ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia

ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia
BAB TIGA PULUH TUJUH : KESEDERHANAAN PANGERAN HENRY & KEUNIKAN JACK


__ADS_3

Henry dan Roni akan kembali melanjutkan petualangan mereka. Masih banyak tempat di wilayah Andora yang belum mereka jelajahi. Sekarang matahari sudah berada di puncaknya, seharusnya waktunya bagi Henry dan Roni untuk makan siang. Karena masih di area air terjun, mereka memutuskan untuk mencari buah-buahan di sekitar tempat tersebut.


"Kita sebaiknya mencari buah di sekitar tempat ini. Tidak mungkin kita kembali ke kerajaan untuk makan siang saja," ucap Henry seraya mengambil pakaiannya yang masih basah. Ia sekarang bertelanjang dada dan hanya memakai celana jubahnya.


Begitu pun Roni yang juga telanjang dada, dan hanya memakai celana jubahnya yang basah. "Ayo, kita segera mencari buah. Aku sudah lapar."


"Sebelum itu, kita harus mengeringkan pakaian kita lebih dulu," ujar Henry seraya turun dari bukit.


Roni mengikuti langkah Henry sambil membawa pakaiannya. "Di mana kita bisa mengeringkan pakaian?" tanyanya.


Henry menjawab, "Kita bisa mencari tempat yang cukup terbuka, mungkin di bawah sinar matahari langsung. Aku melihat beberapa batu besar di sana, kita bisa menjemurnya di atas batu itu." Henry dan Roni pun bergegas menuju tempat yang dijelaskan.


Setelah meletakkan pakaian mereka di atas batu-batu yang terpajang di bawah sinar matahari terang, Henry berkata, "Sementara pakaian kita kering, mari kita jelajahi sekitar tempat ini untuk mencari buah."


Roni setuju, "Ide bagus. Siapa tahu kita menemukan buah yang belum pernah kita lihat sebelumnya di wilayah ini." Mereka berdua mulai menjelajahi sekitar wilayah air terjun, dengan harapan menemukan buah yang segar dan lezat.


Henry dan Roni melangkah melewati jalan setapak yang ditumbuhi rumput, menuju ke sisi lain air terjun, di mana ada sebuah tempat yang sepertinya banyak ditumbuhi pohon pisang dan pepaya. Itu kesempatan bagus bagi mereka. Dengan memakan buah pisang dan pepaya, sepertinya akan cukup membantu mengganjal perut mereka.


"Hei, lihat ke sana, pisang dan pepaya yang besar-besar. Kita bisa membawa beberapa untuk persediaan selama perjalanan," ucap Roni sambil menunjuk ke arah pohon pisang dan pepaya yang menjulang di antara daun hijau.


Henry setuju, "Bagus, Roni. Kita juga bisa membawa pisang dan pepaya sebagai bekal perjalanan kita nanti."


Mereka berdua berjalan mendekati tempat tumbuhnya pohon pisang dan pepaya yang melimpah. Setelah sampai di sana, keduanya berusaha meraih pepaya yang tinggi di ranting pohon dengan menggunakan tongkat kayu panjang yang ditemukan di sekitar sana. Sementara mereka tidak perlu susah-susah untuk mengambil buah pisang karena pohonnya yang cukup rendah.


Setelah berhasil mendapatkan beberapa buah pisang dan pepaya, mereka duduk di bawah pohon pisang yang rindang untuk menikmati buah segar mereka.


"Kita harus bersyukur, Roni, kita mendapatkan banyak buah untuk makan siang," ucap Henry seraya tersenyum, mengambil satu buah pisang lalu mengelupas kulitnya dan segera memakannya.


"Benar, jika tidak ada buah di sekitar tempat ini, mungkin kita harus mencari di tempat lain yang mungkin lebih jauh," jawab Roni. Kemudian mengambil satu buah pisang dan memakannya.


Roni menatap wajah Henry yang tampak puas memakan buah-buahan itu. Ia sangat kagum dan salut dengan Henry, meskipun bergelar seorang pangeran tetapi Henry tetap rendah hati, bersikap sederhana, dan terampil bertahan di alam liar. Sangat jarang ada seorang pangeran yang memiliki sifat sederhana seperti Henry.


