Reinkarnasi Sang Mafia

Reinkarnasi Sang Mafia
Eps.58


__ADS_3

Pagi-pagi sekali kediaman keluarga Xia dikejutkan dengan kedatangan pangeran putra mahkota, Fan Zui.


"Silahkan duduk, pangeran." Ucap Xia Tong sopan.


"Terima kasih. Maaf jika kedatangan Ku menganggu." Ujar Fan Zui.


"Ah, tidak yang mulia. Sama sekali tidak." Ucap Xia Fang seraya ikut mendudukkan dirinya.


"Ada apa sehingga pangeran putra mahkota kemari?" Tanya Xia Jensung.


"Tidak ada. Hanya ingin bertemu dengan calon istriku saja." Ucapan Fan Zui membuat kelima laki-laki itu sedikit geram.


Bagaimana tidak, Mereka saja bahkan belum menyetujui surat lamaran dari pangeran kedua. Belum lagi, Xia Re tidak setuju.


"Apa aku dapat bertemu dengan nona kelima, Xia Re?"


"Maaf, putra mahkota. Tapi, adik sepupu masih berada dikediamannya." Ujar Hyoung Sansan mencoba untuk menahan emosinya.


"Begitu, ya. Baiklah... Kalau begitu..."


"Berikan ini padanya. Hadiah dariku." Ucap Fan Zui seraya memberikan sebuah kotak.


"Terimakasih, putra mahkota." Ucap Kelimanya.


Sementara itu...


Xia Re, gadis cantik itu tengah berada di taman belakang kediaman Xia, duduk diam diri di gazebo taman belakang. Melamun memikirkan kejadian tadi malam.


"Keyla, sepertinya kau banyak masalah." Ucapan Xiahantu mampu membuat Xia Re buyar dari lamunannya.


Xia Re menatap Xiahantu sekilas, lalu beralih menatap danau kecil yang indah nan menenangkan.


"Bagaimana aku tidak frustasi dan stress. Aku rasa, permasalahan ini semakin rumit dan rumit." Ujar Xia Re.


Xiahantu dan Tong Tong menatap iba Xia Re.


'maafkan aku, adikku. Tapi... Ada suatu rahasia yang perlu kau ketahui, Yaitu disini. Kau akan menemukan rahasia itu dizaman ini.'


"Keyla, bagaimana jika kita pergi kekediaman Kakak sepupu." Ajak Xiahantu.


"Benar, tuan. Sepertinya anda butuh pasir." Ucap Tong Tong.


Xiahantu dan Xia Re menaikkan sebelah alisnya terangkat.


"Pasir?" Beo keduanya.


Tong Tong tampak menepuk jidatnya.


"Bukan. Maksud ku, pelsir. Ya pelsir. Ah!!! Taulah!!! Semacam Refreshing!!!" Xiahantu dan Xia Re tertawa melihat Tong Tong yang tampak kesal sendiri.


"Dasar sistem payah." Ledek Xiahantu.


Tong Tong menatap tidak suka Xiahantu.


"Siapa yang kau panggil payah, hah? Dasar hantu gentayangan."


"Apa kau bilang!!!"


Xia Re menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran dua makhluk beterbangan itu.


"Sudahlah, Jangan berantem. Ayo--" ucapan Xia Re terhenti kala dia melihat seseorang berjubah hitam yang tadi malam.


"Keyla, ada apa?" Tanya Xiahantu yang melihat Xia Re terdiam.


"D-dia..."


"Alfa!!!"

__ADS_1


"Tuan/ Keyla!!!" Pekik dua makhluk beterbangan itu kala tiba-tiba Xia Re pergi berlari.


"Keyla/ Tuan tunggu..."


'benar. Ternyata itu benar kau, Al. Kenapa? Kenapa kau menghindar dariku, Al. Aku ingin bertanya banyak padamu...' batin Xia Re terus mengejar sosok berjubah hitam itu.


Dugaan Xia Re benar kalau dia, laki-laki berjubah hitam itu adalah Alfa. seseorang yang amat dia cintai. Tadi, tidak sengaja mata Xia Re menangkap sosok berjubah hitam itu. Sosok berjubah hitam itu juga sempat membuka tudung jubahnya. Sehingga memperlihatkan wajah tampannya. Wajah yang selalu Xia Re (Keyla) rindukan.


Xia Re berlari sehingga sampai di paviliun Anggrek, kediaman Xia Mo Jensong.


"Kemana dia pergi..." Gumamnya.


"Tuan, apa anda berhasil menangkap nya?" Tanya Tong Tong.


Xia Re menggeleng.


"Tidak. Belum." Jawabnya.


"Keyla. Jadi, laki-laki berjubah itu adalah Alfa?" Tanya Xiahantu.


"Ya, dia Alfa. Tapi, kenapa dia menghindar dariku?" Gumam Xia Re dengan mata berkaca-kaca.


"Tuan, bersabarlah..." Ucap Tong Tong ikut sedih.


"Key--" baru saja Xiahantu hendak bertanya. Ia dibuat bungkam, bukan hanya Xiahantu. Tong Tong juga bungkam kala tiba-tiba saja sebuah pedang terbang melayang kearah Xia Re.


"Keyal, apa kau baik-baik saja?" Tanya Xiahantu khawatir.


