ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia

ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia
BAB DUA PULUH SEMBILAN : INTRIK RUMIT


__ADS_3

Laki-laki itu mengumpat di balik tembok yang gelap. Hatinya penuh rasa dongkol. "Sial, rencanaku hampir gagal. Tapi aku akan kembali masuk ke kamar Royalty sampai keadaannya benar-benar aman. Sebentar lagi."


Sambil memastikan keadaan sekitar, Edward bersiap-siap untuk kembali datang ke kamar Roni. Langkah kaki di ujung timur terdengar semakin mendekat, Edward juga semakin waspada. Edward merapatkan punggungnya ke dinding, menyembunyikan diri dalam bayangan yang gelap. Setiap detik terasa seperti waktu yang tak terbatas saat ia menunggu langkah kaki mendekat. Dengan hati-hati, ia melihat ke arah suara tersebut, memastikan bahwa bukan ancaman.


Terkejut, Edward samar-samar melihat bayangan seorang pria, berperawakan seperti Pangeran William yang kini terlihat berjalan mendekati tempatnya. Cepat-cepat Edward bergeser ke dinding sebelahnya yang berlawanan arah dan menutupinya dari pandangan pria tersebut. Entah siapa.


Langkah kaki itu semakin mendekat, degupan jantung Edward semakin berpacu kencang. Keringat dingin mulai menetes melewati pelipisnya. Tiba-tiba Edward dikejutkan oleh salah satu prajurit tadi yang mengetahui keberadaannya.


"Hei kau!" teriak prajurit itu sambil menunjuk Edward.


Edward mengumpat dan kemudian bergegas menuju sisi gelap koridor yang belum terlihat oleh pria yang mendekat. Dalam keadaan terdesak, ia menggunakan keahlian telekinesisnya untuk melemparkan beberapa barang kecil ke arah prajurit itu, sehingga membuat prajurit itu kebingungan.


Saat prajurit itu sibuk menghindari barang-barang yang terbang, Edward memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari ke arah berlawanan dari pria yang mendekat. Dia mengambil jalur lain, menyelinap melalui lorong tersembunyi di istana.


Dengan kecepatan dan ketangkasan, Edward berhasil menghindari pria yang mirip Pangeran William dan prajurit yang mengejarnya. Dia menyusuri lorong-lorong gelap, mencari tempat aman untuk menyembunyikan diri sementara dan merencanakan langkah selanjutnya.


Sekarang Edward bersembunyi di balik tembok tinggi dan besar, pembatas halaman belakang istana dan koridor. Di sana jarang sekali dilewati prajurit yang berpatroli karena memang tempat terpencil di istana.


"Sial, kenapa rencanaku semakin sulit dan tidak sesuai keinginanku. Ah!" Edward sangat jengkel. Kemudian ia melemparkan ranting pohon ke arah kolam ikan di hadapannya.


Sementara ranting itu jatuh ke kolam dengan gemuruh kecil, Edward merenung dalam kegelapan malam. Pernapasan dan detak jantungnya sedikit mereda setelah berhasil menghindari kejaran. Edward kemudian berpikir. Sepertinya akan sia-sia jika ia hanya mengambil cincin milik Roni. Mungkin menggunakan cara lain yang dapat membuat Roni sengsara lebih dalam.

__ADS_1


Dalam kegelapan malam, Edward memutar otaknya untuk mencari cara baru yang lebih licik dan mematikan. Rencana terbarunya mulai terbentuk, dan matanya berbinar menyala dengan tekad baru.


"Ikatan Royalty dengan cincin itu bukan satu-satunya cara untuk menjatuhkannya," gumam Edward pada dirinya sendiri. Ia menyusun skenario yang lebih kompleks, mencakup intrik dan tipu daya yang dapat menghancurkan reputasi Roni.


Sambil tetap tersembunyi di balik tembok, Edward mulai merencanakan serangkaian peristiwa yang dapat memanfaatkan kelemahan dan rahasia di dalam istana. Ia ingin menciptakan kisah yang akan meruntuhkan citra Roni di mata kerajaan.


Langkahnya yang selanjutnya tidak hanya akan melibatkan perampokan cincin, tetapi juga manipulasi, pengkhianatan, dan intrik. Edward yakin bahwa dengan melibatkan elemen-elemen ini, ia dapat mencapai tujuannya tanpa perlu menghancurkan hidup Roni secara langsung.


Dengan rencana baru yang terbentuk, Edward tersenyum penuh keyakinan. Ia tahu bahwa kali ini, serangannya akan jauh lebih merusak daripada sekadar mencuri cincin. Setiap langkahnya akan dirancang untuk membawa Roni ke jurang kehancuran, dan Edward telah siap untuk memainkan peran gelapnya dalam Istana Andora.


"Hahah, Royalty. Mungkin aku sekarang tidak berhasil mencuri cincinmu. Tapi aku akan membuatmu terlihat buruk di mata keluarga kerajaan. Hahaha..." Edward tertawa di keheningan malam. Tempat yang sunyi membuat suaranya terdengar lebih keras. Kemudian Edward melewati jalan pintas yang sepi untuk sampai di kamarnya tanpa terdeteksi.


