
Pangeran Henry dan Roni sudah tiba di istana. Ketika mereka melewati jalan setapak di halaman belakang istana, mereka tak sengaja bertemu dengan Pangeran William yang entah datangnya dari arah mana. Sepertinya pangeran itu sedang mencari sesuatu.
"Pangeran Henry, Royalty, kalian ke mana saja? Kenapa tidak ikut bersama keluarga istana saat makan siang tadi?" tanya Pangeran William.
Di Istana Andora, hanya Pangeran Henry yang mengetahui nama Roni, sedangkan sebagian keluarga kerajaan yang lain mengenal Roni sebagai Royalty. Roni sengaja tidak mengenalkan nama panggilan kecilnya kepada keluarga istana, selain kepada Pangeran Henry.
Roni yang berdiri di samping Henry tak berani menjawab. Lalu Henry yang menjawab, "Tadi pagi, aku melatih Royalty belajar ilmu sihir di sungai istana. Kita terlalu asyik sampai lupa waktu, dan baru kembali ke istana sore ini."
Pangeran William mengerutkan kening, tetapi kemudian wajahnya terangkat dengan rasa ingin tahu. "Oh, sangat menarik! Sepertinya aku tertinggal banyak hal. Apakah kalian mau berbagi cerita tentang pelatihan itu?"
Pangeran Henry tersenyum, "Tentu, Pangeran William. Royalty berhasil menguasai beberapa trik baru sihir elemen air. Sambil melatih, kita juga menyempatkan untuk saling bertukar pikiran."
Pangeran William semakin tertarik, "Sihir elemen air? Ternyata dugaanku benar, Royalty mempunyai kekuatan elemen air. Itu pasti sangat menarik. Bisakah kau menunjukkan beberapa trik yang telah dipelajari Royalty?"
"Tentu saja. Royalty, silahkan tunjukkan trik sihir yang kau pelajari tadi kepada Pangeran William." Henry meminta Roni agar menunjukkan trik sihir elemen air yang telah diajarkannya.
"Baiklah." Roni tersenyum. Matanya sekelebat menangkap adanya air mancur kecil yang terletak di taman istana. Kebetulan air mancur itu berjarak cukup dekat dari tempat Roni berdiri.
Roni memfokuskan pikirannya. Ia memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya kembali. Mengarahkan telunjuk tangannya ke arah air mancur itu, Roni dengan lembut menggerakkan tangannya ke atas. Tanpa bersentuhan, air mancur itu merespons sihir milik Roni dan mulai membentuk pola-pola memukau di udara selama tiga puluh detik, kemudian air mancur kembali normal setelah Roni menghentikan sihirnya.
Pangeran William memandang takjub. "Sungguh menakjubkan! Aku tidak pernah melihat sihir elemen air seindah ini sebelumnya."
Roni tersenyum bangga, "Terima kasih, Pangeran William. Ini hanya salah satu dari banyak trik yang dapat dipelajari dari sihir elemen air."
Pangeran William menjawab, "Luar biasa, Royalty! Aku sangat kagum melihatmu mengendalikan elemen air dan bisa begitu memukau. Bagaimana kau bisa melakukannya?"
"Ini adalah hasil dari latihan bersama Pangeran Henry. Aku belajar tidak hanya mengendalikan elemen, tapi juga memahami keindahannya," jawab Roni dengan tersenyum.
"Jadi apakah itu kau sudah tidak perlu berlatih kembali?" Pangeran William ingin memastikan.
Pangeran Henry segera menjawab, "Masih perlu, Royalty akan terus berlatih sampai dia benar-benar bisa mengendalikan elemen air. Benar begitu, Royalty?"
"Benar Pangeran Henry. Aku merasa belum sepenuhnya menguasainya, jadi aku akan terus berlatih dengan tekun," jawab Roni sambil menatap wajah Pangeran William yang amat tampan di bawah siraman matahari senja.
"Kau hebat, Royalty. Semangatmu untuk tetap berlatih memang harus diacungi jempol," puji Pangeran William seraya mengangkat kedua jempolnya ditujukan kepada Roni.
"Terimakasih Pangeran William, aku merasa tersanjung." Roni sedikit membungkuk lalu kembali berdiri tegak.
"Baiklah, karena hari akan berganti malam. Sebaiknya kita segera masuk ke istana," ucap Pangeran William, kemudian melanjutkan ucapannya, "Mari, Pangeran Henry, Royalty."
Pangeran William memimpin berjalan di depan. Sementara Henry dan Roni berjalan di belakangnya. Tanpa sadar, ketiganya sekarang sudah sampai di lorong istana, kemudian mereka kembali bercengkrama.
