
"hey! Kau. Dasar pencuri!"
"Bu-bukan, a-aku bukan pencuri."
"Lalu apa ini? Kau ini, ya! Sudah mencuri rotiku!" Sarkas pria paruh baya itu seraya memukul tubuh mungil anak itu. Anak kecil yang ia tuduh mencuri rotinya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"S-sakit, hiks... A-aku tidak mencuri." Lirih anak kecil itu.
"Tidak mencuri apa! Jelas-jelas roti yang ada di tanganmu adalah rotiku." Murka pria paruh baya itu.
"Tidak, tuan. Aku membelinya!" Ucap anak kecil itu membela diri.
So, benarkan. Dirinya tidak mencuri, dia membelinya.
Pria paruh baya itu tampak berdecih.
"Kau kira aku percaya? Uang darimana kau?" Sinisnya.
"Aku tidak bohong, Aku menjual giok peninggalan ibuku. Lagipula, aku membeli roti itu bukan ditempat anda, tuan." Ucap gadis kecil itu sedikit sinis.
Pria paruh baya itu menatap tajam anak kecil itu. Namun, ia sedikit menyeringai.
Lihatlah gadis kecil itu, meskipun dekil namun apa salahnya jika ia menjadikannya mainan?
Merasa risih dengan tatapan pria didepannya. Gadis kecil itu mencoba untuk pergi. Namun,
"Mau kemana kau?" Ujar pria paruh baya itu mencekal tangan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu tersentak, lalu menepis kasar tangan pria paruh baya itu.
"Saya tidak ada urusan dengan anda, tuan." Ucap gadis kecil itu dengan nada dingin.
"Kata siapa? Kau harus ikut denganku!" Titah pria paruh baya itu seraya hendak menggapai tangan sigadis kecil.
Namun, seorang laki-laki muda lompat dan berdiri ditengah-tengah mereka.
"Dasar sampah masyarakat." Ucap pemuda itu.
"Siapa kau? Jangan ikut campur!" Sarkas pria paruh baya itu.
Sigadis kecil bersembunyi dibalik tubuh pemuda itu.
"To-tolong aku tuan." Cicit gadis kecil itu.
Pemuda itu melirik sedikit kearah sigadis kecil, lalu beralih menatap tajam pria paruh baya didepannya.
"Pergi atau mati!" Ucap pemuda itu dingin.
"Berani sekali kau mengusirku!" Pria paruh baya itu melayangkan pukulannya namun dengan cepat sipemuda menendang perut pria paruh baya itu.
Bugh!
"Jangan kau sentuh diriku, dengan tangan kotormu itu!" Ucap pemuda itu dingin.
"Uhuk... Uhuk.. beraninya kau! Hyahhh" pria paruh baya itu mengeluarkan belatinya dan melayangkan kearah sipemuda.
"Tuan, berjaga-jagalah!"
Jleb!
Sipemuda itu membelakkan matanya melihat gadis kecil yang sedari tadi bersembunyi dibelakangnya tiba-tiba mengeluarkan pisau dan menancapkannya diperut pria itu.
Bruk!
Tubuh gempal pria paruh baya itu tumbang dengan darah yang mengalir dari perutnya.
"A-apa a-aku baru saja me-membunuhnya?" Gumam gadis kecil itu gemetar.
__ADS_1
"Tidak apa, dia pantas mati."
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya menatap pemuda didepannya.
"Te-terima kasih, tuan."
"Tidak perlu berterima kasih."
"Gadis kecil, bagaimana jika kau ikut denganku?" Tawar pemuda itu.
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya bingung. "A-apa tuan yakin?"
Pemuda itu mengangguk. "Aku akan melatihmu agar kau tidak mudah ditindas, aku akan melatihmu menjadi pendekar yang hebat."
Gadis kecil itu tampak berbinar. "Apa tuan yakin? Apa tuan akan mengajariku bela diri?" Tanya gadis kecil itu antusias.
Pemuda itu mengangguk. "Ya,"
"Baiklah, tuan. Aku akan ikut denganmu. Aku bersumpah, aku akan setia dan mengikuti anda tuan."
"Hm, siapa namamu?"
"A-aku Meiliang, tuan."
"Hm. Baiklah, Meiliang. Aku akan membawamu keistana, kau akan aku ajari disana."
"A-apa tuan seorang pangeran?" Tebak Meiliang kecil setelah mendengar kata istana.
"Ya, aku adalah Pangeran Lee Taeyeon Jin."
'pangeran Lee Taeyeon Jin? Kalau begitu, aku bersumpah akan selalu setia dan melayani anda dengan baik, tuanku.'
"Apa yang kau pikirkan?"
Meiliang tersentak kala sebuah suara membuyarkan lamunannya. Ia menatap datar sipelaku, Xi'O.
"Bukan urusanmu!" Ketus Meiliang.
Xi'O mengerucutkan bibirnya seraya ikut menyandarkan tubuhnya dipohon sebelah Meiliang.
Meiliang menatap Xi'O dengan dahi yang tertekuk.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, aku tau apa yang ada dalam pikiranmu, Meiliang. Kita besar bersama, aku tau tentangmu. Bahkan aku tau jika kau menyukai tuan."
