Rasa Yang Terpendam

Rasa Yang Terpendam
Ajakan Kencan


__ADS_3

Minggu yang cerah untuk beraktivitas diluar rumah. Sayangnya dua orang remaja ini lebih memilih melakukan aktivitas indoor daripada outdoor. Acha membaringkan tubuhnya santai sambil membaca majalah sport di rumah Chikal, di kamar Chikal tepatnya. Sedangkan Chikal duduk dibawah bermain playstation sambil menyenderkan tubuhnya di sisi tempat tidur.


"Cha, lu semalam jalan sama Erga ya?" tanya Chikal tanpa mengalihkan pandangan dari layar tv, asik memainkan playstation miliknya.


"Iya" jawab Acha santai. Saat ini ia sedang berbaring di tempat tidur Chikal sambil membaca majalah. Padahal kedatangannya kesini ingin bermain PS, entah kenapa melihat majalah sport di kamar Chikal mengubah ketertarikannya.


"Kemana aja?"


"Kenapa kepo?" Acha menutup majalahnya, membalikkan badan, melihat Chikal yang masih bersikutat dengan permainannya. Di gulung-gulung nya rambut Chikal dengan jari telunjuknya.


"Ya penasaran aja"


"Kenapa penasaran?" tanya Acha lagi, masih memainkan rambut Chikal dengan telunjuknya. Asik juga, pikirnya.


"Kenapa gak mau jawab?"


"Kenapa penasaran?"


Chikal berdecak kesal, tapi tetap fokus memainkan game GTA di depannya. Acha terkekeh geli mendengar decakan Chikal.


"Kita ke taman, terus makan, terus ke time zone, dari time zone keliling bentar terus pulang deh"

__ADS_1


"Oh, asik ya."


"Iya dong. Tau gak? Gue jadi putri satu hari semalam. Erga benar-benar memperlakukan gue layaknya seorang putri" Acha tersenyum senang


"Oh."


" Oh doang?!" Acha menarik rambut Chikal yang tadi dimainkannya. Membuat kepala Chikal sedikit tertarik kebelakang.


"Terus lu seneng gitu jadi putri? Udah kayak bocah aja."


"Iya lah. Cewek mana yang gak senang diperlakukan kayak tuan putri?"


"Bisa apa?" Acha mengerutkan keningnya heran.


"Bisa memperlakukan lo seperti tuan putri. Bahkan lebih baik lagi"


"Hahahahhaha" Acha tertawa lepas, tangannya memukul-mukul pundak Chikal. Sudah menjadi kebiasaannya tertawa sambil memukul, kebiasaan buruk hampir semua wanita di dunia.


"Bercanda lu ah!" Acha menghentikan tawanya, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat banyak tertawa.


Chikal meletakkan stik PS nya, mendongakkan kepala menatap Acha. Blush. Wajahnya memerah, wajah Chikal yang mendongak dan Acha yang menunduk hanya berjarak beberapa centi sekarang, saling berhadapan dengan posisi yang berlawanan. Chikal mematung sejenak, mengambil nafas dalam dan menatap Acha lekat-lekat.

__ADS_1


"Cha, kencan sama gue" Ucapnya


"Hah?! Jangan bercanda!" Acha langsung menelentangkan badannya, menatap langit-langit, menghindari tatapan Chikal. Detak jantungnya tak karuan, senang sekaligus miris dengan perkataan Chikal. Sebercanda itu kencan menurut lo? Lo cuma gak mau kalah sama Erga kan.


"Gua serius" ucap Chikal meyakinkan.


Acha menoleh, menatap Chikal yang juga menatapnya. Mencari-cari kebenaran dimata Chikal. Ada motif apa sebenarnya tetangganya ini tiba-tiba mengajak kencan. Apakah cuma iseng? Apa karena gak mau kalah sama Erga? Atau ingin melakukan pendekatan?


"Kapan?" tanya Acha. Bodo amat lah apa motifnya, yang penting bisa kencan sama Chikal.


"Valentine. Kita kencan hari valentine"


"Nice!" Acha mengepalkan tangannya kearah Chikal, disambut dengan kepalan tangan juga. Tos ala mereka.


"Jadi pacar gue satu hari itu, Cha" pinta Chikal


"Tentu. Bukan kencan kalau ga pacaran kan" Acha mengedipkan matanya. Jangankan sehari, seumur hidup juga gua mau, Kal.


Chikal menarik tangan Acha, mencium tangannya singkat. "Pastikan lu kosongin jadwal tanggal 14 februari nanti, karena satu hari itu lu milik gue"


Oh tuhan... Apakah ini pertanda cinta ku akan terbalas?

__ADS_1


__ADS_2