
"Xia Re, Tolong aku!" rengek Fan Zhuang.
Xia Re mendatarkan wajahnya.
"kau, ini. apa yang kau lakukan disini!" kesal Xia Re.
"a-aku akan menjelaskannya nanti. tolong aku turun, Hiks..."
Xia Re menggelengkan kepalanya. ia lalu meloncat ke atas tembok.
"dasar pangeran B0doh! Bisa naik tak bisa turun." maki Xia Re.
"kau boleh menghinaku, tapi.... tolong aku." pinta Fan Zhuang.
"Bagaimana bisa, ada manusia sebodoh dirimu." gumam Xia Re.
"bahkan ada yang lebih bodoh dari dia, tuanku." ujar Tong Tong tiba-tiba muncul. tidak lupa Xiahantu yang berada di samping Tong Tong.
'siapa orang yang lebih bodoh dari pangeran menyusahkan ini?' ujar Xia Re lewat batin.
"anda, tuanku." jawaban Tong Tong membuat Xia Re menyeringai dari balik cadarnya.
'ingin sekali kurobek mulut menyebalkanmu itu.'
"huhuhu... aku kan hanya bercanda, tuan." isak Tong Tong, sepertinya tuannya tidak bisa diajak bercanda.
"Xia Re, kenapa kau diam saja. cepat tolong aku." Xia Re beralih menatap Fan Zhuang yang tengah berkaca-kaca.
"cengeng." sindir Xia Re.
"kalau ingin cepat. kenapa tidak lompat saja." ujar Xia Re.
"lompat?" beo Fan Zhuang seraya menatap kebawah.
ia menelan ludahnya, bagaimana bisa ia harus melompat kebawah sana.
"Xia Re..." rengeknya.
dengan amat sangat-sangat terpaksa, Xia Re harus membantu pangeran cengeng itu.
__ADS_1
"berpeganganlah." ujar Xia Re seraya mengulurkan tangannya.
Fan Zhuang, bukannya menerima uluran tangan Xia Re. ia justru memegang erat kaki Xia Re.
"tangan! bukan kaki." ujar Xia Re.
Fan Zhuang mencoba untuk berdiri.
"su-sudah." cicitnya seraya memeluk lengan Xia Re.
Xia Re menggelengkan kepalanya, lalu meloncat turun.
"Sudah. lepaskanlah."
Fan Zhuang membuka matanya perlahan. lalu bernafas lega.
"terima kasih, Xia Re." ujarnya.
Xia Re mengangguk lalu menatap datar Fan Zhuang.
"apa yang kau lakukan disini?" tanya Xia Re.
"ada hal yang ingin aku sampaikan!" Xia Re menaikkan sebelah alisnya terangkat.
"kakakku. kakak keduaku menyukaimu." ujar Fan Zhuang.
Xia Re mengerutkan keningnya bingung.
"kakak kedua mengutus seseorang untuk mencari informasi tentang dirimu. ia tidak menemukan informasi apapun. tapi..."
"dia pernah melihatmu dengan Panglima Hyoung. kemarin ia mengajak Panglima Hyoung untuk bertemu. dan dia ingin memilikimu." ujar Fan Zhuang.
"ingin memiliki ku?" Xia Re tersenyum miring dari balik cadarnya.
sementara, Xiahantu yang mendengar itu langsung pergi menghilang.
"Apa!? Fan Zui ingin memiliki Keyla!?"
"benar."
__ADS_1
tampak laki-laki berjubah itu berjalan membelakangi Xiahantu.
"ingin memiliki Keyla? apa dia sanggup." ujar laki-laki berjubah itu seraya menyeringai.
-Kota Dongsai
sebuah kereta kuda tengah berjalan melewati Kota Dongsai. didepan dan dibelakang kereta kuda itu ada beberapa pengawal.
sudah dipastikan, kereta kuda itu pasti milik seorang bangsawan.
"ibu, akhirnya kita kembali juga." ujar seorang perempuan cantik yang berada didalam kereta kuda
"benar, putriku." jawab wanita didepannya itu.
"aku dengar, Kakak sepupu sudah kembali." ujar perempuan cantik itu.
"aku tidak sabar bertemu dengan kakak sepupu."
"Putriku, ada yang ingin ibu sampaikan padamu."
Perempuan cantik itu menaikkan sebelah alisnya terangkat.
"apa, Bu?"
"sebaiknya kau tidak berurusan dengan Xia Re." peringat wanita itu.
perempuan cantik itu mengepalkan tangannya. Xia Re, perempuan yang paling ia benci.
"kenapa ibu bicara seperti itu?" tanya sang anak.
"ibu tidak ingin kau terluka."
"emang apa yang bisa pembawa sial itu lakukan padaku. gara-gara dia, aku kehilangan Mo Kai."
"cukup, Xia Fui! seharusnya kau bersyukur karena tidak jadi menikah dengan laki-laki seperti Mo Kai itu." ujar sang ibu-- Fui Fang.
"kenapa ibu selalu membela anak sialan itu!" kesal Xia Fui.
"apa ibu lupa, karena dia aku dan Mo Kai batal nikah. itu karena Xia Re merebut Mo Kai dariku!"
__ADS_1
Fui Fang memijat pelipisnya Frustasi. harus bagaimana lagi ia menjelaskan pada putrinya ini. apa lagi...
'andai saja ku tau, putriku. kalau dia bukan Xia Re yang asli. dia adalah jiwa dari masa depan yang akan membalaskan dendam Xia Re.' batin Fui Fang.