"Kau memang luar biasa. Meskipun pangeran, tapi sikapmu yang sederhana membuat perjalanan ini semakin berarti," ujar Roni penuh kagum.


Henry tersenyum tipis. "Terima kasih, Roni. Bagiku, gelar atau status tidak penting dalam petualangan ini. Yang terpenting adalah pengalaman dan persahabatan kita."


"Aku setuju," jawab Roni sambil mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Hening. Tidak ada yang berbicara di antara mereka, dan lebih menikmati waktu istirahat mereka dengan memakan buah pisang dan pepaya.


"Hei, di mana Jack?" tiba-tiba Roni mengingat Jack, kuda itu sejak tadi tidak terlihat di sekitar air terjun.


"Tenang saja, aku bisa memanggil Jack lewat batin," ujar Henry.


"Kau serius?" Roni tampak terkejut dengan ucapan Henry.


Henry tersenyum, "Iya, aku memiliki ikatan khusus dengan Jack. Kita berdua memiliki hubungan yang mendalam. Aku akan mencoba memanggilnya."


Dengan mata tertutup, Henry memusatkan pikirannya, mencari keberadaan Jack, dan berbicara dalam hati dengan maksud menyuruh Jack untuk mendatangi tempatnya. Setelah beberapa saat, terdengar debur kaki kuda yang mendekat, dan Jack muncul dari balik semak-semak.


Roni terkagum-kagum sambil melihat Jack yang berjalan gagah mendekati Henry. "Itu luar biasa! Bagaimana kau bisa berkomunikasi dengan Jack seperti itu?"


"Sejak kecil aku selalu bersama Jack, bermain bersama, berpetualang bersama, dan mungkin itulah sebabnya aku dan Jack memiliki ikatan batin," ujar Henry sambil mengelus-elus punggung Jack yang sekarang tengah berbaring di sebelahnya.


Kuda itu berbaring di sebelah Henry, lalu sedikit meringkik seraya mengambil satu buah pepaya yang lebih kecil dengan mulutnya, dan memakannya.


"Hei, bagaimana Jack bisa makan pepaya?" Roni terkejut melihatnya.


Henry tertawa lalu menjawab, "Hahaha... Jack memang memiliki selera yang unik. Dia suka mencoba berbagai jenis makanan, termasuk buah-buahan seperti pepaya."


Henry menjelaskan, "Setiap kuda memiliki preferensi makanan yang berbeda. Jack sepertinya suka dengan variasi makanan. Ini juga caranya untuk memperoleh energi, dan sepertinya dia lapar."


Sambil melihat Jack menikmati pepaya, Roni tersenyum. "Jack memang istimewa. Aku kagum melihat kuda secerdas dan seunik dia."


Keduanya melanjutkan perbincangan ringan sambil memakan buah-buahan mereka. Ketika dirasa perut mereka sudah cukup kenyang, mereka memutuskan untuk segera melanjutkan petualangan di wilayah Andora.


"Aku sudah kenyang, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan," ucap Henry sambil berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang berdebu.


"Baiklah, sebelum sore hari, kita harus sampai ke tempat berikutnya," ujar Roni yang kemudian ikut berdiri.


Keduanya melangkah beriringan, kembali ke tempat di sekitar air terjun untuk mengambil pakaian yang mereka keringkan di atas batu.


"Pakaian kita sudah sedikit kering, tapi kita bisa memakainya," ucap Henry seraya mengambil pakaiannya dan mengambil pakaian milik Roni. Lalu ia melemparkan salah satu pakaian itu ke arah Roni.


Roni dengan cepat menangkap pakaiannya. Lalu berbicara, "Iya. Setidaknya kita bisa memakainya. Nanti akan kering sendiri saat di perjalanan."

__ADS_1


Henry kini sudah memakai pakaiannya, begitu pula dengan Roni. Lalu kedua laki-laki itu melanjutkan perjalanan, melangkah menjauh dari area air terjun dengan Jack yang selalu setia mengikuti setiap langkah mereka.


Sesampainya di tempat yang lebih terbuka, Henry mempersiapkan Jack untuk petualangan selanjutnya. "Jack, bersiaplah, kita akan melanjutkan petualangan ini!" Jack berlari lalu berhenti tepat di depan Henry, dan Roni merasa kagum dengan ketangkasan kuda tersebut.


