ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia

ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia
BAB LIMA BELAS : MENGHADAP RATU ANDORA


__ADS_3

Selesai makan malam, keluarga istana satu persatu mulai meninggalkan ruang makan istana. Hingga akhirnya hanya menyisakan Pangeran Henry dan Roni yang masih bercengkrama di dalam ruangan. Pangeran Henry sedang menenangkan Roni yang sejak tadi tampak gelisah.


"Hei, kau kenapa?" Pangeran Henry berkata lembut sembari telapak tangannya mengelus pundak Roni.


"Aku merasa sangat bersalah, seharusnya aku tidak ikut makan bersama keluarga kerajaan, aku telah membuat kekacauan," ucap Roni sambil menunduk. Pikirannya tidak bisa lepas dari sedikit kekacauan di ruang makan tadi akibat ia tidak sengaja tersedak makanan. Baginya itu adalah hal yang sangat memalukan, apalagi ia berkumpul dengan keluarga istana yang sangat disegani oleh rakyat. Seharusnya ia bisa bersikap sopan sedikit.


"Siapa yang berkata kau telah membuat kekacauan? Tak ada, bukan? Tersedak makanan itu hal wajar, Roni. Keluargaku juga pernah mengalami hal yang sama saat makan." Henry menasihati Roni dengan tutur kata yang lembut.


"Tapi tetap saja itu memalukan," jawab Roni.


"Kau seperti anak kecil saja. Ya, bukankah kau memang masih anak remaja. Sudahlah, kau jangan memikirkan hal itu. Ayo ikut aku keluar dari ruangan ini!" Pangeran Henry kemudian melangkah menjauh dan sengaja meninggalkan Roni. Tampaknya Roni tak bereaksi apapun, ia tetap duduk di tempatnya seraya menunduk.


Saat Henry tiba di depan pintu ruang makan istana, pria muda itu berkata dengan suara keras, "Sebentar lagi ruang makan istana akan ditutup! Cepat keluar atau kau akan terkunci di dalam!"


Teriakan Henry membuat Roni tersadar dari lamunannya, lalu anak remaja itu secepatnya menghampiri Henry yang sudah meninggalkannya ke luar ruangan. Beberapa pelayan yang sedang sibuk membersihkan meja makan, hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Roni.


"Kau sengaja meninggalkanku!" Roni memprotes Henry.


"Ya, kalau tidak begitu, kau tidak akan keluar," jawab Henry lalu kembali berjalan. "Setelah ini kau harus menemui Ibunda Ratu Andora. Beliau meminta agar kau datang ke ruangannya. Akan aku tunjukkan di mana ruangan Ratu Andora." Lanjut Pangeran Henry tanpa menatap lawan bicara. Ia terus melangkah, melewati jalan setapak menuju ke lorong istana, dan Roni setia mengikuti di belakangnya.


Di sisi kanan dan kiri jalan setapak yang mereka lewati terdapat tanaman bunga hias yang cantik dan bermekaran. Beberapa lampu taman tampak menerangi setiap jalan yang dilalui oleh Henry dan Roni.


Kemudian Roni berjalan cepat menghampiri Henry. "Aku sangat takut bertemu dengan Ratu Andora. Bisakah aku--."


Henry tiba-tiba memotong ucapan Roni, "Tak ada penolakan! Kau harus menemui Ibunda Ratu Andora."


Roni hanya bisa pasrah. "Baiklah."


Pangeran Henny dan Roni sekarang tengah melewati lorong istana. Lorong istana yang panjang dan megah ini dihiasi dengan ukiran artistik di dinding marmer, sedangkan lampu gantung mewah menerangi setiap penjuru lorong istana. Suara langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong, menciptakan aura kemegahan yang memenuhi udara.


Tibalah mereka di depan ruang kerja Ratu Andora yang begitu megah dan besar. Pintu di depan ruangan tampak mewah dengan ukiran rumit yang memberikan kesan indah dan mahal.


Pangeran Henry mengetuk-ngetuk pintu di depannya dengan cara yang sopan sambil berkata, "Izinkan kami memasuki ruangan Anda, Ibunda Ratu.'"