"Sebaiknya kau langsung pergi ke kamar lalu mandi," ucap Pangeran Henry kepada Roni saat mereka akan sampai di depan kamar Roni.
"Iya tentu saja, aku sudah sangat gerah," ucap Roni seraya mencium bau badannya sendiri yang kecut. "Oh sangat tidak enak." Lanjutnya.
Pangeran William sedikit terkejut, refleks menyahut, "Apa yang tidak enak?"
__ADS_1
Pangeran Henry tersenyum dan menjawab, "Royalty merasa tidak enak dengan bau badannya sendiri setelah seharian berkelana."
Roni tertawa kecil. "Maaf, aku lupa diri. Aku akan segera kembali setelah mandi dan berganti pakaian."
Pangeran William mengangguk. "Tentu, kita tunggu di ruangan tengah istana setelah itu. Ada banyak hal yang perlu dibicarakan."
Kemudian Roni bergegas masuk ke dalam kamarnya. Pangeran William dan Henry melanjutkan langkahnya menuju ke kamar pribadi mereka masing-masing.
Di dalam kamar, Roni melepas pakaiannya yang mewah. Tentu saja pakaian itu ia dapatkan dari Pangeran Henry. Kemungkinan itu adalah pakaian lama milik Pangeran Henry yang sudah tidak terpakai kemudian diberikan kepada Roni. Tidak masalah, meski pakaian bekas tapi sudah sangat mewah bagi Roni. Ia bersyukur, setidaknya ada pakaian untuk menutupi tubuhnya.
Setelah melepas pakaian dan hanya menyisakan celananya, Roni yang kini bertelanjang dada melangkah masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Tak usah lama-lama, sekarang Roni sudah segar dan wangi. Seluruh tubuhnya sudah basah oleh air. Ada kejadian lucu saat Roni sedang mandi, ia tidak sengaja mengendalikan air di bak mandi, membuat air di bak terciprat-ciprat ke segala arah. Roni sempat panik, tetapi kemudian ia dapat mengatasi hal tersebut, dan tersenyum lega.
****
Hari semakin malam di Kerajaan Andora. Diterangi oleh gemerlap cahaya lampu-lampu antik yang menciptakan bayangan menawan di koridor marmer. Udara dipenuhi dengan keheningan misterius dan hanya dipecah oleh langkah halus prajurit istana yang menjaga keamanan kerajaan. Suasana malam begitu damai, seolah-olah waktu sendiri memperlambat langkahnya di bawah cakrawala bintang dan bulan yang bersinar di langit.
Saat ini, setelah makan malam, Roni sedang berkumpul dengan beberapa keluarga istana di ruang tengah istana. Beberapa di antara mereka ada yang belum mengenal Roni. Maklum karena Roni baru sehari tinggal di Istana Andora. Sehingga keluarga istana belum sepenuhnya mengenalnya.
"Siapa namamu wahai anak muda?" tanya suami Putri Victoria yang bernama Andrew, menantu kerajaan dan mendapatkan gelar duke di Kerajaan Andora. Tapi kita sebut saja Pangeran Andrew.
"Nama saya Royalty, Tuan," jawab Royalty seraya tersenyum dan mengangguk.
"Namamu sangat bagus dan unik. Saya tidak pernah mendengar nama Royalty sebelumnya," ucap Pangeran Andrew. Tidak lupa senyumannya yang menawan.
Roni menjawab ucapan Pangeran Andrew dengan rendah hati, "Terima kasih, Tuan. Nama itu memang khusus, dan saya merasa bersyukur atas kehormatan ini."
"Dari mana dirimu berasal?" tanya Pangeran Andrew lebih lanjut.
"Saya berasal dari Kota Eldoria, Tuan," jawab Roni lalu mengangguk.
"Wah, Kota Eldoria?" beo Pangeran Andrew.
"Benar Tuan. Kota Eldoria tempat saya dilahirkan," jawab Roni, kemudian melanjutkan, "Pernahkah Anda mengunjungi Kota Eldoria, Tuan?" tanya Roni dengan rasa ingin tahu yang tulus.
Pangeran Andrew tersenyum, "Belum sayangnya. Tetapi saya mendengar banyak cerita tentang keindahan dan keajaiban di sana. Mungkin suatu hari nanti saya akan memiliki kesempatan untuk mengunjunginya."
Sementara percakapan berlangsung, atmosfer di ruangan menjadi semakin hangat, dan Roni mulai merasa lebih nyaman berkumpul di tengah keluarga istana.
