
Setelah meminum ramuan penyembuhan energi yang sebelumnya hilang karena pertempuran mulai terisi kembali meskipun tidak pulih sepenuhnya tapi itu saja seharusnya sudah cukup untuk sekarang.
Jika dia sekuat yang ku perkirakan seharusnya dengan gabungan kekuatan dari kami berdua sangat mungkin untuk mengalahkan nya.
Akulah yang membuat gerakan pertama kali, aku berlari menerjang kearah kesatria kematian ini. Tujuannya adalah untuk memastikan seberapa kuat dia sebenarnya dan benar saja tak seperti tampilan luarnya yang terlihat rapuh karena hampir semua daging di tubuhnya telah membusuk.
Saat aku pertama kali menebas kearah nya dengan menggunakan pedang yang dilapisi oleh mana, serangan itu berhasil ditangkis dengan cukup mudah oleh nya. Tapi yang paling membuat ku terkejut adalah pedang tua yang sedang dipegangnya mampu menahan serangan ku karena pedang itu juga dilapisi mana olehnya, dan setelah serangan itu aku melompat kearah belakang.
"Hei, apa dia memang bisa melakukan hal itu? "
Aku bertanya ke pada gadis ini, namun apa yang ku dapati darinya adalah ekspresi bingung.
"Aku juga tidak tau"
"Kau juga tidak tau? "
"Memang sih kesatria kematian memiliki mana pada tubuhnya tapi untuk bisa menggunakan nya seperti itu, pertama kali aku mendengar nya"
"Begitu ya, jadi yang ada didepan kita ini sedikit spesial"
"Sepertinya begitu, melihat dari caranya yang menangkis serangan mu dengan mudahnya, kurasa dia adalah kesatria yang sangat terampil semasa hidupnya"
"Jadi apa kau terpikir cara untuk mengalahkan nya"
"Mungkin dengan kerja keras? "
"Saran dari sangat tidak berguna kau tau? "
Aku hanya bisa ber ekspresi datar mendengar saran dari dia dan Tepat saat kami berdiskusi soal kesatria kematian ini dia tiba tiba membuka mulutnya.
"Kalian yang mengganggu rencana besar master tak akan kubiarkan hidup!! "
Mendengar dia berbicara soal master membuat kami berdua terkejut, itu berarti kemungkinan terburuk soal adanya Lich benar adanya.
Dan tepat setelah dia mengatakan itu dia langsung melompat tepat kearah kami berdua.
"Menghindar!! "
Aku berteriak kearah gadis itu dan dia pun juga merespon nya dengan baik.
Meskipun serangan kesatria kematian itu tergolong lambat bagi kami berdua tapi tetap saja saya hancur yang menyertainya tak bisa diremehkan sama sekali. Bahkan bekas dari serangan nya itu membuat lubang yang cukup besar di tanah.
Setelah membuat lubang di tanah tempat dia berdiri sekarang dia perlahan memperbaiki postur tubuhnya yang kurang siap sekarang. Tapi gadis yang sedang bersamaku ini tak menyia nyiakan kesempatan itu, dia langsung melesat dengan cepat kearah kesatria kematian itu dan memberikan nya serangan tusukan yang cepat dengan rapier nya, serangan tersebut tak berhasil sepenuhnya ditangkis karena kinerja dari rapier nya yang mengagumkan alhasil sebuah lubang terbentuk tepat ditengah dadanya. Gadis itu tiba tiba saja terkejut oleh sesuatu.
"Menghindar!! "
Aku berteriak kepada gadis itu karena dia sempat tertegun sebentar di tengah pertarungan, mungkin karena dia sudah merasa menang dari lawannya.
"Kenapa!? Padahal aku sudah berhasil melancarkan serangan telak padanya tapi kenapa dia tak kalah juga"
Tepat seperti yang dia katakan, biasanya makhluk manapun akan tumbang setelah mendapati lubang yang menganga tepat di tengah dadanya tapi kesatria kematian itu sama sekali tak bergeming oleh kerusakan tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya orang mati tak akan merasakan sakit"
"Mungkin, terdengar masuk akal"
Merespon pernyataan ku dia hanya bisa mengiyakannya meski dengan ekspresi tak sepenuhnya yakin.
"Sekarang bagaimana kita akan mengalahkannya? "
Dia bertanya padaku.
"Sama seperti para tengkorak berjalan itu, mereka semua berhenti bergerak setelah kita memotong mereka menjadi beberapa bagian"
Itulah yang bisa kupikirkan saat ini untuk mengalahkan nya yaoi entah kenapa aku merasa tak yakin sepenuhnya dengan ide ini, tapi kami hanya bisa mencoba segala cara untuk menang, soal apa yang terjadi nanti bisa dipikirkan saat itu juga.
"Kalau begitu, ayo!! "
Aku memberi kode untuk menyerang dan dia mengikuti dari belakang.
Aku melancarkan serangan namun sama seperti sebelumnya itu bisa ditangkis juga, mulai dari satu kali belasan kali sampai puluhan kali, pedang kami berdua beradu dalam waktu yang singkat itu.
Dan di serangan terakhir aku menggunakan kekuatan yang lebih banyak dari sebelumnya.
Hyahhh
Mungkin karena dia tak menduga hal itu dia tak menyiapkan kekuatan yang cukup untuk menangkisnya alhasil dia terbang ke udara dalam waktu yang singkat dan di momen yang singkat itu jugalah..
Slaaasshhhh
Gadis itu mendaratkan serangan terakhir tepat kearah leher kesatria kematian itu, membuat kepalanya terbang di udara dan menggelinding tepat saat jatuh ke tanah.
