
Edward mengumpat kesal karena melupakan kudanya di saat ia sudah berada di tempat yang sangat jauh. "Sial, kudaku tertinggal di tempat tadi."
"Apa aku harus kembali ke tempat itu? Tapi bagaimana jika Pangeran Henry dan Royalty memergoki keberadaanku? Aduh, aku harus bagaimana ya," monolog Edward sambil merenung di bawah pohon beringin yang besar. Ia duduk dengan perasaan tak tenang.
Edward memutuskan untuk merencanakan cara supaya ia dapat kembali ke tempat kudanya tanpa diketahui oleh Pangeran Henry dan Roni. "Bagaimana jika aku mengalihkan perhatian Pangeran Henry dan Royalty saat aku akan membawa kudaku pergi? Mungkin itu cara yang tepat. Iya, aku harus mengalihkan perhatian mereka terlebih dahulu."
Setelah yakin dengan rencananya tersebut, Edward kemudian berdiri dan menghadap ke selatan untuk kembali menuju ke Taman Kehidupan. Tanpa menunggu lama, Edward dengan kecepatan kilat berlari menembus ranting-ranting pohon yang rendah dan semak belukar di sekitarnya, membuat tanaman-tanaman itu rontok satu-persatu.
Tak perlu waktu lama, Edward memelankan laju larinya ketika hampir mencapai tempatnya tadi untuk menyembunyikan kudanya. Ia harus memastikan terlebih dahulu, apakah di sana ada Pangeran Henry dan Roni atau tidak. Jika ada mereka, maka Edward harus memancing mereka agar menjauh dari tempat itu.
"Sial, kenapa mereka masih di tempat itu?" ucap Edward saat melihat Roni dan Pangeran Henry yang sedang bercakap-cakap di area yang terbuka. Keduanya belum berpindah ke tempat lain sejak tadi.
"Terpaksa aku harus memancing mereka agar menjauh, setelah itu aku harus cepat-cepat menaiki kudaku dan pergi dari tempat ini," monolog Edward sambil berjalan mengendap-endap, menuju semak-semak belukar di depannya.
Sementara itu, Pangeran Henry dan Royalty yang masih menguasai raga Roni tetap berbincang-bincang dan sesekali memastikan keadaan di sekitar mereka.
"Sepertinya orang misterius tadi sudah pergi," kata Pangeran Henry seraya memerhatikan sekitar.
"Orang itu kembali lagi," jawab Royalty yang dapat merasakan kehadiran Edward yang sekarang bersembunyi di balik semak-semak.
"Hah, kembali lagi!? Di mana dia sekarang?" Pangeran Henry terkejut.
"Ada di balik semak-semak. Hahaha," ucap Royalty diakhiri tawa rendah. "Tunggulah di sini, aku akan mendekati orang itu."
"Jangan, Royalty! Kau tidak boleh mendekatinya sendirian. Dia mungkin memiliki rencana jahat," desak Pangeran Henry, tetapi Royalty sudah melangkah maju dengan langkah yang mantap.
Di tempat persembunyiannya, Edward merasa detak jantungnya semakin cepat. Rencananya harus dilaksanakan dengan cepat dan tepat. Dengan sigap, ia mengambil sebuah batu di dekatnya lalu melemparkan batu itu ke arah yang jauh dari tempat persembunyiannya. Suara kerasnya menarik perhatian Pangeran Henry dan Royalty.
"Hei, suara apa itu?" Pangeran Henry berteriak sambil mengerutkan keningnya. Sementara Royalty menghentikan langkahnya tepat sebelum mendekati semak-semak tempat persembunyian Edward. Lalu Royalty menoleh ke sumber suara.
Sekali lagi Edward melemparkan batu ke arah yang sama untuk lebih menarik perhatian Pangeran Henry dan Royalty.
"Suara itu terdengar lagi, kita harus segera memeriksanya," kata Pangeran Henry. Kemudian laki-laki itu bertindak cepat mendekati sumber suara.
Royalty juga terpancing oleh suara itu, lalu mengikuti langkah Pangeran Henry.
Edward melihat kesempatan dan segera melompat dari semak-semak, ia berjalan mengendap-endap menyusup ke tempat kudanya. Sampai di dekat kudanya, Edward segera meloncat naik ke atas tubuh kudanya.
Edward tanpa memberi Pangeran Henry dan Royalty waktu untuk menyadari keberadaannya, segera memacu kudanya dengan cepat. Debur kaki kuda dan dedaunan yang terinjak cepat menjauhkannya dari tempat itu.
"Sial, untung saja aku berpikir cepat dan mengalihkan perhatian mereka," desah Edward saat dia merasa aman dari pandangan Pangeran Henry dan Royalty. Perjalanan pulangnya kini penuh dengan ketegangan.