Terdengar sahutan dari dalam ruangan, "Masuklah, pintu terbuka untuk kalian."


Mendadak pintu ruang kerja Ratu Andora terbuka dengan sendirinya, membuat Roni terkejut, kecuali Pangeran Henry.


"Terbuka sendiri, ajaib sekali," ucap Roni bernada pelan.

__ADS_1


"Ayo masuk, Ibunda Ratu Andora sudah menunggu." Henry mengantarkan Roni masuk ke ruangan Ratu Andora. Itu bukan ruangan singgasana tapi ruangan kerja Ratu Andora.


Ruang kerja di istana berfungsi sebagai tempat di mana Ratu Andora menangani tugas-tugas resmi pemerintahan. Di sana, Ratu Andora dapat memimpin pertemuan, membuat keputusan politik, menandatangani dokumen penting, dan berkomunikasi dengan pejabat kerajaan.


Setelah Henry dan Roni memasuki ruangan, seketika tatapan Roni berubah menjadi kagum. Anak remaja itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ruang kerja Ratu Andora memancarkan kemewahan dengan perpaduan warna emas dan biru muda. Di pojok ruangan, meja tulis elegan terpampang jelas, dihiasi dengan hiasan perak dan ukiran halus. Tirai sutra menjulang tinggi di jendela besar, membiarkan cahaya bulan menyinari ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku bersejarah. Aroma wangi bunga melati menyelimuti udara, menciptakan lingkungan yang penuh dengan keanggunan.


"Baiklah Pangeran Henry, kau boleh keluar ruangan. Tinggalkan anak itu di ruangan ini." Ratu Andora berbicara dengan tegas.


"Baik Ibunda Ratu." Pangeran Henry mengangguk dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat kepada Ratu Andora, kemudian pria muda itu melangkah keluar ruangan.


Roni panik saat melihat Henry sudah keluar ruangan bersamaan dengan pintu ruangan yang perlahan tertutup dengan sendirinya. Sekarang Roni benar-benar ditinggalkan oleh Henry dan berhadapan dengan penguasa Kerajaan Andora.


"Duduklah di depanku." Ratu Andora memerintahkan Roni untuk segera duduk.


Roni sangat takut dengan badan gemetar. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes melewati dahi dan keningnya. Ia kebingungan dan tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap di hadapan seorang pemimpin, mengingat ini adalah pengalaman pertamanya berhadapan dengan seorang ratu dari kerajaan.


Ratu Andora sangat mengerti sikap Roni. Kemudian wanita itu berbicara dengan lebih lembut, "Jangan merasa cemas, Nak. Aku di sini bukan untuk menakut-nakuti. Aku hanya ingin berbicara denganmu." Suara lembut Ratu Andora menciptakan suasana yang lebih tenang, namun Roni masih merasakan ketegangan dalam dirinya.


Roni mencoba untuk menguasai ketegangannya. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. Dengan napas yang lebih terkendali, Roni menjawab dengan penuh hormat, "Terima kasih, Yang Mulia Ratu Andora. Saya berusaha sebaik mungkin."


Ratu Andora tersenyum penuh pengertian, "Bagus sekali, Nak. Kemarilah. Ada yang ingin aku bicarakan, ini berkaitan dengan dirimu."


"Baik, Yang Mulia." Roni sedikit membungkuk untuk menghormati Ratu Andora, lalu remaja laki-laki itu melangkah mendekati Ratu Andora yang duduk di kursi kebesarannya. Kemudian Roni berlutut di hadapan Ratu Andora dan sekali lagi memberikan salam hormat.


Ratu Andora berkata dengan suara lembut, "Nak, aku ingin mendengar ceritamu. Ceritakanlah siapa dirimu, dari mana dirimu berasal, perjalanan hidupmu, impianmu, dan apa yang membuatmu menjadi pribadi yang berdiri di hadapanku saat ini."


