Reinkarnasi Tak Terduga

Reinkarnasi Tak Terduga
chapter 5 kota pertama 2


__ADS_3

Dari suaranya terdengar seperti seorang gadis. Dan tebakanku ternyata benar yang memanggilku barusan adalah seorang anak gadis yang sekiranya seumuran denganku. Dia memiliki rambut berwarna abu abu yang diikat kebelakang, wajahnya terlihat seperti memiliki bintik bintik jerawat. Tapi yang paling penting ada urusan apa dia memanggilku?


"Kau, kau sedang ingin membeli pakaian, Tapi orang orang itu mengusirmu kan? "


Tanya dia padaku dengan bersemangat.


"I-iya, memangnya kenapa ya? "


"Kalau begitu kau bisa membeli baju buatan ibuku, harganya sangat murah, bahkan pengemis sepertimu dapat membelinya"


'Ughhh kenapa sih semua orang mengira aku sebagai pengemis? Aku tetap bertanya meskipun aku sendiri tau jawabannya.


"Sepertinya kau salah paham akan sesuatu"


"Memang apa yang salah kupahami? "


Mendengar pernyataan ku dia menjadi bingung karena merasa tak ada yang salahh dengannya.


"Pertama, aku bukan seorang pengemis, kedua aku tak memiliki masalah soal keuangan"


Aku menegaskan keadaan ku yang sebenarnya pada dia sekarang kalau aku bukanlah pengemis seperti yang dia kira.


"Kalau begitu kenapa penampilan mu seperti itu? "


Dia membalas pernyataan ku dengan ekspresi curiga, sambil kedua tangannya memegang pinggangnya dan matanya yang menyipit menatapku.


"Anggap saja aku mendapatkan pengalaman yang sangat buruk"


Mengingat kejadian waktu itu hanya meninggalkan perasaan tidak enak di hatiku, dan tanpa sadar ekspresi ku menjadi sedikit gelap. Sepertinya dia cukup peka dengan ekspresi ku sehingga dia berhenti bertanya dan mengiyakan saja. Merasa keadaan menjadi canggung aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lupakan soal itu, kapan kita akan berangkat ketempat ibumu? "


Sadar dengan apa yang aku coba lakukan dia mengikuti alur pembicaraan saja.


"Kalau begitu, ikuti aku"


Kami berdua pun berjalan menuju arah tujuan dengan dia didepan sebagai penunjuk jalan dan aku mengikuti dia dari belakang. Awalnya perjalanan biasa saja namun lama kelamaan menjadi sedikit mencurigakan, kami berjalan mengikuti jalan utama kemudian memasuki sebuah gang sepi dan diujung gang tersebut terdapat sebuah rumah yang cukup usang namun terawat. Apa benar disini tempatnya?


"Oh ya, namaku nina, siapa namamu?


Saat kami hampir sampai dia memberitahu kan namanya padaku, mungkin karena dia menyadari kalau aku sedikit curiga padanya sehingga dia mengalihkan perhatian ku dengan pertanyaan.


" Namaku leo"


"Leo ya? Baiklah leo kita sudah sampai di rumahku"


Jadi ini benar-benar tempatnya ya? Tepat sat kami sampai dia bergegas kedepan pintu dan membukanya.


"Ibu aku pulang"


"Jadi kau sudah pulang ya nina? "

__ADS_1


Terdapat seseorang yang membalas kata kata dia tapi seseorang itu tidak keluar dan suaranya juga terdengar lemah, apa ibunya sedang sakit?


"Ibu, aku juga membawa seoarang pelanggan"


Aku mengikuti dia berjalan ke dalam dan di sana aku melihat nina dengan seseorang yang sepertinya ibunya. Sepertinya dugaanku bahwa ibunya sedang sakit memang benar, dia sedang berbaring ditempat tidu, tubuh yang lemah dengan kulit yang terlihat pucat dan batuk kadang kadang.


"Uhuk uhuk, jadi kau adalah pelanggan yang dimaksud nina ya? Terima kasih ya untuk itu"


Dia bertanya sambil menatapku ditempat tidur nya, sepertinya kondisinya cukup parah sampai sampai bangkit dari tempat tidur saja tidak bisa.


"Iya, Terima kasih berkat itu"


"Tidak, Kamilah yang seharusnya berterima kasih, berkatmu kami terselamatkan"


Dia berkata dengan lemah lembut seperti ibu ibu yang penuh kasih sayang. Kemudian dia sedikit bercerita tentang keadaan yang mereka alami.


Dulu keadaan mereka baik baik saja, tapi semenjak ayahnya nina meninggal dunia mereka bergantung pada penghasilan ibunya nina sebagai penjahit, tapi tak lama kemudian ibunya juga jatuh sakit yang membuat keadaan mereka menjadi semakin sulit. Hal ini membuat ku teringat tentang ibuku (leo).


