Reinkarnasi Tak Terduga

Reinkarnasi Tak Terduga
chapter 1 awal reinkarnasi


__ADS_3

Saat aku membuka mata aku berada di tempat asing yang sama sekali aku tidak ketahui. Itu sepertinya adalah sebuah hutan yang cukup lebat dengan pohon pohon yang menjulang tinggi dan yang paling membuatku terkejut adalah aku berada di sebuah tubuh anak kecil.


Bukan hanya itu diseluruh tubuhku terdapat luka luka memar yang mungkin disebabkan oleh kejatuhan dirinya, aku bisa menebak tubuh ini jatuh dari tebing tinggi yang tepat ada dibelakang ku. Terlihat dari terdapat ranting-ranting yang patah pada pohon yang di samping ku.


Gila bukankah tebing ini sangat tinggi, itu bukan anggapan semata mata karena tubuh ini masih kecil tapi melainkan kenyataan nya. Bagaimana bisa dia masih hidup setelah jatuh setinggi itu, meskipun terdapat ranting-ranting pohon yang mengurangi kejatuhan nya tapi tetap saja anak ini harusnya mati.


Tunggu sepertinya dia memang benar benar mati kalau tidak bagaimana mungkin aku bisa memasuki tubuhnya. Meski begitu apakah mungkin seseorang mati hanya dengan sedikit luka memar saja ditubuh mereka. Dan untuk alasan apa aku memasuki tubuh anak ini jika dipikirkan apakah diriku yang asli sebenarnya sudah mati juga makanya aku bisa bereinkarnasi ketubuh anak ini.


Tempat ini juga sedikit aneh samar samar terasa seperti sebuah tempat fantasi seperti novel novel fantasi abad pertengahan yang pernah kubaca sebelumnya hal ini diperkuat oleh baju yang sedang kukenakan sekarang meskipun itu sudah robek sana sini tapi masih terlihat jelas bahwa itu adalah model baju yang dipakai oleh orang orang abad pertengahan. Kainnya sangat buruk tidak nyaman untuk dipakai dan dijahit dengan baik tapi tetap saja kualitas sangat jauh dari dunia modern.


Sekarang apa? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, apakah ini saatnya untuk panik? Tidak, tenanglah dulu panik hanya akan memperburuk keadaan.


Pertama ayo cari jalan keluar dari tempat ini sekurangnya aku harus menemukan pemukiman terdekat atau setidaknya menemukan seseorang yang bisa menolong ku.


Bangkit dari tempat duduk ku sekarang aku mencoba berjalan lurus kedepan dengan sedikit harapan. Namun lama kelamaan aku lelah berjalan dan sekarang perutku kelaparan. Apalagi sekarang aku berada ditubuh seorang anak kecil baik kekuatan maupun stamina yang kumiliki sangat terbatas. Bagaimana bisa aku keluar dari tempat ini bahkan setelah berjalan berjam jam yang aku lihat hanyalah pemandangan pohon pohon tinggi dan lebat. Hutan ini sangat besar, haruskah aku berbalik ke tempat semula dan mencoba mendaki tebing itu.


Itu hanyalah pikiran bodohku? Tebing itu terlalu tinggi dan curam untuk dipanjat bahkan oleh seorang profesional sekalipun apalagi aku yang tidak memiliki pengalaman sama sekali dibidang tersebut.


Ahh siapapun atau apapun yang membuatku bereinkarnasi bisakah setidaknya aku mendapatkan sesuatu untuk membantu ku bertahan hidup. Apakah aku hidup kembali hanya untuk menderita seperti ini memang kesalahan apa yang telah kuperbuat sampai aku harus mengalami ini semua.


Makhluk hidup manapun jika dihadapkan dengan masalah dimana mereka tidak mampu untuk mengatasi nya apalagi tidak ada seorang pun yang bisa dimintai tolong mereka pasti akan merasa stress putus asa atau yang paling parahnya kegilaan. Kurang lebih seperti itulah situasi ku saat ini.


Haruskah aku bunuh diri saja, dengan begitu aku tidak perlu melalui semua ini. Meskipun hal tersebut terlintas dipikiran ku, kurasa aku tidak akan melakukannya, kenapa tidak? Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk itu.


Pasti ada alasan untuk semua ini dan jika aku terus berusaha seharusnya akan ada jalan keluar begitulah kata motivasi yang sering aku dengar. Aku mencoba berpikir positif dan menguatkan diriku, aku pasti bisa.


Itulah pikirku namun setelah berjalan beberapa jam lagi aku kembali putus asa, sesampainya didepan sebuah pohon aku menjatuhkan diriku ke tanah karena sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk berjalan. Apalagi sekarang bukan hanya lelah dan lapar tapi sekarang aku sangat haus akibat berjalan terus menerus memaksakan diriku banyak cairan keringat yang keluar dari tubuh ku dan jika terus seperti ini aku hanya akan dehidrasi.


Sekarang apa yang harus kulakukan? Sendirian didunia fantasi.


