Reinkarnasi Tak Terduga

Reinkarnasi Tak Terduga
Kota Bebas 2


__ADS_3

Seorang anak muda terlihat sedang berjalan menyusuri jalan kota yang ramai dengan orang orang dari berbagai ras. Banyak pasang mata yang menaruh perhatian padanya, terutama para gadis yang memiliki rentang usia tak jauh berbeda darinya tapi dia mengabaikan semua itu karena sedang fokus pada sebuah pedang di genggamannya.


Beberapa saat sebelumnya..


"Hei kau meninggalkan pedangmu"


"Pedang apa yang kau maksud? "


"Pedang itu"


Aku pun berjalan kembali ke arah meja kecil itu, diatas nya terdapat sebuah pedang yang mana gagang pedang nya terlihat seperti baru namun sarung nya terlihat usang sekali.


"Tapi, pedang itu bukan milikku"


"Apa maksud mu bocah? Pedang itu sudah ada bersamamu saat aku menemukan kalian pingsan di tempat itu"


Apa yang di maksud Gordon, bahkan setelah aku menggali seluruh ingatan ku aku sama sekali tak pernah merasa melihat pedang ini seumur hidupku.


"Pedang itu adalah sebuah artefak tingkat tinggi, bahkan aku sendiri tak mampu menariknya dari sarungnya"


"??? Bahkan orang sekuat kau tak bisa menariknya? Apa kau sedang bercanda? "


Meski hanya samar samar aku bisa melihat jumlah mana yang luar biasa padanya, jauh lebih menakutkan dari pada Lich itu.


"Hoohh, apa itu sebuah skill analisa? "


Gordon yang melihat ku saat mencoba menilainya bertanya padaku.


"Skill?, apa yang kau maksud? "


Terlihat jelas kebingungan di wajahnya .


"Serius kau tidak tau apa itu skill? "


"Kalau aku tau, aku tak akan bertanya padamu"


"Skill itu...


Dia mencoba menjelaskan nya padaku tapi penjelasan dari dia sangat sulit untuk dimengerti.


Dan begitulah, apa kau mengerti sekarang bocah? "


Mendengarkan penjelasan darinya aku hanya bisa berekspresi kosong, Dahlia yang sedang ada di sana juga tak tau harus seperti apa, dia hanya menepuk jidat nya sambil menggelengkan kepalanya.


"Mana bisa aku mengerti kalau penjelasan mu saja kacau seperti itu"


Aku benar-benar ingin memukul kepalanya itu, tapi sepertinya bahkan jika aku mencoba aku dapat dipastikan gagal.


"Hah, biar aku yang menjelaskan nya kalau begitu-


Dahlia yang sudah tidak tahan lagi menyela pembicaraan dan kemudian menjelaskan padaku kurang lebih seperti ini...


Skill adalah sebuah kemampuan khusus yang melekat atau dimiliki pada seseorang setelah mencapai kekuatan pada titik tertentu atau karena adanya keadaan spesial yang terjadi pada orang tersebut.


Untuk kasusku sepertinya itu termasuk yang kedua.


"Ini pertama kalinya aku mendengar tentang ini"


"Itu wajar saja karena meskipun seseorang layak mendapatkan skill bukan berarti kalau dia pasti akan mendapatkan nya"


"Begitu ya"


Kembali ke keadaan sekarang...

__ADS_1


"Pedang apa ini sebenarnya sih, skill ku tak bisa menganalisa nya, tapi karena menurut Gordon ini adalah artefak tingkat tinggi jadi kurasa itu wajar saja"


Karena tak kunjung mendapatkan hasil yang kuingin kan selain mata yang lelah karena menggunakan skill terus menerus, aku kemudian menyimpan pedang itu di cincin penyimpanan ku dan fokus mencari ilya saja dikota ini.


"Serius, dimana sih dia berada sekarang?, dikota sebesar akan memakan waktu untuk menemukannya"


Tapi pemandangan ini agak baru juga sih, penampilan dari berbagai orang yang ada disini benar benar beragam.


Mulai dari orang orang pendek dengan janggut panjang yang minum alkohol sambil berjalan di siang hari seperti ini dan mereka yang memiliki telinga runcing seperti ilya juga ada. Tapi yang paling menarik perhatian ku adalah orang orang yang memiliki penampilan mirip seperti manusia namun dengan beberapa bagian tubuh hewan pada diri mereka.


Contohnya pria itu, dia terlihat seperti manusia pada umumnya hanya saja telinga nya mirip seperti hewan dengan beberapa bulu di bagian dadanya, dia memakai celana panjang dengan tubuh bagian atas terbuka.


Seperti nya dia menyadari tatapan ku padanya sampai sampai dia mendekati ku.


"Apa yang kau lihat hah!? "


Dia berdiri tepat di hadapan ku sambil menatap dengan tajam tepat kearah mataku, aku bisa mendengar orang orang yang lewat berbisik sambil melihat kami berdua.


Aku terlalu malas menanggapi orang di depanku ini jadi aku hanya dia sambil menatapnya balik, dan entah kenapa tak lama setelah nya dia mulai menjadi gugup dan langsung pergi dari hadapan ku.


"Jangan sampai kau bertemu aku lagi bocah! (Ada apa sih dengan bocah itu, tatapan matanya sangat menakutkan sekali) "


Dia pergi dengan marah marah namun dia juga terlihat sedikit ketakutan.


"Haruskah kuhajar saja dia? "


Aku bertanya pada diri ku sendiri, tapi ide tersebut langsung kutolak karena hanya akan mendatangkan masalah tak perlu padaku.


