Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Semangat Pagi


__ADS_3

Drrttt... Drrttt... Drrttt...


"Halo?" Acha mengusap-usap matanya. Siapa sih yang nelfon pagi-pagi begini pikirnya.


"Hei!" Acha mulai kesal saat tak kunjung mendapat jawaban. Di lihatnya layar handphonenya, ingin mencari tahu siapa orang iseng ini.


"Aaaaaaaaahhh!" Acha membenamkan kembali wajahnya ke bantal. Ternyata hanya alarm.


• • • • •


Acha menyeret paksa langkahnya ke kamar mandi, menatap cermin yang masih tampak buram karena matanya yang belum sepenuhnya menyala. Di hidupkannya keran air, membasuh mukanya agar terasa segar.


"Kenapa harus ada jadwal pagi sih!" rutuknya kesal. Lalu mengambil sikat gigi dan mulai melanjutkan mandi.


Jadwal kuliah Acha sebenarnya jam 10 pagi, tapi karena minggu lalu dosennya tidak masuk jadi hari ini jadwal dimulai dari jam 8 pagi untuk mengganti kekosongan jadwal minggu kemarin.


Acha keluar dari kamar mandi, menatap jam yang menunjukkan pukul 5.57 lalu melangkahkan kakinya ke arah jendela. Membuka tirai dan membiarkan cahaya mentari pagi masuk ke kamarnya. Jendela kamarnya tepat menghadap ke rumah Chikal.


Acha mengambil kursi di meja riasnya, meletakkan kursi tersebut di dekat jendela. Duduk sambil menatap jendela kamar diseberangnya. Mengingat masa-masa dimana jendela kamar mereka berhadapan, sebelum dua tahun lalu entah mengapa Chikal memutuskan untuk pindah ke kamar bawah, membuat Acha kesepian. Tak ada lagi percakapan malam atau ucapan selamat pagi saat membuka jendela. Membuat Acha malas bangun terlalu pagi lagi, sudah kehilangan motivasinya.


Acha terlonjak kaget saat tirai kamar di seberangnya dibuka. Menampilkan sosok pria usia 40 tahunan disana.

__ADS_1


"Eh Acha sudah bangun" sapa pria itu ramah. Ia adalah ayahnya Chikal, dokter Hadi.


"Hehe iya om ada kuliah pagi" sahut Acha


Ruangan yang dulunya kamar Chikal itu sudah berganti dengan ruang gym. Ayah Chikal selalu melakukan olahraga pagi disana sebelum berangkat kerja.


"Kenapa pa?" Chikal muncul dari belakang, menatap kaget sosok Acha diseberang rumahnya. Buru-buru ia mengalihkan pandangan.


"Baju lo! Pake baju lo!" Teriak Chikal di seberang sana sambil menunjuk-nunjuk Acha dengan mata tertutup.


Refleks Acha menarik tirai didepannya menutupi jendela yang terbuka. Lupa jika ia hanya pakai handuk sekarang. Muka nya memerah karena malu. Kenapa om Hadi gak negur sih tadi! Acha menutup mukanya dengan kedua tangannya. Benar-benar malu sekarang. Bagaimana bisa ia membiarkan Chikal menatap tubuhnya yang setengah terbuka. Pasti bakalan canggung nanti jika mereka bertemu.


**** banget sih lu Cha batin Chikal. Merasa malu sekaligus beruntung melihat tubuh Acha yang hanya ditutupi handuk. Wajah memerah Acha saat menutupi tirai menari-nari di otaknya, seolah-olah sengaja menggoda.


"Sialan!" Chikal menaikkan kecepatan alat jogging didepannya. Berusaha mengalihkan perhatian dengan lari lebih cepat dari biasanya.


• • • • •


Setelah sarapan, Acha menyiram tanaman di halaman rumahnya. Masih terlalu pagi untuk berangkat sekarang.


srettt... Bunyi suara pagar disebelah rumahnya menghentikan aktivitas Acha. Buru-buru dia melangkahkan kaki ingin masuk ke dalam rumahnya, tapi sialnya selang yang ia pakai untuk menyiram tanaman tadi melilit kakinya.

__ADS_1


"Aahhhh!" Teriak Acha refleks. Jatuhnya sih tidak seberapa sakit, tapi mulutnya sudah terlanjur berteriak sangat keras.


"Lu kenapa Cha?" buru-buru Chikal membuka pagar rumah Acha dan membantunya berdiri.


"Selang kampret!" Rutuk Acha kesal. Bajunya basah karena selang yang digenggamnya tadi masih mengeluarkan air.


"Lu sih gak hati-hati" Chikal menuntun Acha untuk duduk di kursi, lalu buru-buru ia mematikan keran yang mengalirkan air ke selang tadi. Dengan cepat ia menggulung selang tersebut dan meletakkannya ke arah keran.


Acha hanya diam melihat Chikal. Chikal selalu tau apa yang harus ia lakukan, membuat Acha selalu jatuh hati lagi dan lagi.


Chikal menghampiri Acha, menatap Acha yang sudah basah. Untunglah ia memakai baju yang cukup tebal sehingga pakaian dalamnya tidak menerawang. Chikal menunduk, mengecek lutut dan tangan Acha apakah terluka atau tidak. Ia menghembuskan nafasnya lega saat tak melihat luka apapun di tubuh Acha.


"Gue gak papa kok, Kal" Acha terkekeh melihat tingkah Chikal. Chikal yang perhatian sangat menggemaskan menurutnya, apalagi melihat wajah khawatir Chikal yang sangat jarang ia lihat membuatnya semakin menarik.


Tak ingin momen ini berlalu begitu cepat, tapi sadar waktu memaksanya untuk bergerak.


"Kal, nanti lu telat. Gue juga mau siap-siap ngampus" Walaupun tak rela tapi Acha harus mengatakannya, lagipula ia merasa kedinginan sekarang karena bajunya yang basah.


"Oh iya" Chikal menatap jam di pergelangan tangannya. "Duluan Cha!" Chikal setengah berlari keluar dari pekarangan rumah Acha.


Acha tersenyum tipis melihat kepergian Chikal. Tingkah manis Chikal menambah semangat paginya. Lupa bahwa alasan ia terjatuh tadi adalah untuk menghindari Chikal.

__ADS_1


__ADS_2