
Kota turdas adalah sebuah kota kecil di perbatasan yang memiliki jumlah penduduk sekitar sepuluh ribu jiwa, bagian dari Kerajaan Theoden. Meskipun begitu kota ini cukup aktif karena banyak pedagang dan mercenary yang datang dan pergi. Kota ini memiliki dinding yang cukup tinggi dan kokoh, dibuat begitu untuk menahan monster masuk ke kota. Dan karena hubungan dengan Kerajaan tetangga tidak cukup bersahabat kota ini bisa dijadikan sebagai benteng darurat kalau kalau terjadi perang dadakan.
Akhirnya kita pertama yang aku singgahi, ada banyak hal yang ingin kulakukan saat pertama kali sampai ke kota. Aku ingin makan dan tidur sepuasnya karena sebulan terakhir makan dengan baik, tidurku juga sangat berantakan hingga terdapat kantung mata di mataku, aku juga ingin membeli pakaian yang nyaman untukku.
Awalnya aku pikir semua akan berjalan lancar namun ternyata tidak, penjaga yang ada didepan gerbang tidak membiarkan ku masuk ke kota.
"Hei kau, berhenti disana"
Salah seorang penjaga memanggilku.
"Ada apa ya? "
Aku yang bingung pun lantas bertanya padanya.
"Kau tidak boleh masuk"
"Kenapa? "
"Sudah menjadi aturan dari kota ini untuk tidak membiarkan seorang pengemis masuk kedalam"
"Hah? Apa maksudmu dengan pengemis itu adalah aku? "
Aku menjadi lebih bingung dengan kata katanya, karena aku sendiri bukanlah seorang pengemis, kok bisa bisanya dia menyebutku begitu.
"Lihat saja dirimu! Kalau bukan pengemis lalu apalagi memangnya? "
Dia mengatakan nya dengan ekspresi yang seakan merendahkanku, itu membuatku ingin memukul wajahnya yang menjengkelkan itu. Tidak tahanlah, melakukan hal itu hanya akan membuatku kena masalah yang lain. 'Tapi apa maksud dia menyebutku sebagai pengemis? 'Aku memikirkan kata katanya dan melihat keadaan diriku sendiri.
__ADS_1
"Ahh, benar juga"
Saat aku melihat diriku sendiri, aku tidak bisa membantah kata katanya, membuat hatiku terasa pahit. Dengan pakaian lusuh yang robek robek dan badan yang sangat kotor dipenuhi oleh debu dan tanah bahkan aku tidak memakai alas kaki, tidak heran dia menyebutku sebagai pengemis.
Sekarang bagaimana ini? Aku harus masuk ke kota jika ingin melakukan semua yang sudah kuharapkan. Agar bisa masuk aku harus memikirkan sebuah cara, oh ya aku ingat, bukankah pengguna mana memiliki status yang tinggi didunia ini, haruskah aku mengungkapkan kekuatan ku didepan mereka untuk masuk dan sekalian memukul penjaga itu, tapi aku tidak tahu keadaan dunia ini yang sebenarnya, dan setelah kupikir pikir lagi tak perlu untuk mengambil resiko seperti itu. Seharusnya ada sebuah cara di mana aku bisa masuk tanpa harus menyebabkan masalah. Tapi tak peduli seperti apa aku berpikir otakku buntu tak bisa menemukan solusinya.
Melihat sekitar ternyata bukan cuma aku saja yang tidak bisa masuk tapi ada beberapa orang juga yang dilarang masuk.
"Apa!? Bukankah barusan mereka tidak bisa masuk tapi kenapa sekarang bisa"
Para penjaga memperbolehkan mereka masuk setelah mereka menerima sesuatu dari orang-orang itu, sesuatu yang terlihat berkilau seperti koin perak.
Ah sialan, orang orang ini menggunakan sogokan, jika saja aku tau dari awal bisa seperti itu maka aku juga akan melakukannya, tidak perlu buang buang waktu disini. Saat aku juga memberikan sejumlah uang kepada para penjaga sifat mereka yang menjengkelkan langsung berubah 180 derajat. Dan begitulah akhirnya aku bisa masuk ke kota. Dan mereka juga memberiku sebuah jubah untuk menutupi penampilanku agar tidak menarik perhatian.
