Reinkarnasi Tak Terduga

Reinkarnasi Tak Terduga
Kota Bebas


__ADS_3

Di sebuah hamparan padang rumput yang di tumbuhi bunga bunga yang sedang bermekaran


terdapat dua orang yang sedang berada di sana.


Salah satunya adalah seorang wanita dewasa dan yang satunya adalah seorang anak kecil yang mungkin berumur sekitar 5 tahun.


"Leo, coba lihat ini"


Sebuah suara perempuan yang menenangkan bisa ku dengar dengan sangat jelas, ini adalah pertama kalinya aku mendengar suara nya namun entah mengapa rasanya menimbulkan kehangatan dalam hatiku.


Saat aku membuka mata, aku melihat sesosok wanita yang sangat berbekas di hatiku. Dia memegang setangkai bunga yang indah di tangannya dengan senyuman yang tulus di wajahnya.


Rambut panjang berwarna peraknya yang terurai saat tertiup oleh angin membuatnya terlihat sangat cantik.


"Bukankah bunga ini sangat cantik leo? "


Perempuan itu bertanya padaku dan aku jawab dengan spontan.


"Iya mah, bunga itu sangat cantik seperti mamah"


Entah mengapa senyum lebar tak tertahankan muncul di wajahku,senyum lebar dengan perasaan yang sangat hangat memenuhi diriku, aku merasa sangat bahagia saat itu. Rasanya waktu seakan berhenti mengalir.


"Aku sangat menyayangimu leo anakku"


Dia memeluk ku dengan sangat erat, dan aku aku juga membalas pelukannya sambil mengatakan.


"Aku juga menyayangimu mah"


Perasaan ini rasanya tak buruk juga pikirku, Ingin sekali rasanya aku merasakan ini untuk selamanya.


Namun pemandangan indah itu tiba tiba berubah menjadi merah seutuhnya, langit yang awalnya berwarna biru cerah berubah menjadi merah dan pemandangan dari hamparan rumput dan bunga berubah menjadi genangan darah.


Dan yang paling menyakitkan hati ku adalah pemandangan perempuan sebelumnya yang tersenyum dengan kebahagiaan berubah telah berubah, saat ini dia sedang terbaring di tengah genangan darah tersebut dengan belasan pedang tertancap di tubuhnya.


"Ma-mama? "


Aku hanya bisa mematung melihat kejadian tersebut, lalu secara perlahan aku berjalan mendekat kearah perempuan itu.


Saat aku sedang berjalan air mata tak bisa berhenti menetes dari pipiku sampai pada akhirnya aku menangis dengan keras sambil memeluk tubuhnya yang terbaring kaku bersimbah darah.


"Uaaaaa"


Dan saat itu juga sebuah pedang mengarah dengan cepat padaku, memberikan sensasi yang mengerikan.


Hah hah hah


Aku tiba tiba terbangun dari tidurku. Dan yang barusan itu apakah mimpi buruk, tapi itu terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi, atau mungkin itu adalah ingatan dari pemilik asli tubuh ini?


Tempat aku terbangun ialah di sebuah kasur yang empuk di dalam ruangan yang cukup luas dengan beberapa furnitur yang membuat nya terlihat bagus.


"Jadi kau sudah bangun?


Sebuah suara terdengar dari samping tempat tidur ku, dari suaranya ini adalah milik seorang pria. Dan saat aku menoleh kearah sumber suara tersebut aku terkejut setengah mati.


"Gorilla raksasa!! "

__ADS_1


Aku secara spontan berteriak dengan keras tapi teriakan ku dengan cepat terhenti karena sebuah pukulan yang mendarat tepat di kepalaku.


"Ouchh"


"Dasar bocah kurang ajar!! Siapa yang kau sebut gorilla raksasa hah!? "


Suara yang sebelumnya tenang barusan berubah menjadi suara marah marah dari nya.


Setelah kupikir pikir tak mungkin juga ada gorilla yang bisa bicara tapi karena ini adalah dunia fantasi maka aku tak bisa mengabaikan kemungkinan tersebut.


"Guildmaster kami memang mirip dengan gorilla tapi dia sebenarnya adalah manusia loh"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar di iringi dengan sebuah pintu yang terbuka, dan dari sana jugalah muncul seorang perempuan dengan pakaian yang rapi seperti seorang sekretaris.