Lagi dan lagi Meiliang dibuat tertegun. Dia? Mengetahuinya?
Meiliang membuang nafasnya berat, lalu beranjak pergi. Namun, sebelum ia melenggang pergi, ia berkata.
"Sesuka, ataupun secinta apapun aku pada tuan. Itu tidak akan membuatku lupa jika aku hanyalah pengawalnya, aku sadar bahwa aku hanyalah sampah yang tuan pungut."
Meiliang kembali membalikkan badannya, menatap lekat Xi'O yang masih setia menunggu dirinya melanjutkan ucapan.
"Meski hanya menjadi pengawalnya saja sudah cukup membuatku bahagia. Kebahagiaan tuan adalah kebahagiaanku, dan Nona Xia Re adalah kebahagiaan tuanku. Akan ku pastikan mereka semua mati jika berani mengusik tuan ataupun nona Re." Ucap Meiliang lalu benar-benar melenggang pergi.
Xi'O menyungging senyum. Senyum yang mewakili perasaannya saat ini.
"Sebesar apapun cintaku padamu, kau tetap tidak akan menyadarinya."
Author: mengsad lu boy🤣 dahlah, jadi sadboy 😭🤣
Pesan untuk pengawal Xi'O, guys?
Back to topik
"Eh, apakah pengawal Xi menyukai pengawal Meiliang?" Ucap Shizu pada An Nying yang berada disampingnya.
"Ya. Pengawal Xi'O menyukai pengawal Meiliang." Jawab An Nying dengan wajah datar khasnya.
Shizu mengangguk dengan mulut membentuk huruf O
"Tapi, sepertinya pengawal Meiliang tidak menyadari itu."
"Memang. Pengawal Meiliang tidak menyadari jika pengawal Xi'O menyukainya."
__ADS_1
"Lalu, siapa yang kau sukai pengawal An?"
Pengawal An Nying mengalihkan pandangannya pada Shizu yang berada disampingnya.
"Ini." Ucapnya menunjuk Shizu.
Sontak saja Shizu melotot tak percaya. "A-aku?" Tunjuk Shizu pada dirinya.
"Bukan."
Shizu memasang kembali wajah datarnya. "Kalau bukan aku, kenapa kau menunjukku!" Geram Shizu.
"Aku tidak menunjukmu, pengawal Shizu. Aku menunjuk pekerjaan kita, aku menyukai pekerjaanku!" Jelas An Nying bak tanpa rasa bersalah.
"Pengawal Shizu, apa kau mengira aku menyukaimu?" Tanya Xi'O.
"Tidak. Aku tidak berfikir seperti itu.
"Benar, tentu saja tidak pengawal Shizu. Bagaimana bisa aku menyukaimu..." Ucap An Nying menggelengkan kepalanya.
Melihat laki-laki didepannya menggelengkan kepalanya, Shizu lantas berkata. "Memang ada apa denganku?"
An Nying menatap Intens Shizu. Menatap dari atas sampai bawah.
"Tidak mungkin aku menyukai batu sepertimu."
Pletak!
"Sialan, kau! Kalau aku batu, apa kabar denganmu!" Kesal Shizu menjitak kepala An Nying.
An Nying memegangi kepalanya, " lihatlah, apa ada laki-laki yang mau denganmu. Kasar." Sindir An Nying.
Shizu menatap tajam An Nying, lalu menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Aku baik Dimata yang tepat!" Ucap Shizu melenggang pergi.
An Nying terkekeh menatap kepergian Shizu. "Manis," gumamnya.
°°°
Meiliang, perempuan cantik itu tengah mengawasi Xia Re dari atas pohon.
"Bagaimana tuan tidak menyayangi Nona Xia Re. Nona Xia Re sangatlah berbeda dengan perempuan lainnya." Gumam Meiliang menatap Xia Re dari atas pohon.
"Aku berharap, orang itu tidak mengganggu hubungan tuan dan Nona Xia Re." Gumam Meiliang dengan tatapan yang sulit diartikan.
TBC
Huwaaaa!!!
Sansan kangen banget sama reader semua🥺
Btw, maafin Author Sansan yang baik ini karena jarang up, maklumlah, soalnya Author Sansan udh mulai PTM, dan tugas Sansan itu buanyak banget 😭
Oh, ya. Sansan juga mau ngasih tau, kalo Sansan bakal tamatin novel ini sekitar 100/150 chapter, kurang lebih.
Nah, kalian itu maunya HAPPY END, SAD END ATAU GANTUNG?
aslinya Author Sansan mau bikin ini cerita gantung aja, tapi gak berani. Nanti kena bacok reader 😭🤣
Btw, makasih yang udah mau gabung GC aku🥺💜
Sebagai Author yang baik, author mau minta pendapat kalian. Kalian mau End nya seperti apa, silahkan spam dibawah Sini👇
Tim Happy end-
Tim Sad end-
Gantung kek perasaan Korang yang selalu digantungin-
Author Sansan bakal milih banyak yang mana. Selain Spam diatas sana, gak dihitung ya. Kalau mau spam, diatas.
__ADS_1
Kalau gak ada yang komen/spam sama sekali, maka author bakal gantungin ni cerita!!!