
Tiba-tiba terlintas ide buruk di otaknya untuk mengusir Roni secara paksa dari Kerajaan Andora. "Hehehe, sebentar lagi, kau akan meninggalkan Kerajaan Andora, Royalty."
Edward kemudian menunduk dalam renungan, kembali mencari strategi yang tepat untuk mengusir Roni. Upaya paksa sepertinya tidak akan berhasil, terutama karena Pangeran Henry yang selalu bersama Roni. Pendekatan bertahap tanpa tekanan langsung nampaknya akan lebih berhasil; Edward berencana untuk merancang situasi di Istana Andora yang merugikan Roni. Dengan langkah perlahan, ia bertujuan membuat Roni semakin tersingkirkan dan terlihat negatif di mata keluarga kerajaan.
"Hahaha, sepertinya akan berhasil rencanaku kali ini," ucap Edward.
****
Hari semakin malam di Istana Andora. Bulan separuh tampak menghias di langit dan memancarkan sinarnya yang temaram. Sementara bintang-bintang kecil yang bertebaran di langit seolah menjadi pelengkap keindahan malam.
Kini setelah makan malam, Roni, Putri Victoria, dan Pangeran Henry tengah berjalan melewati koridor istana. Ketiga orang itu akan menuju ke kamar masing-masing.
"Bagaimana harimu, Royalty?" tanya Putri Victoria.
"Hariku selalu baik Putri Victoria, bahkan sangat baik," jawab Roni seraya tersenyum lebar.
Mereka melanjutkan langkah mereka dalam keheningan koridor istana. Udara malam yang sejuk mengalir di sekitar mereka, sementara cahaya gemerlap lampu istana menyinari langkah-langkah mereka.
Pangeran Henry tersenyum sembari memandang ke sekelilingnya. "Istana ini selalu memiliki pesona yang tak tertandingi pada malam seperti ini."
Putri Victoria menanggapi, "Ya, sungguh indah. Aku merasa beruntung bisa memanggilnya rumah."
Roni mengamini, "Anda benar, Putri. Dan saya merasa beruntung dapat menjadi bagian dari istana ini."
Saat Putri Victoria tak sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis Roni, ia pun bertanya, "Bagaimana cincin pemberianku Royalty? Kau menyukainya?"
Roni tersenyum tipis, mengamati cincin gelombang air itu dengan lekat. "Terima kasih, Putri. Saya sangat menyukainya. Cincin ini lebih dari sekedar indah untuk diungkapkan."
"Iya, cincin itu khusus untukmu." Putri Victoria tersenyum.
Roni menyentuh cincin dengan penuh perasaan. "Saya tahu, Putri. Ini memiliki makna yang mendalam bagi saya."
__ADS_1
Pangeran Henry tersenyum mengamati keduanya. "Sepertinya kita semua memiliki cerita yang tak terungkap di balik setiap langkah kita di istana ini."
Mereka sampai di persimpangan koridor yang memisahkan jalan ke kamar masing-masing. Putri Victoria berhenti sejenak, "Terima kasih, kalian, untuk hari yang indah ini. Saya akan mengenangnya selamanya."
Roni mengangguk. "Hari yang indah untuk diingat, Putri."
Pangeran Henry menambahkan, "Mari kita beristirahat dengan baik. Besok adalah hari yang baru."
Setelah berpamitan, Roni melangkah menuju kamar dengan pikiran penuh dengan cerita dan perasaan yang terpatri. Roni menatap keindahan langit malam dari balik jendela kamarnya yang luas. Bulan menginjakkan kakinya di angkasa seakan tampak malu-malu mengintip Roni dari balik cakrawala langit yang gelap. Bintang-bintang kecil tampak menari-nari di sekitar langit dan menghibur bulan di dalam kesendiriannya. Roni tersenyum mengamati pertunjukan alam yang memukau tersebut. Keindahannya bukan semata lukisan yang hidup, melainkan ciptaan Tuhan yang tidak tertandingi.
Hening.
Hingga kemudian...
"Aku sudah sangat kantuk, sebaiknya aku segera tidur," ucap Roni seraya menutup mulutnya yang menguap.
Meski bulan tampak berusaha menggoda Roni agar selalu memandangi keindahannya, tetapi matanya yang sudah lelah, memaksa Roni untuk segera merebahkan tubuhnya di atas lautan kapuk. Malam ini Roni tidur dengan cepat dan tidak menyadari pintu kamarnya sedikit terbuka. Sedikit sekali.
****
Edward sempat panik saat mendengar langkah kaki prajurit kerajaan yang berpatroli di sekitar koridor. Ia cepat-cepat bersembunyi di balik tirai tebal yang menjulang tinggi di ujung koridor. Napasnya berdesir cepat, tetapi ia sangat lega saat berhasil mengelak dari pandangan prajurit yang lewat dengan segera dan tidak menyadari keberadaannya.
"Uh selamat," ungkapnya seraya mengelus-elus dada.
