Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Tuan Putri dan Pelayan (2)


__ADS_3

Erga menatap sekitar, menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya, menarik nafas lagi lalu menghembuskan nya kembali. Membulatkan tekad untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Matanya menatap Acha yang terlihat antusias dengan hape di tangannya, bersiap merekam aksi Erga.


"Ehm." Erga berdehem, memastikan suaranya masih ada. Tak ada mic, tak ada gitar dan tak ada musik. Tapi sosoknya yang ada di atas panggung sudah menarik perhatian banyak orang.


"Bodo amat ah! Malunya nanti aja!" Dia kembali meyakinkan dirinya.


"Biarkan akuu... Jadi sesuatu yang berarti untukmu tapi tidak sesaat.." Erga mulai menyanyikan lagu Dhyo Haw yang berjudul 'Ada aku disini'. Lagu yang dikiranya sangat pas untuk menggambarkan perasaannya pada Acha.


Orang-orang berdatangan, beberapa diantara mereka mulai mengeluarkan handphone untuk merekam aksi Erga. Beberapa diantaranya berbisik-bisik entah apa yang dibicarakan. Ada pula wanita yang menyuruh pacarnya melakukan hal yang sama. Entah kenapa hadirnya orang-orang tanpa banyak komentar itu menambah rasa percaya diri Erga. Dia mulai bernyanyi lebih keras, untungnya suaranya lumayan bagus sehingga orang yang mendengar tidak kesal.


Erga turun dari panggung, berlari ke arah Acha. Wajahnya tersenyum bangga seolah mengatakan 'Gimana? Aku keren kan?'.


Mata orang-orang semua tertuju pada Acha sekarang seolah berkata 'Oh dia pacarnya'. Ya, salah paham yang tak dapat dihindarkan. Semua akan mengira begitu bukan? Seorang lelaki dengan bangga menyanyi didepan umum itu pasti dilakukan untuk menyenangkan hati kekasihnya. Itulah yang dipikirkan orang-orang.


"Bagaimana tuan putri?" Tanya Erga senang.


"Lumayan lah untuk pelayan sepertimu" Acha berbalik memunggungi Erga. Tertawa kecil dengan jawabannya. Erga pasti kesal sekarang.


"Putri tidak mau memuji hamba? Lihatlah, hamba banyak fans sekarang" Erga melirik sekeliling mereka, orang-orang yang tadi menonton konser dadakan Erga masih melihat ke arah Erga. Ingin tahu kelanjutannya bagaimana.


Acha hanya mendengus sebal. "Seorang pelayan tidak punya hak untuk minta dipuji oleh majikannya" Acha berjalan mendahului Erga. Ia sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang disekitarnya.


"Maafkan kelancangan hamba" Erga menunduk sebentar lalu menyusul Acha.


"Break dulu! Aku laper"


"Break? Kita end kan saja sekarang tuan putri" Erga merasa tak nyaman dengan kata break, dia yakin gadis dihadapannya ini masih akan memberikan permintaan aneh-aneh kalau drama ini terus dilanjutkan.

__ADS_1


"Erga. Kau sudah berjanji akan menjadi kan ku putri satu hari" Acha menatap Erga tak percaya. "Oh. Atau mungkin kau tipe orang yang tak bisa memenuhi janjinya?" sambung Acha meledek, membuat Erga menggenggamkan tangannya kesal.


"Baiklah, asalkan Putri Acha senang, jadi pelayan seumur hidup pun hamba bahagia" Erga menghembuskan nafasnya pelan melihat Acha yang tersenyum penuh kemenangan.


• • • • •


Acha dan Erga keluar dari sebuah warung mie ayam diseberang taman. Ada rasa puas yang tergambar di wajah mereka. Makan enak tanpa harus membayar banyak adalah prinsip anak muda yang tak boleh hilang ditelan jaman.


"Ternyata tuan putri tak hanya doyan cilok tapi juga mie ayam ya" tawa Erga meledek


"Ihh nyebelin ya!" Acha memukul lengan Erga pelan tapi ikut tertawa juga.


"Mau jadi putri lagi sekarang?" tawar Erga.


"Pelayan?" Acha menyodorkan tas nya ke hadapan Erga.


"Lihat tuh! Mau-maunya diperdaya wanita" segerombolan anak SMA dengan terang-terangan mengejek Erga. Erga terlihat tak peduli, tahu apa bocah tentang asmara? pikirnya.


Acha melotot ke arah anak SMA yang mengejek Erga, membuat mereka segera berlari menjauh. Dengan kesal Acha menarik tas nya dari pundak Erga, membuat Erga kebingungan.


"Ada apa tuan putri?"


"Udah ah! Gak mau jadi putri lagi" Acha terlihat kesal sekarang.


"Kenapa? Tadi semangat?"


"Maaf ya, Ga. Gara-gara aku kamu jadi diejek kayak tadi. Pasti malu ya" Acha merasa bersalah, mengingat tindakannya yang sedikit keterlaluan.

__ADS_1


"Yaelah Cha. Santai aja kali. Sini aku bawain" Erga berusaha mengambil kembali tas Acha.


"Gak usah!" Acha berusaha menghindar


"Ayo sini"


"Berani nyentuh tas aku, aku teriak maling nih!" Ancam Acha. Membuat nyali Erga langsung ciut.


"Iya deh maaf" Erga mengalah. "Jadi mau kemana lagi sekarang?"


"Terserah"


"Mall?"


"Gak ah, gak ada yang mau dibeli."


"Time zone?"


"Males main"


"Jadi kemana?" tanya Erga lagi


"Ya terserah."


"Dasar cewek." ucap Erga sebal.


"Apa?!" Acha menatap Erga tajam. Yang ditatap hanya mengangkat bahunya malas.

__ADS_1


Ditawarin ini gak mau, itu gak mau. Ditanya maunya apa malah terserah. Sungguh makhluk yang membingungkan. - Erga


__ADS_2