Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Rasa


__ADS_3

20 Januari 2020


Bagimu mungkin aku hanyalah singgah, kau senang bersamaku tapi nyatanya tak mampu membuatmu betah


Seperti biasa, selesai beraktivitas Acha selalu menuliskan isi hatinya pada sebuah buku. Buku yang berisi sajak-sajak tanpa judul tentang perasaan Acha untuk seseorang. Rasa yang tak tersampaikan, bahkan mungkin tak akan pernah tersampaikan.


Acha membalikkan lembar demi lembar buku tersebut. Membaca sekilas, menatap nanar betapa banyaknya sajak yang sudah Ia tulis selama 7 tahun ini.


"Pengecut sekali aku ini" Acha membaringkan tubuhnya kasar, melempar buku perasaan itu ke sembarang arah. Kesal. Kesal bagaimana bisa ia menjadi begitu pengecut untuk urusan perasaan.


"Acha!!"


Acha menatap malas arah suara terbebut, melihat pintu yang setengah terbuka yang menampilkan sosok mama nya. Sorot matanya seperti mengatakan 'Jangan ganggu aku! . Tapi tentu saja ia tak akan mengatakannya, mana berani.


"Kenapa, Ma?" tanya Acha malas


"Chikal di bawah" lebih malas lagi saat mendengar nama itu.


Cih, mau apa dia kesini, batin Acha


"Ya, ya aku turun"


Sebenarnya ia malas, tapi tetap melangkahkan kaki menuju lantai bawah. Melihat Chikal yang membenamkan kepalanya diatas meja, dengan tangan sebagai bantalnya.

__ADS_1


"Kak Achaaaaaa!!" teriak Chikal lebay saat melihat Acha sudah menuruni tangga.


Acha diam. Kenapa lagi anak ini?, batinnya


"Kak Achaa yang cantik nan rupawan tolong bantu Chikal yaaaa" muka Chikal tampak memelas, seperti benar-benar butuh pertolongan.


Acha hanya diam, tak menjawab.


"Kak Achaaa, nanti Chikal beliin bolu keju bakar kesukaan Kak Acha deh. Janji. Plis, plis, plis, plis." Chikal mengatupkan kedua tangannya ke depan muka, memohon. Suaranya pun di buat buat seperti anak kecil yang merengek minta mainan.


Acha tersenyum, luluh. Bukan karena bolu keju bakar yang dijanjikan Chikal, tapi karena tingkah Chikal yang menggemaskan membuatnya tak mampu untuk menolak.


"Baiklah, mau dibantu apa?"


Chikal terlihat sumringah, membuka tasnya dan mengeluarkan buku-buku dan penanya. Ia mengambil buku latihan matematika nya dan menunjukkan pada Acha.


Hilang sudah kesopanan Chikal yang memanggil Acha kakak tadi. Ya, Walaupun mereka berjarak 2 tahun, Chikal hampir tak pernah memanggil tetangganya itu kakak. Kecuali kalau diperlukan. Seperti minta bantu mengerjakan PR misalnya.


Acha terlihat tak peduli dengan perubahan panggilan dan sikap Chikal, sepertinya dia sudah terbiasa. Acha membolak balikkan halaman buku Chikal, mencoba mengingat ingat cara tergampang untuk dikerjakan Chikal.


Chikal sebenarnya pintar, logika dan kemampuan menghafalnya luar biasa tapi matematika adalah kelemahannya. Dia benci melihat angka-angka. Untungnya ia berteman baik dengan tetangganya Acha yang bisa dibilang jenius matematika. Sebenarnya tidak juga, hanya saja Acha mampu menyederhanakan rumus dan cara mengerjakan yang mudah dipahami Chikal. Itu yang membuat Chikal menyebutnya jenius matematika.


"Gimana, Cha? Gue gak minta lu ngerjain deh, ajarin aja cara gampangnya."

__ADS_1


"Ya gue juga gak mau ngerjain tugas lu kali" cetus Acha


"Oke, kita mulai ya. Perhatiin baik-baik. Gue gak akan mengulang penjelasan"


Acha menuliskan rumus pada Chikal, dia mengganti simbol rumus dengan sebutan yang mudah dipahami dan diingat Chikal. Kemudian mulai menjelaskan cara mencarinya dengan contoh soal yang ada dibuku. Chikal hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Acha.


"Ngerti?"


"Yoi, gue kan pinter." jawab Chikal menyombongkan diri.


Kalau pinter kenapa minta bantu gue coba, pikir Acha


"Lu masih lama? gue bikin minum dulu."


Chikal menatap Acha yang sudah berdiri, tapi tidak berjalan. Seperti menunggu jawaban.


"Iya, makasih Kak Acha sayang."


deg


Acha kaget. Terdiam beberapa saat sebelum pergi meninggalkan Chikal.


'Sial. Kenapa sih lu bisa ngomong sayang segampang itu, Kal? Lu gak tau dampaknya seberapa besar di hati gue.' Acha terduduk lemas di kursi dapur, membenamkan wajahnya dalam dalam di meja dihadapannya.

__ADS_1


Tanpa sadar airmata nya menetes.


Gue suka sama lu, Kal. Tapi gue benci cara lu ngomong sayang seenaknya. Lu seperti ngasih gue harapan yang tak akan pernah sanggup gue gapai.


__ADS_2