Xia Re mengangguk. Beruntung ia cepat mengelak. Manik elang Xia Re melirik kesana kemari mencari seseorang yang berani melempar pedang itu kearahnya.


Srrkk... Srrrkk..


Suara itu berasal dari semak-semak. Dengan cepat Xia Re melempar pedang tadi kearah semak-semak itu.


"Akkhh..."


"Berhentilah menatap hamba seperti itu, Pangeran." Ujar Luan Xian yang risih ditatap seperti itu oleh Fan Zhuang.


"Maaf." Ujar Fan Zhuang. Tapi masih saja memandangi Luan Xian.


"Pangeran, sakit anda sudah sembilan puluh persen membaik. Anda tidak perlu lagi meminum obat." Ucap Luan Xian.


Fan Zhuang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah berpura-pura sakit.


"Pangeran kelima, ada surat untuk anda." Ucap seorang pelayan seraya menyerahkan sepucuk surat.


"Surat? Dari siapa?" Tanyanya.


"Nona kelima menteri Xia, Xia Re."


Luan Xian yang tidak sengaja mendengar percakapan itu mengerutkan keningnya.


"Nona kelima menteri Xia, Xia Re?" Gumamnya.


Wuushh...


Wuushh...


Wuushh...


Melompat dari satu pohon kepohon lainnya. Seorang laki-laki bertopeng dengan satu anak buahnya yang memaki jubah. Dengan lihainya keduanya lompat dari satu pohon kepohon lainnya.


Penjara Bawah Tanah Istana Fan Qin, bagian selatan.


Laki-laki bertopeng itu tersenyum devil, lalu mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam penjara Bawah Tanah itu.


"Silahkan lewat sini, tuan." Ucap bawahnya yang memakai jubah.

__ADS_1


Dipenjara bawah tanah itu tidak banyak penjaga. Semakin mempermudah laki-laki bertopeng itu untuk beraksi.


Berhenti. Laki-laki bertopeng itu berhenti didepan penjara sepasang suami istri. Terlihat, sepasang suami istri itu tengah tertidur.


"Cepat bawa mereka." Perintahnya.


Sang bawahan mengangguk lalu melangkahkan kakinya memasuki penjara dimana mantan raja dan permaisuri kerajaan timur itu berada.


Merasa ada yang mendekat, Mei Lang membuka matanya. Ia terkejut dan hendak berteriak. Namun tak jadi karena bawahan Laki-laki bertopeng itu lebih dulu membungkam mulu Mei Lang dengan kain. Kain yang sudah diberi obat bius.


Bawahan Laki-laki bertopeng itu beralih berjalan kearah istri dari Mei Lang. Cukup mudah, karena wanita itu tengah tertidur.


"Sudah, tuan."


Laki-laki bertopeng itu menatap datar sepasang suami istri yang tengah tak sadarkan diri. Dari sorotan matanya terlihat jelas kebencian.


"Bawa mereka." Perintahnya.


Sang bawahan mengangguk seraya membungkukkan tubuhnya.


"Ya, tuan."


Byurrr....


"Uhuk... Uhuk..."


"Sudah sadar? Hm."


Mei Lang dan istrinya membuka matanya. Keduanya menatap seorang laki-laki bertopeng yang tengah duduk disebuah kursi kayu.


"Apa kalian bisu. Tuanku bertanya!" Ujar bawahan laki-laki bertopeng itu satunya.


"Cuih, siapa kau!!!" Ucap Meilang seraya meludah.


Karena geram. Bawahan Laki-laki bertopeng itu hendak menebas kepala mantan raja kerajaan Mei itu.


"Tunggu..." Cegah laki-laki bertopeng itu.


Laki-laki bertopeng itu berjalan mendekati sepasang suami istri yang terikat diatas jerami.


"Yang mulia raja Mei Lang. Apa anda benar-benar tidak mengenal saya?" Ujar laki-laki bertopeng itu seraya melepaskan topengnya.


Kedua suami istri itu terkejut melihat sosok laki-laki itu. Laki-laki berwajah tampan bak dewa Yunani.


"Kau!!! Pangeran dari kerajaan Barat, Lee Taeyeon Jin."


Ya, laki-laki bertopeng itu adalah Lee Taeyeon Jin.


"Aku perintahkan padamu, lepaskan kami sekarang juga!" Ucap Mei Lang dengan sorot yang menatap tajam Lee Taeyeon Jin.


Lee Taeyeon Jin tertawa mendengar ucapan Mei Lang.


"Dasar kau pangeran Bod0h! Lepaskan kami sekarang juga!!!" Benatak Mei Tifan.


Zrangggg


"Berani sekali anda berbicara tidak sopan dengan pangeran kami!" Ujar bawahan Lee Taeyeon Jin yang memakai jubah seraya menodongkan pedangnya tepat disamping leher wanita itu, Mei Tifan.


"Cih, dia hanyalah pangeran bodoh tidak berguna. Emang dia bisa ap-- Zrangggg!!!"


"Sayanggg!!!!" Pekik Mei Lang mendelik kala kepala sang istri putus tertebas.


"Apa yang kau lakukan!!!" Bentak Mei Lang dengan nafas memburu.


Bawahan Lee Taeyeon Jin itu melepaskan jubah nya.


"K-kau!!! Me-Meiliang!!!"

__ADS_1


__ADS_2