Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Tuan Putri dan Pelayan


__ADS_3

"Silahkan tuan putri" Erga membukakan pintu mobil untuk Acha membuat Acha tersipu malu. Banyak lelaki yang mencoba mendekati Acha tapi yang memperlakukannya seperti putri ya hanya satu orang ini.


"Hehe terimakasih pangeran" Balas Acha menggoda.


"Pacar satu hari?" Tawar Erga sambil menggandeng tangan Acha.


"Tuan putri satu hari." Acha tersenyum sambil mengangkat tangannya.


"Pangeran satu hari" Erga menyambut tangan Acha. Deal.


• • • • •


"By the way, aku gak ngerti peran putri dan pangeran" Acha tertawa singkat. Permintaannya untuk menjadi putri satu hari membuat perjalanannya dengan Erga terasa canggung. Mungkin Erga juga berpikir bagaimana caranya memperlakukan seorang putri.


"Aku juga bingung. Gak papa Acha tetap jadi putri, aku pelayan aja deh. Bingung kalau jadi pangeran" Erga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oke pelayan. Sekarang bawa tasku, aku kelelahan." Acha menyodorkan tasnya kepada Erga. Erga dengan sigap menerima tas Acha dan mengalungkannya di lehernya.


"Pelayan. Belikan aku jus buah." Acha duduk di bangku taman sambil menunjuk stand jus buah yang tak jauh dari tempatnya duduk.


"Baik tuan putri, hamba akan segera kembali" Erga menundukkan kepalanya sopan.


"Pelayan, aku ingin makan cilok"


Erga tertawa "Putri kerajaan mana yang makan cilok hahaha"


Acha memukul pundak Erga, ikut tertawa setelah mendengar perkataan Erga. Benar juga, mana ada tuan putri yang makan cilok.


"Udah sih turutin aja" Acha mendorong tubuh Erga agar bangkit dari tempat duduknya. "Dasar pelayan tidak sopan, beraninya kamu menertawakan saya!" Acha mulai berakting sebagai tuan putri yang marah karena keinginannya ditertawakan.

__ADS_1


Erga yang melihat akting Acha langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya. "Maafkan ketidak sopanan hamba tuan putri"


"Kamu harus dihukum!" Bentak Acha


"Silahkan hukum saya tuan putri. Saya memang pantas mendapatkannya!"


"Lari keliling taman 100 kali"


"Sepertinya putri senang sekali jika melihat saya mati kelelahan. Saya menawarkan diri untuk lari 1000 kali tuan putri"


Acha menahan tawanya. "Baiklah, lari keliling taman seribu putaran!"


Erga menatap Acha tak percaya. Gadis didepannya ini terlihat sangat menikmati perannya sebagai seorang putri.


"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat lakukan!" Acha mulai kesal saat Erga tak menuruti permintaannya.


"Saya permisi tuan putri" Sambil membungkuk sopan.


"Aku menyuruhmu seribu putaran, bukan satu putaran!"


"Maaf tuan putri, lebih baik putri pulang saja dan kembali lagi 3 hari kemudian. Hamba baru akan selesai tiga hari lagi" Tawa Acha pecah saat mendengar perkataan Erga, apalagi melihat raut wajah Erga yang mulai terlihat kesal.


"Maaf tuan putri. Seorang putri tidak sepantasnya tertawa terbahak-bahak seperti itu." Ledek Erga


"Oh. Kau mulai kurang ajar ya. Mau ku tambah lagi hukumanmu hah?!" Acha mulai tersadar dan melanjutkan aktingnya.


"Maafkan hamba tuan putri, hamba tidak bermaksud" Erga membungkukkan tubuhnya lama, berharap dimaafkan oleh putri satu harinya ini.


"Tidak. Aku akan menambah hukumanmu" Acha tersenyum licik. Gadis ini benar-benar sangat menikmati perannya. "Buatkan aku patung diriku dengan bermacam-macam ekspresi. Aku akan kembali dua hari lagi." Acha beranjak dari tempat duduknya, pura-pura ingin pergi.

__ADS_1


"Apa boleh saya minta bantuan jin tuan putri? saya akan menyelesaikannya dalam satu malam" jawab Erga mengingat dongeng yang pernah diceritakan padanya dulu. Tentang lelaki yang ditantang menyelesaikan candi dalam satu malam.


"Baiklah. Kerjakan itu malam ini. Sekarang, hibur aku"


"Hiburan seperti apa yang tuan putri inginkan?"


"Bernyanyi lah diatas panggung sana!" Acha menunjuk panggung yang berada di tengah-tengah taman.


"Puteri?" Wajah Erga memelas, seperti mengatakan 'apapun kecuali ini'.


"Sekarang!" Perintah Acha, tak memperdulikan tatapan memelas Erga.


"Cha, sambung besok lagi ya main putri putriannya. Kita makan yuk, udah siang" Erga berusaha mengalihkan perhatian Acha.


"Sekarang!"


"Cha.."


"Sekarang!" tatapan Acha menajam, sorot matanya mengatakan 'sekarang atau mati!'.


"Baik tuan putri!" Erga melakukan gerakan hormat. Lupa bahwa gadis ini perannya sebagai putri, bukan kapten.


Acha tertawa senang, mengikuti Erga yang berjalan di depannya menaiki panggung. Acha mengeluarkan handphonenya, ingin merekam aksi Erga.


Baru saja naik, Erga sudah turun lagi. Ia menggenggam tangan Acha memohon.


"Cha, tolong Cha. Malu akuuu" ucapnya memohon.


Acha cemberut, mengerti jika keinginannya akan membuat Erga malu. Tapi ia benar-benar ingin melihat Erga bernyanyi sekarang.

__ADS_1


"Yahh. Tuan putri kecewa" Ucap Acha memonyongkan bibirnya, seolah benar-benar kecewa.


Erga menarik nafasnya panjang. Lalu berjalan menaiki panggung. Bodo amat dengan malu, yang penting Acha senang dulu.


__ADS_2