Tunggu sebentar, dunia fantasi'!? Jika ini adalah dunia fantasi yang aku pikirkan bukanlah seharusnya ada sihir. Menyadari hal ini aku kembali bersemangat, pertama tama ayo gunakan sihir air untuk menghilangkan hausku yang sangat mengganggu ini. Aku mengangkat tanganku dan berteriak 'air' seperti yang ada dinovel. Namun dengan semua hal memalukan yang barusan kulakukan tak ada apapun yang muncul, ini terasa seperti aku seorang murid sekolah menengah yang mengalami delusi akut.


'Apasih yang sedang kulakukan'


Bahkan dinovel fantasi kau tidak bisa begitu saja menggunakan sihir hanya karena kau menginginkannya, dibutuhkan sebuah kekuatan yang disebut dengan mana untuk bisa melakukannya dan sepertinya aku tidak memiliki hal tersebut ditubuhku. Tidak, sepertinya bukan hanya aku tapi mungkin saja dunia ini juga tidak memilikinya. Lama kelamaan kepalaku pusing dan perlahan kesadaran ku memudar dan sebuah kenangan yang seperti potongan puzzle muncul.


Dalam kegelapan dia melihat berbagai kenangan milik seorang anak.

__ADS_1


Ia terlahir dari seorang raja dan seorang pelayan tanpa adanya pernikahan secara resmi sehingga ia dipanggil sang anak haram.


Dari kecil ia mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan baik itu dari para saudara tirinya yang lain yang menganggap ia rendahan karena terlahir dengan darah seorang pelayan. Meski begitu ia masih bisa bertahan karena ada ibunya yang selalu ada untuknya.


Namun saat ia berumur sekitar lima tahun ibunya meninggal dunia, ia sangat sedih karena satu satunya orang yang peduli padanya sudah tiada.


Perlakuan buruk yang ia terimapun semakin buruk dan saat usianya mencapai sepuluh tahun ia diusir dari istana dan diasingkan ke daerah terpencil di perbatasan.


Namun masih saja ada pihak yang tidak puas dengan hal itu dan memutuskan untuk merencanakan pembunuhan terhadap nya.


Saat diperjalanan ia diserang oleh sekelompok bandit namun mereka bukan bandit yang sebenarnya melainkan para pembunuh yang disewa oleh seseorang.


Para penjaga yang dari awal menjaganya memutuskan untuk melarikan diri karena menganggap ia tidak pantas untuk dilindungi dengan nyawa mereka.


Saat para pembunuh itu mencoba membunuhnya ia cukup beruntung bisa lolos dari mereka tapi itu hanya sementara saja ia dengan mudah dikejar oleh mereka sampai disuatu tempat saat sudah tidak ada lagi tempat untuk berlari ia memutuskan untuk melompat ke arah jurang yang ada didepannya.


"Ugh Apa ini? "


Aku merasakan sensasi basah di seluruh tubuhku, dan saat aku membuka mata aku melihat rintikan hujan yang cukup deras membasahi tubuhku. Sepertinya barusan aku pingsan dan hujan ini membantu menyadarkan ku tapi baguslah dengan ini masalah kekurangan cairan tubuh telah teratasi.


Dan ingatan barusan, apa itu ingatan tubuh ini?


Meskipun pohon besar yang ada didekat ki sekarang bisa dijadikan sebagai tempat untuk berteduh tapi apa yang sedang benar benar kubutuhkan sekarang adalah sebuah tempat dimana aku sepenuhnya bisa terlindung dari hujan seperti sebuah rumah atau setidaknya sebuah goa.


Dengan sedikit tenaga yang kumiliki sekarang aku mencoba berlari mencari tempat berteduh seperti yang kuinginkan tapi karena ini adalah sebuah hutan sepertinya goa lebih memungkinkan ada dibandingkan sebuah rumah. Lagipula siapa yang mau tinggal ditempat seperti ini.


Setelah beberapa waktu mencari aku melihat sebuah goa yang sedikit tertutupi oleh semak semak, merasa ini tempat yang sempurna untuk berteduh tanpa pikir panjang aku langsung masuk. Meski sudah tidak lagi diguyur oleh air hujan tetap saja rasa dingin ditubuhku masih sangat mengganggu. Kebetulan terdapat beberapa ranting kering dalam goa dan ada batu juga yang bisa kugunakan untuk memantik api.


Api pun menyala dan dapat kurasakan kehangatan mulai mengusir kedinginan yang sedang kurasakan.


'Tidak sia sia aku menonton acara bertahan hidup itu'


Meskipun hujan diluar bertambah deras dan angin berhembus sangat kencang seperti hujan badai aku aman didalam goa dengan kehangatan dari api yang baru saja kunyalakan.


'Yeah sekarang kau tidak bisa Menyentuhku hujan' aku berteriak dengan keras kepada hujan badai yang menyebalkan ini seolah aku sedang menantangnya.