"Baiklah, Jack, jadilah kuda yang baik selama di perjalanan. Roni, ayo naik!" ucap Henry lalu segera naik ke atas punggung Jack dengan lincah, kemudian membantu Roni menaiki punggung kuda itu.


Setelah Roni siap, Henry menarik tali kekang kudanya, dan menginstruksi Jack untuk segera berlari. "Jack, berlarilah!"


****


Hari semakin sore, matahari semakin tenggelam ke ufuk barat. Henry dan Roni sudah puas berpetualang menjelajahi sebagian tempat di wilayah Andora. Kini waktunya bagi mereka untuk kembali ke kerajaan sebelum menjelang malam.


Selama di perjalanan kembali ke kerajaan, mereka menyempatkan untuk berbincang. Sementara Jack berjalan santai, sehingga mereka dapat berbincang dengan tenang. Setelah menempuh perjalanan jauh, tidak terasa, Henry dan Roni sudah sampai di Kerajaan Andora. Prajurit penjaga gerbang dengan segera membuka pintu gerbang, lalu mempersilahkan Henry dan Roni untuk memasuki halaman kerajaan.


Kemudian Henry membawa Jack ke kandang kuda. Roni turun dari punggung kuda itu lalu berkata dengan wajah ceria, "Woaahh, aku sangat puas. Petualangan kita hari ini benar-benar menyenangkan dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil."


"Benar, Roni. Petualangan hari ini membawa pengalaman yang tak terlupakan," jawab Henry sambil tersenyum, kemudian melepas pelana dari punggung Jack. "Andora memiliki begitu banyak keajaiban yang belum terungkap. Ini baru awal dari petualangan kita."


Roni tersenyum kemudian berkata, "Aku sangat berterima kasih, kau telah mengajakku berpetualang di wilayah Andora."


"Sama-sama, Roni. Jadikan petualangan ini sebagai pengalaman yang berharga," jawab Pangeran Henry lalu sedikit tersenyum. "Jika ada waktu lagi, aku akan mengajakmu berpetualang ke tempat selanjutnya."


Lalu keduanya melanjutkan langkah mereka menuju istana. Langit yang kini berwarna jingga memberikan latar belakang yang indah. Sesampainya mereka di koridor, ada halangan yang membuat Roni sangat muak. Ya, siapa lagi jika bukan Edward yang menjengkelkan.


"Dua pasangan ini akhirnya kembali juga ke istana. Bagaimana, kalian puas menikmati momen berduaan? Hahah," ujar Edward diakhiri tawa rendah.


Roni menyentak Edward dengan kesal, "Edward, kenapa kau selalu mengganggu? Kita hanya berpetualang dan menikmati waktu bersama!"


Edward kemudian tertawa sambil mengingat Pangeran Henry yang memeluk Roni, dan itu terlihat sangat mesra di matanya. "Hahah... Oh, maafkan aku jika aku menganggu romansa kalian. Tapi, siapa tahu kalian memang menyimpan rasa cinta? Hahaha."


Henry menahan emosi dan menjawab, "Kita hanya mencari petualangan dan mengeksplorasi wilayah. Tidak ada yang spesial seperti yang kau pikirkan!"


Edward tersenyum sinis menatap wajah Roni, "Baiklah, baiklah. Aku hanya mencoba menyegarkan suasana. Semoga petualangan berikutnya lebih menarik dan lebih romantis, hahaha." Lalu dengan santainya, ia melenggang pergi meninggalkan Pangeran Henry dan Roni.


"Edward memang aneh, bagaimana ia bisa menjadi anak dari Putri Victoria? Ayah dan ibunya saja tidak seperti itu," sindir Roni terhadap Edward.


"Sudahlah, jangan dipikirkan, Edward memang nakal sejak kecil, aku tidak tahu apa penyebabnya. Putri Victoria dan Pangeran Andrew sudah berusaha mendidiknya tapi tidak ada perubahan," ujar Henry. Lalu kembali berbicara, "Lebih baik sekarang, kita kembali ke kamar masing-masing dan membersihkan diri."

__ADS_1


****


Edward, jangan bikin ulah lagi ya, nak.


__ADS_2