Edward sudah menjauh dari tempatnya. Pangeran Henry dan Royalty masih memeriksa keadaan di sekitar asal suara tadi, dua buah batu yang dilemparkan Edward ke tempat yang sama.
"Suara apa tadi? Saat kita mendekat, suara itu sudah hilang begitu saja," kata Pangeran Henry seraya memerhatikan di sekitar semak-semak belukar.
Royalty merasa geram, baru menyadari jika ia dan Pangeran Henry hanya terkecoh oleh suara tadi. "Ternyata kita dikecoh, orang itu berhasil kabur dengan kudanya," kata Royalty sambil memandang Edward dan kudanya yang sudah berlari menjauh
"Aku merasa kita hanya dipermainkan oleh orang misterius itu," jawab Pangeran Henry lalu mengembuskan napas gusar.
__ADS_1
Royalty kemudian tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha. Tenang saja, Pangeran. Mungkin sekarang orang itu belum kita ketahui identitasnya, tapi aku yakin, tak lama lagi identitas orang itu akan terbongkar, hahaha."
Pangeran Henry memandang Royalty sambil mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau merasa begitu yakin kalau identitas orang itu akan terbongkar?"
"Iya, aku tak bisa menjawabnya sekarang. Suatu hari kau akan mengerti sendiri. Orang itu sudah pergi dan sepertinya tak akan kembali ke tempat ini," ucap Royalty sengaja tidak memberitahukan kepada Pangeran Henry siapa sebenarnya orang tersebut.
Royalty selama ini telah menyadari bahwa Edward selalu berusaha mencelakai Roni, namun upaya Edward selalu gagal. Sebenarnya, Royalty yang selalu menggagalkan rencana Edward dengan tujuan melindungi Roni.
"Kenapa kau tak bisa menjawab sekarang? Apa alasannya?" tanya Pangeran Henry dengan bingung.
"Jika aku beritahu sekarang, akan menimbulkan masalah di keluarga kerajaan, lebih baik biarlah waktu yang menjawabnya. Terima kasih, selama ini kau selalu melindungi Roni. Baiklah, aku harus pergi." Royalty kemudian tersenyum sebelum akhirnya ia menghilang, kemudian jiwanya tergantikan oleh jiwa Roni.
Bersamaan dengan hilangnya jiwa Royalty, tubuh Roni akan ambruk dan secepatnya Pangeran Henry menolongnya. Lalu menggendong Roni yang belum sadarkan diri, dan membawanya ke tempat yang lebih aman.
Pangeran Henry membawa Roni kembali ke tepi danau, lalu meletakkan tubuh Roni di atas rumput. "Roni bangunlah," ucap Pangeran Henry sambil menepuk-nepuk lembut pipi Roni.
Roni terus-menerus mengerjapkan matanya sampai akhirnya pandangannya berubah jelas. "Di mana aku?" tanya Roni begitu kesadarannya kembali.
"Di tepi danau," jawab Pangeran Henry.
Roni mengerutkan keningnya menatap wajah Pangeran Henry, kemudian ia menoleh ke samping, benar, ia sekarang di tepi danau. Lalu Roni bangkit dan duduk tegak sambil merentangkan kedua kakinya ke depan.
Roni berbicara kepada Pangeran Henry dengan suara yang masih terdengar lemah, "Apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba merasa lemah?"
"Jiwa Royalty tadi sempat menghuni tubuhmu, dan aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Saat Royalty meninggalkan tubuhmu, kau ambruk, dan aku segera membawamu ke tepi danau," jawab Pangeran Henry menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Roni. Tak perlu ditutup-tutupi, karena sebelumnya Roni sudah mengetahui bahwa jiwa Royalty bersemayam di dalam tubuhnya.
Hening.
Kedua laki-laki itu tidak berbincang, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pangeran Henry sedang memikirkan ucapan Royalty tadi yang menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya. Sementara Roni sedang termenung dan menatap pantulan wajahnya di atas permukaan air danau yang jernih.
Hingga kemudian, Pangeran Henry berbicara dan memecah keheningan.
"Hei aku baru mengingat sesuatu."
"Apa itu?" Roni beralih menatap wajah Henry.
"Di tempat ini ada air terjun, dan aku baru mengingatnya sekarang. Mari, ikut aku ke sana," ajak Pangeran Henry. Kemudian ia segera berdiri.
Roni ikut berdiri. "Apa kau yakin?" tanyanya dengan binar kebahagiaan. Selain danau, ia juga menyukai air terjun. "Aku sudah tak sabar ingin ke tempat itu!"
"Aku yakin. Mari ikuti aku," ucap Pangeran Henry.
Kedua laki-laki itu tak lupa membawa pakaian mereka, kemudian berjalan menuju suara gemericik air terjun yang semakin dekat. Sebelumnya mereka melintasi hutan yang rimbun dan melewati jalan setapak yang terbentang di antara pepohonan.
