
"Cha, kalau Chikal gede nanti mau nikah sama Acha" Chikal tersenyum manis
Acha terkejut, tak menyangka bocah sekecil Chikal bisa berkata seperti itu. Setelah bisa mengontrol keterkejutannya, Acha kembali mengompres memar di kening Chikal. Anak usia 10 tahun ini cukup menyusahkan bagi Acha. Ia sering berkelahi dengan anak tetangga yang lain, padahal Chikal baru pindah kesini sebulan yang lalu.
Orang tua Chikal jarang ada dirumah karena sibuk bekerja, biasanya mereka pulang sore hari. Jadi siang hari Chikal selalu di titip dirumah Acha, tetangga disamping rumahnya.
Tentu saja Chikal juga jarang dirumah Acha, dia lebih sering bermain di luar bersama anak tetangga yang lain. Dan selalu berakhir dengan perkelahian. Entah bagaimana cara dia berteman Acha pun tak mengerti.
Karena orang tua Chikal sudah menitipkan Chikal kepada keluarga Acha, maka sudah menjadi tanggungjawab Acha untuk menjaganya. Acha sering menjadi penengah ketika Chikal berkelahi.
"Chikal kenapa sih suka banget berantem?" tanya Acha kesal. Walaupun menyusahkan, Acha sudah terlanjur peduli dengan anak manis ini.
"Mereka nyebelin tau, anak baru jangan sok sokan katanya gitu" Chikal cemberut mengingat alasan perkelahiannya dengan teman-temannya. Itulah yang selalu menjadi alasan kenapa Chikal berkelahi.
"Makanya dirumah kak Acha aja, jangan kemana mana! Nyusahin tau ga! Setiap kamu berantem mereka pasti ngadu ke kak Acha suruh pisahin. Urusan kak Acha gak cuma kamu tau!" Walaupun Acha ngomong begitu, alasan sebenarnya adalah ia tak mau melihat Chikal terluka lagi.
__ADS_1
"Iya iya" Chikal mendelik malas
"Acha tangannya kenapa?" tanya Chikal saat melihat pergelangan tangan Acha sedikit membiru.
"Gak papa"
"Coba sini" Chikal menarik tangan Acha, menekan bagian yang membiru.
"Aw"
"Gak apa kok" Acha mengacak rambut Chikal gemas. Chikal terlihat lucu saat merasa bersalah, wajahnya benar-benar polos.
"Cha, Chikal mau belajar bela diri. Jadi Acha gak perlu ngelindungin Chikal lagi. Tangan Acha gak perlu kesakitan lagi. Acha gak perlu khawatir sama Chikal lagi. Nanti Chikal yang akan ngelindungin Acha, bukan Acha yang ngelindungin Chikal." Chikal lalu mencium pergelangan tangan Acha yang membiru.
deg
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Acha merasakan jantungnya berpacu begitu cepat. Terharu sekaligus terkejut dengan perkataan manis Chikal, juga dengan tingkahnya yang tiba-tiba mencium pergelangan tangan Acha.
Walaupun masih kecil, perlakuan Chikal begitu manis bukan? Kalau ini terjadi saat mereka dewasa tentu saja Acha akan jatuh hati. Namun tak perlu menunggu dewasa, Acha sudah tersentuh dengan kata dan kelakuan Chikal. Ngelindungan aku katanya hehe, Acha tersenyum manis. Senang. Walaupun tidak begitu yakin Chikal bisa melindunginya. Tapi untuk hari ini, Acha mencoba percaya dengan perkataan Chikal.
• • •
Acha tersenyum manis mengingat kejadian 7 tahun lalu.
"Chikal ingat gak ya pernah ngomong gitu?" tanya Acha pada dirinya sendiri
Lagi-lagi dia tersenyum, membayangkan Chikal akan mengulangi perkataannya lagi di masa yang akan datang.
Lu manis banget tau, Kal dulu. Sekarang kayaknya mustahil ya lu bakal ngomong semanis itu lagi.
Acha mulai terlelap dalam tidurnya, cukup lelah juga membayangkan bagaimana perasaannya kepada Chikal selama ini tak kunjung dapat kesempatan untuk tersampaikan. Atau mungkin tak kunjung dapat keberanian untuk menyampaikan.
__ADS_1