
"Sudahlah, jangan dipikirkan, Edward memang nakal sejak kecil, aku tidak tahu apa penyebabnya. Putri Victoria dan Pangeran Andrew sudah berusaha mendidiknya tapi tidak ada perubahan," ujar Henry. Lalu kembali berbicara, "Lebih baik sekarang, kita kembali ke kamar masing-masing dan membersihkan diri."
Roni hanya mengangguk, kemudian mengikuti langkah Henry. Mereka berdua melangkah bersisian. Saat mereka melewati koridor sebelah timur, mereka tidak sengaja bertemu dengan Putri Victoria yang tengah berjalan terburu-buru.
Lantas Pangeran Henry penasaran dan memanggil kakaknya tersebut. "Hei, Putri Victoria!"
Putri Victoria refleks menghentikan langkahnya dan menatap wajah adiknya. "Ah iya. Ada apa memanggilku, Pangeran Henry?"
"Aku rasa ada sesuatu yang mendesak, kau terlihat terburu-buru," jawab Pangeran Henry.
Putri Victoria tersenyum lalu berjalan mendekat. Kemudian menunjukkan sesuatu kepada Pangeran Henry. Selembar kertas? "Oh, aku ingin memberikan kertas ini kepada menteri hiburan. Kau tahu, dua hari lagi Ibu Ratu Andora akan..." Tiba-tiba Putri Victoria berhenti berkata dan seolah menahan informasi tersebut. "Oh ya, aku hampir lupa. Nanti kita bahas bersama-sama di ruang tengah istana, ya. Aku tidak bisa memberitahukannya sekarang. Sampai jumpa nanti." Kemudian Putri Victoria kembali melangkah dan terburu-buru.
"Ada apa dengan Putri Victoria? Dia seperti menyembunyikan sesuatu," kata Roni sambil menatap punggung Putri Victoria yang semakin menjauh.
Pangeran Henry menjawab, "Mungkin ada sesuatu yang penting. Kau akan tahu nanti. Kita akan membahasnya di ruang tengah istana."
"Baiklah, aku jadi penasaran apa yang akan dibahas Putri Victoria nanti," jawab Roni.
"Ayo, kita segera pergi ke kamar masing-masing," ajak Henry. Tanpa sengaja ia menggandeng tangan Roni.
Roni sedikit terkejut dan tersenyum kecil, membiarkan tangan kekar Henry menggenggam tangannya. Mereka berdua berjalan bersama menuju ke kamar. Sesampainya di depan kamar Roni, Pangeran Henry baru menyadari jika ia menggandeng tangan remaja itu.
"Ahaha, aku tidak sadar telah menggandeng tanganmu," ucap Pangeran Henry sambil tertawa singkat.
"Alasan saja, kau sengaja, bukan?" ejek Roni.
Pangeran Henry memutar matanya dengan senyum malu-malu. "Mungkin iya, mungkin tidak. Siapa yang tahu?" balasnya sambil menggoda dan melepaskan genggaman tangan itu dengan lembut.
Roni tertawa kecil, "Kau memang pangeran yang cerdik."
Mereka berdua saling bertukar pandang sebentar, lalu mendadak tertawa bersama-sama. Seakan melupakan sejenak kekhawatiran, mereka merasa nyaman satu sama lain.
Kemudian Roni membuka pintu kamarnya, tetapi sebelum masuk, ia berkata, "Aku tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan dibahas Putri Victoria. Terima kasih, Pangeran Henry."
"Sama-sama, Roni. Sampai jumpa nanti di ruang tengah istana," jawab Pangeran Henry sambil tersenyum. Setelah itu, keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing dengan rasa penasaran yang sama.
Sementara itu Edward yang tidak sengaja melihat Pangeran Henry menggandeng tangan Roni, membuat dugaannya semakin yakin jika Pangeran Henry dan Roni memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat.
"Benar-benar mereka semakin hari semakin mesra saja. Awas saja kalau sampai keluarga kerajaan mengetahui hubungan mereka, dan akan membuat gempar," monolog Edward lalu melanjutkan langkahnya melewati koridor.
Edward tidak sengaja berpapasan dengan ibunya di koridor. Lalu Putri Victoria memanggil anaknya tersebut, "Edward, ada sesuatu yang ingin Ibunda bicarakan denganmu."
__ADS_1
Edward berjalan lebih mendekati ibunya lalu menjawab, "Tentu, Ibunda. Ada apa?"
Putri Victoria menatap anaknya serius, "Nanti malam, ada pertemuan penting di ruang tengah istana. Ibu ingin, kau bisa hadir, Edward."