Dan Kupikir karena sekarang aku sudah terselamatkan hatiku terasa tentram, Namun tak lama setelah itu karena hujan badai menyebabkan longsor di pintu masuk goa menyebabkan pintu masuk tertutup sepenuhnya. Senyum lebar yang kurasakan beberapa waktu lalu hilang sepenuhnya seolah itu hanyalah sebuah ilusi.

__ADS_1


'K-kenapa?'


Aku bertanya tanya dengan perasaan putus asa namun tak ada seorangpun yang ada disana untuk menjawabnya. Kupikir kesempatan kedua yang kudapatkan adalah sebuah berkah meskipun terdapat beberapa kesulitan namun sampai saat ini aku berhasil mengatasinya.


Berpikir bahwa dewi keberuntungan yang tersenyum padaku tapi ternyata sebenarnya dewi kemalangan.


'Ah sungguh kehidupan kedua yang cukup singkat'


Aku tersenyum pahit kepada diriku sendiri. Siapapun itu jika berada diposisiku pasti akan berpikir begitu. Bagaimana tidak, seluruh goa ini tertutup batu mustahil bagiku untuk keluar apalagi ditambah kondisiku sekarang ini.


Berjalan berputar putar mengelilingi goa berharap ada sebuah celah yang bisa kugunakan untuk keluar tapi hal tersebut tidak pernah ada, pada akhirnya aku kelelahan dan bersandar kedinding goa. Tanganku tak sengaja menyentuh sebuah simbol aneh yang tertutup lumut didinding goa menyebabkan dinding goa yang sedang kusandari runtuh dan menampakkan sebuah lorong gelap, sepertinya simbol aneh yang tidak sengaja kusentuh adalah kunci untuk lorong rahasia ini.


Lorong yang tak sengaja kumasuki sekarang ini sepertinya bukan terbuat secara alami tapi sengaja dibuat untuk sesuatu, terlihat dari batu bata yang digunakan untuk dinding lorong tidak hanya disitu kristal yang terdapat dilangit langit menyala menerangi sepanjang jalan. Pemandangan seperti hanya bisa kau lihat di sebuah game bertema rpg saat kau memasuki sebuah dungeon. Biasanya tempat seperti ini memiliki beberapa jebakan yang terpasang di dalamnya untuk mencegah penyusup.


'Karena ini adalah kenyataan seharusnya tak mungkin akan ada jebakan kan ha ha ha' Mencoba berpikir positif.


Tepat saat aku melakukan langkah pertama ku sebuah kapak besar melintas tepat didepan ku dengan cepat dan memotong beberapa helai rambutku. Kapak itu sangat besar dan mengkilap kau bahkan bisa menggunakannya sebagai cemin. Melihat dari kondisi kapak tersebut sepertinya aku adalah orang pertama yang memasuki tempat ini.


'Sial, bajingan mana yang melakukan ini'


Aku menggertakkan gigiku sambil meludah kesamping. Apa ada harta karun atau semacamnya ditempat ini. Bagaimana sekarang ini? apa aku harus lanjut dengan resiko atau berdiam disini dan menunggu kematian.


'Sepertinya aku harus lanjut dengan begitu setidaknya ada kesempatan untuk hidup meskipun sangat tipis'


Aku menguatkan tekadku untuk melangkah lebih jauh ada banyak sekali jebakan disepanjang jalan


Mulai dari panah berapi, asap beracun sampai lantai runtuh dimana ada tombak yang sangat tajam didalamnya. Dengan semua itu satu satunya pendapat ku tentang pencipta tempat ini adalah dia pasti seorang psikopat gila. Meskipun begitu untuk beberapa alasan aku berhasil sampai ke ujung ruangan seolah aku sudah ditakdirkan untuk ini, dan di depanku saat ini ada sebuah misterius.


Dengan semua jebakan mengerikan itu seharusnya ada sebuah harta karun yang tak ternilai kan dibalik pintu karena jika tidak aku bersumpah untuk menemukan pencipta tempat ini dan menghajarnya sampai menjadi bubur.


Kalau begitu, tunggu apalagi, ayo cepat segera buka pintu ini, namun tak peduli sekeras apa aku mendorong pintu ini tak bergerak satu centi pun. Apakah pintu ini memiliki sebuah kunci khusus seperti saat aku menemukan tempat ini.


Dengan menduga duga hal tersebut aku menekan semua simbol atau apapun yang bisa ku tekan di pintu tersebut tapi tak ada satupun yang berhasil.


Hah aku bisa gila jika terus begini, lalu aku iseng menaruh tanganku pegangan pintunya dan menarik nya secara perlahan dengan ringan alhasil pintu tersebut terbuka dengan mudahnya.


'Apa! Jadi aku hanya perlu menariknya'

__ADS_1


Lalu untuk apa aku berpikir keras barusan. Aku memeras seluruh serat otakku untuk memikirkan cara membuka pintu ini tapi sebenarnya itu bisa dibuka dengan mudah dengan menariknya. Aku merasa geram namun aku juga tidak bisa menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam karena kekurangan ku. Ini sepenuhnya salahku karena tidak pernah berpikir kesana.


Dan apa yang ku lihat dibalik pintu tersebut....


__ADS_2