Akupun terus berjalan dan tak lama kemudian aku mendengar suara yang familiar. Suara seorang gadis yang terdengar sedang berdebat dengan seseorang.


"Bukankah ini suaranya ilya? "


Saat aku mendekati sumber suara tersebut benar saja dugaanku ilya sedang ada disana tapi apa yang sedang dia lakukan disana.


Seorang pria yang sepertinya adalah seorang pedagang kaki lima sedang berdebat dengannya.


"Kenapa tidak bisa!? Apa kau tak tau seberapa mahalnya benda ini!? "


Dia membentak pedagang kaki lima itu dengan nada tinggi sambil mengangkat sebuah kalung.


Hahhh


Pedagang itu menaruh tangannya ke dahi dan menggelengkan kepalanya atas kata kata ilya.


"Nona muda, jika kalung tersebut semahal yang kau sebutkan barusan, maka tak mungkin kan kau yang sebagai pemilik nya tak memiliki uang sepeserpun"


Kata kata pedagang itu memang masuk akal tapi dia tak mau menyerah dengan argumennya.


"Itu karena aku lupa saja membawa uang!! Jadi tutup mulut mu itu dan Terima saja ini!! "


Sepertinya pedagang itu mendapatkan sakit kepala yang berat setelah berdebat dengannya. Namun dia masih sabar dan mencoba menjelaskan padanya soal keadaannya.


"Begini ya nona muda, anggap saja yang kau katakan itu benar adanya bahwa kalung ini sangat mahal, tapi tetap saja aku tak bisa menerimanya, pedagang kecil seperti ku memiliki benda seperti itu hanya akan membawa masalah padaku"


"Tapi aku tak memiliki uan-"


Tepat sebelum dia menyelesaikan kata katanya aku menimpali perdebatan mereka.


"Apa yang sedang kau lakukan, berdebat dengan seorang pedagang di pinggir jalan seperti itu? "


Aku menyapa dia dengan senyuman.


"Ahh leo kau disini? "

__ADS_1


Namun saat dia berpaling ke arahku ekspresi dia yang awalnya senang berubah dalam sekejap menjadi seperti orang yang sedang kebingungan.


"Siapa kau? "


"Apa? Kenapa kau berkata omong kosong seperti itu? "


"Hei apa kau benar-benar leo? "


Dia mengatakan itu sambil memegangi wajahku dan tidak hanya cukup sampai disitu dia bahkan mencubit pipiku. Hal ini membuat ku sedikit jengkel dan langsung menjauhkan tangannya dari wajahku.


"Memangnya siapa lagi!? "


"Jadi itu benar kau? Tak kusangka kau menyembunyikan sesuatu seperti ini di balik topeng jelek mu itu hehe"


Dia mengatakan nya dengan wajah yang sedikit memerah dan dengan senyum yang entah itu mengejek atau apa.


"Sudah cukup main mainnya! Bukankah kau masih ada urusan dengan pedagang itu"


Tunjuk ku ke arah pedagang itu yang dari tadi hanya memperhatikan.


"Oh ya benar, bisa pinjam kan aku uang beberapa"


Itu hanya sebuah permintaan kecil darinya jadi aku langsung setuju saja tanpa berpikir dan menyerahkan padanya beberapa koin yang langsung dia berikan pada pedagang itu.


"Jadi apa rencana mu sekarang leo? "


"Hmm, aku berencana mengunjungi tempat pandai besi untuk mencari beberapa senjata, semua senjata yang kumiliki sebelumnya hancur semua"


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu, aku bisa memilih kan senjata yang bagus untuk mu lo"


Meskipun dia berkata seperti itu, tapi aku sendiri sudah memiliki skill analisa jadi aku tak memerlukan bantuannya.


"Tak perlu"


Jawabku dengan cepat, sepertinya itu membuat nya sedikit kecewa tapi hal itu benar benar tak perlu.


"Ya sudah kalau begitu, aku hanya akan ikut saja"


Tempat yang kami tuju adalah adalah sebuah tempat di pinggiran kota dimana biasanya tempat ini di sebut sebagai daerah kumuh. Saat menyusuri jalan bersama ilya aku merasa beberapa orang menatap kami dengan tatapan yang aneh, aku berpikir untuk mencari alasannya tapi seperti apapun aku memikirkannya aku tak menemukan alasan mengapa mereka seperti itu, jadi aku memutuskan untuk bertanya pada dia.


"Hei ilya, dari tadi orang orang menatap kearah kita dengan tatapan yang aneh, apa kau tau kenapa? "


"Serius kau tak tau kenapa? "


"Kau pikir memangnya kenapa aku bertanya padamu hah? "


Menanggapi pertanyaan ku dia hanya tertawa sambil bergumam dengan sangat pelan sampai aku tak bisa mendengar nya dengan jelas.


" Bodoh"


"Apa yang kau bilang barusan? "


"Bukan apa apa kok, tapi leo sampai kapan kita akan berjalan seperti ini? Sudah beberapa toko pandai besi yang kita lewati sampai sekarang"


"Seseorang memberi tahu ku tempat yang bagus di daerah pinggiran kota"


"Maksudmu daerah kumuh? "


"Iya"


"Memangnya ada tempat yang seperti itu di daerah kumuh? "


"Entahlah, aku hanya mengikuti sarannya"

__ADS_1


Setelah beberapa obrolan singkat lainnya tak terasa kami sudah sampai ke tempat tujuan kami....


__ADS_2