
Flashback on. Skenario Edward sebelum berusaha mencelakai Roni menggunakan air keras tetapi malah salah sasaran saat ia meminta bantuan seorang anak laki-laki.
Sekarang Edward masih mengikuti langkah Pangeran Henry dan Roni di dalam area pasar. Sesekali Edward juga bersembunyi di antara kerumunan orang-orang agar Pangeran Henry dan Roni tidak melihat keberadaannya, meskipun kedua laki-laki itu tak pernah menengok ke belakang dan Edward hanya berjaga-jaga.
Saat Pangeran Henry dan Roni berhenti di salah satu toko. Edward juga ikut berhenti di depan toko makanan, memerhatikan kedua laki-laki itu dari kejauhan sambil merencanakan sesuatu yang dapat merugikan Roni.
Tiba-tiba terlintas ide buruk di otaknya. Edward terpikirkan untuk mencelakai Roni. "Ah, jika aku hanya membututi Pangeran Henry dan kekasihnya itu sepertinya tidak akan seru. Ahaha, aku akan mencari cara untuk mencelakainya," gumamnya sambil tersenyum sinis dengan matanya yang fokus menatap punggung Roni.
"Ah, bagaimana kalau aku menggunakan air keras untuk mencelakai Royalty? Ya, aku akan menggunakan air keras, ahahah," gumam Edward kemudian tertawa kecil di antara banyaknya orang-orang yang sedang berlalu-lalang.
Kemudian Edward mencari toko yang menjual air keras. Air keras di Kota Andora tidak dijual secara bebas dan hanya dijual di toko-toko tertentu. Edward menyusup ke dalam jalan-jalan sempit yang mengarah ke sudut terpencil pasar. Di sana, ia menemukan sebuah toko yang kabarnya menyimpan persediaan air keras. Pintu toko itu ringan ketika dibuka, dan seorang pemilik toko yang misterius menyambutnya.
Air keras di dunia fantasi ini adalah air yang memiliki elemen magis dan mempunyai kekuatan menyembuhkan atau merusak tergantung pada cara penggunanya. Misalnya, bisa digunakan untuk menyembuhkan luka, namun juga dapat menjadi senjata yang dahsyat untuk mengalahkan musuh. Lebih tepatnya ada dua tipe air keras, pertama air keras positif yang menyembuhkan dan air keras negatif yang dapat merusak. Terlepas dari fakta di dunia nyata bahwa air keras sebenarnya sangat merusak dan tidak ada air keras untuk penyembuhan.
"Apa yang kau cari, anak muda?" tanya pemilik toko dengan senyuman licik.
Dengan penuh kecerdikan, Edward menjawab, "Saya mencari sesuatu yang dapat memberikan 'efek khusus' pada seseorang yang mungkin terlalu percaya diri."
Pemilik toko itu mengangguk mengerti dan membawa Edward ke rak-rak yang menyimpan air keras. Pilihan beragam botol dengan cairan yang berkilauan menanti di depannya.
"Sesuatu yang spesifik atau ingin saya berikan saran?" tanya pemilik toko.
Edward tersenyum dengan mata yang berbinar penuh kejahatan. "Saya ingin yang efektif, tanpa meninggalkan jejak yang terlalu mencolok."
Pemilik toko memberikan sebuah kendi kecil air keras yang dikemas dengan indah. "Hati-hati, Saudara. Penggunaan air ini dapat membawa konsekuensi besar."
Edward hanya tersenyum dan membayar barang tersebut menggunakan sejumlah uang kertas. Dengan air keras di tangannya, dia melangkah keluar dari toko dan akan merencanakan nasib buruk bagi Roni.
Sedikit informasi mengenai mata uang di Kota Andora. Mata uangnya disebut Andorin dan berupa uang koin atau kertas. Setiap uang kertas dan koin andorin memiliki pahatan gambar elemen yang berbeda, sehingga memberikan nuansa ajaib pada nilai tukarnya. Uang kertas andorin yang kedudukannya paling tinggi bernilai Seratus Ribu Andorin dan memiliki gambar elemen yang disebut Essentia. Essentia dipercaya sebagai sumber kekuatan sihir fundamental yang mengalir melalui alam semesta dan menjadi inti dari segala bentuk sihir. Ini mencakup elemen air, tanah, angin, petir, dan elemen alam lainnya.
Edward sangat kesal saat tidak melihat keberadaan Pangeran Henry dan Roni, kemudian Edward menyimpan air keras di dalam kendi itu ke dalam jubah hitamnya yang longgar. Lalu ia kembali melangkah dan menyelinap di antara kerumunan orang-orang, mencari keberadaan Pangeran Henry dan Roni yang mungkin masih belum jauh dari tempatnya.
