
Didalam sebuah rumah terbengkalai yang sudah lama tak dihuni terdapat dua sosok yang sedang duduk di ruangan yang sepertinya adalah ruang tamu, salah satu satunya memakai topeng yang menutupi seluruh wajahnya dengan rambut perak dan yang satunya memakai jubah menutupi seluruh tubuhnya, saat dia membuka tudung jubahnya terlihatlah telinga yang runcing dengan rambut emasnya.
Dua orang yang sedang berada di tempat entah berantah ini sedang mendiskusikan sesuatu tentang bagaimana cara mereka keluar dari sini.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? "
Aku memulai pembicaraan dengan gadis ini.
"Memangnya apa lagi yang bisa kita lakukan, penghalang itu terlalu kuat untuk diterobos dengan paksa di level kita saat ini"
Gadis ini mengutarakan pendapat nya sambil menunjuk kearah luar melalui jendela, diluar terdapat sebuah penghalang yang mengisolasi semua yang ada didalamnya untuk keluar termasuk kami berdua.
"Oh ya, aku masih belum tau namamu, aku leo dan kau? "
Meski itu bukan namaku yang sebenarnya tapi ibuku selalu memanggilku dengan nama itu.
"Kau bisa memanggilku ilya"
Sepertinya dia juga menyembunyikan nama aslinya dariku tapi itu tak masalah karena aku juga tak ada kepentingan soal itu.
"Ngomong ngomong ilya-
" Apa? "
"Bukankah kau berutang sesuatu padaku? "
"Apa maksud mu? Aku tak mengerti"
"Apa kau lupa, kalau kau mencoba membunuhku di pertemuan pertama kita? "
Aku bahkan tak melihat satupun alasan untuk dia melakukan hal itu.
"Ah"
Sepertinya dia sudah mengingat nya.
"So-soal itu, yah kau tau, seseorang dengan topeng aneh di tempat entah berantah, bukankah itu sangat mencurigakan"
Dia mencoba menjelaskan dengan gugup, matanya yang tak bisa menatapku saat dia menjelaskan nya membuktikan kalau dia sedang merasa bersalah.
Dia pun melanjutkan kata katanya yang tadi berhenti sejenak.
"B-benar, bukankah setiap orang akan melakukan seperti apa yang kulakukan di situasi itu, jadi ini bukan sepenuhnya salahku, kau juga ikut andil dalam hal ini"
Meskipun dia tau kalau dia sudah salah tapi dia mencoba menyangkalnya bahkan dia juga mencoba ikut menyalahkan ku, gadis ini benar-benar egois.
"Yah anggap saja seperti itu"
Fyuhhh
Gadis ini menghela napas panjang sambil mengelus dadanya, menandakan beban yang dia rasakan beberapa waktu yang lalu telah hilang sepenuhnya. Ekspresi bersalah nya barusan juga telah lenyap seakan itu tak pernah ada.
"Tapi meskipun begitu, bukankah orang dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya sambil menyerang orang lain tanpa sebab lebih mencurigakan lagi? "
"Ahahaha leo, tak perlu perlu memikirkan soal masa lalu"
__ADS_1
"Kau bisa bicara begitu karena bukan kau yang menjadi korbannya"
"Iya iya, aku minta maaf oke, apa kau puas sekarang? "
Pada akhirnya dia mengalahkan egonya dan minta maaf padaku meski permintaan maaf nya itu terlihat sangat jelas kalau dia tidak tulus.
"Asal kau tau saja, aku tak pernah minta maaf lo, tapi untuk mu aku bersedis melakukannya, bukankah kau seharusnya senang? "
Senang dengkulmu, yang kurasakan hanyalah perasaan kesal darimu.
"Ahhhh, terserah, lupakan saja soal itu. Mari kembali ke bisnis"
Dengan itu masalah sebelumnya terselesaikan dan tinggal satu masalah lagi, yaitu cara bagaimana keluar dari tempat ini dan soal sesuatu yang menarik perhatian ku sebelumnya aku sudah tak peduli lagi, aku juga tak merasakan perasaan itu lagi sekarang ini.
"Sekarang, apa kau tau bagaimana cara kita keluar dari penghalang ini? "
"Ada tiga cara bagi kita untuk keluar"
"Hmmm, lebih banyak dari dugaanku"
"Pertama adalah menghancurkan penghalang ini dengan kekuatan yang lebih besar"
"Itu mustahil sekarang"
"Kedua adalah dengan mengalahkan pembuat penghalang ini"
"Aku tak yakin soal mengalahkan Lich itu"
"Ketiga menunggu sampai pembuat penghalang ini melepaskan sihirnya sendiri"
Untuk sekarang, mengalahkan Lich itu sepertinya adalah pilihan yang paling masuk akal, tapi aku benar-benar tak yakin apakah kami bisa mengalahkan nya.
