
"Keyla... Keyla..."
Keyla membuka matanya perlahan. ia menatap ke sekelilingnya.
"dimana aku!?" gumamnya.
"Keyla... Keyla..." lagi-lagi suara itu.
Xia Re melirik kesana kemari.
"siapa disana? keluarlah!" teriak Xia Re.
"Tolong.... Tolong aku, Key... Tolong..."
"Alfa... i-ini suara Alfa!" gumam Keyla.
"Alfa, kamu dimana! Alfa!!!" teriak Keyla.
"Aku disini, Key. Tolong aku, Maafkan aku."
Keyla mendongakkan kepalanya keatas. ia membelalakkan matanya kala melihat Alfa terbang dan menjauh darinya.
"Alfa... Alfa..." teriak Keyla seraya berlari kearah Alfa.
"Tolong aku, Key. Tolong..."
"Alfa!!!!"
"tuan, anda baik-baik saja!" ujar Tong Tong kala melihat Xia Re menjerit.
Xia Re mengatur nafasnya. ia memegangi kepalanya pusing.
"mimpi, mimpi apa ini..." gumamnya.
-DiRuang makan paviliun Xia Re.
Shuzu dan Mixu saling berpandangan. ia bingung dengan keadaan Nonanya ini.
"Mixu, ada apa dengan, Nona." bisik Shuzu.
"aku juga tidak tahu." jawab Mixu.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Shuzu.
Xia Re. gadis itu masih memikirkan tentang mimpinya tadi. kenapa ia memimpikan Alfa? dan, kenapa Alfa terbang menjauh darinya? ia juga samar-samar melihat seorang wanita cantik yang tersenyum kearahnya.
"Aku tidak selera makan." ujar Xia Re seraya berjalan keluar.
"Keyla, kau ini kenapa?" tanya Xiahantu tiba-tiba muncul.
"benar, Tuan. sedari tadi anda melamun saja." ujar Tong Tong.
Xia Re menghela nafas panjang.
"aku baik-baik saja."
Xia Re ia berjalan kearah taman belakang paviliunnya.
"Hantu Gentayangan, aku ingin bertanya." ujar Xia Re seraya menatap sayu bunga mawar hitam didepannya.
Xiahantu, dia terbang kearah Xia Re diikuti Tong Tong.
"kau ingin bertanya apa, Key?"
Xia membalikkan badannya, ia menatap kedua makhluk berterbangan didepannya itu.
"kenapa aku tidak dapat mengingat dengan jelas wajah adik dan ibumu?" tanya Xia Re.
Xiahantu tampak bingung menjawab.
"a-aku juga tidak ta-tahu, Key." jawabnya.
"kau serius tidak tahu?" tanya Xia Re lagi.
"serius, Key. aku tidak tahu kenapa. sudahlah, aku akan kembali ke Neraka. Byee." ujar Xiahantu seraya pergi menghilang.
"Tuan, sepertinya ada yang ia sembunyikan." tebak Tong Tong.
"kau benar."
-Paviliun Xia Rang.
tampak Xia Rang, Gong Rong dan Xia Rong tengah membicarakan sesuatu.
"ibu, apa rencana ibu. tidak lama lagi Festival Bunga akan diadakan." ujar Xia Rong.
"benar, ibu. kita harus membuat Xia Re dipermalukan." ujar Xia Rang penuh dendam.
__ADS_1
"kalian tenang saja. ibu sudah ada rencana." ujar Gong Rong.
Xia Rong dan Xia Rang tersenyum mendengarnya.
"Ibu, kau memang terbaik." ujar Xia Rong.
"tentu, saja. ibu ada rencana satu lagi, dengar sini..." Gong Rong membisikkan rencananya pada kedua putrinya.
"bagus, ibu. serahkan itu padaku." ujar Xia Rong.
ketiganya lantas tertawa ala Mak Lampir.
