk menghampirinya. Fanny duduk diranjang. Ibu Yeni duduk di sampingnya.
"Fanny kenapa?" tanya Ibu Yeni.
"David kembali Bu," jawab Fanny. Terlihat lemas.
"Apa? Bukannya kau bertemu Alzam?"tanya Ibu Yeni.
Fanny membuang nafas gusarnya. Berusaha menenangkan emosinya.
"Awalnya aku bertemu Alzam, dia memutuskan hubungan kita," ujar Fanny.
"Apa? Kok bisa?" tanya Ibu Yeni terkejut. Bagaimana bisa Alzam memutuskan hubungan begitu saja.
"Alzam sudah tahu kalau Haidan bukan anaknya, dia punya bukti hasil test DNA-nya," jawab Fanny.
"Bukannya kita sudah mensabotase hasil test DNA itu?" tanya Ibu Yeni.
"Dia melakukannya lagi tanpa sepengetahuan kita Bu," jawab Fanny.
Ibu Yeni marah. Nafasnya tak teratur. Dia mengepalkan tangannya.
"Kita sudah susah payah sejauh ini, Alzam terlepas?" tanya Ibu Yeni.
"Bukan hanya itu dia menghentikan uang yang biasa dia berikan," ujar Fanny.
"Apa?" Ibu Yeni semakin terkejut mendengar ucapan Fanny. Selama ini mereka hidup dari uang yang diberikan Alzam. Mereka bisa shopping dan berfoya-foya tak perlu bekerja tapi kini tambang emasnya pergi.
"Itu kenyataannya," jawab Fanny.
"Tidak, bagaimana kita makan? Memenuhi kebutuhan kita, kau tidak bisa menjebak lelaki kaya lain kalau wajahmu seperti ini," sahut Ibu Yeni.
"Aku tidak tahu Bu," jawab Fanny. Dia menunduk. Semua rencananya hancur. Dia sudah tak punya harapan. Apalagi wajahnya cacat.
__ADS_1
"Operasi plastik segera, kau masih punya uangkan?" tanya Ibu Yeni. Dia berpikir agar Fanny segera operasi plastik untuk mencari cukong kaya lainnya. Atau membuat strategi baru.