Edward agak terkejut, namun mengangguk, "Tentu, Ibunda. Aku akan hadir."
"Baiklah, Ibunda harus segera menemui menteri hiburan," jawab Putri Victoria lalu melangkah pergi.
Setelah itu, Edward melanjutkan perjalanannya dengan pikiran yang kini dipenuhi oleh pertemuan itu dan misteri hubungan antara Pangeran Henry dan Roni.
"Apa aku harus merencanakan sesuatu agar seluruh keluarga istana tahu jika Pangeran Henry dan Roni memiliki hubungan khusus? Hahaha, itu akan sangat menyenangkan," monolog Edward sambil tersenyum penuh arti, membayangkan bagaimana malunya Pangeran Henry dan Roni saat keluarga istana mengetahui hubungan mereka.
****
Malam hari sudah tiba. Bulan tampak menggantikan posisi matahari yang telah berjasa menerangi bumi seharian penuh. Sekarang bulan yang berjasa menerangi kegelapan, meski cahayanya yang temaram tidak cukup membantu.
Pangeran Henry mendatangi Roni di kamarnya untuk mengajaknya makan malam. "Selamat malam, Roni."
"Malam, pangeran," jawab Roni diakhiri dengan anggukan kecil.
"Iya, seperti biasa, aku datang ke kamarmu untuk mengajakmu makan malam. Setelah itu kita harus berkumpul di ruang tengah istana untuk membahas sesuatu yang diumumkan Putri Victoria tadi sore," ucap Pangeran Henry langsung berkata ke intinya.
Tidak butuh waktu lama, selesai Roni berpakaian lengkap, kemudian Pangeran Henry segera mengajak Roni pergi ke ruang makan. Butuh beberapa jam, akhirnya makan malam selesai. Sebagian keluarga istana berkumpul di ruang tengah istana, sementara keluarga yang lain tidak bisa hadir karena kesibukan masing-masing.
Putri Victoria yang memimpin pertemuan tersebut. Kemudian wanita cantik itu memulai pembicaraan, "Terima kasih telah datang. Saya punya sesuatu yang penting untuk dibagikan. Saya memiliki berita yang akan melibatkan kita semua."
Semua anggota keluarga istana yang hadir mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba menebak apa yang akan diumumkan oleh Putri Victoria.
"Sesuai kesepakatan saya dengan menteri hiburan, dua hari lagi Ibunda Ratu Andora akan merayakan ulang tahunnya dengan pesta istimewa. Namun, ada satu perubahan besar yang perlu kita diskusikan bersama," ungkap Putri Victoria, sambil memandang setiap anggota keluarga istana.
Wajah-wajah penasaran bertebaran di ruangan itu. Putri Victoria melanjutkan, "Ibu Ratu berencana untuk mengumumkan calon anak angkatnya pada pesta tersebut. Ini adalah momen penting bagi kerajaan kita, dan saya ingin kita semua bersiap menghadapinya dengan dukungan penuh."
Suasana tegang memenuhi ruangan, seolah-olah angin misteri telah bertiup di dalam istana. Sebagian banyak yang bertanya-tanya. Siapa anak angkat yang dimaksud oleh Putri Victoria?
"Tunggu, Ibu. Aku ingin bertanya, mengapa Nenek Ratu Andora ingin mengangkat seorang anak menjadi anak angkatnya? Bukankah Nenek Ratu sudah memiliki tiga anak kandung, termasuk Ibu sendiri?" tanya Edward yang kebingungan dengan ucapan ibunya.
"Oh, begini, Edward. Ibunda Ratu Andora memiliki alasan khusus untuk mengangkat seorang anak. Dia percaya bahwa anak angkat yang dipilihnya memiliki kualitas pribadi yang bagus dan sifat yang baik. Ini adalah keputusan yang bermakna, dan Ibu Ratu ingin memberikan kesempatan yang adil tanpa memandang status sosial."
Edward mengangguk memahami, meskipun masih terlihat bingung. Lalu tatapannya tertuju kepada Roni yang duduk bersebelahan dengan Pangeran Henry. Pikirannya menerawang jauh dan memikirkan kemungkinan anak angkat yang dimaksud adalah... Roni? Seketika Edward membuang pikirannya itu jauh-jauh. Tidak mungkin Roni akan diangkat menjadi anak Ratu Andora. Membayangkannya saja ia ingin tertawa.
Putri Victoria kemudian menatap tajam, ingin memastikan bahwa setiap anggota keluarga memahami pentingnya keputusan tersebut. Suasana di ruang tengah istana menjadi semakin tegang.
