
Pangeran Henry kemudian duduk di tepi danau, menyaksikan Roni yang bermain-main dengan air. "Rasanya seperti kembali ke sisi alam dan keindahan yang mungkin terlupakan oleh kesibukan sehari-hari."
Roni menyelam di dalam danau, dan sesekali muncul ke permukaan air. Ia menikmati keindahan air danau yang biru. Beberapa ikan kecil tampak berenang di sekitarnya, lalu pergi saat Roni mencoba mendekati ikan-ikan itu.
Kemudian Roni kembali muncul ke permukaan air, dan berbicara keras kepada Pangeran Henry. "Hei, apa kau tidak ingin berenang!?"
"Tidak! Nikmatilah saja berenang mu!" teriak Pangeran Henry yang duduk di tepi sungai.
"Baiklah," jawab Roni lalu menenggelamkan tubuhnya ke dalam danau dan kembali berenang.
Picture : Official Character Royalty. Hak Cipta gambar sepenuhnya milik penulis.
Sementara Roni asyik bermain di dalam danau, Pangeran Henry merenung sejenak, terpesona oleh keindahan alam di sekitarnya. Ia merenung tentang tanggung jawabnya sebagai seorang pangeran, namun saat ini, ia menikmati momen kesederhanaan dan kedamaian di Taman Kehidupan.
Tiba-tiba, Roni muncul kembali dengan wajah yang penuh semangat. "Kau yakin tidak Ingin mencoba? Aku rasa kau akan tertarik untuk berenang di danau ini," ajaknya, menggoda Pangeran Henry.
Pangeran Henry tertawa singkat, "Hahah, baiklah, aku akan bergabung denganmu." Ia bangkit dan melepas pakaian yang menyisakan celana pendek, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang gagah dan proporsional, lengannya, dadanya, perutnya tampak terpahat dengan sempurna. Setelah itu, ia melompat ke dalam danau dengan cekatan.
Mereka berdua mulai berenang bersama, tertawa dan menikmati kelembutan air yang menyentuh kulit mereka. Sementara itu, Edward yang masih mengintai, semakin tertekan oleh kegembiraan mereka.
"Ah, mereka semakin akrab saja, aku harus menyusun rencana untuk mencelakai mereka," ucap Edward sambil menggertakkan gigi-giginya dan mengepalkan kedua tangannya.
Pangeran Henry dan Roni berbincang-bincang sambil berenang dengan kepala mereka muncul di permukaan air.
"Airnya begitu segar tapi tidak terlalu dingin," ucap Roni seraya menggerakkan kedua tangan serta kakinya yang tenggelam, sehingga menciptakan riak air kecil.
Pangeran Henry tersenyum lalu menjawab, "Memang, danau ini memiliki energi yang menenangkan. Rasanya seperti air ini memiliki kekuatan penyembuhan alami." Dia melihat sekeliling danau, membiarkan matahari akhir pagi memantulkan warna-warni di permukaan air.
Roni mengangguk setuju. "Sepertinya kita sangat beruntung berpetualang ke tempat ini."
Sementara mereka berdua masih menikmati momen kebersamaan mereka, Edward terus mengamati dari kejauhan, mencari celah untuk melaksanakan rencananya. Namun, keceriaan Pangeran Henry dan Roni tampaknya menjadi penghalang yang sulit dilewati.
Pangeran Henry berenang mendekati Roni dan berkata dengan tulus, "Terima kasih, Roni. Kau telah membawa keceriaan dan keajaiban ke dalam hidupku. Aku merasa beruntung memiliki sahabat sepertimu."
Roni tersenyum. "Sama-sama, Pangeran. Ini adalah petualangan yang tak terduga, dan aku senang bisa berbagi pengalaman ini bersamamu."
