
"Yakin nih gak mau lanjut lagi? Masih ada banyak waktu sebelum kita pulang lho!" Entah sudah berapa kali Erga mengatakan ini, membujuk Acha untuk kembali menjadi Putri. Walaupun menyebalkan, tapi wajah Acha yang senang dan sangat menikmati perannya membuat Erga terpesona. Ia ingin melihat wajah itu lagi, wajah bahagia Acha yang disebabkan olehnya. Manusia mana yang tak bahagia jika menjadi alasan tersenyum orang yang disukainya kan? Bahagia sekaligus bangga. Itu lah yang dirasakan Erga, ia ingin merasakannya lagi dan lagi.
"Ayolah. Tadi menikmati banget kayaknya" pujuk Erga lagi.
Acha hanya diam tak peduli. Tangan dan matanya terfokus pada satu hal, ring basket didepannya. Satu persatu bola masuk tanpa kendala, membuat beberapa orang memperhatikan Acha, berdecak kagum.
Acha menyadari tatapan yang ditujukan padanya, membuatnya sedikit tidak nyaman tapi tetap melanjutkan permainan.
"Udah ah! Capek!" Acha berjalan pergi meninggalkan mesin permainan basket yang belum habis waktunya. Bahkan ia tak mengambil tiket yang berlimpah karena win strike nya saat main tadi.
"Gila ya! Jago banget sih!" Erga terlihat tak percaya. "Ayolah, jadi putri lagi" masih belum menyerah.
"Putri gak bisa main basket!"
"Bisa dong. Putri Acha bisa" pantang menyerah. "Cha, itu yakin gak diambil?" Erga melirik tiket permainan di mesin basket.
"Gak penting. Aku cuma pengen main basket sih, udah lama gak main soalnya. Dulu sering main sama Chikal"
__ADS_1
"Terus sekarang gak main lagi?"
"Lapangan tempat biasa kami main udah dibangun mini market" Acha mendesah pelan, raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.
Entah mengapa melihat wajah kecewa Acha membuat Erga kecewa juga. Merasa sedih karena bakat hebat Acha tak tersalurkan.
"Di kampus ada klub basket, kenapa gak ikut?" tanya Erga
"Gila ya! Aku gak mau di cap tomboy lah. Dulu sering banget di katain tomboy karena doyan basket" Acha cemberut mengingat masa SMA nya. Sebenarnya tidak masalah, masih banyak yang mengejarnya walaupun ia tomboy. Tapi tetap saja kata 'tomboy' membuatnya kesal. Ia ingin menjadi wanita fenimim yang bisa menarik perhatian Chikal, saat kuliah ia memutuskan untuk meninggalkan dunia basket.
Hanya mesin basket di Time Zone yang menjadi penyalur kerinduannya ketika ingin bermain basket.
"Nanti susah dapat pacar haha" Acha menjawab sekenanya.
" Kenapa gitu?"
"Ya cowok kan sukanya yang feminin"
__ADS_1
"Siapa bilang?" Erga mengerutkan dahinya
"Menurut kamu aja gimana?" Acha menatap wajah Erga, mencari pembenaran.
"Itu masalah hati kali, Cha. Kalau hati aku milih buat jatuh cinta sama cewek tomboy, logikaku bisa apa?" Erga menatap Acha dalam. "Saat kamu mutusin buat jatuh cinta, tomboy, feminin, jelek, cantik, kaya, miskin, gak akan ada artinya lagi" jawab Erga mantap.
"Bicaramu sok keren. Padahal kalau disuruh pilih pasti milih yang feminin kan?"
"Enggak juga. Kamu kenapa segitu gak maunya dibilang tomboy?"
"Soalnya cowok yang ku suka gak suka cewek tomboy"
deg.
"Oh." Hanya oh yang bisa terucap sekarang. Erga berusaha menenangkan hatinya yang bergemuruh, secepat inikah patah hati? Untung masih suka, belum tahap cinta. Jadi sakitnya masih belum seberapa.
"Siapa?" tanya Erga penasaran. Cukup, Ga! Hati lu gak sanggup dengernya. batinnya bergejolak. Penasaran tapi juga takut hatinya semakin patah.
__ADS_1
"Kamu!" Acha menyolek dagu Erga, tersenyum menggoda.
"Ah tuan putri! Pelayan hampir patah hati ini!"