
Tanpa disadari oleh mereka bahwa Edward sekarang tengah bersembunyi di balik pilar koridor yang tinggi. Edward mendengarkan pembicaraan Pangeran Henry dan Roni sambil tertawa pelan. "Hahah, mereka pikir semudah itu. Aku sudah merencanakan taktik yang lebih baik kali ini. Tunggu saja Royalty. Aku akan membuat hidupmu hancur. Hahah."
Saat Pangeran Henry melewati pilar tempat persembunyiannya, Edward sangat panik dan segera menyembunyikan diri di dalam kegelapan yang kebetulan tidak tersorot lampu koridor.
"Uh selamat," ucapnya seraya mengelus-elus dada.
Tiba-tiba saja.
"Hei siapa itu!?" Pangeran Henry menghentikan langkahnya begitu melihat sosok bayangan hitam yang berada di balik pilar.
Edward sangat panik, buru-buru ia menahan napasnya. Degupan jantungnya berpacu cepat seperti melakukan adrenalin yang menantang. Tubuhnya terasa kaku dan seakan sulit bergerak.
Pangeran Henry perlahan-lahan mendekati pilar tersebut. Matanya fokus meneliti bayangan hitam tersebut.
Hingga kemudian...
Edward berusaha keluar dari tempat persembunyiannya, sayangnya ia tersandung dan hampir terjatuh sebelum tangan kanannya memegang pilar tersebut. Wajahnya penuh dengan ketegangan saat ia tersenyum canggung.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tegur Pangeran Henry dengan serius.
Roni terkejut melihat Edward, lalu ia ikut mendekati Edward dengan ekspresi tajam. "Apakah kau mengawasi kita?"
Edward berusaha mempertahankan diri dengan ekspresi tidak bersalah. "Oh, aku hanya keluar berjalan-jalan malam-malam. Tidak ada yang spesial."
Pangeran Henry tidak sepenuhnya yakin. "Kenapa kau bersembunyi saat aku mendekat?"
Edward tersenyum penuh intrik. "Aku tidak bersembunyi, hanya merasa terkejut melihat Pangeran Henry di sini. Mungkin aku terlalu fokus dengan pikiranku sendiri."
Roni menduga ada sesuatu yang disembunyikan. "Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan di sini, Edward?"
Edward menggeleng, mencoba menutupi niat jahatnya. "Tidak ada yang perlu dicurigai. Aku benar-benar hanya ingin berjalan-jalan sendirian."
Pangeran Henry memandangnya tajam. "Jangan pernah berjalan sendirian di sekitar koridor saat malam hari. Bukankah seharusnya sudah waktunya berisitirahat."
Edward berpura-pura patuh. "Tentu, Pangeran Henry. Maaf jika aku menyebabkan kekhawatiran." Kemudian ia melangkah pergi dengan perasaan campur aduk. Antara malu dan jengkel menjadi satu.
Mereka berdua mengawasi Edward hingga dia meninggalkan koridor. Setelah dia pergi, Roni melihat Pangeran Henry dengan ekspresi khawatir. "Apakah kita seharusnya mempercayainya? Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres."
Pangeran Henry mengangguk. "Kita harus tetap waspada. Aku akan meningkatkan pengawasan di sekitar istana. Tidak ada yang boleh merugikan kita atau merusak keamanan istana ini, termasuk Edward."
Roni menghela napas lega, mengetahui bahwa Pangeran Henry mendukung langkah-langkah keamanan. Meski demikian, bayangan rencana gelap Edward masih melayang di benak mereka berdua.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, datang seorang prajurit keamanan yang diminta oleh Pangeran Henry untuk mengawasi kamar Roni. Prajurit itu berjalan mendatangi Pangeran Henry dan Roni.
Prajurit itu sejenak memberi hormat kepada Pangeran Henry lalu mengucapkan salam, "Selamat malam, Pangeran Henry." Ia menghentikan ucapannya saat melihat Roni.
Seakan mengerti ekspresi prajurit itu, Pangeran Henry menyahut, "Royalty."
"Ah, selamat malam Royalty," ucap prajurit itu dengan tersenyum.
