
Acha setengah berlari mengejar Chikal yang sudah duluan pergi ke parkiran. Erga menatap kepergian Acha, rambutnya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan karena lari kecilnya membuatnya tampak menggemaskan.
Aaaahh dia manis sekali. Erga tersenyum senang, mengantar kepergian Acha dengan matanya, sampai gadis itu tak terlihat lagi. Dia kembali duduk, menatap layar ponsel yang menampilkan nama 'Acha' lalu tersenyum penuh arti. Awal yang bagus.
"Udah?" Chikal mendelik malas
"Ayo buruan pulang" Acha langsung menaiki motor Chikal tanpa aba-aba. Hampir saja mereka jatuh karena Chikal hilang keseimbangan, untung kakinya cukup kuat untuk menahan beban tubuh dirinya dan gadis dibelakangnya.
"Ngomong-ngomong dong kalau naik!" Protes Chikal sebal.
"Maaf ya zheyenk"
"Gak lucu!" Chikal memakai helm nya kasar, melirik spion, menatap sebal Acha yang tersenyum melihat layar ponselnya. Cih, pasti si Erga.
"Lu kenapa Kal? Kesal karena harus terpisah dengan bang Erga ya?" tanya Acha meledek. Habisnya sepanjang jalan Chikal hanya diam, padahal di Cafe tadi dia paling berisik.
"Bacot" jawabnya singkat.
Peka dong kak Acha yang cantik jelita. Tetanggamu ini cemburu!
• • • • •
__ADS_1
"Makasih mas gojek" Acha mencubit pipi Chikal gemas lalu turun dari motor, merapikan pakaiannya sebentar sambil menunggu Chikal pergi. Tapi yang ditunggu tak pergi-pergi.
"Kenapa mas? Saya bayar pakai go-pay, gak ada cash nih." Acha berusaha mencairkan suasana.
Chikal menatap Acha lama.
"Cha"
"Iya?"
"Ada yang mau gue omongin sama lu. Udah lama." Chikal terlihat ragu. Ditatapnya lagi Acha yang sudah sangat penasaran dengan kata-katanya.
"Apa, Kal?" Hatinya sudah dag dig dug menunggu perkataan Chikal. Berharap mimpi indahnya menjadi kenyataan. Berharap Chikal menyatakan perasaannya sekarang.
"Apa?" sudah dengan rasa penasaran yang memuncak tapi masih bisa bersabar.
"Cha..."
"Iya" Sudah mulai kesal dengan tingkah Chikal.
"Cha" Acha langsung menginjak kaki Chikal sekuat tenaga. Tak dapat lagi ia membendung rasa kesalnya.
__ADS_1
"Aaaaahhh, sakit oon!" Chikal melirik Acha tajam, yang dilirik membalas dengan tatapan yang lebih tajam lagi.
"Apa? Lu mau ngerjain gue? Suka liat gue penasaran kan?" Omelnya kesal.
"Hahhahaha muka lu lucu soalnya hahhaha" Chikal tak dapat menahan tawanya melihat wajah kesal Acha. Tak peduli lagi dengan kakinya yang masih terasa nyeri akibat serangan Acha tadi, wajah Acha sudah mengalihkan perhatiannya.
"Sialan!" Diinjaknya lagi kaki Chikal sambil menatap Chikal tajam. "Pulang sana!" Acha mendorong motor Chikal agar cepat sampai kerumah Chikal yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya.
Chikal yang mengetahui Acha ingin mendorong motornya buru-buru memegang rem, hingga motor tak bergerak sama sekali meski sudah di dorong sekuat tenaga oleh Acha.
"Iiiiiiih, nyebelin" Acha memukul Chikal sebal saat tahu Chikal mengerem motornya. Dia menghentak-hentak kan kakinya kasar dan berjalan menuju rumah, tak peduli dengan Chikal yang masih berada di depan pagar rumahnya.
Sebelum masuk Acha menoleh sebentar, melihat Chikal yang belum beranjak dari depan rumahnya.
"Goodnight kak Acha! Semoga penasarannya gak kebawa mimpi ya!" Ledeknya lagi sebelum pulang kerumah.
• • • • •
Dear diary,
Dia mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak sejanak. Ku kira ini tentang perasannya. Nyatanya hanya aku yang berharap terlalu banyak.
__ADS_1
Acha menghembuskan nafasnya berat. Membenamkan wajahnya dalam-dalam. Memilih terlelap karena terlalu lelah dengan perasaan di dunia nyata. Barangkali di dunia mimpi Chikal bisa menjadi pasangannya.