
Berbagai pertunjukan telah memeriahkan acara Festival Bunga malam ini. Begitu banyak kebahagiaan gelak tawa dari para tamu undangan. Tapi, tidak bagi gadis bercadar yang sedari tadi hanya diam dalam pelukan kakak sepupunya.
Yah! Xia Re. Gadis itu sudah bosan sejak tadi. Dia hanya menyenderkan kepalanya didada bidang kakak sepupunya- Hyoung Sensei.
Tentu saja itu membuat beberapa perempuan cemburu dan iri padanya. Bukan hanya para perempuan. bahkan, sedari tadi Xia Jensung melototi Hyoung Sensei karena tidak mau menyerahkan Xia Re padanya.
"Sensei, sudahlah. Kau pasti capek! Biarkan Xia Re bersamaku!" Ujarnya.
Hyoung Sensei tak mempedulikannya, dia terus memainkan rambut adik sepupu manisnya yang tengah duduk dipangkuannya.
Xia Jensung memanyunkan bibirnya kesal.
"Kakek--"
"Kakek apa! Kakek juga ingin bersama Xia Re. Tapi, kau tau kan. Seperti apa kakak sepupumu itu." Ujar Xia Tong juga menatap kesal Hyoung Sensei.
Xia Fang menggeleng melihatnya.
'Dahulu, ayah sangat membenci mu putriku. Maafkanlah ayahmu ini... ayah sangat menyesal...' batin Xia Fang sesak setiap mengingat perlakuan nya terhadap putrinya itu.
'haish, membosankan sekali..." batin Xia Re kesal.
"sepertinya, pertunjukan dari berbagai putri akan segera dimulai." ujar Hyoung Sensei kala melihat beberapa penari melangkah pergi.
Xia Re yang mendengar itu menyunggingkan senyum dari balik cadarnya.
'bagus! akhirnya, pertunjukan yang sebenarnya dimulai!' batinnya.
"Rere, jika kau tidak bersedia kau katakan saja. aku--"
"apa yang Sensei katakan! Rere ingin ikut." ucap Xia Re manja.
Hyoung Sensei menghela nafas pelan, lalu berkata. "baiklah."
-Ruang ganti
Xia Re, gadis bercadar itu tengah berada diruang ganti dengan putri bangsawan lainnya.
"Hey, bukankah dia adalah sitidak berguna dari keluarga Xia?"
"Benar. Kenapa dia memakai cadar?"
"Aku dengar, wajahnya sangat buruk rupa."
"Dia adalah sampah keluarga menteri Xia. Siburuk rupa dan tidak berguna."
"Hahahaha... aku yakin dia hanya akan mempermalukan dirinya dan keluarga Xia sendiri!"
Xia Re tidak mempedulikan cibiran mereka. Dia harus fokus untuk rencananya, jangan sampai gagal.
'Lihatlah, apakah setelah ini kalian masih bisa mencibirku?' Batin Xia Re seraya mengeluarkan Smirknya dari balik cadar.
"Oh kalian ada disini." Xia Re menatap kesumber suara, tampak Xia Fui berjalan kearahnya dengan membawa arak.
'Xia Re! Aku akan mempermalukanmu!!!' Batin Xia Fui.
"Adik, Re.. Adik Rong, kalian ada disini ternyata. Aku--"
'Byuuur'
"Aaahhh" teriak Xia Rong kala arak yang dibawa Xia Fui tumpah dan mengenai pakaiannya.
'Trik murahan!' Cibir Xia Re dalam hati.
Tentu saja dirinya sudah mengetahui rencana licik Xia Fui. Ia sengaja menghindar saat Xia Fui pura-pura terjatuh. Sehingga, Arak tersebut tumpah kepakaian Xia Rong.
"Kau!!! Apa kau sengaja ingin mengancurkan pertunjukkanku? Lihatlah, aku akan segera tampil!" Kesal Xia Rong.
"A-adik Rong, a-aku tidak sengaja." Ucap xia Fui.
'Sial! Kenapa arak itu tumpah ke pakaian Xia Rong!' batin Xia Fei kesal.
"ada apa ini?" tanya Xia Rang kala melihat keributan.
"lihatlah, kak. sebentar lagi aku akan tampil." adu Xia Rong.
"sudahlah. kau kan bisa ganti pakaian mu lagi." ujar Xia Rang enteng.
__ADS_1
"tapi--"
"Xia Rong! apa kau tidak malu." bisik Xia Rang.
Xia Rong menatap ke sekeliling nya. dan benar saja, dirinya sekarang menjadi pusat perhatian.
"adik, Rong. sebenarnya, aku membawa pakaian ca--"
"benarkah? kalau begitu, kau pinjam kan padaku." ujar Xia Rong memotong ucapan Xia Re.
Xia Re tersenyum penuh kemenangan dari balik cadarnya. bahkan dirinya belum selesai bicara, tapi... adik Menggemakan nya ini langsung memotong nya, tanpa curiga.
'benar-benar mudah!' batinnya.
"Kakak, Fui. aku akan mengingat tentang ini." ujar Xia Rong seraya menarik tangan Xia Re.
"jangan ceroboh! kau hampir menghancurkan rencana kita!" sinis Xia Rang pada Xia Fui.
"maaf."
"Kakak, Re. bukankah pakaian kita sama?" ujar Xia Rong kala melihat pakaian yang sekarang ia kenakan sama dengan Xia Re.
"adik, Rong. kau tenang saja, aku akan mengganti pakaian ku." ujar Xia Re.