Pagi harinya, Pangeran Henry dan prajurit yang tadi malam menjaga di depan kamar Roni tampak berbincang dan membahas mengenai kejadian semalam. Terutama prajurit itu juga menemukan barang bukti berupa pisau yang ia temukan di koridor istana.


Pangeran Henry menatap pisau itu dengan serius, menyadari bahwa ini bisa menjadi kunci untuk mengungkapkan masalah di dalam istana. Wajahnya yang tampan menunjukkan ekspresi kebingungan dan kekhawatiran.


"Pisau ini bukan milik prajurit kerajaan kita, dan saya yakin, pisau ini milik seseorang yang mencoba membuat kekacauan," ujar Pangeran Henry kepada prajurit yang menemukan pisau tersebut.


Prajurit itu mengangguk serius. "Benar, Pangeran. Saya semalam sempat memergoki seseorang yang memakai jubah hitam dan topeng. Orang itu juga sempat menendang saya sebelum dia melarikan diri. Saya sempat mengejarnya, tapi saya kehilangan jejaknya. Kemudian saya bertemu dengan prajurit lain di koridor sebelah barat, lalu saya menemukan pisau itu, Pangeran."


Pangeran Henry memikirkan semua informasi itu dengan hati-hati. Dia merasa ada yang lebih dalam dari sekadar kekacauan semalam. Dan orang yang disebut prajurit itu juga sama seperti orang yang berusaha mencuri cincin Roni di hari sebelumnya. Sepertinya orang itu sangat terobsesi untuk mengambil cincin milik Roni.

__ADS_1


Pada saat yang bersamaan, Pangeran William mendatangi Pangeran Henry dan prajurit tersebut. Pangeran William juga tampaknya telah menjadi saksi kekacauan semalam, meski ia tidak mengetahui siapa orang misterius yang dilihatnya saat ia tadi malam melewati koridor.


Kemudian Pangeran William berkata, "Apa yang terjadi semalam, Pangeran Henry? Aku semalam melihat seseorang di sekitar koridor, tapi aku tidak sempat melihatnya lebih lama dan orang itu sudah pergi ke tempat lain."


Pangeran Henry memberikan laporan singkat kepada Pangeran William tentang kejadian semalam, termasuk penemuan pisau yang diakui bukan milik prajurit kerajaan.


"Aku pikir kita harus menginvestigasi ini lebih lanjut. Tidak mungkin ini hanya kejadian kebetulan. Ada yang mencoba membuat kekacauan di dalam istana," kata Pangeran William dengan serius.


Prajurit tersebut menambahkan, "Saya sudah kedua kalinya memergoki orang misterius itu dan saya berusaha mengejarnya, tetapi orang itu berhasil melarikan diri. Orang itu juga sempat melemparkan beberapa barang ke arah saya. Saya ingin mengajarnya kembali, tapi saya kehilangan jejaknya."


Pangeran William mengangguk serius. "Kita perlu mengetahui siapa yang berada di balik semua ini dan apa tujuannya. Kita tidak boleh membiarkan orang asing masuk ke wilayah istana."


Pangeran Henry kemudian menyampaikan pikirannya, "Jika orang tersebut berasal dari luar kerajaan, bagaimana mungkin dia dapat masuk ke wilayah kerajaan dengan penjagaan yang sangat ketat? Sementara Kerajaan Andora memiliki dua gerbang keamanan yang seharusnya mencegah orang asing masuk ke dalam wilayah kerajaan. Kemungkinan terbesar, orang misterius yang membuat kekacauan semalam adalah seseorang yang berasal dari dalam kerajaan sendiri."


Pangeran William dan prajurit tersebut mencerna ucapan Pangeran Henry yang sepertinya memiliki kebenaran. Tidak mungkin orang asing dapat masuk ke wilayah kerajaan, sedangkan wilayah kerajaan dijaga ketat oleh banyak prajurit berpengalaman.


Kemudian Pangeran William memberikan saran, "Sepertinya kita harus memeriksa catatan keamanan dan meminta keterangan dari prajurit yang bertugas semalam. Aku yakin ada sesuatu yang bisa kita temukan untuk mengungkap misteri ini."


Pangeran Henry dan Pangeran William sepakat untuk segera memulai penyelidikan lebih lanjut guna mengungkap identitas dan niat dari orang misterius tersebut, serta mencari tahu apakah ada keterkaitan dengan upaya pencurian cincin milik Roni sebelumnya. Mereka bersama-sama menuju ruang keamanan istana untuk memeriksa catatan dan berkoordinasi dengan prajurit yang bertugas di malam sebelumnya.


Sementara itu Edward yang mendengarkan perbincangan antara Pangeran Henry, William, dan prajurit itu dari kejauhan hanya bisa tertawa. "Hahah, mereka tidak akan mengetahui bahwa aku adalah penyebab kekacauan semalam."

__ADS_1


__ADS_2