Reinkarnasi Sang Mafia

Reinkarnasi Sang Mafia
Eps.65


__ADS_3

"Nona, bangunlah. Ini sudah siang."


"Shuzu, jangan ganggu aku!"


Shuzu membuang nafasnya kasar. Ia bingung harus bagiamana membangunkan nonanya itu.


"Shuzu, apa nona belum bangun?"


Shuzu menatap saudarinya itu. "Aku tidak tau bagaimana caranya membangunkan nona."


Shizu mengalihkan pandangannya pada Nonanya yang masih tertidur pulas, perlahan Shizu berjalan menghampiri saudarinya itu. "Biar aku saja, kau siapkan sarapan dan pakaian untuk nona."


Shuzu mengangguk. "Baiklah."


Shizu berjalan menunju ranjang nonanya. Terlihat Xia Re, nonanya masih tertidur pulas.


"Nona, bangunlah. Sebentar lagi kita akan berangkat berdo'a dikuil Daenchang."


Refleks, Xia Re membuka matanya dan bangun dari tidurnya.


"Kita akan pergi kemana?" Tanyanya.


"Kita semua akan pergi kekuil Daenchang untuk berdo'a, Nona. Apa Nona lupa?"


Xia Re menepuk jidatnya. "Astaga, aku lupa." Gumamnya.


"Shizu, siapkan aku air mandi."


"Baik, Nona."


Setelah selesai melakukan ritual mandi dan sarapan. Xia Re, Shizu dan Shuzu segera pergi ke Aula.


"Maaf Ayah, kakek. Rere terlambat."


"Tidak apa putriku." Ucap Xia Fang dengan senyumannya.


"Cucuku, apa kau lupa jika kita akan pergi berdo'a?" Tanya Xia Tong, Xia Re hanya mengangguk kikuk.


"Maaf," cicitnya.


"Sudahlah, tidak apa. Sekarang pergilah kekeratamu, kita akan segera berangkat."


Xia Re hanya mengangguk, lalu pergi berjalan mencari kereta kudanya.


"Shuzu, dimana kereta kudaku?"


"Lewat sini, Nona."


Xia Re membelakkan matanya melihat kereta kudanya.


"Ku-kuda menyebalkan itu!?"


Ngiiiihaaaa (Keyla, aku merindukanmu!!!"


Xia Re memijat pelipisnya pusing. "Haish, kenapa kuda menjengkelkan ini ada disini. Lalu--" Xia Re menatap pengawal yang membawa kudanya.


"Mark?"


Mark, anak buah Xia Re itu hanya tersenyum Pepsodent.


"Silakan naik, Nona." Ucap Mark.


Xia Re beralih menatap Shuzu dan Shizu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Bisik Xia Re pada dua dayangnya itu.


"Mereka tidak sanggup menghadapi kuda anda, Nona. Kuda itu sangat merepotkan."


Xia Re hanya membuang nafasnya berat. "Memang ya, nama Dardi itu menyebalkan dan merepotkan. Apa aku ganti saja nama kuda itu?"


Ngiiiihaaaa... Ngiiiihaaaa...


(Apa kau bilang, Key!!! Aku tidak menyebalkan dan tidak merepotkan!)


"Sudahlah, Ayo berangkat."


Dari arah jauh, tampak Gong Rong yang tersenyum puas nan licik.

__ADS_1


"Xia Re, selamat menjemput ajalmu, sayang. Kau akan segera menyusul ibumu. Hahahaha..."


Gong Rong tertawa keras nan jahat. Ia yakin, jika Xia Re benar-benar tidak akan bisa lolos dari ajalnya.


"Sungguh kasian sekali dirimu, Ai'xia Re...


Bukan hanya dirimu yang aku bunuh, sekarang saja putrimu akan aku bunuh!" Ucapnya penuh percaya diri.


•••


"Menantuku, apa yang membuatmu kemari?"


"Salam ibunda,"


"Apa yang membuatmu kemari, menantuku?" Tanya Fan Yu'er.


"Sebelumnya, menantu ingin meminta maaf atas kelancangan menantu. Tapi--


Bisakah menantu ini memilihkan selir untuk yang mulia raja, mohon maaf atas kelancangan menantu ini."


Fan Yu'er menghela nafas panjang. Ia paham kekhawatiran menantunya ini.


"Ini pasti tentang Xia Re?" Tebak Fan Yu'er.


"Be-benar, ibunda."


"Aku memang menginginkan Xia Re untuk menjadi selir anakku, Fan Yan. Tapi, bagaimana juga Xia Re adalah calon istri Pangeran putra mahkota."


"Ah, bagaimana jika kita undang Xia Re saja, menantuku?" Tawar Fan Yu'er.


Ratu Lunglai tersenyum seraya mengangguk. "Aku akan meminta kasim Yang untuk mengirim surat undangan." Ucap Ratu Lunglai.


"Kalau begitu, menantu ini izin pamit."


'mengundang nona Xia Re, ya? Tunggu saja apa yang akan aku lakukan!' batin Ratu Lunglai.


•••


Seluruh keluarga besar menteri Xia Sekarang tengah berada dikuil Daenchang untuk berdo'a. Terkecuali Gong Rong, Xia Fui dan Xia Rong.


Gong Rong tidak bisa ikut berdoa dikuil Daenchang karena masih menjalani hukuman. Sementara Xia Fui akan menjemput Xia Rong diistana Fan Qin, karena tidak terbukti bersalah.


Xia Re yang baru saja keluar dari dalam kuil sontak membalikkan badannya kala seseorang memanggil namanya.


Xia Re mendongakkan kepalanya melihat siapa yang memanggilnya.