Gong Rong. ia berjalan menuju Paviliun Xia Re dengan beberapa dayang dibelakangnya.
"Xia Re, bersiaplah untuk dipermalukan." gumamnya.
"Kami memberi hormat kepada Selir Agung." hormat beberapa dayang dan pengawal Xia Re.
"apa Nona kelima ada." ujar Gong Rong.
"Nona kelima ada didalam, hamba akan memanggilnya. silahkan selir menunggu." ujar salah satu dayang Xia Re seraya masuk kedalam.
"mari, Selir." ujar dayang lainnya mempersilahkan Selir Gong Rong masuk.
Xia Re, gadis itu tengah melamun dibawah pohon mangga dibelakang paviliunnya.
"Hufh... " ia membuang nafasnya kasar.
"Aku butuh... Kesenangan. Kesenangan yang membuat luka."
"Tuan. sepertinya do'amu terkabul." Xia Re menatap Tong Tong bingung.
"maksudmu?" tanya Xia Re.
Tong Tong menunjuk Shizu yang tengah berjalan kearahnya.
"Maaf, mengganggu Nona." ujar Shizu seraya membungkukkan badannya.
"ada apa, Shizu?"
"Selir Gong Rong datang mengunjungi anda, Nona." ujar Shizu.
Xia Re menaikkan sebelah alisnya terangkat.
"Anjing Rong?" gumamnya.
Tong Tong menahan tawanya saat Tuannya menyebut Mak Lampir itu, Anjing Rong.
"hm, rencana apa kali ini." gumam Xia Re seraya berjalan masuk kedalam paviliunnya diikuti Shizu.
setelah Xia Re dan Shizu masuk kedalam paviliunnya. tiba-tiba saja Xiahantu muncul dengan laki-laki berjubah disampingnya.
"Keyla, Maafkan aku..." gumam laki-laki yang memakai jubah merah + hitam itu.
"sudahlah. kau tenang saja, aku akan menjaga Keyla dengan baik." ujar Xiahantu pada laki-laki disampingnya itu.
laki-laki berjubah itu menatap tajam Xiahantu, ia cengkram kedua bahu Xiahantu.
"Menjaga?" ujarnya lalu terkekeh.
sementara, Xiahantu tampak takut.
"bahkan kau sudah membuatnya curiga? Hah!" ujar laki-laki berjubah itu penuh penekanan.
"ma-maaf." cicit Xiahantu.
laki-laki berjubah itu melepaskan cengkramannya.
saat laki-laki berjubah itu hendak pergi. sebuah suara menghentikannya.
Prok... Prok... Prok..
"wah... wah... wah... lama tidak bertemu, Kawan." Xiahantu dan laki-laki berjubah itu membalikkan badannya menatap laki-laki berambut putih bertopeng.
"Heaven..." gumam Laki-laki berjubah itu.
-Didalam Paviliun Xia Re
"Ada angin apa sehingga membuat Selir Gong kesini." ujar Xia Re berjalan mendekati Gong Rong yang tengah duduk.
"ah, putriku. aku hanya ingin memberikanmu pakaian untuk Festival bunga nanti." ujar Gong Rong.
salah satu pelayan Gong Rong memberikan sebuah kotak yang berisi Pakaian pada Xia Re.
"Terima kasih, Selir. maaf, merepotkanmu." ujar Xia Re seraya tersenyum.
"tidak apa-apa, putriku. aku yakin, tuan muda Mo Kai pasti akan terpesona denganmu. bahkan, bangsawan lainnya." ujar Gong Rong.
__ADS_1
Xia Re tersenyum menanggapinya.
'hahaha... akan ku pastikan kau hancur, Xia Re. Hahahhaha' batin Gong Rong.
'baju ini terbuat dari bahan yang mudah koyak. hm, Dasar Anjin9 bod0h! ingin mempermalukan ku, tidak semudah itu Ferguson.' batin Xia Re menyeringai.