Kemudian Edward menggeser tirai di depannya dengan hati-hati lalu segera keluar, dan kembali melanjutkan langkahnya. Mengendap-endap melewati koridor istana, ia berbelok arah ke kanan, dan menuju ke salah satu kamar. Kamar itu tak lain dan tak bukan adalah kamar milik Roni.
Di ambang pintu kamar Roni, Edward berhenti sejenak. Dengan gerakan yang hati-hati, ia memastikan tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di sekitar. Kemudian, dengan penuh keyakinan, ia membuka pintu kamar tersebut tanpa membuat suara yang mencurigakan.
Edward tersenyum licik di balik topengnya saat melihat Roni yang tertidur pulas di atas ranjang. Kesempatan bagus, dengan begitu ia dapat melakukan niat jahatnya untuk merugikan Roni.
Iya merugikan Royalty, hahaha, batinnya dengan tawa jahat.
__ADS_1
Kemudian Edward mulai melangkah mendekati ranjang dengan langkah amat pelan. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, ia meneliti setiap barang di kamar tersebut. Tak ada barang berharga sama sekali. Hanya ada bunga dalam pot kecil yang jadi hiasan di atas meja, itu pun bukan barang penting. Lalu ia melihat ke arah lemari. Berpikir jika mungkin barang berharga milik Roni tersimpan di dalam lemari. Tanpa pikir panjang, Edward melangkah pelan mendekati lemari. Lalu ia membuka pintunya perlahan-lahan hingga terbuka lebar, dan segera menggeledah isi di dalam lemari. Nyatanya di sana hanya terdapat pakaian bekas milik Pangeran Henry.
"Cih, benar dugaanku, dia anak rakyat jelata. Pakaiannya saja dia dapat dari pakaian bekas milik Pangeran Henry. Anak rendahan!" ujar Edward sembari meneliti setiap pakaian.
"Anak itu tak punya barang berharga. Lalu apa yang harus aku ambil?" monolognya dengan suara pelan seraya meneliti setiap sudut ruangan.
Matanya tak sengaja melihat tangan kiri Roni, tepat di jari manisnya tersemat sebuah cincin biru muda yang berkilauan.
"Sepertinya cincin itu barang berharganya. Ahaha, aku akan mengambilnya." Dengan senyum licik penuh bangga, Edward berjalan pelan-pelan mendekati Roni yang tertidur pulas di ranjang.
Edward dengan penuh tekad mencoba meraih cincin biru muda yang tersemat di jari Roni. Namun, tiba-tiba Roni terbangun dengan mata yang tajam memandang langsung ke arah Edward. Tidak menyadari bahwa di balik topeng itu adalah Edward, Roni turun dari ranjang dan melangkah tegas ke arahnya. Membuat Edward di balik topengnya merasa terintimidasi lalu mudur beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" desis Roni dengan suara rendah namun penuh ancaman.
Edward panik, namun ia segera menyembunyikan kepanikan di balik topengnya. "Aku hanya lewat, tidak ada yang perlu kau khawatirkan," ucapnya dengan suara yang berusaha tetap tenang.
Roni tersenyum, namun senyumannya penuh kecerdasan. "Tidak mungkin ada orang yang akan lewat di sini, ini kamarku. Dan kau, sepertinya membawa niat yang jahat."
Edward terdiam sejenak, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kau bisa terbangun? Aku berusaha sebisaku agar tidak membuat suara apa pun."
Roni tertawa kecil. "Ah, kau tidak tahu bahwa aku adalah seorang yang selalu waspada. Dan cincin itu," katanya sambil menunjuk ke arah jari manisnya yang tersemat sebuah cincin, "Tidak sembarang cincin. Itu memiliki daya ajaib yang bisa membangunkanku jika ada ancaman."
Wajah Edward berubah cemas di balik topengnya, menyadari bahwa situasinya telah berubah.
"Pergilah, sebelum aku membuatmu menderita di kamar ini. Cepat pergilah!" ucap Roni dengan tegas, "Atau aku akan." Lanjutnya seraya mengangkat tangan kanannya dan memutar-mutar jari telunjuknya. Dengan perlahan pusaran air kecil tercipta di atas telunjuknya.
Edward sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Roni mempunyai kemampuan sihir. Ia kemudian memilih untuk mengalah. Tetapi ia memberi Roni pandangan penuh dendam sebelum melangkah keluar dari kamar. Menyadari bahwa rencana pertamanya telah gagal total, ia menggeram di dalam hati.
"Bagaimana anak itu mempunyai sihir elemen air!? Aah... aku tidak akan menyerah! Lihat saja nanti!"
Setelah kepergian Edward, Roni mulai bertanya-tanya dan merenung. "Siapa orang itu? Mengapa dia bisa masuk ke kamarku!? Jika bukan orang kerajaan, tidak mungkin dia bisa masuk ke kerajaan dengan penjagaan yang sangat ketat."
__ADS_1
****
Jangan lupa selalu dukung aku ya. Thank you...