
Acha menatap layar laptopnya lama. Membaca ulang makalah yang sudah dia susun, barangkali ada kesalahan penulisan atau ada yang ingin dia tambahkan. Sesekali Ia menyandarkan tubuhnya lalu menyeruput es jeruk yang sudah tak dingin lagi.
Di seberang meja Acha, seorang pria melihatnya dalam. Terpaku akan kecantikan wajah Acha. Ditambah lagi melihat wajah serius Acha saat mengerjakan tugas menambah daya tariknya.
Ingin rasanya ia menyapa tapi rasa gengsi sudah menghantuinya. Wanita cantik selalu sombong bukan? pikirnya.
"Permisi" Akhirnya setelah lama berperang dengan hatinya, ia memutuskan untuk menyapa.
Acha mengalihkan pandangannya dari laptop kepada orang yang menyapanya. Ada raut tidak suka diwajahnya, merasa terganggu. Tapi dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya, tersenyum manis.
"Ada apa?" tanya Acha dengan senyum manisnya
Syukurlah dia tidak sombong, pikir lelaki itu
"Maaf, aku perhatikan kamu sendiri. Boleh aku bergabung?" Tanya pria itu ragu-ragu. "Aku juga sendiri" sambungnya lagi.
"Oh iya silahkan." sahut Acha ramah. Lagipula tugasnya sudah selesai, hanya tinggal di cek saja.
Acha menutup laptopnya, memasukkan ke dalam tas dan meletakkannya di tempat duduk sebelahnya.
"Aku ganggu ya?" Tanya lelaki itu. Merasa tidak enak saat melihat Acha memasukkan laptopnya. Aku ganggu kan? pikirnya.
"Oh enggak kok, udah selesai juga" Ya. Acha selalu bersikap ramah kepada semua orang. Walaupun orang itu sedikit mengganggunya, tapi rasa tidak enakan sudah tertanam di diri Acha sejak kecil. Itu yang membuatnya tak bisa mengabaikan orang lain.
"Kenalin, aku Erga." Lelaki itu mengulurkan tangannya.
"Acha" sambut Acha sambil tersenyum ramah.
Cantik, baik, ramah pula. Pikir Erga. Hatinya senang bukan main perkenalannya dengan Acha berjalan sesuai harapan. Bahkan jauh lebih baik dari harapannya tadi.
"Anak kampus Angkasa Wira ya?" tanya lelaki itu saat melihat almamater yang tergantung di sandaran kursi Acha.
"Iya, hehe"
"Aku juga!" Sahut lelaki itu semangat. Merasa mendapatkan topik yang pas dan tentunya mendapat kesempatan untuk jauh lebih dekat kan?
"Oh ya? Jurusan apa?"
__ADS_1
"Akuntansi, kamu apa?"
"Akuntansi?" sahut Acha tak percaya. Lelaki didepannya ini tak tampak seperti anak Akuntansi. Kenalan Acha yang jurusan Akuntansi kebanyakan pendiam dan susah diajak bicara.
"Hehe iya"
"Aku manajemen bisnis. Dari kecil udah tertarik bisnis sih."
"Oh enak ya. Sesuai dengan kemauan kamu dong. Aku minatnya di seni, tapi papa suruh ambil akuntansi. Matematika aku tinggi sih, tapi tetap aja minat ku yang sebenarnya di seni."
Acha dan Erga bercerita banyak tentang kuliah mereka. Tentang alasan mereka memilih jurusan, tentang ospek menyebalkan di kampus Angkasa Wira, tentang Erga yang berkuliah tak sesuai minat, dan banyak lagi. Sesekali mereka tertawa, terkadang juga saling mengejek. Seperti teman yang sudah kenal lama.
"Kamu asik juga ya" Erga menghentikan tawanya. Beralih menatap Acha yang sangat menarik mata dan pikirannya.
"Hehe bisa aja. Karena kamu asik aku juga asik" sahut Acha.