Berbeda dari tampilan luarnya yang sepi didalam kota terdapat cukup ramai orang. Para pedagang kaki lima mendirikan lapak mereka dipinggir jalan dan meneriakkan barang dagangan mereka untuk menarik para pembeli. Dan kerumunan para pejalan kaki yang lalu lalang berhenti untuk membeli apa yang menarik perhatian mereka.
"Pak, apa kau tidak memakai bumbu apapun? "
"Kenapa kau bertanya begitu nak? "
Penjual yang ada didepan ku saat ini memiliki penampilan seorang pria tua paruh baya dengan sedikit uban dirambutnya. Dia terlihat seperti orang yang ramah dengan senyumannya dan untuk alasan yang tidak aku ketahui entah kenapa dia menjadi risau dengan pertanyaan ku dan membalasnya dengan pertanyaan juga. Pasti ada sesuatu soal ini yang membuat ku penasaran juga pastinya.
"Aku berasal dari sebuah desa terpencil yang jauh dari perkotaan sehingga aku tak tau keadaan disini bagaimana"
Aku berbohong soal identitasku demi mencoba untuk menggali sebuah informasi darinya. Dan itu berhasil, wajahnya yang awalnya sedikit tegang menjadi lebih santai.
"Haha begitu ya, pantas saja kau tidak tahu apapun soal ini"
__ADS_1
Dia kembali menjadi penjual yang ramah dan ia menerangkan padaku bahwa harga dari rempah-rempah untuk memasak harganya sangat mahal dan langka sehingga hal tersebut dianggap sebagai barang mewah, dan biasanya hanya para bangsawan dan orang orang kaya saja yang bisa menikmatinya.
"Begitu ya"
Aku menjadi sedikit putus asa karena makanan enak yang telah lama aku nanti nantikan sangat sulit untuk didapat. Melihat ekspresi ku pak penjual menjadi penasaran dan mencoba bertanya padaku untuk memuaskan rasa penasarannya.
"Kau terlihat putus asa nak, apa ditempat asalmu tidak seperti ini?
" Seperti itulah"
Setelah menghabiskan semua makananku saatnya mencari baju untuk bisa kukenakan dengan layak, dari yang dikatakan pak penjual itu ada toko baju disebelah selatan kota dan mengikuti petunjuk darinya akhirnya aku sampai.
Disuatu jalan terdapat beberapa toko pakaian yang berjajar, orang orang disini juga cukup ramai meskipun tidak seramai sebelumnya karena bagaimana pun tidak mungkin juga orang orang membeli sebuah baju setiap harinya.
Aku Pun masuk ke toko baju yang terlihat paling bagus di sana, tempat ini sangat bersih dan terawat banyak baju berbagai jenis yang dipajang untuk diperjual belikan. Namun tepat tak lama setelah aku masuk pemilik toko itu langsung mengusirku.
"Ehh"
Kejadiannya terjadi begitu cepat sampai aku sendiri bingung harus bagaimana. Tak hanya sampai disitu pemilik toko itu juga mencemooh ku mengatakan bahwa aku tak akan mampu membeli barang dagangan nya. Dan begitupun toko toko lainnya.
"Pergilah nak!, dengan penampilan mu yang seperti gelandangan itu kau pasti tidak akan mampu kembali apapun"
Begitulah rata rata respon para pemilik toko baju itu. Ada ada sih dengan orang orang ini, mengapa mereka semua selalu melihat sesuatu dari luarnya saja. 'Lihat saja pakaian yang kau kenakan, ish ish bagaimana bisa penjaga membiarkan orang seperti mu masuk' kata mereka. Justru karena pakaian rusak yang sedang kukenakan sekarang lah mengapa aku ingin membeli pakaian baru sialan.
Karena sangat kesal aku sampai menggertakkan gigiku sambil meludah kearah mereka aku juga tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyumpahi mereka semua.
"Semoga kalian semua bangkrut!! "
__ADS_1
Ucapku, mereka tidak tahu saja berapa banyak uang yang kumiliki sekarang ini, aku bisa saja membeli semua toko mereka beserta isinya. Tepat saat aku sibuk meluapkan semua emosiku seseorang memanggilku.......