"Kau dengar itu bocah kurang ajar, aku bukanlah gori- tunggu sebentar apa yang kau maksud barusan dahlia!? "


Dia mengajukan protes terhadap pernyataan dari perempuan itu tapi dia sepenuhnya mengabaikan ocehannya.


"Kau baik baik saja, bagaimana kondisi mu sekarang? "


Perempuan yang ternyata bernama dahlia ini bertanya padaku.


"Setidaknya lebih baik dari yang terakhir ku ingat, tapi bagaimana bisa aku berada disini, padahal ingatan terakhir ku aku sedang berada di kastil melawan Lich? "


"Soal itu kau harus berterima kasih padaku, jika bukan karena ku kalian pasti sudah berubah menjadi mayat hidup oleh Lich itu"


Goril- bukan maksud ku orang besar ini yang sudah menenangkan dirinya kembali membuka mulutnya.


Tapi apa yang dia maksud dengan 'kalian?' ohh, tiba tiba aku teringat.


"Benar juga!! Bagaimana keadaan ilya sekarang!? "


"Begitu ya, sukurlah kalau begitu"


Aku menjadi lebih lega setelah mendengar nya.


"Sepertinya kau sangat khawatir pada pacarmu ya? "


Hah pacar? Kenapa arah pembicaraan nya jadi ke situ, apa orang besar ini ingin menjahiliku atau semacamnya, karena jika memang begitu maka dia salah besar.


"Dia bukan pacarku, hubungan kami hanya sebatas kenalan seperjuangan hidup dan mati"


"Kata kata mu terlalu lebay bocah"


"Tapi memang seperti itulah kenyataan nya"


"Ngomong ngomong bukankah kau berhutang sesuatu padaku? "


Dia mencoba mendekatkan wajahnya padaku sambil mencoba membuat ku mengingatnya, jika yang dia maksud adalah hutang budi karena sudah menyelamatkan kami maka aku tak akan lupa.


"Jika yang kau maksud hutang budi, maka aku tak lupa dan aku juga pasti akan membayarnya"


Aku mengatakan itu sambil mendorong wajahnya menjauh darimu dengan sedikit kuat, karena hal itu membuat ku merasa tidak nyaman.


"Jadi bagaimana kau akan membayarnya hah? "

__ADS_1


Kemudian aku mengambil beberapa koin dari cincin penyimpanan ku dan menyerahkan nya padanya.


"Nih ambil ini"


Dia pun menerimanya dengan senyuman di wajahnya.


"Terima kasih ya"


"Sama sama, bukan masalah besar"


Tapi dengan sekejap dia meremas koin koin emas yang kuberikan sampai gepeng.


"Hei coba lihat wajah ku baik baik, apakah aku memiliki tampang pengemis hah? "


"Hmmm"


"Iya benar"


Dahlia yang dari tadi diam saja ikut menjawab pertanyaan orang besar ini.


"Diamlah dahlia, hah lihatlah ini, pertama kau menyebutku gorilla sekarang kau memperlakukan ku sebagai pengemis, apa begini cara mu memperlakukan penyelamat mu hah? "


"Bukankah kau sendiri yang barusan minta bayaran? "


Aku menanggapi pertanyaan dengan nada dan ekspresi datar yang di tanggapi dengan datar juga olehnya. Situasi menjadi sunyi beberapa saat diantara kami berdua kecuali dahlia yang sedang tertawa kecil.


"Lupakan saja, lama lama bisa gila aku berdebat dengan mu"


Aku kemudia bangkit dari tempat tidur ku, karena aku ingin menemui ilya sekarang.


"Sudah mau pergi? "


"Iya, aku masih ada urusan dengan seseorang"


"Begitu ya"


"Oh ya, aku benar-benar berterima kasih untuk kau menyelamatkan kami lo"


Tepat saat aku sampai di depan pintu dia kembali memanggilku.


"Hei"


"Apalagi sih? Jika kau menyesal karena menghancurkan koin emas yang kuberikan, maka akan kuberikan lagi"


"Memangnya kau pikir aku ini apa? Aku adalah Gordon sang guildmaster mercenary yan-


Sebelum dia menyelesaikan kata katanya aku memotongnya lebih dahulu.


" Katakan saja intinya "


"Kau ini benar-benar ya-


Sepertinya dia sedikit kesal dengan itu tapi dia memilih mengabaikan nya.


-kau melupakan pedangmu"

__ADS_1


"Pedang? Pedang apa yang kau maksud? "


Kemudian dia menunjuk ke sebuah pedang yang tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur.


__ADS_2