"baiklah"
setelah kepergian Xia Rong. Xia Re melepaskan cadarnya. memperlihatkan wajah cantik bak seorang Dewi. namun kejam bagai Iblis.
"Tuanku, rencana mu sangat Perfect." puji Tong Tong.
"Keyla, apa kau bisa memberi tahu padaku, apa rencanamu?" tanya Xiahantu dengan puppy eyes No Jutsunya.
"
'Tidak.'
"kenapa?"
'tidak apa.'
Xiahantu memanyunkan bibirnya.
'beruntung aku sudah menyiapkan ini semua!' batinnya seraya mengingat 3 hari yang lalu.
3 hari sebelumnya...
-Paviliun Xia Re
tampak Xia Re tengah menjahit pakaian dengan seriusnya.
"Nona, Biar Shuzu bantu, ya." ucap Shuzu.
"tidak."
"ta-tapi... Nona..."
"jika kau ingin membantuku. kau pergilah ke pasar dan beli pakaian yang sama seperti yang Selir Gong berikan padaku waktu itu." ucap Xia Re masih fokus menjahit bajunya.
"baik, Nona."
-Aula Kerajaan
berbagi pertunjukan telah ditunjukkan oleh para putri bangsawan. kini saat giliran nya Xia Re.
"bukankah sekarang giliran Nona kelima keluarga Xia? kenapa dia tidak muncul?"
"mungkin dia malu karena dia kan memiliki wajah buruk rupa."
"Hahahaha... kau benar. siburuk rupa tidak berguna itu, ya. Hahahaha..."
Hyoung Sensei mengepalkan tangannya geram. rahangnya mengeras. berani-beraninya mereka menjelekkan adik sepupunya seperti itu.
bukan hanya Hyoung Sensei yang geram. Xia Fan, Xia Tong dan Xia Jensung juga geram.
"mereka!!!" gumam Jensung geram.
Tap...
__ADS_1
Tap...
Tap...
seluruh mata menatap kearah suara. seorang gadis bercadar tampak anggun dan elegan memasuki Aula Kerajaan.
pakaian yang dikenakan sangat indah dan anggun. pakaian berwarna biru laut dengan beberapa pernak-pernik mutiara.
"a-apakah itu Nona kelima keluarga Xia?"
"Huh. meskipun pakaian yang ia kenakan begitu indah, tapi... wajahnya begitu buruk rupa! itulah mengapa ia menggunakan cadar!"
Xia Re terus berjalan tanpa mempedulikan ocehan Unfaedah.
'Deg'
saat ia melewati seorang laki-laki berambut putih, entah mengapa detak jantungnya berdetak cepat.
'siapa laki-laki itu?' batinnya.
"dia adalah Pangeran Lee Taeyon Jin." jawab Tong Tong tiba-tiba muncul.
'Lee Taeyon Jin?'
"benar. pangeran dari kerajaan Barat. pangeran yang dirumorkan bodoh dan tidak berguna." ujar Tong Tong.
'bodoh? tidak berguna? sepertinya tidak! dia memang terlihat bodoh dan lemah. tapi, entah mengapa perasaan ku mengatakan bahwa dia tidak bodoh dan lemah?' batin Xia Re bingung.
tidak mau ambil pusing, Xia Re memilih untuk melanjutkan langkahnya.
"bodoh dan lemah, ya!?" gumam Lee Taeyon.
Tong Tong melirik kearah Lee Taeyon ngeri.
"d-dia bisa mendengar dan melihat ku? jangan-jangan!!! d-dia.... Tuan, aku ikut!!!" ujar Tong Tong seraya terbang kearah Xia Re.
Lee Taeyon tersenyum tipis. sangat tipis.
"gadis kecilku... aku ingin melihat pertunjukanmu itu?" gumamnya.
Xia Re menundukkan kepalanya sedikit. sedikit.
"Hamba, Nona kelima keluarga Xia. Xia Re."
"jadi, kau adalah Xia Re? Hm... hm... hm..." Fan Yan memperhatikan Xia Re dari atas sampai bawah.
"silahkan mulai!" ucap Fan Yan.
Xia Re mendongakkan kepalanya sedikit, lalu berkata. "Mohon maaf, Baginda. tapi, apa boleh saya meminta salah satu dari mereka untuk menjadi pendamping pertunjukan saya, Baginda?"
"boleh. silahkan."
Xia Re dan Fan Zhuang tampak saling berpandangan.
'Semoga rencana ini berhasil!' batin Fan Zhuang penuh harap.
'Saatnya...' batin Xia Re.
"saya ingin.... Pangeran Kelima mendampingi saya." ucapan Xia Re membuat mereka semua membelak.
"apa maksudmu! aku tidak mengizinkan!" ucap Mei Terian seraya bangun berdiri dari duduknya.
"begitu, ya. kalau begitu--"
ucapan Xia Re terpotong kala Fan Yan mengangkat tangannya.
"Pangeran Kelima. silahkan dampingi Nona Xia Re!" ujar Fan Yan.
"Raja Fan, apa maksud anda. Putriku dan Pangeran kelima kan sudah bertunangan. bagaimana bisa, pangeran kelima mendampingi perempuan lain, meksipun itu hanya sebuah pertunjukan." ujar Mei Lang.
"suamiku..." Mei Lang melirik kearah istrinya yang tengah melototi dirinya.
"lihatlah... belum apa-apa dia sudah membuat masalah." cibir Xia Fui.
"mempermalukan saja." sinis Xia Mo Jensong.
Fan Zhuang bangun berdiri, ia berjalan kearah Xia Re. keduanya sama-sama tersenyum tipis.
__ADS_1
'mari! mulai' batin mereka.