
Sudah sekitar seminggu aku mengawasi disini dan sekarang aku sudah sedikit mengerti tentang mereka. Meskipun dapat bergerak selayaknya manusia tapi mereka tak bisa berpikir sendiri tanpa ada kehendak dari orang yang mengontrol mereka. Dan aku juga sudah memutuskan untuk bergerak dalam waktu dekat.
Seperti hari hari sebelumnya aku berada di tebing tinggi yang ada di belakang tempat ini, aku memilih tempat ini karena tempatnya cukup tinggi untuk memperhatikan seluruh keadaan reruntuhan dengan aman. Hari ini juga tak ada yang berbeda dari pergerakan mereka dan jika seperti ini terus aku akan membuat pergerakan hari ini juga. Namun tak lama kemudian aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk dari arah belakangku diikuti oleh sebuah anak panah yang melesat kencang, jika saja aku tak berhasil menghindari nya tepat waktu panah itu mungkin sudah bersarang di tubuhku.
" Hampir saja "
Aku hanya bisa mengelus dada dengan kejadian barusan. Tapi sebelum itu seingat ku tak ada satupun dari para tengkorak itu yang menggunakan senjata panah apalagi panah barusan itu tak mungkin bisa sekuat itu hanya dengan panah biasa , terdapat sedikit mana yang tertanam didalam nya. Jadi hanya ada satu kesimpulan sekarang, yaitu ada orang lain juga disini.
"Hoh, jadi kau bisa menghindari itu, padahal aku cukup percaya diri dengan kemampuan panahanku"
Dari suara tersebut muncul lah seseorang dengan jubah hitam menyelimuti seluruh tubuhnya yang entah dari mana berasal karena aku tak bisa merasakan kehadirannya yang sebelumnya sampai dia muncul dengan sendirinya. Dari suara dia sebelumnya terdengar jelas adalah milik seorang gadis dan dari perawakan tubuhnya yang kurang lebih sama dengan ku menunjukkan bahwa usia kami sekiranya sama.
Tapi untuk alasan apa dia ingin membunuhku padahal aku yakin sekali bahwa ini adalah pertemuan pertama kami. Dan dia juga muncul begitu saja dari tempat persembunyian nya padahal dia memiliki keuntungan untuk itu.
Sikapnya juga, dia sepertinya sangat percaya kemampuannya berada di atasku yang bisa saja memang begitu adanya. Meskipun begitu saat aku menganalisa dia dengan kemampuan mataku mananya sendiri tidak melebihi diriku bahkan kurang kurang mungkin sekitar dua pertiga milikku.
Sebenarnya dari mana kepercayaan dirinya itu berasal pikir ku. Sebelum itu aku akan bertanya padanya soal alasan mengapa dia menyerangku begitu.
" Hei hei, bukankah yang barusan itu cukup kejam, aku tak mengerti kenapa kau sampai menyerangku seperti itu? "
__ADS_1
Meski aku memang bertanya padanya tapi aku tak mengharapkan jawaban apapun karena pada akhirnya kami juga akan bertarung.
"Karena aku inginnya begitu!! "
Jawaban singkat darinya menjadi akhir dari basa basi kami. Dia kemudian menyimpan busur panah yang sebelumnya dia gunakan dan menarik pedang Rapier yang dipinggangnya tak mau kalah aku pun juga mengambil sebuah pedang yang kudapatkan sebelumnya dari gaston.
Aku tau ini bukan saatnya untuk membandingkan senjata ku dengannya tapi Rapier yang sedang dia pegang itu benar benar luar biasa bahkan dari sudut pandang amatir sepertiku. Dibandingkan pedang yang hanya sebuah besi tajam biasa cukup menyedihkan.
Dan itu bukan hanya sebuah omong kosong belaka, saat pertama kali pedang kami beradu pedang ku langsung patah menjadi dua bagian bahkan dengan fakta bahwa aku melapisinya dengan mana tidaklah cukup. Meski dia juga melakukan hal sama dengan ku sih.
