Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Adikku Hilang


__ADS_3

"Uangku semuanya sudah diambil David Bu," jawab Fanny.


"Apa? Diambil David?" Ibu Yeni terkejut. Tak menyangka David mengambil semua uang milik Fanny.


"Iya, kenapa hari ini nasibku sial sekali Bu hik ... hik ... hik ...," ucap Fanny sambil menangis.


"Tidak nak, kau tidak perlu berpikir yang aneh-aneh," sahut Ibu Yeni. Berusaha menenangkan putrinya yang sedang menangis.


"Alzam meninggalkanku, sekarang David kembali dan malah memperkosaku, mengambil semua uangku," ucap Fanny sambil menangis.


"David, dia sangat berbahaya," sahut Ibu Yeni. Dia tahu persis seperti apa David.


"David ada di kota ini sekarang hik ... hik ... hik ...," ucap Fanny sambil menangis. Dia begitu takut dengan kembalinya David dalam hidupnya.


"Apa? Dia ada di kota ini? kok bisa? bukannya dia di penjara?" tanya Ibu Yeni. Seingatnya David masuk penjara. Saat dia dan Fanny meninggalkan kota sebelumnya.


"Aku tidak tahu mengapanya. Tapi dia membuatku takut Bu, dia memperkosaku dan mengambil semua uangku, aku takut dia akan memerasku lagi," jawab Fanny


sambil menangis. Ketakutan terbesarnya adalah menghadapi David yang tak berbelas kasih dan hanya menjadi parasit untuk Fanny.


"Jadi kita tak punya uang lagi?" tanya Ibu Yeni.


"Iya Bu, semuanya diambil David. Semua isi tasku dikuras olehnya, termasuk atmku," jawab Fanny.


"Sialan, dia memang licik," sahut Ibu Yeni. Kesal mendengar kejahatan David pada anaknya


Fanny hanya menangis. Kembalinya David sama saja kembalinya kesengsaraan padanya.


"Dia itu seperti parasit dihidup kita Fanny, Ibu khawatir dia akan terus meminta uang pada kita seperti dulu saat dia jadi suamimu Fanny," ucap Ibu Yeni.


"Iya Bu, David itu selalu menyiksaku dulu dan menjualku pada lelaki hidung belang untuk memenuhi keuangannya. Aku takut dia akan melakukan hal yang sama padaku Bu hik ... hik ...," sahut Fanny sambil menangis.


"Semua ini salahmu Fanny, dulu Ibu menyuruhmu menunggu Alzam selesai kuliah dari luar negeri tapi kamu malah memilih menikah dengan David yang akhirnya membuat hidupmu menderita," ucap Ibu Yeni.


"Aku tidak tahu akan begini jadinya Bu hik ... hik ....," ujar Fanny sambil menangis.


"Pokoknya kamu harus dapatkan Alzam kembali agar hidup kita enak dan jadi orang kaya raya," ucap Ibu Yeni.


"Iya Bu," sahut Fanny sambil menangis.


Fanny menyesali masa lalunya dengan David. David membuat hidupnya sangat menderita saat itu. Fanny disuruh bekerja sementara dia enak-enakkan judi dan mabuk-mabukan. Dia juga sempat dijual pada lelaki hidung belang oleh David. Fanny tidak mau bertemu David lagi. Dia takut David akan memanfaatkannya lagi.

__ADS_1


***


Di tempat berbeda, Emira sedang menyuapi Dara makan siang. Dara makan makanan yang disuapi dengan lahap. Emira memasak sendiri makanan untuk Dara sesuai petunjuk Dokter. Tak diragukan lagi kemampuan memasaknya. Dia pandai memasak. Emira mengajak Dara mengobrol sambil makan.


"Dara seperti apa keluargamu?" tanya Emira. Dia ingin tahu dari Dara sendiri. Meskipun Bibi Nur pernah cerita padanya.


"Ayahku dulu seorang pengusaha batu bara, ibuku ibu rumah tangga dan adikku ...?" jawab Dara berhenti sesaat. Mengingat keluarganya. Semua kenangan manis bersama keluarganya.


"Adikmu kenapa Dara?" tanya Emira. Penasaran. Ingin tahu adik Dara. Sepertinya Dara menyimpan sesuatu yang ingin diungkapkan.


"Adikku hilang," jawab Dara.


"Kok bisa adikmu hilang?" tanya Emira.


"Dulu saat usiaku masih 6 tahun, aku, adikku, dan kedua orangtuaku pergi ke taman bunga. Saat itu ayahku mendapat telpon dari perusahaan jadi ayah meninggalkan kami bertiga di taman. Kemudian ibuku pergi ke toilet, ibu menitipkan adikku padaku. Tapi karena aku asyik bermain, aku lupa menjaga adikku. Setelah itu adikku hilang sampai sekarang," jawab Dara.


