ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia

ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia
BAB DUA PULUH TIGA : PERDEBATAN DUA REMAJA


__ADS_3

Roni terbangun kemudian terbatuk-batuk. Mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, ia bertanya, "Apa yang terjadi?"


Pangeran Henry menjawab dengan tenang, "Kau baru saja tenggelam ke dalam danau. Aku yang menyelamatkanmu."


"Tenggelam?" beo Roni tak percaya. Seingatnya tadi ia sedang berlari di atas air danau lalu kemudian tak mengingat apapun sampai tiba-tiba ia terbangun di tepi danau bersama Pangeran Henry.


"Iya, kau tenggelam saat kau sedang berlatih di danau. Tapi tidak masalah, lupakan saja hal itu, yang terpenting sekarang kau selamat," jawab Pangeran Henry yang sengaja tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada Roni. Kalau diceritakan, sudah pasti Roni kebingungan dan tidak akan mempercayainya begitu saja.


"Baiklah, aku percaya kalau aku memang tenggelam, pakaianku basah." Roni menjawab sembari menunduk, mendapati pakaiannya yang basah seluruhnya. Badannya sedikit menggigil kedinginan.


"Kau sepertinya kedinginan. Mari kita kembali ke istana, dan segeralah mandi." Pangeran Henry kemudian berdiri dan segera mengajak Roni pulang ke istana.


"Baiklah, kita pulang ke istana. Aku merasa tidak nyaman dengan pakaian basah seperti ini." Kemudian Roni ikut berdiri. Pakaiannya yang basah membuatnya tidak nyaman saat merasakan tetes-tetes air yang jatuh dari pakaiannya ke atas rerumputan.


"Iya tentu saja," jawab Pangeran Henry yang sekarang sudah berjalan di depan Roni.


Keduanya melewati jalan bebatuan halus yang menghubungkan ke halaman istana. Jalan itu cukup luas dan sepertinya cukup untuk empat ekor kuda berjalan bersisian. Di setiap sisi kanan dan kiri jalan terdapat tanaman bunga hias yang cantik. Beberapa lampu berbentuk bulat juga tampak menghiasi di beberapa tempat, sebagai penerangan ketika malam hari. Tak lupa pohon-pohon rindang juga senantiasa melengkapi jalan bebatuan tersebut, sehingga menambah keindahannya dan kesejukannya.


"Bagaimana aku kembali ke istana dengan keadaan basah seperti ini?" Roni memandang pakaiannya dengan kekhawatiran.


Pangeran Henry tersenyum. "Jangan khawatir, kau tidak sendiri, pakaianku juga basah, tapi aku punya solusinya. Kita bisa mencari rute yang lebih sepi, agar tak banyak orang yang melihat kita dalam keadaan basah seperti ini."


Mereka berdua pun berjalan melewati jalan pintas menuju ke istana yang tidak begitu ramai. Hanya ada lima prajurit yang sedang berjaga di setiap sudut dan itu pun tak menghiraukan keberadaan Pangeran Henry dan Roni.


"Kau harus mandi di kamar mandi prajurit, karena kalau kau mandi di dalam kamarmu, pakaianmu yang basah dapat membuat kamarmu kotor," ucap Pangeran Henry kepada Roni.


"Iya, aku mengerti, tapi bagaimana aku dapat berganti pakaian? Pakaianku di dalam kamar," jawab Roni.


"Akan aku ambilkan." Pangeran Henry seperti membaca mantra, tiba-tiba sudah terdapat pakaian di atas kedua telapak tangannya, bersamaan dengan efek sihir yang perlahan memudar. "Pakailah pakaian ini." Ia memberikan pakaian itu kepada Roni.


"Wah, bagaimana kau dapat melakukan trik sihir itu?" Roni takjub saat melihat kemampuan Pangeran Henry yang dapat menghasilkan pakaian dengan cepat.


"Iya, trik ini juga menjadi bagian dari salah satu kemampuan sihirku," ucapnya seraya tersenyum.