"Selir Fui?"


"Putriku, lama kita tidak bertemu." Ucap selir Fui berjalan mendekati Xia Re.


Samar-samar Xia Re menyeringai. Fui Fang, sahabat dari Me Fu'an. Kemungkinan besar wanita didepannya ini pasti ada kaitannya dengan kematian ibu dari Xia Re yang asli.


"Putriku, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja, selir Fui." Balas Xia Re dengan senyuman manis diwajahnya.


"Aku dengar, tiga hari yang lalu selir Fui pergi kedesa Jeji, ya?" Tanya Xia Re.


"Benar, putriku. Tiga hari yang lalu aku pergi kedesa Jeji untuk membeli beberapa barang-barang, Hahaha..."


"Aku dengar disana barang-barangnya sangat bagus, dan ternyata memang benar." Ucap Selir Fui sedikit tertawa, tentu saja tawa seorang bangsawan.


'Desa Jeji... Tidak mungkin Selir Fui pergi kedesa yang jauh itu hanya sekedar untuk berbelanja.' batin Xia Re.


"Ah, putriku. Kita mengobrol lain kali saja, ya. Sebaiknya kita cepat kembali kekediaman sebelum hari gelap."


"Ah, iya selir Fui." Xia Re sedikit membungkukkan badannya saat selir Fui berjalan melewatinya.


"Benar-benar harus diselidiki. Mark!" Ucap Xia Re seraya memanggil anak buahnya itu.


"Ya, Nona."


"Aku ada tugas untukmu. Cari tau apa yang dilakukan selir Fui saat didesa Jeji." Perintah Xia Re dengan sorot mata yang terus menatap selir Fui yang sedang menaiki kereta kuda.


"Baik, Nona."


"Baguslah, selidiki sekarang."

__ADS_1


Mark sedikit mendongakkan kepalanya menatap nonanya.


"Tapi--"


"Tidak ada kata tapi. Cepat laksanakan tugas yang aku perintahkan! Aku bisa kembali kekediaman dengan yang lain."


Dengan pasrah Mark mengangguk. "Baik, Nona."


"Nona, apa kita perlu mengawasi selir Fui?" Tanya Shizu sedikit berbisik.


Manik Xia Re beralih menatap Shizu, salah satu dayang pribadinya.


"Tidak usah." Ucap Xia Re.


Mendengar itu Shizu sedikit menundukkan kepalanya, ada sedikit rasa kecewa. Tentu pergerakannya itu tak luput dari pandangan Xia Re.


'ada apa dengan sikapnya? Semakin mencurigakan!' batin Xia Re menatap curiga Shizu.


Oh, ayolah. Bagaimana tidak curiga, Shizu akhir-akhir ini sering tidak terlihat di paviliun nya. Sikap dan tingkah nya juga cukup mencurigakan.


'jika sampai Shizu benar-benar berkhianat. Maka, dengan tanganku sendiri aku akan membunuhnya!' batin Xia Re.


Xia Re akhirnya kembali menuju kediaman Xia dengan Chang'en sebagai kusirnya.


"Tuanku, apa kau tidak merasa curiga sama sekali dengan orang ini?" Tanya Tong Tong.


Jujur, Tong Tong sangat risih dengan keberadaan orang itu, Chang'en. Apalagi, orang itu adalah orang nenek gayung, Xia Rang.


Flashback-


"Putriku, kenapa kau masih disini?" Tanya Xia Tong berjalan mendekati putrinya yang masih berdiri didepan kereta kuda.


"Iya, adik. Dimana orang yang membawa kereta kudamu?" Tanya Xia Jensung.


"Sepertinya dia ada urusan keluarga. Jadi aku mengizinkannya pulang terlebih dahulu." Ucap Xia Re bohong.


"Putriku, kalau begitu kau kembali kekediaman bersama ayah saja."


"Tidak usah, ayah. Rere tidak ingin merepotkan ayah." Tolak Xia Re lembut.


"Tapi--"


"Ayah, kakak, adik." Jensung, Xia Fang Fang Xia Re menatap kesumber suara.


"Kakak, Rang?"


Xia Rang berjalan menghampiri Xia Re dengan seorang pengawal dibelakangnya.


"Adik, Re. Dia adalah Chang'en, kalau tidak keberatan. Biarkan dia yang menunggangi kereta kudamu, adik." Ucap Xia Rang sopan.


Author and Reader Be Like : sopan ndasmu!


Back to topik


Xia Re tersenyum tipis.


'hm, menerima tawarannya tidak salah kan?' batin Xia Re.


"TUAN!!! APA ANDA SUDAH GILA! NENEK GAYUNG ITU PASTI ADA RENCANA JAHAT!" Ucap Tong Tong tiba-tiba muncul.


'jangan berprasangka buruk, Gentong kecil!'


Tong Tong menyilangkan kedua tangannya didepan dada, tidak lupa bibir bagian bawah yang ia majukan.


"Terserah anda saja, tuan. Aku sudah memperingati anda!" Ucap Tong Tong langsung menghilang pergi.


"Jadi, bagaimana adik?"


Xia Re menatap Xia Rang dengan senyumannya. "Baiklah, kakak. Maaf jika merepotkanmu."


Xia Rang tersenyum seraya berkata. "Tentu saja tidak, adik."


'Hahahahaha... Memang masih seperti dulu, BODOH! Xia Re, siap-siaplah bertemu ajalmu!'


'entah apa yang kau rencanakan, aku pastikan akulah pemenangnya!'


Tidak ada yang sadar Xia Rang dan Xia Re tersenyum tipis. Tentu saja sebuah senyum miring.

__ADS_1


Flashback off-


__ADS_2