"Selamat malam juga," balas Roni. Tak lupa senyumannya yang ramah.
Kemudian prajurit itu menghadap Pangeran Henry dan berkata, "Apa tugas saya Pangeran?"
"Sesuai kesepakatan kita bersama. Malam ini, kamu akan mengawasi kamar Royalty. Pastikan keamanan di sekitarnya terjaga dengan baik," instruksi Pangeran Henry pada prajurit.
Roni tersenyum lalu mengangguk menghormati. "Terima kasih, Pangeran Henry. Aku yakin semuanya akan berjalan dengan baik."
Pangeran Henry tersenyum singkat kepada Roni kemudian menatap serius prajurit tersebut. "Jangan ragu untuk bertindak jika mendeteksi sesuatu yang mencurigakan. Keamanan istana adalah prioritas utama."
Prajurit itu mengangguk tegas. "Saya akan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, Pangeran Henry."
Setelah itu, prajurit tersebut bergerak ke posisinya. Berdiri tegak di samping kanan pintu kamar Roni dengan pandangannya yang lurus ke depan.
"Baiklah, Roni. Aku harus segera pergi ke kamar. Sekali lagi, kau jangan khawatir, setidaknya untuk malam ini," ucap Pangeran Henry sebelum ia beranjak pergi.
****
Sementara itu di kamarnya, Edward sangat jengkel saat mengingat tadi ia nyaris ketahuan oleh Pangeran Henry. "Mereka tidak akan mudah tertipu," gumamnya sambil merencanakan langkah selanjutnya.
Dengan hati yang gelap, Edward memikirkan cara-cara untuk mengacaukan rencana Pangeran Henry dan Roni. Rasa dendamnya semakin membara, dan ia berkomitmen untuk membuat rencana mereka menjadi kacau.
Sebuah ide cerdik melintas di benaknya. "Mungkin aku dapat mengalihkan perhatian prajurit yang menjaga di depan kamar Royalty. Dengan begitu aku dapat masuk ke kamarnya tanpa terdeteksi. Tapi bagaimana jika kamarnya dikunci dari dalam? Sepertinya aku harus memikirkan cara lain." Mendadak Edward ragu dengan keputusannya. Bisa saja Roni mengunci kamarnya dari dalam dan itu dapat membuatnya kesulitan.
"Bagaimana kalau aku menggunakan tangan terampilku untuk membuka kunci dengan peralatan khusus yang kubawa?" pikir Edward sambil tersenyum licik. Dia merasa yakin bahwa keterampilan meretasnya akan menjadi kuncinya untuk melancarkan rencananya.
Ia merenung sejenak, mencari cara terbaik untuk mengalihkan perhatian prajurit di depan kamar Roni. Kreativitasnya mulai mengalir, ia berencana membuat skenario palsu yang mungkin dapat membuat prajurit yang berjaga melupakan tugasnya.
"Baiklah aku harus yakin. Malam ini aku pastikan, cincin itu akan berpindah ke tanganku, hahaha," ucap Edward dengan tawa jahatnya.
Malam semakin larut dan bulan semakin naik ke tengah-tengah langit, menjadi pertanda bahwa sekarang sudah tengah malam. Edward siap menjalankan aksinya tersebut demi mendapatkan cincin milik Roni.
Dengan langkah hati-hati, Edward keluar dari kamarnya. Ia membuka pintu secara perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa saja mengganggu orang-orang yang sedang tidur. Kemudian kembali menutup pintu kamarnya dengan hati-hati.
__ADS_1
Langkahnya mengendap-endap melewati koridor istana. Ia sengaja tidak memakai alas kaki untuk menghindari suara gema. Kamarnya ke kamar Roni berjarak cukup jauh, sehingga Edward harus melakukannya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan. Edward memanfaatkan setiap bayangan tembok dan tikungan koridor untuk menyelinap tanpa terdeteksi.
