Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Sang Pemilik Rasa


__ADS_3

Acha kembali membawa nampan yang berisi dua gelas air sirup dingin dan cookies yang di buat mamanya tadi pagi. Chikal terlihat antusias melihat kedatangan Acha. Dia tau akan ada cookies buatan mama Acha. Itu favorit nya, dan menjadi salah satu alasan kenapa ia sering bermain dirumah Acha.


"Asiiiikk" Chikal terlihat sangat senang dan langsung mencomot cookies yang baru saja diletakkan Acha di atas meja


"Kal, kalau udah selesai langsung pulang!"


Acha melihat meja yang sudah bersih dari buku-buku Chikal. Cih, selama apa aku pergi tadi.


Chikal menatap Acha tidak suka. Baru saja ia memakan satu cookies masak sudah disuruh pulang. Yang benar saja.


"Cha, jangan galak sama gue. Ntar naksir baru tau rasa lu."


"Gue? Naksir sama lu? HA HA HA"


Chikal tidak membalas perkataan Acha. Ia sibuk memakan cookies dan asik memainkan hape nya.


Acha menatap Chikal lama. Memperhatikan setiap gerak gerik tubuhnya. Mulai dari caranya mengambil cookies, caranya mengunyah, meminum, semua tak luput dari pandangan Acha.

__ADS_1


Acha memikirkan bagaimana mungkin ia bisa jatuh hati pada bocah yang dua tahun lebih muda darinya. Bahkan sialnya rasa itu tak kunjung hilang meski sudah tujuh tahun berlalu.


Wahai engkau Sang Pemilik Rasa. Tolong hilangkan rasa ini dariku. Aku tak ingin sakit terlalu lama, aku tak ingin memendam terlalu dalam.


Chikal menyadari tatapan Acha, namun hanya diam. Tak terganggu, tak perduli. Satu-satunya yang ia pedulikan adalah cookies enak buatan mama Acha.


"Cha, kalau ada cewek ngasih cookies buat valentine enak kali ya. Bosan gue nerima coklat terus."


Terdengar sombong memang, tapi begitulah Chikal. Ia cukup populer dikalangan wanita. Ia tidak terlalu tampan sebenarnya, hanya saja kepintaran dan keramahannya mampu membius banyak orang untuk mendekatinya.


"Valentine identiknya dengan cokelat kali Kal" Acha menjawab malas, tak tertarik. Benci memikirkan hari dimana Chikal didekati banyak wanita hanya untuk sepotong cokelat.


Hap. Acha memakannya.


"Iya ya rasa cokelat" Sahutnya asal. Tak tertarik sebenarnya, hanya ingin mencuri kesempatan disuapi Chikal. Meskipun bukan itu maksud Chikal menyodorkan cookies.


"Lu mah gitu, ini cookies yang terakhir tau." Chikal sedikit cemberut menatap cookies yang tinggal setengah bekas gigitan Acha tadi.

__ADS_1


"Sini"


Acha menyodorkan tangannya, ingin menghabiskan cookies yang telah dia gigit. Tapi terlambat, Chikal sudah melahap cookies tersebut.


Acha kaget. Bagaimana mungkin Chikal memakan sesuatu bekas gigitan nya.


"Kenapa Cha?"


"Gak, gak, gak papa kok." Acha berusaha menjawab senormal mungkin, memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah yang disebabkan kelakuan spontan Chikal.


"Gue pulang"


"E-eh iya" Acha agak tergagap karena memikirkan yang barusan terjadi.


Acha mengantar Chikal sampai ke depan pintu, seperti biasa. Dia mengantar Chikal, namun pandangannya kosong. Chikal sudah menyadari ada yang aneh dengan Acha malam ini, mulai dari membuat sirup yang hampir satu jam hingga berbicara gagap yang sebelumnya tak pernah Acha lakukan.


Ya sudahlah, batin Chikal, tak peduli.

__ADS_1


Acha hanya menatap kepergian Chikal. Menghembuskan nafasnya kasar.


Wahai engkau Sang Pemilik Rasa, kalau kau tak ingin menyatukan kami. Berhentilah membuat Chikal bersikap seenaknya di depanku. Berhenti membuat dia memporak porandakan hatiku. Jangan buat aku jatuh cinta akan perlakuan kecilnya.


__ADS_2