
Xia Re. Gadis cantik itu tengah menghisap rokoknya diruangan pribadinya diRumah Makan KeyTong.
"Hufh..."
Xia Re membelai wajah cantiknya.
"Perjalanan ini sungguh Sederhana. Tapi, sangat rumit." Gumamnya.
"Andai saja laki-laki mesum itu mau memberi tahu padaku siapa itu Me Fu'an." Gumamnya lagi.
Saat dirinya hendak kembali menghisap rokoknya. seseorang lebih dulu mengambil rokok itu.
"Perempuan tidak baik merokok."
Xia Re mendatarkan wajahnya.
"Sepertinya anda memang berjodoh dengannya, tuanku." Ujar Tong Tong tiba-tiba muncul.
"Ke-kembalikan rokokku" ujar Xia Re mencoba untuk tenang.
'Ke-kenapa jantungku berdetak dengan cepat. A-apa aku mempunyai riwayat jantung?'batinnya.
Tong Tong tersenyum penuh arti. Tentu saja dia dapat mendengar batin Xia Re.
"Jodohku... sepertinya kau sedang ada masalah." Ujar laki-laki bertopeng itu seraya memainkan rambut Xia Re.
Xia Re menepis tangan laki-laki bertopeng itu seraya berkata.
"Mimpi saja dirimu! Asal kau tau saja, Pangeran kedua, Fan Zui. Dia telah mengirim surat Lamaran padaku." Kesal Xia Re.
Laki-laki bertopeng itu terdiam.
"Fan Zui?" Beonya.
Xia berdiri, lalu mendongakkan kepalanya seraya berkata.
"Iya, Fan Zui. Aku rasa diriku dan dirimu ini memang tidak berjodoh." Ujar Xia Re.
Laki-laki bertopeng itu terkekeh, lalu mengangkat dagu Xia Re dengan jari telunjuknya.
"Apa dia pantas memilikimu? Tidak." Ujar laki-laki bertopeng itu dingin.
"Lagipula..."
"Milikku adalah milikku."
Xia Re merasakan wajahnya memanas. Detak jantungnya semakin berdetak kencang. Ia pun memalingkan wajahnya.
"Huh, lagipun... aku tidak sudi menikah dengannya." Mendengar ucapan gadis kecilnya membuat Laki-laki bertopeng itu tersenyum dari balik topengnya.
'Fan Zui... jangan harap kau bisa mendapatkan Gadis kecilku! Dia milikku, dan selamanya tetap menjadi milikku. Meskipun aku harus melanggar peraturan Dewa dan Iblis...'
Sementara itu...
Luan Xian. Gadis cantik itu tengah meracik obat untuk dikirim ke Fan Zhuang.
"Xian, lebih baik kau beristirahat saja. Biar Bibi yang melanjutkan." Ujar seorang wanita cantik.
"Tidak usah, Bi. Xian sudah hampir selesai." Ujar Luan Xian.
"Baiklah."
Setelah selesai meracik obat. Luan Xian menyerahkan obat itu pada bawahan Fan Zhuang.
"Terima kasih Tabib Xian."
Luan Xian hanya tersenyum lalu melangkah pergi.
Luan Xian berjalan mendekati sebuah laci.
__ADS_1
Perlahan ia buka laci tersebut. Ia mengerutkan dahinya kala melihat sebuah lukisan.
"Sebaiknya aku tanya pada Bibi saja." Gumamnya seraya membawa sebuah lukisan yang terdapat 3 wanita cantik.
"Bibi, Xian ingin bertanya."
"Bertanya apa?"
"Siapa saja yang berada dilukiskan ini, Bi?" Tanya Luan Xian seraya menyerahkan lukisan tersebut.
Wanita itu tampak tersenyum.
"Yang ini adalah, aku." Ujarnya seraya menunjuk lukisan dirinya.
"Yang ini adalah Fui Fang. Dan yang ini... Ai Xia Re." Ujarnya.
-Malam Hari telah tiba
Xia Re. Gadis bercadar itu tengah minum arak dengan pangeran Fan Zhuang.
Note: jika kalian bertanya, bagaimana cara Xia Re meminum arak tersebut. Jawabannya adalah, dirinya membuka sedikit cadarnya.
"Gadis jelek. Kau ini kuat sekali minum." Ujar Fan Zhuang menatap aneh Xia Re.
"Diamlah kau, jelek!" Ejek Xia Re.
Fan Zhuang membuang nafasnya kasar.
"Xia Re, dengarkanlah aku. Ada yang ingin aku sampaikkan." Ujar Fan Zhuang.
Meskipun dalam keadaan setengah sadar. Xia Re mencoba untuk mengontrol dirinya.
"Dasar, Keyla. Sudah tau tidak bisa minum. Masih saja minum." Ujar Xiahantu seraya menggelengkan kepalanya.
"Apa yang ingin kau katakan, Pangeran jelek?" Tanya Xia Re.