Saat ia hampir sampai di depan kamar Roni, Edward bersembunyi di balik tembok dan mendengar perlahan suara prajurit yang berjaga. Dia merencanakan skenario palsu yang telah disusunnya sebelumnya. Dengan keahlian telekinesisnya, Edward mengarahkan telunjuk tangannya pada sebuah pot bunga kecil, lalu mengangkat pot bunga itu ke udara dan dengan cepat membantingnya ke lantai koridor, hingga menimbulkan suara yang amat keras di tengah keheningan malam. Sesaat suara itu mengalihkan perhatian prajurit yang berjaga di depan kamar Roni.
"Siapa itu!?" teriak prajurit tersebut saat mendengar suara keras tadi.
Edward tetap dalam posisinya, berdiri tegak dan menempelkan punggungnya ke tembok. Sambil memastikan prajurit itu mendatangi tempatnya, Edward segera mengeluarkan senjatanya. Dengan keterampilannya, ia akan melumpuhkan prajurit tersebut.
Edward menahan napasnya saat mengetahui prajurit tersebut sudah berada di tempatnya sambil menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari sumber suara tadi. Prajurit itu tidak mengetahui keberadaan Edward yang bersembunyi di dalam kegelapan. Jubah hitam dan topeng hitam yang dipakai Edward tampaknya sangat mendukung persembunyiannya.
"Darimana suara itu berasal?" ucap prajurit tersebut sambil meneliti sekitarnya.
Saat keadaan sedikit memungkinkan, sebelum prajurit itu mengetahui keberadaannya, Edward dengan gerakan cepat segera menendang punggung prajurit itu dari arah belakang. Sontak prajurit itu jatuh tersungkur lalu berguling dengan cepat sebelum Edward akan menyerangnya kembali.
"Hei, siapa kau!?" teriak prajurit itu sambil menunjuk Edward.
Edward mengumpat karena rencananya tidak sesuai skenarionya. Lalu ia berlari ke suatu tempat untuk menarik perhatian prajurit itu, setidaknya agar menjauh dari kamar Roni.
Prajurit itu bangkit dengan cepat lalu melakukan pengejaran. Namun prajurit itu tak mengetahui bahwa orang itu adalah Edward karena topeng dan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
Edward berbelok ke kanan di persimpangan koridor. Sialnya, ada satu prajurit yang sedang berpatroli di koridor tersebut. Tak ada pilihan lain, Edward kemudian bersembunyi di bayangan tembok dan menunggu saat yang tepat. Dengan cekatan, Edward melemparkan pisau yang dibawanya ke arah yang berlawanan agar prajurit itu teralihkan perhatiannya.
"Suara apa itu?" monolog prajurit yang berpatroli tersebut. Kemudian ia mendatangi sumber suara.
Sebelum prajurit itu menyadari keberadaannya, Edward mengendap-endap melewati bayangan tembok gelap yang menyamarkan tubuhnya, sehingga prajurit itu tak dapat melihatnya.
"Hei, apa kau melihat seseorang yang berlari di sekitar koridor?" tanya prajurit yang tadi berjaga di depan kamar Roni. Napasnya terdengar tersengal-sengal.
"Tidak, tapi aku mendengar suara benda jatuh di sekitar tempat ini," balas prajurit yang berpatroli.
"Hei, apa itu? Sebuah pisau!?" Salah satu prajurit itu melihat pisau yang tadi dilemparkan oleh Edward.
Edward tak lagi memedulikan obrolan kedua prajurit itu. Ia tetap melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Roni dengan mengendap-endap dan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan prajurit tadi tidak mengejarnya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di koridor sebelah timur. Edward merasa detak jantungnya meningkat. Ia kembali berlari, berusaha menghindari siapapun yang mungkin datang.
Edward menyadari bahwa rencananya kali ini berjalan sulit dan butuh kesabaran ekstra untuk dapat masuk ke kamar Roni tanpa terdeteksi. Dan kedua prajurit itu telah mempersulit rencananya.
Laki-laki itu mengumpat di balik tembok yang gelap. Hatinya penuh rasa dongkol. "Sial, rencanaku hampir gagal. Tapi aku akan kembali masuk ke kamar Royalty sampai keadaannya benar-benar aman. Sebentar lagi."
****
__ADS_1
Jangan lupa kasih like bab ini kalau suka ya. Komen juga. Thank you.