Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Keinginan


__ADS_3

Drrttt.. Drrttt..


Acha tersenyum melihat teks singkat di layar handphonenya. Sudah satu jam Acha dan Erga saling chatan, Erga dengan terang-terangan menggoda Acha membuat Acha terkekeh ria.


"Aku kira kamu pacaran sama Chikal, rupanya cuma tetangga ya" Acha tersenyum pahit. Pengennya sih lebih dari tetangga.


"Iya, cuma tetangga kok." balas Acha


"Ada dong kesempatan buat aku hehe"


"Kesempatan apa coba?"


"Acha jangan pura-pura polos deh 😑"


"Haha iya apaa??"


"Gak jadi deh. Udah ayo tidur. Selamat malam ya, mimpi indah."


"Eh jangan mimpi indah deh, mimpi aku aja ya" Acha tertawa melihat isi chat Erga. Orang pedekate manis manis jijik ya, pikirnya.

__ADS_1


"Iya. Malam." balas Acha singkat.


Acha beranjak dari tempat tidurnya, membuka jendela, menghirup dalam aroma angin malam yang memainkan manja rambutnya. Duduk di pinggiran jendela, menatap jendela diseberang kamarnya. Ingat dulu dia dan Chikal sering bicara menggunakan kaleng yang dihubungkan dengan tali, telepon pada jaman nya. Acha terkekeh mengingat itu semua.


Drrttt... Drttt.. Teleponnya bergetar. Acha memicingkan matanya melihat nama sang penelepon. Bukannya dia mau tidur?


"Halo?"


"Eh belum tidur?" tanya suara diseberang sana.


"Udah. Kebangun lagi gara-gara kamu."


"Udah ya." Acha langsung mematikan teleponnya.


Semenjak pertemuan pertamanya dengan Erga, lelaki itu sudah mulai melancarkan aksinya. Dari chatan setiap hari, menelepon tiba-tiba karena rindu suara Acha, ngajak jalan, dan banyak lagi.


Sebenarnya Acha sedikit risih, tapi tak terlalu dia pikirkan karena sikap Erga yang lumayan asik. Barangkali kedekatannya dengan Erga mampu menghapus sedikit perasaannya kepada Chikal.


Menggunakan seseorang untuk melupakan seseorang. Licik sekali dirimu Acha. Itu yang selalu dia pikirkan setiap kali membalas godaan Erga, seolah memberi Erga kesempatan yang dia sendiri tak tahu bisa memberikan hatinya atau tidak.

__ADS_1


Drrttt... Drrtt..


Sebuah pesan masuk. "Maaf mengganggu. Semoga tidurmu mampu mengobati lelahmu hari ini dan menambah staminamu di pagi hari" Acha tersenyum geli. Ngutip quotes darimana sih ini orang?


Acha mengambil buku diary nya lalu kembali duduk di pinggir jendela. Membaca perlahan curahan hatinya selama tujuh tahun ini. Sudah tiga buku yang dia habiskan untuk mencurahkan perasaannya. Kalau diterbitkan mungkin dia sudah kaya.


03 Agustus 2013


Hari ini aku bahagia karena ucapan seseorang. Kali ini bukan karena ucapan sayang mama atau papa yang berkata akan membelikan baju baru. Tapi ucapan dia yang mengatakan akan menikahiku. Itu sebuah lamaran bukan? Aku akan menantikannya dengan senang hati, tak peduli berapa pun lamanya.


Tulisan pertama yang Acha buat tujuh tahun lalu, membayangkan bocah umur 12 tahun menulis catatan semanis itu membuat Acha malu.


Acha beralih pada buku diary ketiganya, mengambil pita yang menjadi penanda catatannya. Meraih pena dan mulai menulis.


Maaf Chikal. Nyatanya tujuh tahun kebersamaan kita hanya kau anggap persahabatan, sedangkan aku ingin lebih dari itu. Bolehkah jika aku berhenti sekarang dan mulai mencari bahagia ku yang baru?


Sebenarnya sudah beberapa kali ia menulis ingin berhenti menyukai Chikal. Tapi tulisan hanya sekedar tulisan, keinginan hanya sekedar keinginan. Hati tak dapat didustakan. Sebesar apapun keinginan untuk melupakan kalau hati sendiri tak ingin bergerak satu centi saja maka semua percuma bukan?


Erga. Kalau kau memang serius, ayo buat aku jatuh cinta padamu!

__ADS_1


__ADS_2