Emira mendengarkan dengan seksama.


"Berapa usia adikmu saat hilang?" tanya Emira.


"Saat itu adikku baru berusia 6 bulan. Kami sudah mencari adikku tapi tak ditemukan sampai sekarang. Bahkan sampai orangtuaku meninggal, adikku belum ditemukan," jawab Dara.


"Sabar ya Dara, aku yakin suatu hari nanti kau akan bertemu dengan adikmu," sahut Emira.


"Dara jangan menangis, justru aku senang bisa merawatmu. Dulu aku tak sempat merawat ibuku yang sakit, bahkan sampai dia meninggal aku tak sempat melihatnya untuk yang terakhir kali. Itu selalu menjadi sesal dalam diriku," kata Emira. Dia selalu teringat kesalahan di masa lalunya. Itu yang menyebabkan ayah dan adiknya marah sampai saat ini.


"Terimakasih Emira, semoga ibumu tenang disl sana," ucap Dara.


"Ya, mulai sekarang kau harus tersenyum dan semangat biar kau cepat sembuh. Aku dengar kata orang kalau bahagia bisa meningkatkan imunitas tubuh, jadi kau harus bahagia ya Dara," sahut Emira.


Malam itu Alzam pulang ke rumahnya, mobilnya masuk ke halaman depan. Dia ke luar dari mobilnya berjalan menuju teras. Terdengar suara Emira memanggilnya.


"Alzam! Alzam!" teriak Emira yang berada di atas pohon di halaman depan rumah Alzam.


"Emira, aku pikir siapa. Kenapa kau ada di atas pohon?" tanya Alzam. Melihat ke atas pohon.


"Aku tidak bisa tidur, dan bosan sekali berada di dalam kamar jadi aku pikir berbaring di atas pohon sambil melihat bulan dan bintang akan lebih menarik," jawab Emira.


"Oya, aku belum pernah melakukan hal itu, bolehkah aku ikut naik?" tanya Alzam.


"Kalau kau bisa," tantang Emira.

__ADS_1


"Baiklah aku akan naik ke situ badak," jawab Alzam.


"Buktikan!" pekik Emira.


Alzam berjalan menuju pohon yang dinaiki Emira, naik ke atas pohon, dari satu dahan ke dahan lain kemudian duduk di samping Emira.


"Kau benar di atas sini lebih menarik saat melihat bulan dan bintang, udaranya juga terasa sejuk," ujar Alzam.


"Ya begitulah," sahut Emira.


"Kau sering melakukan hal seperti ini?" tanya Alzam.


"Kadang-kadang kalau aku bosan," jawab Emira


"Kau itu unik, seorang wanita malam-malam duduk di atas pohon untuk melihat bulan dan bintang," ucap Alzam.


"Justru di sinilah spesialnya, menyenangkan bisa duduk di atas pohon sambil bersantai melihat bulan dan bintang," kata Emira.


"Tapi aku suka," sahut Alzam.


"Baguslah kalau kau suka," ucap Emira.


Tak lama Alzam berdiri di atas pohon itu. Dia melihat ke atas langit yang diterangi bulan dan bintang.


"Hei Alzam jangan berdiri, nanti kau terjatuh," ucap Emira.


"Ini menyenangkan bulan dan bintangnya lebih terlihat jelas," sahut Alzam.


"Oya, aku ingin coba juga," ucap Emira.


Emira mengikuti Alzam berdiri di atas pohon itu lalu mereka melihat bulan dan bintang. Kaki Alzam terpeleset jatuh ke bawah bersama Emira.


"Alzam!" teriak Emira juga ikut terjatuh bersama Alzam.


Bruuug ...


Mereka berdua terjatuh ke bawah, Alzam berada di bawah tubuh Emira. Sedangkan Emira berada di atasnya. Mereka saling memandang beberapa saat. Alzam memperhatikan wajah cantik Emira dari dekat. Jantung Alzam berdetak tak karuan. Emira merass canggung, dia segera bangun dan berdiri.


"Eeee ..., aku sebaiknya kembali ke kamar. Selamat malam Alzam," ucap Emira langsung meninggalkan Alzam.


"Malam," sahut Alzam. Dia masih di situ dalam posisi yang masih berbaring.

__ADS_1


"Kenapa jantungku berdebar saat melihat Emira?" batin Alzam. Kemudian bangun dan berjalan menuju ke dalam rumah rumahnya.


__ADS_2