"Sebenarnya kau memiliki berapa kemampuan sihir?" tanya Roni yang penasaran.

__ADS_1


Pangeran Henry tersenyum dan menjawab dengan cerdas, "Aku memiliki beberapa kemampuan yang cukup membantu. Namun, banyak hal yang lebih penting daripada sihir. Misalnya, bagaimana kita menjalani kehidupan dan membantu satu sama lain."


Roni mengangguk mengerti. Merasakan bahwa di balik kemampuan sihir yang luar biasa, Pangeran Henry juga mengedepankan nilai-nilai yang lebih mendalam.


"Kau tidak berganti pakaian?" tanya Roni.


"Aku berganti pakaian, tapi di kamarku. Kau tau, aku akan pergi ke kamar mandiku dengan segera." Pangeran Henry kemudian menyatukan kedua tangannya di depan dada. Keajaiban muncul, dengan cepat Pangeran Henry menghilang dan berteleportasi ke kamar mandinya.


Roni yang menyaksikan hal itu sampai tercengang dan takjub. "Menakjubkan sekali! Apakah aku mempunyai kemampuan menghilang seperti itu? Aku rasa tidak," monolognya.


Tanpa berpikir panjang, Roni melangkah cepat menuju kamar mandi prajurit yang kebetulan berada tidak jauh dari tempatnya. Segera setelah itu, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi sebelum prajurit yang sedang berjaga menyadari keberadaannya. Tanpa diduga, Roni kaget saat bertemu dengan prajurit yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Oh, maafkan aku," ucap Roni ketika menyadari prajurit itu juga sama kagetnya seperti dirinya.


Prajurit itu terdiam sejenak di depan Roni. Menatap Roni seperti memancarkan kekaguman, namun ia menutupi kekaguman itu dengan ekspresi wajahnya yang datar. Sebetulnya prajurit itu terheran-heran karena sebelumnya tidak pernah melihat Roni. Lalu prajurit itu berpikir dengan cepat, bahwa mungkin Roni adalah keluarga kerajaan yang jarang keluar istana.


Tanpa sepatah kata, prajurit itu segera keluar kamar mandi. Kesannya yang acuh tak acuh membuat Roni sedikit canggung, tapi kemudian ia tersenyum mengerti. Lalu Roni melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Setelah memastikan tak ada orang di sekitarnya, Roni pun segera memulai aktivitas mandinya. Air hangat mengalir, meredakan kedinginan yang sebelumnya dirasakannya. Sementara itu, pikirannya melayang ke pertemuan tadi dan spekulasi tentang identitasnya.


Roni, tanpa mengetahui bahwa pertemuan singkatnya telah menimbulkan perbincangan di antara prajurit istana, selesai mandi dan segera mengenakan pakaian yang disediakan Pangeran Henry. Lalu Roni keluar kamar mandi dengan pakaian yang baru, sementara pakaiannya yang kotor dan basah, ia masukkan ke dalam keranjang khusus pakaian kotor. Nanti akan ada petugas kebersihan istana yang membawa pakaian itu ke tempat pencucian khusus pakaian keluarga kerajaan.


Roni berjalan cepat melewati koridor istana dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya. Bersamaan dengan itu, ia bertemu Edward di lorong istana. Pertemuannya dengan Edward membuat Roni canggung. Terutama karena Edward yang belum bisa menerima kehadiran Roni dan menganggap Roni hanyalah anak jelata yang menumpang hidup di Istana Andora.


"Kau seharusnya sadar diri dan tidak masuk ke Istana Andora! Kau hanya akan merepotkan Pangeran Henry," sindir Edward tepat di depan Roni.


Roni sedikit terkejut, selebihnya tidak. Karena ia sudah mengetahui jika Edward memang tidak menyukainya.