Sesaat Edward tersenyum lega ketika mengetahui Pangeran Henry dan Roni yang kembali berhenti di depan toko, kedua laki-laki itu tampak sedang berbincang. Sambil mengamati mereka, Edward memikirkan cara dan membuat skenario agar ia bisa mencelakai Roni tanpa terdeteksi. Kemudian ia berpikir jika sebaiknya menggunakan perantara untuk mencelakai Roni.
"Bagaimana jika aku meminta bantuan untuk mencelakai Royalty? Ya, sepertinya akan sangat membantu. Aku harus memanfaatkan anak kecil untuk tugas ini," gumam Edward dengan matanya yang tak lepas menatap punggung Pangeran Henry dan Roni.
Edward tersenyum licik saat tak sengaja melihat anak laki-laki yang berjalan seorang diri di area pasar. Entah kemana orang tuanya tapi yang jelas anak itu sedang kebingungan seperti mencari sesuatu. Kesempatan itu tidak boleh disia-siakan, Edward segera menghampiri anak itu yang sekarang sedang berdiri di samping warung makan, dan anak itu tampaknya membawa sebuah tas rajut.
"Hai adik kecil," sapa Edward dengan sedikit melambaikan tangan dan senyuman ramah di wajahnya.
__ADS_1
Anak itu sedikit terkejut dan terlihat ketakutan saat menatap wajah Edward. Anak itu tak menjawab sapaan Edward. Saat ia akan berlari, tiba-tiba Edward mencekal lengannya yang kurus.
"Kau jangan takut adik kecil. Mari ikut kakak. Kakak ada sesuatu untuk kamu, mau makanan?" goda Edward agar anak kecil itu mau menuruti keinginannya.
"Makanan?" beo anak itu.
"Iya, kau lapar, bukan?" Edward tersenyum sinis tetapi anak itu belum bisa membaca ekspresi wajah yang lebih spesifik. Sehingga anak itu melihat Edward seperti tersenyum senang.
"Iya aku lapar kakak," jawab anak itu sambil mengelus-elus perutnya. Kemudian sedikit terdengar bunyi keroncongan.
Edward tertawa dalam hati, ternyata dugaannya benar anak itu sedang lapar. "Baiklah, mari ikut denganku!"
Tanpa banyak bicara, Edward segera menggandeng anak itu melewati jalan lain tapi tetap searah dengan jalan pasar yang dilewati Pangeran Henry dan Roni. Sambil sesekali memastikan keberadaan kedua laki-laki itu, Edward mengajak anak kecil yang digandengnya menuju ke sebuah sungai yang cukup jauh dari area pasar. Edward berteduh di bawah pohon rindang, lalu ia berkata kepada anak kecil itu yang berdiri di hadapannya.
"Adik kecil, aku membawamu ke sini karena ada tugas spesial untukmu," ucapnya lalu tersenyum sinis. "Setelah kau berhasil, aku akan membelikanmu makanan.
"Tugas apa kakak?" tanya anak itu dengan polos. Membuat Edward geram bercampur gemas menatap kepolosan anak itu.
"Ah, kau ini. Berapa umurmu?" tanya Edward yang ingin mengetahui umur anak tersebut.
"Tujuh tahun, kak," jawab anak itu.
Kemudian Edward menarik lengan kurus anak itu agar lebih mendekati dirinya. Setelah itu Edward menunjuk Pangeran Henry dan Roni yang sedang berada di area pasar yang lebih terbuka. Meski cukup jauh, tapi Edward dapat melihat kedua laki-laki itu sedang bercakap-cakap.
"Kau melihat dua laki-laki berambut biru itu?" tanya Edward kepada anak kecil di sampingnya.
"Tidak kak, aku melihat satu laki-laki yang berambut biru," jawab anak itu dengan ragu-ragu.
Edward sedikit memukul kepala anak itu karena geram dengan jawaban yang diberikannya. "Kau melihatnya tidak!? Di sana ada dua orang laki-laki berambut biru. Ah, susah sekali berbicara dengan anak kecil."
Edward tidak ingin membuang-buang waktu, kemudian ia mengeluarkan kendi berisi air keras dari dalam jubah hitamnya. Lalu ia menegur anak itu. "Hei, dengarkan penjelasanku!"
Anak itu seketika terkejut lalu cepat-cepat memutar badan dan menghadap Edward. Kemudian Edward berbicara, "Kau pegang kendi ini. Awas hati-hati, jangan sampai jatuh."
Anak itu ragu-ragu menerima kendi itu dari Edward. Setelah kendi berada di tangannya, ia lantas bertanya, "Ini kendi apa, kak?"