"Dasar gadis ini. Dalam keadaan setengah sadar pun masih memanggilku jelek. Padahal, diriku sangat tampan." Gumam Fan Zhuang.
"Sangat tampan?" Beo Xia Re. Fan Zhuang terkejut kala Xia Re masih dapat mendengarnya.
Xia Re mendekatkan wajahnya kewajah Fan Zhuang seraya berkata.
"Mimpi jangan ketinggian, Bro. Muka Lo aja kek pantat Dugong." Ujar Xia Re membuat Xiahantu dan Tong Tong tertawa.
"Dugong? Apa itu?" Tanya Fan Zhuang tak faham.
Terkadang Fan Zhuang tidak faham apa yang dikatakan Xia Re.
"Sudahlah, lupakan. Jadi, apa yang ingin kau katakan!?"
"Ini tentang Fan Zui. Dia--"
"Cukup-cukup... aku sudah dapat menebak arah pembicaraan ini." Potong Xia Re.
Melihat Reaksi Xia Re membuat Fan Zhuang membuang nafasnya kasar. Sepertinya Xia Re sudah lebih tau.
"Xia Re... kau sudah banyak membantuku. Jadi, jika kau butuh bantuanku... katakan saja." Ujar Fan Zhuang.
Xia Re menghela nafasnya.
"Aku membantumu karena ingin. Jadi, tidak usah kau pikirkan."
"Untuk masalah Fan Zui... aku akan mengurusnya sendiri." Ujar Xia Re.
Fan Zhuang bangun berdiri seraya menatap Xia Re lekat.
"Aku mohon padamu... izinkan aku membantumu." Mohon Fan Zhuang.
Xia Re mendongakkan kepalanya menatap intens Fan Zhuang.
__ADS_1
"Kalaupun aku butuh bantuan... sudah ada seseorang yang mengajukan itu. Kau tidak perlu khawatir."
Fan Zhuang mengangkat sebelah alisnya terangkat.
"Siapa?" Tanyanya.
Xia Re tersenyum dari balik cadarnya.
"Milikku..." ujarnya.
Disisi lain...
Heaven. Laki-laki bertopeng itu terlihat kesal. Ia melemparkan barang-barang disekitarnnya.
"Fan Zui!!! Berani sekali kau berniat untuk merebut milikku. Cari mati!!!" Ujarnya seraya melepaskan topengnya.
Rambut putih yang indah. Manik ruby yang indah, hidung mancung, alis tebal dan bibir sexy. Laki-laki tampan bak dewa Yunani.
"Tuan, ada laporan lagi." Ujar Hong Nai. orang kepercayaannya.
"Apa?" Hong Nai berjalan mendekati Heaven. Ia membisikkan sesuatu.
"APA!!!"
"Meilang!!!" Panggil laki-laki tampan itu.
Dengan tubuh gemetar Meilang menghadap tuannya.
"Y-ya, tuan."
"Apa kau tau apa kesalahanmu?" Ujar Heaven dingin.
"Ti-tidak."
Heaven menatap tajam Meilang.
"Tidak tau?"
"Apa kau tidak tau, kalau kau telah bertindak sendiri!" Ujar Heaven murka.
Meilang bersujud didepan tuannya seraya berkata.
"M-maaf, tuan. Meilang mengaku salah. Tapi... Meilang melakukan itu karena Meilang takut Pangeran Fan Zui benar-benar merebut Nona dari anda, tuan." Ujar Meilang.
Heaven membuang nafasnya kasar.
"Meilang, jangan sampai aku mendengar laporan seperti ini lagi." Ujar Heaven.
"Baik, tuan. terima kasih"
"Hm." Heaven hanya menjawab dengan deheman lalu pergi keluar dari kediamannya.
"Fan Zui tidak akan pernah memiliki Keyla. Alfa, Pangeran neraka saja tidak ku izinkan memiliki Keyla ku. apalagi orang lemah!" Gumamnya.
"Taeyon, apa yang kau lakukan dimalam hari seperti ini?" Heaven menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya, tapi... Sebelum itu, ia lebih dulu melepaskan topengnya.
"Ibunda..." ujar Heaven seraya menundukkan kepalanya sedikit.
"Taeyon..." panggil sang ibu-- Lee Minju.
"Tidak ada apa-apa ibunda. Tae... Tae hanya ingin berjalan-jalan saja." Ujar Heaven seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.
"Baiklah... berhati-hatilah, sayang." Ujar Lee Minju.
"Te-terima kasih, ibunda."
Setelah kepergian Lee Minju dan beberapa pelayannya. Heaven mengeluarkan senyum miring. Ia kembali memakai topengnya.
"Aku lupa, sekarang aku adalah Lee Taeyon Jin. Putra Mahkota kerajaan Barat yang bodoh, lemah dan tidak berguna." Gumamnya.
__ADS_1
Heaven, atau kita panggil saja, Lee Taeyon Jin. Putra Mahkota dari kerajaan Barat.
Taeyon melanjutkan jalannya seraya tersenyum miring dari balik topengnya.