Kemudian Roni menjawab, "Aku datang ke sini bukan untuk merepotkan siapapun, Edward. Pangeran Henry sendiri yang membawaku ke istana, dan aku sangat bersyukur karena hal tersebut." Roni mencoba menyampaikan dengan tenang, meski terlihat bahwa pertemuan ini tidak akan berakhir baik.


Edward menggertakkan gigi, lalu mendengus sinis. "Kau pikir Pangeran Henry peduli padamu? Kau hanyalah penghiburnya, tidak lebih dari itu!"


Roni menahan emosinya, berusaha tetap tenang. "Setidaknya, aku tidak membuat asumsi tanpa tahu fakta yang sebenarnya. Biarlah Pangeran Henry yang menilai."


Mereka berdua saling menatap tajam, seakan menyalurkan emosi lewat tatapan mata. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan perdebatan.

__ADS_1


Edward menggelengkan kepala dengan pandangan sinis. "Aku tidak yakin mengapa Pangeran Henry peduli padamu. Kau hanya anak rakyat jelata."


Roni mencoba menjaga ketenangannya, "Mungkin ada hal-hal yang lebih penting daripada status sosial, Edward. Pangeran Henry melihat sesuatu dari diriku yang mungkin tidak kau lihat."


Edward hanya memandang Roni dengan dingin, tanpa memberikan tanggapan.


Saat itu Pangeran Henry melintas di koridor dan menyaksikan pertukaran kata antara Roni dan Edward. Ia mendekati mereka dengan senyum tenang. "Apa yang sedang terjadi di sini?"


Edward menatap Roni dan berkata, tapi seakan menyindir Pangeran Henry. "Hanya berbicara tentang sejauh mana Roni bisa mendapatkan perlindungan dari Pangeran Henry di istana ini."


Pangeran Henry memandang Edward dengan serius sebelum berpaling kepada Roni, "Aku membawamu ke istana untuk alasan yang baik, Roni. Biarkan aku yang menangani ini. Ayo, kita pergi ke ruang makan, sudah waktunya makan siang. Aku yakin semuanya akan menjadi lebih baik."


Edward memandang kepergian Roni dan Pangeran Henry dengan ekspresi wajah kesal. Kemudian ia memilih melanjutkan langkahnya, meninggalkan lorong istana yang menjadi saksi bisu perdebatannya dengan Roni.


Sementara itu, Pangeran Henry yang berjalan di samping Roni, mencoba untuk menenangkan. "Jangan terlalu memikirkan kata-kata Edward, Roni. Dia butuh waktu untuk menerima kehadiranmu."


Roni mengangguk, menghargai dukungan dari Pangeran Henry. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ruang makan istana, di mana makan siang bersama akan segera diadakan.


****


"Ah, bagaimana caranya agar aku dapat mengusir Roni dari Istana Andora!?" teriak Edward dengan kencang di halaman belakang istana yang sepi dan sunyi. Di sana tak ada orang sama sekali.


Edward sangat marah dan kesal. Untuk menyalurkan kemarahannya, ia mengangkat sebongkah tanah ke udara dan membantingnya ke tanah sampai bongkahan itu hancur menjadi serpihan tanah kecil-kecil.


Edward mempunyai kemampuan elemen tanah, selain itu ia juga memiliki ilmu telekinesis yang dapat menggerakkan berbagai benda.


"Bagaimana mungkin Pangeran Henry peduli pada anak itu?" gumam Edward dengan nada kesal. "Aku harus menemukan cara agar Royalty tidak lagi ada di istana ini!" teriaknya.


Edward kemudian duduk di kursi tepat di bawah pohon dan merenung sejenak. Pikirannya penuh dengan kebencian dan ketidakpuasan.


Tiba-tiba terlintas ide buruk di otaknya untuk mengusir Roni secara paksa dari Kerajaan Andora. "Hehehe, sebentar lagi, kau akan meninggalkan Kerajaan Andora, Royalty."


****


Waduh, Edward mengancam keselamatan Roni!

__ADS_1


__ADS_2