Baik aku dan dia sudah sama sama kelelahan karena pertarungan, air keringat sudah membasahi pakaian yang sedang ku kenakan sekarang bahkan wajahku juga sudah dibanjiri oleh keringat tapi karena aku sedang memakai topeng sekarang ini maka aku akan Menyimpannya untuk tepat setelah semua ini benar-benar selesai.
"Apa ini sudah hah hah selesai? "
Gadis itu bertanya padaku untuk memastikan.
"Harusnya sih begitu, tapi entah kenapa mana yang ada pada dirinya masih tetap ada"
"Hmm, apa artinya itu? "
"lihat saja sendiri"
Dia pun kemudian menoleh kearah tepat dimana tubuh kesatria kematian itu berada dan dia tak percaya dengan apa yang dia lihat, kepala kesatria kematian itu yang baru saja terlepas dari tubuhnya terbang secara perlahan kembali menyatu dengan tubuhnya.
"Hei yang benar saja"
Gadis ini mengeluh soal keadaan tapi mau bagaimana lagi, mengeluh sekalipun tak akan mengubah keadaan. Dan menilai dari sikapnya sepertinya ini adalah pertama kalinya dia menghadapi situasi ini.
"Kupikir kau sudah pernah menghadapi seorang kesatria kematian? "
"Hei coba lihat aku, apa mungkin wanita secantik diriku ini akan memiliki hobi berkunjung ke tempat orang mati?"
__ADS_1
Kalau begitu, lalu kenapa kau bisa ada ditempat seperti ini hah? Aku ingin sekali mendebatkan hal ini padanya tapi keadaan sekarang tak mengizinkan ku untuk melakukan nya.
"Lupakan soal itu, apa kau masih memiliki cukup mana untuk melakukan sihir api seperti yang terakhir kali? "
"Sihir api? "
"Iya, sihir api yang kau gunakan untuk menyerang ku seperti beberapa waktu lalu, sihir itu sangat kuat lo, bahkan setelah aku menggunakan perisai mana untuk menghalangi nya aku masih bisa merasakan dampak nya, kita akan menggunakan itu untuk mengubahnya menjadi abu"
"Bisa sih, tapi jika aku melakukan itu sekarang malah aku akan kehabisan mana setelah melakukan nya"
"Mana ku juga hampir habis, seram berikutnya akan menjadi penentuan dari pemenangnya, dan sepertinya musuh kita juga berpikiran sama"
Tepat setelah kepalanya menyatu kembali, tidak, bahkan sebelum itu kekuatannya melonjak menjadi lebih kuat dari sebelumnya, dia mengumpulkan semua kekuatan yang dia miliki untuk digunakan sekaligus.
"Hei, bagaimana kalau kita gagal? "
Terdapat sedikit kekhawatiran di muka gadis itu.
"Kalau begitu kita hanya perlu berhasil!! "
Tegas ku.
Arghhhhh
Kesatria kematian itu berteriak dengan sangat keras setelah semua persiapannya selesai, aura yang dikeluarkan nya lebih menakutkan dari sebelumnya. Di serangan penentuan ini kami tak boleh kalah..
"Fokus! "
Sama seperti sebelumnya aku menjadi penyerang terdepan dan gadis itu sedang menyiapkan sihir nya dibelakang ku, kali pedang kami berdua kembali beradu namun kali ini bukan kecepatan yang menjadi intinya melainkan kekuatan saya hancur yang diberikan oleh setiap pihak yang menjadi penentu.
Pedang kami berdua sama sama di selimuti oleh mana yang padat untuk meningkatkan daya tahannya, tapi tetap saja pedang kami berdua sama sama tak bisa menahan dampak kekuatan dari kami berdua dan itu perlahan mulai retak.
Aku beruntung karena dari awal pedang yang digunakan oleh kesatria kematian itu sudah tua dan pedang dialah juga yang pertama kali kehilangan daya tahannya sepenuhnya membuat pedang itu patah.
Kemudian aku menendang dia sekuat tenaga ke udara, tidak sampai disitu saja aku juga melompat ke udara lebih tinggi dari dari dia yang terlempar kemudian melemparkan pedang yang ada di tanganku kearahnya dengan sekuat tenaga, aku mengerahkan seluruh sisa kekuatan ku untuk ini.
Dia menggunakan kedua tangannya untuk mengurangi dampak yang dia Terima saat pedang mengenainya namun kekuatan dari lemparan pedang sangat besar sampai tubuhnya ikut terhempas tertancap ketanah bersama pedang ku membuy dia tak bisa bergerak.
"Sekarang!! "
Aku memberikan sinyal kegadis di belakang ku yang dari tadi sibuk menyiapkan sihir nya. Mungkin karena doa memiliki waktu untuk menyiapkan nya sihir api itu jauh lebih kuat dari sebelumnya sampai membakar kesatria kematian itu sampai menjadi abu.
"Apa!? "
Kekalahan dari kesatria kematian tersebut membuat lich yang aa didalam kasti terkejut.
"Sialan, apapun yang terjadi rencana balas dendam ku tak boleh gagal"
Lich itu kemudian mengangkat salah satu tangannya sambil mengatakan sebuah mantra yang menciptakan sebuah penghalang yang mengurung seluruh makhluk yang ada ditempat ini.
"Jadi bagaimana sekarang? "
__ADS_1
Gadis itu bertanya padaku.
"Untuk sekarang mari cari tempat untuk memulihkan diri kita dulu".....