"Putriku, kalau begitu... ibu akan kembali." ujar Gong Rong seraya bangun dari duduknya.
Xia Re ikut bangun berdiri.
"terima kasih, IBU." ujar Xia Re seraya menekankan kata, Ibu.
setelah kepergian Gong Rong, Xia Re menjatuhkan kotak berisi pakaian yang diberi Gong Rong.
"Shuzu, simpan baju ini." perintahnya.
"Baik, Nona." Shuzu mengambil kotak berisi pakaian itu lalu menyimpannya di lemari.
" Mixu, Shuzu. pergi dan belilah pakaian untukku."
Shuzu dan Mixu mengangguk lalu keluar.
Xia Re menghela nafas panjang, saat dirinya hendak masuk kedalam kamarnya. Xia Ge masuk begitu saja.
"Xia Re!" panggil Xia Ge.
Xia Re menghentikan langkahnya dan menatap bingung Xia Ge.
"ada apa, Bocah?"
"k-kau... K-kau jangan kenakan pakaian yang diberikan ibuku." ujar Xia Ge pelan.
Xia Re tersenyum miring.
"kenapa?" tanyanya.
"k-karena... sudahlah, lebih baik kau dengarkan apa yang aku katakan." ujar Xia Ge.
"kau, keluarlah dari paviliun ku." ujar Xia Re.
Xia Ge mengepalkan tangannya.
"IBU MEMPUNYAI RENCANA BURUK PADAMU! BAJU ITU... SEBAIKNYA KAU TIDAK PAKAI!" Ujar Xia Ge dengan nada tinggi.
Xia Re menatap datar Xia Ge, lalu ia membuang nafasnya kasar.
"aku tau. kau, pergilah." ujar Xia Re seraya masuk kedalam kamarnya.
Xia Ge masih terdiam didepan kamar Xia Re. tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
"aku tidak akan membiarkan ibu dan kakakku melukaimu lagi, Kakak." gumamnya.
-Paviliun Hyoung Sensei.
"Sensei, tidak lama lagi adalah Festival Bunga. aku khawatir seseorang akan mencoba mencelakai Xia Re lagi." ujar Jensung yang tengah berada dipaviliun Hyoung Sensei.
"aku tau itu. aku tidak akan membiarkan Xia Re terluka lagi." ujar Hyoung Sensei penuh janji.
'Braak'
pintu ruangan itu terbuka dengan kasar, menampilkan Mo Jensong yang terlihat marah.
"Kakak, apa yang kau lakukan. kenapa tiba-tiba kau membela anak itu (Xia Re)" ujar Mo Jensong kesal.
"karena aku sadar, bahwa aku tidak membenci Rere, tapi... aku sayang padanya." ujar Jensung yang justru membuat Mo Jensong kesal.
dengan perasaan kesal, Mo Jensong keluar dari Paviliun Hyoung Sensei. Hyoung Sensei dan Jensung hanya menatap kepergian Mo Jensong.
"sudahlah. biarkan saja dia." ujar Sensei.
"hm." Hyoung Sensei dan Jensung mendudukkan dirinya kembali.
"Sensei, apa kau mencurigai seseorang?" tanya Jensung.
"iya."
"apa itu, Selir Gong dan anak-anaknya?" tebak Jensung.
"benar. semenjak Bibi Ai meninggal, kehidupan Rere berubah dengan drastis. dan itu, semenjak Paman menikahi Anjin9 gila itu." ujar Hyoung Sensei seraya menyesap tehnya.
"kau benar, Sensei. aku akan mencari tahu." ujar Jensung Seraya keluar dari Paviliun Hyoung Sensei.
Setelah kepergian Jensung. tiba-tiba saja seekor burung pengirim surat hinggap di jendelanya.
Hyoung Sensei berjalan kearah jendela itu. ia mengambil surat itu dan membacanya.
"Fan Zui? ada apa dia ingin menemuiku?" gumamnya.
__ADS_1