__ADS_1
"Tenang semua, kalian jangan tegang, saya mengerti bahwa ini adalah berita besar," ucap Putri Victoria sambil mencoba memberikan suasana yang lebih tenang.
Ia melanjutkan, "Ibunda Ratu Andora yakin bahwa anak angkat yang dipilihnya memiliki kemampuan untuk membawa kemajuan dan kestabilan bagi kerajaan kita. Mari kita mendukung keputusan beliau dan memberikan dukungan penuh kepada calon anak angkat yang akan diumumkan nanti."
Walaupun atmosfer masih tegang, kata-kata Putri Victoria sedikit demi sedikit meredakan ketegangan di ruangan itu.
"Selain itu, ada berita yang sangat menggembirakan bagi kita semua. Saya telah berdiskusi dengan menteri hiburan. Untuk memeriahkan pesta ulang tahun Ibu Ratu, kita akan mengundang seorang biolais profesional dan sudah berpengalaman," ucap Putri Victoria dengan ceria. "Biolais itu datang dari Kota Alexis."
"Wah, Kota Alexis? Benarkah, Putri Victoria?" ucap salah satu keluarga kerajaan dengan ekspresi bahagia.
"Ya, benar sekali," jawab Putri Victoria sambil tersenyum. "Mereka adalah pemain biola yang sangat terampil dan dihormati. Kehadiran mereka di pesta akan menambah keindahan acara kita."
Semua anggota keluarga kerajaan terlihat antusias dengan kabar tersebut. Suasana yang sebelumnya tegang kini berubah menjadi gembira dan penuh harap. Mereka mulai membayangkan bagaimana pertunjukan biola akan menjadi bagian paling istimewa dari perayaan ulang tahun Ratu Andora.
Putri Victoria pun melanjutkan berdiskusi dengan keluarga istana yang lain mengenai pesta ulang tahun Ratu Andora yang akan dilaksanakan dua hari kemudian. Mereka berencana untuk memberikan kejutan kepada Ratu Andora sebelum beliau memasuki ruangan pesta. Kemudian menyusun jalannya acara supaya lebih meriah, dari awal sampai akhir acara. Diharapkan pesta ulang tahun Ratu Andora akan berjalan lancar dan tidak ada kendala. Semua keluarga kerajaan berdoa kepada Tuhan untuk berjalannya pesta tersebut.
Selesai berdiskusi dan sudah sepakat dengan rencana pesta, Putri Victoria mengumumkan, "Baiklah, semuanya. Saya sangat berterima kasih atas kerja sama dan dukungan kalian. Ayo kita bersatu untuk menjadikan pesta ini momen yang indah bagi Ibunda Ratu Andora. Mari kita tunjukkan padanya betapa kita menghargai dan mencintainya."
Keluarga istana berpisah dengan semangat yang tinggi, masing-masing bertugas menyiapkan bagian mereka untuk kesuksesan pesta tersebut.
Pangeran Henry dan Roni keluar dari ruang tengah istana sambil mengobrol.
"Siapa rupanya calon anak angkat Ratu Andora, Pangeran? Sepertinya anak itu sangat spesial sampai Ratu Andora ingin menjadikannya anak angkat," ucap Roni yang sejak tadi penasaran dengan calon anak angkat Ratu Andora.
Pangeran Henry tersenyum tipis sambil mengangkat kedua bahunya. "Hmm, entahlah, itu masih menjadi rahasia. Kau akan mengetahuinya sendiri, dan jangan terkejut saat kau sudah mengetahuinya nanti.
Roni semakin bingung karena ucapan Pangeran Henry yang seolah penuh misteri.
"Hahaha, ayo kita ke kamar!" Tiba-tiba Pangeran Henry bertindak menggendong Roni di belakang punggungnya.
"Hei, hei, hentikan!" Roni berseru dengan riang, "Kenapa kau tiba-tiba menggendongku?" tanyanya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Pangeran Henry. Sementara kedua kakinya ditopang oleh kedua tangan kekar pangeran tersebut.
Pangeran Henry tertawa, "Agar kita bisa tiba lebih cepat ke kamar, tentu saja!" Ia melanjutkan dengan langkah pasti menuju kamar mereka sambil tetap memegang erat kaki Roni.
Roni yang awalnya terkejut, akhirnya ikut tertawa. "Kau benar-benar tak terduga, pangeran."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke kamar sambil tertawa, tanpa menyadari bahwa keceriaan mereka menjadi bagian dari persiapan pesta yang akan datang.
****
Cowok gendong-gendongan itu udah biasa kok, di antara kalian pasti pernah. Apalagi kalau udah jadi sahabat dekat. Ya, kan? Hahaha...
__ADS_1