
Acha menatap pantulan dirinya di cermin lama. Tersenyum manis, "cantik banget sih" ucapnya dalam hati. Acha memoleskan sedikit make up di wajahnya, membuat wajahnya yang sudah cantik menjadi berkali-kali lipat lebih cantik.
"Achaa! Chikal dibawah." Teriak mama Acha dari ujung tangga
"Iya ma!"
Acha bergegas mengambil tas dan handphonenya, lalu kembali menatap cermin sekali lagi. Memastikan penampilannya benar-benar sempurna.
"Kal."
Chikal menatap Acha yang menuruni tangga, handphone yang tadi dimainkannya langsung dimasukkan kedalam saku celana. Matanya tak lepas dari Acha.
Kena kau! Acha tersenyum manis
"Kenapa liat-liat? Gue cantik ya? haha"
"Iya cantik..." Chikal terdiam sejenak
"Kalau diliat dari ujung monas! hahhaha" Sambungnya mengejek
"Sialan" Acha memukul kepala Chikal pelan
"Woi kampret, gue udah capek capek ngatur rambut lu seenak jidat berantakin."
"Bawel lu kayak cewek."
Chikal menarik tangan Acha lalu mengacak acak rambutnya. Biar impas pikirnya. Haha. Dia tak tau bukan hanya rambut Acha yang teracak disini, perasaannya juga.
"Sialan lu, rambut gueeee" Acha menatap kesal spion dihadapannya. Satu jam dia mempercantik diri, satu detik Chikal menghancurkan perjuangannya.
"Hahahha gak papa, tetep cantik kok Kak Acha" Nadanya mengejek
Acha merapikan rambutnya dengan jari. Wajahnya masih terlihat kesal, walaupun ada sedikit rasa senang dihatinya karena di puji Chikal. Ya, walaupun sebenarnya dia mengejek.
"Mau kemana mbak?" Ucap Chikal ala ala mas gojek setelah Acha menaiki motor.
"Sesuai aplikasi mas"
"Siap! Bintang 5 ya mbak"
• • • • •
"Woi Kal"
__ADS_1
Chikal menoleh, melihat ke asal suara.
"Eh kalian. Mau beli kue juga?" Tanya Chikal basa basi.
Ya iya lah beli kue. Emang ke toko kue mau ngapain lagi Chikaall.
"Iya nih."
"Eh iya kenalin, ini Acha..." "Pacar gue" sambungnya lagi
"Hah?!" Acha kaget. Pacar? Dia serius nyebut gue pacar? What? What? Ini serius? Kejutan apa ini tuhan.
"Kenapa sayang?" tanya Chikal dengan muka yang dibuat sepolos mungkin.
"Gue duluan ya, cewek gue laperan" Chikal menarik tangan Acha memasuki toko kue. Meninggalkan dua temannya yang masih di parkiran.
"Sembarangan lu" Acha menepis tangan Chikal yang menarik tangannya.
Chikal hanya diam. Tak menjawab dan masih menggenggam erat tangan Acha walau Acha sudah menepis tangannya.
"Kenapa sih lu? Malu jomblo ya? Makanya cari pacar!" Ucap Acha meledek.
"Iya. Lu kan pacar gue." balas Chikal lagi.
"Sejak di parkiran."
"Sembarangan"
Chikal hanya tersenyum tipis. Menunjuk kue yang ingin dibelinya kepada pelayan, membayarnya lalu menarik tangan Acha keluar toko.
Acha melihat sekilas dua orang yang menyapa Chikal tadi. Mereka tersenyum, tapi Chikal terlihat cuek tak membalas. Padahal Chikal termasuk orang yang ramah. Tapi jangankan menyapa, membalas senyum mereka saja tidak. Hal ini menjadi tanda tanya tersendiri bagi Acha.
"Kal. Temen lu." Acha menunjuk dua orang yang sudah memasuki toko
"Hah? Oh iya gak keliatan"
Gak keliatan katanyaa? Padahal kami pas-pasan di pintu masuk.
"Lu ada masalah sama mereka?" ucap Acha to the point
"Kagak lah. Tadi kan gue nyapa juga di parkiran."
"Tapi..." Belum selesai Acha bicara Chikal sudah memotong
__ADS_1
"Lu kenapa bawel gini sih Cha!" Muka Chikal terlihat kesal.
Chikal membuka kantong yang berisi kotak kue, mengambil sedikit kue bolu keju bakar lalu menyuapkannya ke mulut Acha.
"Noh makan biar gak bawel." Mukanya sudah terlihat santai, tidak kesal seperti tadi.
"Langsung pulang atau jalan dulu?" Tanya Chikal sambil menstarter motor
"Kalau jalan mau kemana?"
"Kemana pun yang lu mau deh. Hari ini hari lu."
"Ke taman komplek aja, sekalian makan bolu keju"
"Oke"
Sesampainya di taman Acha langsung duduk di kursi bawah pohon. Tempat favorit Acha, karena udaranya sejuk katanya. Sedangkan Chikal sedang membeli minum di kedai seberang taman.
Maksud Chikal ngomong gue pacarnya apa ya? Dia gak sungguh-sungguh nganggap gue pacar kan? Ya gak mungkin lah! Dia bahkan gak pernah nunjukin kalo dia suka gue selama ini
"Cha" Chikal menempelkan minuman dingin di pipi Acha. Membuyarkan semua lamunannya.
"Makasih kal" Acha menyambut minuman botol itu, menaruhnya disamping kursi dan mulai membuka kotak kue yang mereka beli.
"Lu kenapa suka bolu keju bakar sih, Cha?" tanya Chikal penasaran
"ra-ha-si-a" Acha mengedipkan matanya mengejek.
Chikal menghembuskan nafasnya kesal. Bukan karena jawaban Acha, tapi wajah mengejek Acha terlihat sangat menyebalkan.
"Kal, mau nanya dong" ucap Acha ragu-ragu.
"Hm?" Chikal mengambil sepotong bolu, menunggu pertanyaan Acha sebelum memakan bolunya.
"Tadi lu bilang gue pacar lu, maksudnya?" tanya Acha penasaran, ditatapnya lekat-lekat wajah Chikal, berusaha mencari jawaban.
"Ra-ha-si-a" Chikal menirukan suara Acha. Lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Nyebelin" Acha mendengus kesal. Mulutnya dimonyongkan menunjukkan bahwa ia sangat kesal sekarang.
"Lu gak berharap itu beneran terjadi kan?" Chikal menatap wajah Acha sebentar "lu dan gue pacaran?" tanyanya lagi.
"Nggak lah." Acha tersenyum getir. Nggak lah. Nggak mungkin gue gak berharap.
__ADS_1