"Hei ilya, kau lebih tau soal Lich daripada aku, menurut mu berapa persentase kemenangan kita jika kita bertarung dengan nya."
"Mungkin sekitar 30 persen"
Lebih rendah dari perkiraan ku, kupikir itu akan mendapatkan angka di 50 persen dengan kondisi prima kami.
"Tapi-
Hmmm
" Karena Lich adalah makhluk yang sepenuhnya mengandalkan sihir untuk bertarung, jadi dia lemah dengan serangan langsung "
"Jika benar seperti yang kau katakan, kemungkinan kita akan menang akan meningkat"
"Yah seperti yang kau katakan, tapi sihir dari Lich itu biasanya adalah sihir tipe kutukan, jika kena sekali saja kita mungkin akan berakhir"
"Jadi singkat nya, pihak pertama yang berhasil meluncurkan serangan adalah pemenangnya? "
"Ya kau bisa menganggap nya seperti itu"
Setelah itu kami pun melanjutkan istirahat kami sampai benar benar pulih sebelum menghadapi Lich itu.
Gadis ini, awalnya aku tak begitu memperhatikan tapi telinga dia yang runcing itu agak sedikit tidak biasa.
__ADS_1
"Ngomong ngomong kau belum mengatakan alasan mengapa kau bisa ada disini kan? "
"Sebenarnya aku kabur dari rumah"
Ekspresi dia saat mengatakan itu terlihat cukup sedih.
"Kenapa? "
"Orang tua ku ingin aku menikah dengan orang yang tidak kusuka"
Orang tua yah? Mungkin aku tak akan mengerti soal perasaan seperti itu, karena aku tak pernah melihat orang tuaku sejak aku masih bayi.
"Jadi kau memilih untuk lari? "
"Benar, dan saat aku lari aku membawa beberapa artifak seperti rapier yang kugunakan sebelumnya, tapi sayang nya aku lupa untuk membawa uang"
"Itu masih belum menjelaskan kenapa kau bisa ada disini"
"Kalau soal itu, saat dalam perjalanan aku mendengar rumor soal harta karun yang tersimpan di kastil terbengkalai, dan yah setelah itu kah harusnya tau kelanjutannya saat aku bertemu kamu"
"Apa orang tuamu tak mengkhawatirkan mu ilya? "
"Khawatir? Omong kosong, yang mereka pikirkan hanyalah diri mereka sendiri dan memaksakan kehendak mereka padaku dengan dalih untuk kebaikan ku, menurutku orang tua macam apa mereka hah? "
Dia marah marah saat menjelaskan keadaannya
Sepertinya dia memiliki hubungan yang buruk dengan kedua orang tuanya. Sebenarnya dia terlihat cukup lucu saat dia marah seperti itu.
"Setidaknya kau masih memiliki mereka yang khawatir padamu"
"Leo? "
"Bukan apa apa, aku ingin tidur sebentar untuk memulihkan tenaga ku dulu, bangunkan aku jika terjadi sesuatu? "
"Baiklah kalau begitu"
Ada apa dengannya? Dia terlihat murung saat aku menceritakan kisahku, apakah dia bersimpati padaku? Tapi barusan, sepertinya dia memiliki kisahnya sendiri, aku ingin tau soal itu karena mungkin aku bisa membantunya tapi apa dia akan memberi tahu ku secara kami masih menjadi orang asing yang kebetulan berada di perahu yang sama.
Malam pun berlalu dan pagi hari telah tiba, kami berdua sudah pulih sepenuhnya dan sekarang saatnya menghadapi penguasa tempat ini.
"Hei apa ada sesuatu yang terjadi semalam? "
"Tak ada apapun yang terjadi, hanya saja kau tidur dengan sangat menggemaskan semalam loh"
Dia mencoba menggoda ku dengan sedikit keisengan nya, tidak buruk juga sih karena dengan ini kesuraman dari situasi ini sedikit berkurang.
"Bagaimana kau tau sementara aku memakai topeng hah? "
"Apa kau tidak tahu kalau mata elf itu sangat tajam? "
"Terserah lau saja, kalau begitu ayo kalahkan makhluk itu! "
"Ya!! "
Setelah itu kamipun dengan bersemangat menuju kastil dimana Lich itu berada...
__ADS_1