"Sepertinya aku harus mendapatkan senjata baru nantinya, bukan sebongkah besi yang berbentuk pedang ini"
Aku ingin mengeluh sekarang juga soal ini tapi hal itu tidak ada gunanya dan dia juga tak memberiku waktu untuk itu sekarang ini. Sisi baiknya bukan hanya ada satu senjata di tempat penyimpanan ku, kali ini aku mengambil pedang yang lain untuk digunakan aku juga melapisinya dengan mana yang sedikit lebih tebal dari sebelumnya. Memang ada perubahan, pedang itu berhasil bertahan beberapa serangan dan pada akhirnya patah juga dan terus seperti ini terus sampai akhir.
"Ughhh"
Mudah saja untuk memikirkan melakukan sesuatu dengan sangat baik namun dalam kenyataan hal itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Serangan yang intens dari nya sama sekali tak berkurang malah sebaliknya itu menjadi lebih ganan dari sebelumnya.
Tapi seberapa lama dia bisa mempertahankan nya dengan stamina terbatas miliknya itu.
__ADS_1
Sudah berapa lama kami bertarung namun tak ada siapapun yang terluka cukup berat di kedua belah pihak. Dalam kenyataan waktu yang berlalu mungkin baru beberapa saat tapi bagi kami berdua itu sudah sangat lama rasanya. Dia juga sudah mulai terlihat kelelahan dan hampir mencapai batasnya.
"Berhentilah menghindar seperti pengecut dan lawan aku"
Dia berteriak kepadaku karena tak ada satupun serangan nya yang berhasil, aku menghindari semuanya tanpa ada satupun yang terlewat.
"Baiklah kalau itu maumu!! "
Membalas kata katanya aku menyerangnya denga tendangan kakiku membuatnya sedikit terkejut dengan itu. Mungkin karena dia sudah mulai merasa batasannya dan menjadi tidak sabaran sehingga menunjukkan celah seperti itu. Tapi tetap saja serangan itu tidak bisa dibilang sukses karena dia berhasil menangkis nya dengan senjata yang dia pegang disaat saat terakhir. Orang ini benar-benar professional yang sangat terlatih, hanya itu yang bisa kupikirkan tenangnya. Kalau saja bukan karena staminanya yang lebih buruk dariku aku mungkin akan kalah pada akhirnya.
"Sepertinya kau sudah mencapai batasmu ya"
Kata kataku bukan sesuatu yang tidak berdasar namun fakta yang sebenarnya, itu di buktikan dengan dirinya yang sedang terengah-engah sekarang. Dan sekarang sudah saatnya untuk mengakhiri ini semua, aku berjalan secara perlahan kearah dia dan berhenti saat jarak antara aku dengan dia tinggal beberapa meter saja, mengumpulkan tenaga untuk mengakhiri ini dengan satu serangan mematikan. Aku melesat kearahnya dengan sangat cepat secepat yang ku bisa sambil mengarahkan pedang ku ke tepat kearah jantungnya. Namun tepat sebelum pedang ku bisa menusuk jantungnya pedang terhenti, lebih tepatnya itu dihentikan secara paksa oleh sebuah pelindung yang mengelilingi tubuhnya.
"Apa yang-"
Sebelum aku bisa menyelesaikan kata kataku karena terkejut olehnya, dia pun sedikit tersenyum dan bibirnya bergerak seolah mengatakan akulah yang akan menang. Setelah bibirnya berhenti bergerak sebuah bola api pun muncul dari telapak tangannya .
"Apa itu sihir? " Pikirku
__ADS_1
Dan kemudian dia pun melemparkan bola api itu kepadaku, karena jarak kami yang sangat dekat aku pun tak sempat menghindar dan terkena serangannya.
Serangan itu membuat leo terlempar cukup jauh dan pada akhirnya bola api itu pun meledak dan menciptakan sebuah ledakan besar dan menghancurkan apapun yang ada didalamnya....