Setelah sedikit berbincang, mereka kemudian menyelam ke dalam danau, berenang ke sisi lain danau yang menyimpan keindahan alami. Di dalam danau terdapat batu-batu besar, rumput ilalang, ikan-ikan kecil yang indah, dan warna air yang semakin biru. Pangeran Henry dan Roni melanjutkan perenungan mereka di bawah sinar matahari akhir pagi yang mulai hangat.
Tiba di sisi lain danau, mereka duduk di atas batu besar yang terletak di tepi air. Airnya yang jernih memantulkan warna langit biru, dan menciptakan pemandangan yang memukau. Pangeran Henry menatap ke kejauhan, sementara Roni menjulurkan tangannya di atas permukaan air.
"Ini luar biasa," ucap Roni, memecah keheningan di sekitarnya. "Seolah-olah kita berada di dunia lain yang jauh dari keramaian."
Pangeran Henry mengangguk setuju. "Betul, Roni. Tempat seperti ini membawa kedamaian dan mengingatkan kita akan keindahan alam."
Tiba-tiba, mereka mendengar suara burung elang di kejauhan, memberikan nuansa mistis di akhir pagi yang cerah. Pangeran Henry tersenyum saat suara burung elang itu semakin menjauh, lalu berbicara, "Mungkin ini adalah cara alam memberi tahu kita jika keajaiban dapat ditemukan di setiap waktu dan tempat."
Suasana berubah hening saat di antara mereka tak ada yang berbicara, hingga tiba-tiba keheningan itu dipecah oleh suara ringkik kuda. Jack terlihat berlari mendekati Pangeran Henry dan Roni.
__ADS_1
"Hei Jack, apa yang sedang terjadi? Kenapa kau terlihat ketakutan?" tanya Pangeran Henry sambil berjalan mendekati Jack.
Jack tampak gelisah, matanya yang besar menunjukkan rasa khawatir. Pangeran Henry dengan lembut membelai leher kudanya dan mencoba menenangkannya.
"Hmm, ada sesuatu yang tidak beres," kata Roni yang segera melihat gelagat aneh Jack. "Mungkin ada bahaya di sekitar kita."
Pangeran Henry mengangguk serius. "Kita harus berhati-hati. Jack, tunjukkan di mana bahayanya."
Kuda itu mengangguk dengan kepala, seolah-olah mengarahkan mereka ke suatu tempat. Dengan waspada, Pangeran Henry dan Roni mengikuti Jack melalui hutan yang rimbun.
Saat mereka mendekati area yang lebih terbuka, tiba-tiba sebuah ranting pohon melesat cepat ke arah Roni. Membuat Roni terkejut dan akan menghindar.
"Roni!!" Sontak Pangeran Henry juga terkejut dan bertindak cepat menyelamatkan Roni. Pria itu menarik tangan Roni lalu memeluknya erat, memutar tubuhnya ke samping agar Roni terhindar dari ranting kayu yang kemudian melesat di belakang punggungnya yang telanjang.
"Kau hampir saja terkena ranting kayu itu," ucap Pangeran Henry sambil menunduk di samping telinga Roni. Sementara kedua tangannya tetap memeluk Roni, tubuh depannya hampir menempel dengan punggung Roni.
"Hei lepaskan!" Roni kaget saat baru menyadari Pangeran Henry memeluknya dari belakang. Segera remaja itu menyikut perut Pangeran Henry dan membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang.
Pangeran Henry dengan terpaksa melepaskan pelukannya dan tersenyum malu-malu. "Maaf, aku hanya ingin melindungimu dari bahaya tadi."
Roni menyentakkan kepalanya dengan santai. "Tidak perlu memelukku seperti itu. Aku bisa menjaga diriku sendiri, tahu!"
Pangeran Henry tertawa ringan, "Baiklah, baiklah. Sekali lagi maafkan aku."
Roni menggelengkan kepala sambil tersenyum malu. "Tapi, terima kasih kau telah menyelamatkanku. Tapi berhati-hatilah dengan memeluk orang tanpa izin, ya?"