"Berkatmu kami tidak perlu untuk memikirkan masalah makan untuk sementara waktu"


Keadaan menjadi sedikit suram sampai nina membuka mulutnya.


"Kau tahu ibu, awalnya leo sempat diusir sebelumnya karena orang orang mengira dia seorang pengemis"


Nina memberitahu ibunya dengan sedikit nada candaan yang membuat ibunya pun tertawa.


"Fufu benarkah itu nina"


"Iya benar"


Aku sedikit menggeruru padanya meski aku tak mempermasalahkan hal tersebut.


"Oh ya, sebelumnya kau bilang tidak memiliki masalah keuangan kan? Kalau begitu kau harus membeli semua baju buatan ibuku"


Dia mengusulkan hal tersebut namun ibunya mencoba menghentikan nya.


"Ni-nina itu terlalu berle-"


Tepat sebelum ibu nina menyelesaikan kata katanya aku memotongnya terlebih dahulu.


"Tak apa, karena aku juga butuh, sebagai gantinya tolong tunjukkan padaku tempat dimana aku bisa menginap nanti karena aku belum menemukannya"


"Serahkan saja padaku soal itu"


Nina menerimanya dengan bersemangat. Baiklah dengan itu masalah tempat tidur sudah teratasi.


Sebelum mencoba pakaian yang mereka sedang siapkan, ibunya nina menyuruh untuk mandi di tempat mereka. Awalnya aku agak khawatir kalau mereka memiliki masalah dengan kekurangan air tapi sepertinya kekhawatiran ku sia sia.


"Ahh segarnya"


Setelah tidak mandi sekitar sebulan tubuh ku gatal gatal semua dan bau tapi setelah mandi semua kotoran yang menumpuk di tubuhku menghilang seolah tidak pernah ada.

__ADS_1


"Leo, baju gantinya aku taruh didepan pintu"


Itu adalah suaranya nina, kebetulan sekali saat itu juga aku sudah selesai dan aku mengambil baju yang dia tinggalkan. Itu adalah sebuah pakaian casual yang lebih sering dikenakan banyak orang, meskipun terbuat dari bahan seadanya tapi sentuhan jahitannya yang sangat rapi membuat pakaian itu terlihat agak premium.


Setelah selesai berpakaian aku keluar dari kamar mandi menuju ke tempat nina dan ibunya berada.


"Bagaimana? Pakaian yang dibuat oleh ibuku sangat bagusan? "


Dia mencoba menyombongkan hal tersebut.


"Yah, aku puas dengan ini"


"Semua pakaian yang kau beli sudah kurapikan disini"


Kata nina sambil menunjuk kearah lipatan baju di sana.


"Semua totalnya satu koin emas, kau bisa membayarnya sekarang"


Dia mengulurkan tangan kanannya padaku untuk meminta bayarannya. Gadis ini memang selalu bersemangat apalagi jika itu urusan uang. Karena semuanya pakaian yang akan kubeli sudah disiapkan aku memasukkan semuanya kedalam cincin penyimpanan yang ada ditangan ku. Melihat hal tersebut nina dan ibunya cukup kaget karena cincin penyimpanan memiliki harga yang mahal.


"Wow itu sebuah cincin penyimpanan, sepertinya kau tidak bohong soal kau tidak kekurangan uang"


"Tentu saja, kau pikir aku seorang pembohong? Dan ini bayaran atas semua itu"


"Ehh tapi leo, bayarannya cuma satu koin emas bukan sepuluh"


Dia sangat senang karena dengan itu dia bisa membeli obat untuk ibunya tanpa perlu mengkhawatirkan soal makanan.


"Anggap saja itu sebagai tanda Terima kasihku dan jangan lupa untuk mengantarku mencari penginapan karena ini sudah sore"


"Baiklah kalau begitu"


"Dan satu hal lagi bisa rapikan rambutku, ini sedikit mengganggu"


Aku memintanya memotong sedikit rambut ku karena itu sudah terlalu panjang sampai menutupi bagian mataku.


Setelah beberapa saat kemudian....


"Baiklah leo itu adalah penginapan nya "


Kata nina sambil menunjuk kearah sebuah bangunan yang cukup besar.


"Oh ya mungkin akan sedikit repot didalam tapi ku yakin kau akan mampu mengatasi nya"


Setelah mengatakan itu dia langsung pergi dengan buru buru, mungkin karena sebentar lagi malam.


Tapi apa yang dia maksud dengan itu dan untuk suatu alasan yang tidak ku ketahui wajahnya memerah dari tadi.


"Apa dia sedang sakit, tapi dengan uang yang kuberikan harusnya dia bisa membeli obat untuk itu"


Kalau begitu saatnya masuk kedalam, aku sudah tidak sabar untuk tidur sepuasnya.

__ADS_1


"Baiklah ini dia"


Tepat saat aku membuka pintu apa yang menungguku disana adalah.....


__ADS_2