Roni mengangguk dengan penuh hormat, mulai menceritakan kisah hidupnya dengan detail kepada Ratu Andora. Seiring kata-katanya mengalir, suasana di ruangan tersebut menjadi semakin akrab.


****


Kini Pangeran Henry sedang bersama dengan kakaknya, Pangeran William. Keduanya sekarang berada di taman istana yang indah dan menyegarkan. Taman Istana Andora penuh dengan keindahan, dihiasi dengan aneka warna bunga yang merekah, air mancur yang menari-nari, dan jalanan setapak seperti disusun dari batu dengan permukaan yang halus. Pohon-pohon rindang menciptakan suasana teduh, sementara patung-patung seni melengkapi kemegahan taman istana tersebut. Suasana tenang dan damai memenuhi udara, menciptakan tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati keindahan alam.


"Aku mengerti Pangeran Henry, anak laki-laki yang kau bawa ke istana mempunyai kemampuan sihir yang luar biasa. Sayang sekali jika kemampuannya tidak dilatih dengan sebaik mungkin." Pangeran William tersenyum, menatap air mancur besar yang terletak di tengah-tengah taman, tepat di depan kursi taman yang sekarang ia duduki bersama dengan adiknya.


"Itulah mengapa, aku membawanya ke istana. Jika seandainya anak itu tidak mempunyai kemampuan sihir, aku akan mengantarkannya pulang ke tempat asalnya," jawab Pangeran Henry.


"Rupanya dari mana anak laki-laki bernama Royalty itu berasal?" tanya Pangeran William.


"Dia dari Kota Eldoria. Aku menemukannya terdampar di tepi sungai, di wilayah Andora ujung paling timur. Waktu itu aku menolongnya dari kawanan monyet." Pangeran Henry menjelaskan dengan gamblang.

__ADS_1


"Wilayah Eldoria." Pangeran William menggantungkan ucapannya. Ia berpikir sejenak kemudian melanjutkan, "Tapi mengapa anak itu seperti bukan dari rakyat Eldoria. Yang aku ketahui, rakyat Eldoria tidak ada yang memiliki ciri-ciri rambut berwarna biru."


"Apa kau tidak mengetahui sisi lain dari anak itu, Pangeran William?" ucap Pangeran Henry.


"Apa maksudmu, Pangeran Henry?" Pangeran William tampak bingung.


"Sebenarnya yang kau lihat itu bukanlah anak laki-laki itu yang sebenarnya. Itu adalah sosok roh yang mengikutinya kemanapun anak laki-laki itu pergi," jelas Pangeran Henry.


Pangeran William meresapi informasi yang baru saja didengarnya. "Jadi, apakah ini berarti roh itu memberikan kemampuan sihir pada anak itu?"


Pangeran Henry mengangguk, "Ya, dia memiliki ikatan yang kuat dengan roh pelindungnya. Kemampuan sihirnya adalah anugerah dari roh itu sendiri.


Pangeran William memandang ke arah taman yang indah. "Kita harus melibatkannya dalam pelatihan sihir di istana. Royalty bisa menjadi aset luar biasa bagi Kerajaan Andora, asalkan kita bisa memahami lebih dalam tentang hubungannya dengan roh itu."


Pangeran Henry setuju, "Benar, Pangeran William. Kita harus membimbingnya dengan bijak dan memastikan bahwa kehadiran Royalty tidak hanya membawa keberkahan, tapi juga keamanan bagi kerajaan Andora."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Catatan : Semakin penasaran siapa sebenarnya sosok Royalty itu? Mengapa selalu mengikuti Roni? Temukan jawabannya di bab bab selanjutnya ya...


****


Di bawah ini adalah visual tokoh Pangeran William dan Putri Victoria.


Princess Victoria Alexandra Edmund Gottardo. Berusia 32 tahun.



Prince William Fitzroy Pembroke Gottardo. Berusia 25 tahun.



Bonus Foto.



Wajah mereka hampir mirip kan? Namanya juga saudara.


Picture : Original / Official Image. Hak Cipta gambar sepenuhnya milik penulis.

__ADS_1


__ADS_2