Pangeran Henry tertawa dan membalas dengan jenaka, "Hahaha... Akan kusimpan pelukanku untuk situasi yang lebih mendesak."
"Sial, Pangeran Henry memeluk Royalty dan menyelamatkannya! Benar-benar Pangeran Henry menganggap Royalty seperti kekasihnya saja!" ucap Edward lalu membanting ranting kayu kecil di sebelahnya dengan penuh kekesalan. "Tapi aku akan tetap mengganggu mereka dengan melemparkan beberapa ranting kayu. Hahaha."
Kemudian Edward mengarahkan tangannya pada empat ranting kayu besar yang terletak di dekatnya. Lalu ia mengangkat tangannya, membuat empat ranting itu melayang di udara. Mencari ancang-ancang yang tepat, Edward kemudian menembakkan ranting kayu itu dan melesat cepat ke arah Pangeran Henry serta Roni.
Pangeran Henry dan Roni menyadari pergerakan ranting itu. Mereka berdua dengan tangkas menghindarinya. Pangeran Henry berguling ke tanah, sementara Roni meloncat tinggi ke udara. Empat ranting itu melesat di bawah kaki Roni. Kemudian Roni turun dengan cepat dan menghentakkan kakinya di atas tanah.
"Hah! Siapa yang telah mencoba mencelakai kita, Pangeran?" tanya Roni sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan waspada.
Pangeran Henry juga menatap sekeliling dengan serius. "Ada seseorang yang berusaha mencelakai kita di sini. Kita harus waspada."
Edward yang masih bersembunyi di balik semak-semak, merasa semakin frustrasi karena upayanya terus digagalkan. Dia melihat Roni dan Pangeran Henry berdiri dengan sikap siap tempur.
"Kalian tidak akan lolos dari ancamanku!" gumam Edward sambil menyiapkan serangan berikutnya.
Pangeran Henry dan Roni tetap waspada sembari melihat ke sekeliling mereka yang sunyi. Hanya terdengar desiran angin dan gesekan daun-daun rimbun.
Edward tampaknya semakin emosi. Tidak peduli apa pun, ia kemudian mengontrol sebuah batu besar, mengangkat batu itu sedikit susah karena massa batu yang berat. Lalu ia menembakkan batu itu tepat ke arah Roni.
Pangeran Henry terkejut saat melihat sebuah batu yang mengincar tubuh Roni. "Roni, hati-hati!"
Saat Pangeran Henry akan bertindak menyelamatkannya, Roni dengan lihai meloncat ke udara dan menciptakan perisai air yang kemudian mengelilingi seluruh tubuhnya, seketika batu besar itu terpental cukup jauh.
__ADS_1
"Hahaha, siapa yang berani mengusik ketenanganku!?" Jiwa Royalty telah menggantikan jiwa Roni. Ia tertawa menggelegar di dalam perisai airnya.
"Royalty!?" Pangeran Henry sedikit terkejut saat melihat Royalty.
Royalty kemudian memecahkan perisai airnya dan turun secara perlahan-lahan ke tanah. Lalu berbicara kepada Pangeran Henry dengan serius. "Pangeran Henry, aku tak ingin berbicara lewat Roni lagi. Sekarang, aku mengambil alih tubuh ini untuk sementara waktu. Ada seseorang yang berusaha mencelakai Roni dan perlu kita lawan bersama."
Pangeran Henry yang awalnya kaget, segera mengerti bahwa Royalty hadir untuk memberikan pertolongan. "Aku mempercayaimu, Royalty. Mari kita bekerja sama untuk mengatasi orang itu yang mungkin masih di sekitar tempat ini."
Edward yang masih bersembunyi di dalam semak-semak, sempat terkejut saat melihat Roni yang tiba-tiba berpakaian jubah biru muda dan mewah, seakan-akan terlihat seperti bukan Roni meskipun memiliki ciri-ciri yang sama.
