Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Menuju Valentine


__ADS_3

Acha melangkahkan kakinya santai menyusuri supermarket yang tak jauh dari kampusnya, terdengar senandung kecil yang keluar dari bibir mungil nya. Tangannya mengambil bahan-bahan yang diperlukan dan memasukkannya ke dalam troli.


"Tepung terigu, maizena, cokelat, hmm mentega masih ada dirumah, telur juga ada, kayaknya bahan lain masih ada deh dirumah" Acha berbicara pada dirinya sendiri. Ia mendorong troli menuju kasir.


Saat menunggu antrian, matanya tertuju pada bingkisan bermacam-macam merk cokelat dengan warna pink yang mendominasi. Tentu saja, ini kan valentine. Dengan cepat ia memutar trolinya kembali meninggalkan antrian, bagaimana mungkin ia bisa lupa, cookies ini ia buat untuk kencan valentine bersama Chikal. Ini tak seperti cookies yang biasa ia buat dirumah, kali ini harus lebih spesial.


Diambilnya satu kotak buah strawberry dan kemasan plastik bening bermotif hati. Lama ia pilih motif hati mana yang paling sesuai, akhirnya ia memutuskan membeli plastik bening dengan motif hati berwarna hitam besar dengan tulisan "Will you be my valentine?" dibawahnya. Ia rasa bungkus itu akan cocok dibandingkan bungkus hati berwarna merah.


"Eh ada Acha"


Acha membalikan tubuhnya, menatap ke arah suara yang menyebut namanya. Matanya berbinar, tersenyum senang melihat sosok dihadapannya.


"Erga!" teriaknya senang, dia melompat kecil sambil meraih tangan Erga "Kamu ngapain disini?"


"Beli ini" Erga menunjukkan satu renteng kopi sachet yang baru diambilnya.


"Ohh"


"Kamu beli apa?" Erga melirik bahan-bahan kue yang berada dalam troli belanja Acha.


"Ah, aku mau bikin kue" ucapnya. Wajahnya bersemu merah, mengingat ajakan kencan dari Chikal.


"Valentine?" selidik Erga. Pipi merah Acha membuatnya penasaran untuk bertanya. Ya, walaupun tanpa dijawab pun ia tau jawabannya.

__ADS_1


"Iya" Acha mengangguk pelan, ia memegang kedua pipinya yang terasa panas.


Apa ini? Patah hati? Erga merasakan sesak di dadanya. Wajah bersemu Acha, anggukan pelan nya, menandakan ada orang yang disukai Acha.


"Oh, untuk siapa?" Erga, berhenti bertanya! Hatimu tidak sanggup! Otaknya berontak keras saat kata itu terucap dari mulutnya. Ia penasaran, siapa lelaki beruntung yang mendapatkan cinta Acha. Ia penasaran meski tau mengetahuinya hanya akan membuat hatinya terluka.


"Kau ingin tau?" Acha menatap Erga dalam. Erga hanya mengangguk pelan, dadanya berdebar keras.


"Namanya..."


deg deg deg


"Adalah..."


deg deg deg


"Acha!" Erga refleks teriak kesal. Padahal ia sudah menyiapkan hatinya tadi.


"Nyebelin ya!" dicubitnya keras pipi Acha, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


"Aw aw aw sakit! Sakit tau!" Acha berusaha melepaskan cubitan Erga


Erga tertawa lepas melihat pipi Acha yang memerah karena cubitannya.

__ADS_1


"Aku bantuin bikin mau gak?" tanya Erga


"Emang bisa?"


"Bisa lah! Aku sering bantu mama ku dulu" Erga mengambil alih troli Acha, lalu mendorongnya ke kasir.


• • • • •


"Woi! Katanya mau bantuin?" Acha yang sedang mengaduk bahan-bahan dengan cookies melirik sebal ke arah Erga.


"Ya, aku bantu doa" ucap Erga malas. Ia mengaduk-aduk sirup merah yang ada dihadapannya dengan malas.


"Ck." Acha berdecak kesal melihat tingkah Erga. "Kalau gak mau bantu pulang sana"


Erga menghembuskan nafasnya berat.


"Acha, itu cokelat buat orang yang kamu suka kan? Kamu harus bikin sendiri. Kalau aku bantu jadinya gak spesial lagi."


"Iya juga ya" Acha mengangguk-angguk mengerti.


Erga menidurkan kepalanya diatas meja, memejamkan matanya perlahan. Pikirannya kembali sesaat sebelum memasuki rumah Acha.


"Cha, ingat ya valentine nanti" ucap Chikal sebelum menjalankan motornya.

__ADS_1


Acha mengangguk senang, sedangkan Erga hanya diam mencerna kata-kata Chikal.


Sialan. Jadi cokelat itu untuknya.


__ADS_2