Saat mereka tiba di tepi air terjun yang megah, Roni tak bisa menyembunyikan kagumnya. Air terjun itu seperti tirai kristal yang menari-nari di bawah sinar matahari. Pangeran Henry melihat kegembiraan di wajah Roni dengan senang hati.
"Inilah keajaiban alam yang selalu menyegarkan pikiran kita," kata Pangeran Henry.
Roni mengangguk setuju, "Kita bisa menikmati pemandangan indah di sekitar air terjun, dan aku ingin mandi di sini, pasti menyegarkan."
__ADS_1
Kedua laki-laki itu berjalan naik ke atas tebing di bawah air terjun. Tebing itu cukup landai dan mereka sangat mudah untuk mencapai di atasnya.
Pangeran Henry melihat Roni dengan senyum hangat, "Ayo, mari nikmati momen ini bersama."
Roni balas tersenyum, dan mereka pun duduk di pinggiran tebing yang menawarkan pemandangan memukau. Sinar matahari yang temaram melalui daun-daun pohon di sekitar menciptakan bayangan yang menari-nari di permukaan air yang berkilau.
"Airnya sangat segar," ucap Roni saat merasakan cipratan air terjun mengenai punggungnya.
"Iya, kita bisa merasakan kesegaran alam yang murni di sini," tambah Pangeran Henry sambil merendam kakinya di kolam air terjun yang dangkal.
"Kau ingin mandi di bawah air terjun?" tanya Roni.
Pangeran Henry tertawa, "Mengapa tidak? Kita di sini untuk menikmati kesegaran air terjun."
Mereka berdua berdiri, melemparkan pakaian ke atas tebing, dan dengan riang melompat ke dalam kolam air terjun. Air yang deras menghantam tubuh mereka, memberikan sensasi menyegarkan yang luar biasa. Tawa mereka bergema di antara gemuruh air terjun.
"Ini luar biasa!" seru Roni sambil berenang di bawah aliran air yang turun deras.
Henry berenang mengejar Roni, lalu menangkap tubuh Roni dan bertindak memeluknya. Roni tertawa saat Henry dengan jahilnya menggelitik area pinggangnya.
"Hahaha, hentikan! Itu sangat menggelikan, hahaha." Roni tertawa dan berusaha melepas jari-jari nakal tangan Henry yang bermain-main di pinggangnya.
Henry melepaskan pelukannya sambil tertawa, "Hahaha. Maaf, aku tidak bisa mengontrol diri."
Roni membalas dengan melempar air ke wajah Henry, membuat percikan di udara. "Sekarang giliranmu!" serunya sambil tersenyum penuh keceriaan.
Tiba-tiba, mereka terdiam sejenak, menatap satu sama lain dengan mata yang penuh kehangatan. Air terjun yang megah menjadi latar belakang bagi momen persahabatan mereka yang terlalu dekat. Sekali lagi, terlalu dekat.
Pangeran Henry mendekat lalu menyentuh lembut pipi Roni. "Kau membuat petualangan ini menjadi lebih berwarna, Roni."
Roni terkejut dan terdiam sejenak sebelum kemudian berkata, "Hei, apa kau menganggapku seorang perempuan? Hahaha."
Pangeran Henry terkejut sejenak sebelum kemudian tertawa, "Hahaha.. maaf, Roni. Aku tidak bermaksud begitu."
Roni tertawa lepas, "Hahah... Tenang saja, aku bercanda. Kau tahu, kita bisa memiliki persahabatan tanpa harus mengkhawatirkan jenis kelamin."
Pangeran Henry merasa lega, "Benar juga. Aku benar-benar menghargai persahabatan kita, tanpa mempedulikan jenis kelamin."
Mereka berdua tertawa bersama, meredakan ketegangan yang muncul sejenak. Tetapi, dalam kedalaman hati mereka, ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah persahabatan mereka melampaui batas biasa.
Roni dengan tulus berkata, "Terima kasih, Pangeran Henry, karena kau telah menjadi sahabat terbaikku. Momen ini akan selalu kuingat."
Pangeran Henry mengangguk. "Sama-sama, Roni. Aku beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu."
Mereka kemudian duduk di pinggiran air terjun, menikmati langit biru yang indah dan melanjutkan pembicaraan ringan mereka. Tak ada ketegangan, hanya kehangatan persahabatan yang tumbuh di bawah cakrawala langit biru.
****
Sebelumnya, biar tidak ada yang salah paham. Henry dan Roni bukan h*m* ya. Persahabatan mereka terlalu dekat karena setiap hari selalu bersama dan berdua. Akhirnya itulah yang menimbulkan perasaan nyaman di antara mereka tetapi bukan berarti mereka saling mencintai. Paham kan...
__ADS_1