"Hah, bagaimana Royalty tiba-tiba memakai pakaian? Sebelumnya dia hanya memakai celana pendek," monolog Edward dengan suara pelan. "Ah, aku harus segera pergi dari tempat ini!"
Edward merasa tidak mampu untuk kembali mencoba mencelakai Roni, kemudian remaja itu menutup wajahnya dengan kerudung jubah hitamnya, lalu berdiri dan berlari secepat kilat menuju ke utara. Ia sampai lupa tidak membawa kudanya.
"Tunggu, aku melihat pergerakan seseorang memakai jubah hitam," ucap Royalty dengan tenang.
Royalty memang tidak pernah panik saat melihat sesuatu yang mencurigakan. Ia tahu, ia hanya roh yang tidak memiliki raga sendiri dan mengandalkan raga Roni untuk menyalurkan kekuatannya, maka ia harus tetap tenang dan tidak terburu-buru untuk keselamatan jiwa Roni yang sekarang sedang terlelap di alam bawah sadarnya.
"Seseorang memakai jubah hitam?" beo Pangeran Henry.
"Iya, orang itu adalah orang yang sama saat kejadian di pasar tadi pagi," ungkap Royalty sambil tersenyum sinis memandang pergerakan Edward yang sudah sangat jauh, tapi matanya dapat melihat dengan jelas. Mata Royalty melebihi ketajaman mata elang.
Pangeran Henry menatap ke arah yang sama seperti yang dilihat Royalty. Tapi laki-laki itu tak melihat apa pun, selain rimbunnya semak belukar.
"Kita harus selalu waspada, Royalty. Orang itu tampaknya akan tetap berusaha mencelakai ku ataupun Roni," ujar Pangeran Henry.
****
Flashback on.
Edward mencari cara untuk memancing Pangeran Henry dan Roni agar datang ke tempatnya sekarang yang lebih terbuka dan luas. Dengan begitu, Edward dapat dengan mudah mencelakai mereka berdua.
Saat ia tak sengaja melihat kuda milik Pangeran Henry yang sedang makan rumput bersama kudanya, seketika Edward tertawa. Berpikir jika mungkin dapat menggunakan perantara Jack untuk memancing Pangeran Henry dan Roni.
"Hahaha, ada Jack ternyata. Aku harus mengganggu Jack dan kuda itu pasti akan mengadu kepada Pangeran Henry," monolog Edward. Kemudian laki-laki mendekati Jack sambil membawa sebuah ranting kayu cukup besar.
Lalu Edward dengan sengaja memukulkan ranting itu ke bagian belakang tubuh Jack, membuat Jack terkejut dan meringkik. Sekali lagi Edward memukul Jack lebih keras dan lebih keras lagi, hingga kuda itu merasa kesakitan lalu berlari menjauh menuju ke tempat Pangeran Henry dan Roni di tepi danau.
"Ahaha, kuda itu pasti akan membawa Pangeran Henry ke sini," ucap Edward yang kemudian segera menarik tali kekang kudanya. "Hei, kau harus bersembunyi. Ayo aku tunjukkan jalannya!"
Edward membawa kuda betinanya itu di balik batang pohon yang sangat besar dengan daun-daunnya yang begitu rindang, sehingga sepenuhnya dapat menyembunyikan tubuh kuda itu. Setelah dipastikan kudanya aman, Edward segera mencari posisi yang tepat untuk melakukan aksinya nanti.
Edward tersenyum senang saat yang ditunggu-tunggu pun datang, dugaannya benar, Pangeran Henry dan Roni datang bersama Jack ke tempatnya. Lalu Edward segera melakukan penyerangan secara diam-diam.
Flashback Off.
Edward mengumpat kesal karena melupakan kudanya di saat ia sudah berada di tempat yang sangat jauh. "Sial, kudaku tertinggal di tempat tadi."
****
__ADS_1
Ada-ada saja akalnya Edward, tapi selalu gagal. Tetap dukung author ya! Oke?