Handphone Acha bergetar, menampilkan nama Si monkey di hp nya. Itu Chikal. Tumben sekali pikir Acha.
"Maaf ya." Acha menatap lelaki didepannya. Seperti meminta izin mengangkat telepon. Yang di lihat hanya mengangguk mempersilahkan.
"Halo. Kenapa, Kal?" tanya Acha penasaran. Tak biasanya Chikal menelepon. Biasanya kalau butuh apa-apa langsung datang kerumah.
"Cafe biasa"
"Oh. Sama pacar?" tanya Chikal memastikan
"Ngawur!" Acha mengalihkan pandangannya. Menatap sekeliling cafe, mencari sosok Chikal. Ia yakin betul lelaki itu ada di Cafe ini.
"Yo!" Chikal muncul dari belakang Acha.
"Katanya ada acara?" tanya Acha
"Gue kabur, mereka ngomongin cewek terus. Gak tau apa ya gua jomblo" Chikal menghembuskan nafasnya kasar. Mengambil tempat duduk di sebelah Erga. Dia melihat Erga lama, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Chikal ya?" Erga membuka suara
"Ah iya. Pantes kayak gak asing hahahha. Bang Erga kan ya?" tanya Erga.
__ADS_1
"Iya, apa kabar lo?" mereka bersalaman ala-ala anak cowok.
"Baik. Lo kenal Acha juga? Oh iya kalian sekampus ya" sahut Chikal lagi.
"Baru kenalan sih" ucap Erga malu-malu. Menatap Acha sekilas, yang ditatap hanya kebingungan. Mereka saling kenal? batin Acha.
"Ini kapten futsal gue di sekolah dulu Cha." Chikal memperkenalkan, seolah tau arti tatapan Acha.
"Ohh" Acha hanya ber oh ria.
"Kapan-kapan sparing ayo, gue ajak temen-temen gue." Ajak Erga
"Boleh tuh, atur aja jadwalnya"
Chikal dan Erga terlibat percakapan seru tentang futsal. Sedangkan Acha hanya diam memperhatikan, sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Guys... Sorry nih ganggu ya. Pulang yuk, udah malem" Acha sudah sedari tadi ingin pulang, tapi tertahan karena Chikal dan Erga tak berhenti bicara.
"Oh iya maaf. Sampe lupa waktu hahaha" Erga menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Kamu bawa motor sendiri Cha?" Tanya Erga.
"Enggak, tadi sama temen. Terus dia pulang duluan" Jawab Acha sambil membereskan barang-barang nya.
"Aku antar ya" Erga menawarkan diri
"Enggak usah gak papa, ada ojek pribadi nih" Acha menunjuk Chikal sambil mengejek.
"Oh gitu ya." Ada raut kecewa di wajahnya, tapi segera ia sembunyikan. "Kalau gitu minta Whatsapp nya boleh gak? Ya barangkali kita bisa sharing-sharing tentang kampus" sambungnya lagi.
Acha terlihat ragu ingin memberikan nomor Whatsapp nya. "Perlu ya?" tanya Acha lagi.
"Hahaha kalau gak mau kasi gak papa kok" Seolah tau kalau Acha tak akan memberikan nomor Whatsapp nya.
"Dia mau pedekate tuh Cha. Ah lu gak pekaan" Chikal langsung to the point. Kesal melihat mantan kaptennya yang ia nilai terlalu bertele-tele.
Cih. Lu enak seumuran, gua mau ngedeketin Acha mikir 1000 kali takut di kata bocah.
__ADS_1
Chikal melangkahkan kakinya pergi. Meninggalkan Acha dan Erga yang sedang bertukar nomor hp. Ada rasa tak rela sebenarnya, tapi ia merasa tak ada gunanya juga menghalangi pendekatan Erga. Toh Chikal tak mempunyai kesempatan untuk bersama Acha.
Mana mau cewek secantik Acha sama bocah labil kayak gua.