Hingga tiba-tiba seorang anak laki-laki terlihat berlari menghampiri Pangeran Andrew. "Ayaahh..." teriaknya dan membuat Roni menatap anak itu dengan bingung.
"Siapa anak laki-laki itu, Tuan?" tanya Roni yang penasaran.
Pangeran Andrew memangku anak itu sembari mengelus-elus rambutnya. "Anak laki-laki ini putra saya, namanya Anthony," jawab Pangeran Andrew sambil tersenyum bangga, "Dia selalu penuh semangat dan suka berlari ke mana-mana." Lanjutnya.
"Berapa umurnya Tuan?"
__ADS_1
"Umurnya lima tahun. Anthony anak bungsu saya," jawab Pangeran Andrew.
Anthony yang masih berumur lima tahun, dengan riang melirik Roni, lalu bertanya, "Apa namamu?"
"Namaku Royalty, Anthony. Kita baru saja berkenalan," kata Roni sambil tersenyum ramah.
"Edward, kemarilah! Ayah ingin mengenalkanmu dengan Royalty." Pangeran Andrew memanggil anak sulungnya atau anak pertamanya yang sudah berumur tiga belas tahun yang baru saja masuk ke ruang tengah istana. Sepertinya anak laki-laki itu akan menuju ke ruangan lain dan tidak tertarik berkumpul dengan keluarganya.
Anak sulung Pangeran Andrew melangkah mendekati keluarganya dengan ekspresi wajah yang sedikit malas.
Pangeran Andrew memperkenalkan, "Royalty, ini anak sulung saya, Edward."
Edward mengangguk singkat tanpa banyak bicara. Roni mencoba menyapa, "Senang berkenalan, Edward."
"Sama," jawab Edward singkat dan ketus. Namun, terlihat keinginan yang samar untuk mengenal lebih jauh di balik tatapan matanya yang serius.
"Edward, jangan seperti itu. Sambutlah teman barumu dengan baik," tegur Putri Victoria saat melihat sikap dan ekspresi Edward yang tidak bersahabat dan terkesan tidak menyukai kehadiran Roni.
Roni mencoba untuk tetap rendah hati dan bersabar. "Tidak apa-apa, Putri Victoria. Mungkin Edward butuh waktu untuk mengenal saya."
Edward semakin menunjukkan rasa tidak nyaman saat mendengar ucapan Roni. "Aku tidak tertarik berkenalan dengannya. Dia bukan keluarga istana."
"Edward!!" Putri Victoria sangat geram dan hampir saja ingin menampar anaknya jika seandainya Pangeran Henry tidak mencegahnya.
Pangeran Henry segera menenangkan situasi, "Marah bukanlah cara yang tepat, Putri Victoria. Biarkan waktu yang menyelesaikan semuanya."
"Mungkin kita bisa memberi Edward sedikit waktu untuk mengenal Royalty. Terkadang, perubahan memerlukan penyesuaian," tambah Pangeran Andrew yang mencoba meredakan ketegangan.
Sementara itu, suasana terasa tegang di ruang tengah istana. Edward menatap Roni dengan sikap skeptis, sehingga menciptakan ketegangan yang terabaikan sebelumnya.
Putri Victoria, meskipun masih kesal, tetapi menyetujui ucapan suaminya. "Edward, beri kesempatan pada Royalty untuk membuktikan dirinya. Siapa tahu kalian bisa menjadi teman baik."
Edward menjawab ucapan ibunya dengan kesal, "Aku tidak ingin dan tidak akan berteman dengannya!" Kemudian anak laki-laki itu berlalu pergi dan menuju ke ruangan lain.
Putri Victoria memijit pelipisnya. Ia sakit kepala memikirkan sikap anak sulungnya tersebut.
Pangeran Andrew mencoba memberi semangat kepada Roni, "Maafkan perilaku Edward, Royalty. Dia masih terlalu muda dan perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan."
Roni tersenyum, mencoba menenangkan keluarga istana. "Tidak perlu minta maaf, Tuan. Saya mengerti, adaptasi memang membutuhkan waktu, dan saya siap memberikan waktu itu."
Putri Victoria menghela napas. "Terima kasih atas pemahamanmu, Royalty. Semoga suatu hari nanti Edward bisa melihat kebaikan dan keunikan yang ada pada dirimu."
Sementara itu, di ruangan lain istana, Edward duduk sendiri, merenung tentang kehadiran Royalty. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, dan perasaannya yang rumit perlu diurai. Malam di Istana Andora terus berlanjut dengan intrik dan dinamika keluarga yang penuh rahasia.
****
Apakah Edward akan membenci Royalty!? Mungkin saja, temukan jawabannya di bab-bab selanjutnya.
__ADS_1