"Dengarkan penjelasanku. Begini..." Edward kemudian menjelaskan tentang tujuannya kepada anak kecil itu.
Edward membuat skenario. Anak laki-laki itu harus berpura-pura mencuri makanan dari salah satu pedagang makanan di area pasar yang dilewati Pangeran Henry dan Roni. Maka hal tersebut akan sangat menarik perhatian banyak orang, termasuk Pangeran Henry dan Roni. Lalu setelah itu, anak itu harus berpura-pura sedih. Supaya mendukung aksi anak itu, Edward sengaja memoleskan tanah basah ke wajah anak tersebut agar terlihat seperti anak gelandangan.
__ADS_1
"Nah, penampilanmu sudah cocok, sekarang lakukan sesuai dengan petunjukku. Curi makanan dari pedagang yang dekat sana, lalu pura-pura sedih. Ingat, lakukan dengan baik dan pastikan semua orang melihat," instruksi Edward sambil memberikan panduan yang detail kepada anak kecil tersebut.
Anak kecil itu tampak takut tapi juga antusias melihat kendi berisi air keras yang dipegangnya. "Tapi, kakak, ini bukan mainan kan?"
Edward menyipitkan mata dan memberikan senyuman licik, "Benar sekali, ini bukan mainan. Ini adalah alat untuk tugasmu. Lakukan dengan baik, dan kakak akan memberikan banyak makanan padamu. Jangan lupa, setelah mereka mendekatimu, siramkan air keras itu ke wajah anak laki-laki yang berambut biru muda di sebelah Pangeran Henry. Apa kau mengerti?"
Tampaknya anak laki-laki itu belum sepenuhnya mengerti, tapi ia tetap mengangguk dan seolah-olah mengerti karena terpaksa.
Setelah memberikan instruksi, Edward meresapi kepuasannya sendiri dengan skenario yang sudah ia atur. Anak itu kemudian beranjak, mengikuti panduan Edward, dan berjalan menuju seorang pedagang makanan. Edward memperhatikan setiap gerakannya dari balik pohon, yakin bahwa rencananya akan berjalan dengan sempurna.
Sementara itu, Pangeran Henry dan Roni masih asyik berbincang. Mereka belum menyadari bahwa sesuatu yang tak terduga akan segera terjadi.
Flashback Off. Kemudian terjadilah kejadian di bab sebelumnya.
***
"Tunggu! Kau bilang anak laki-laki itu tidak seperti yang aku lihat? Apa maksudmu?"
Anak itu masih sedikit menunduk tak berani menatap wajah Edward, lalu menjawab, "Iya, kak. Orang laki-laki itu rambutnya warna hitam, bukan biru seperti yang kakak lihat. Aku bingung, kak."
Edward merasa sangat geram dan akan memukul anak itu tapi ia segera menahan tindakannya sendiri. "Ah, bagaimana mungkin kau melihat anak itu berambut hitam? Apa matamu bermasalah, HAH!?" bentaknya kepada anak kecil itu.
"Maaf, kak. Aku melihatnya, dia berambut hitam bukan biru," jawab anak itu dengan sedikit gemetaran.
Ingat, di bab-bab sebelumnya sudah dijelaskan bahwa sosok Royalty yang bersemayam di tubuh Roni hanya dapat dilihat oleh keluarga kerajaan. Oleh sebab itu Edward sepenuhnya hanya melihat jiwa Royalty, sementara anak itu dari kalangan rakyat biasa melihat jiwa Roni yang sesungguhnya.
Mungkin hal ini membingungkan, tapi yang jelas, Royalty hanya menampakkan wujudnya di depan keluarga kerajaan dengan tujuan untuk melindungi Roni supaya tidak dipandang sebelah mata oleh keluarga Kerajaan Andora.
"Kau cukup membantu, adik kecil. Aku akan mencari tahu sendiri siapa sebenarnya Royalty. Kenapa anak ini melihatnya berambut hitam dan bukan rambut biru muda?" gumam Edward.
Edward kemudian berbicara pada anak itu dengan tenang, "Baiklah, karena kau cukup membantu walaupun tidak berhasil mencelakai anak laki-laki itu, aku tetap bertanggung jawab mengobatimu dan membelikanmu makanan. Mari ikut denganku."
"Apa kau serius, kak? Aku akan diobati dan dibelikan makanan?" tanya anak laki-laki itu dengan binar kebahagiaan di wajahnya.
"Aku serius adik kecil," jawab Edward lalu menggandeng anak laki-laki itu.
****
Tetap dukung author. Oke? Semangatin author ya!💪
__ADS_1